1,720,964 research outputs found
KONSTRUKSI PARATAKSIS DALAM KALIMAT MAJEMUK BAHASA INDONESIA
Konstruksi parataksis terdapat dalam kalimat majemuk bahasa Indonesia
a. Konstruksi parataksis dalam strukturnya dapat merupakan gabungan dari
klausa-klausa independen. Masing-masing klausa merupakan bagian yang
terpisah satu dengan yang lainnya.
b. Sebuah kalimat yang berkonstruksi parataksis dapat terdiri dari dua buah
klausa atau lebih. Apabila jumlah klausa lebih dari dua, maka relasi antara
klausa terakhir dan klausa sebelumnya tidak berkonstruksi parataksis.
Hubungan keduanya menggunakan konjungsi yang menandai makna
kalimat.
c. Pada umumnya konstruksi parataksis dalam kalimat bahasa Indonesia
memiliki pola yang setara. Fungsi konstituen pada klausa kedua setara
dengan fungsi jabatan pada klausa pertama. Namun demikian, pola-pola
kalimat majemuk koordinatif pada akhir-akhir ini memiliki/menunjukkan
pola kalimat yang lebih kompleks dibandingkan dengan pola-pola kalimat
majemuk koordinatif yang pernah dipelajari. Susunan kesetaraan tersebut
dapat pula berupa gabungan klausa-klausa subordinatif yang membentuk
konstruksi parataksis.
d. Di dalam konstruksi parataksis, kadang-kadang juga dijumpai pelesapan
fungsi-fungsi satuan kalimat. Pelesapan itu dapat terjadi pada subjek,
predikat, dan objek. Pelesapan subjek dilakukan pada subjek yang
koreferensial dengan subjek yang mendahului. Dengan kata lain,
pelesapan subjek dilakukan apabila subjek pada klausa-klausa itu sama.
Pelesapan predikat atau verba dilakukan apabila predikat antara yang satu
dan yang lainnya sama. Pelesapan predikat dilakukan pada verba yang
kedua apabila verba itu menunjukkan ciri yang sama. Pelesapan objek juga
dijumpai dalam konstruksi parataksis. Pelesapan objek dilakukan pada
klausa pertama. Ini dapat dilakukan apabila objek itu juga sama. Apabila
subjek, predikat, dan objek itu tidak sama, atau tidak koreferensial dengan
subjek, predikat, dan objek yang lain, maka pelesapan itu tidak dapat
dilakukan.
2.a Sebuah konstruksi parataksis memiliki makna. Kemaknaan konstruksi ini
diketahui setelah dilakukan pengisian unsur konjungsi di antara klausaklausa
yang membentuk kalimat itu. Sebuah kalimat yang berkonstruksi
parataksis dapat menimbulkan dua makna yang berbeda. Hal ini
bergantung pada macam konjungsi yang disisipkannya. Apabila di antara
klausa tersebut dapat disisipkan dua macam konjungsi yang mengacu
kepada bentuk koordinatif maupun subordinatif, maka konstruksi tersebut
dapat membentuk kalimat majemuk koordinatif maupun subordinatif.
b. Umumnya konstruksi parataksis dijumpai pada kalimat majemuk
koordinatif. Namun demikian, dalam analisis, dijumpai pula beberapa data
yang menunjukkan bahwa konstruksi parataksis tersebut terdapat pada
kalimat majemuk subordinatif. Konstruksi parataksis dalam kalimat
majemuk subordinatif hanya dijumpai pada beberapa susunan yang
menggungkapkan makna tertentu.
c. Pembalikan unsur klausa dalam konstruksi parataksis dapat dijumpai pada
sebagian konstruksi yang mengungkapkan makna tertentu (menggunakan
konjungsi tertentu saja), misalnya untuk mengungkapkan makna hubungan
sebab dan hubungan waktu
AMPLIFIKASI DI DALAM MAKLUMAT GANJAR PRANOWO (KAJIAN LINGUISTIK SISTEMIK FUNGSIONAL)
Tujuan penganalisisan Maklumat Ganjar Pranowo di tengah pandemi Covid-19 ini untuk mendiskripsikan Amplifikasi yang terdapat di dalamnya. Analisis ini menjadi penting dilakukan karena untuk mengetahui kekuatan sikap Ganjar Pranowo. Untuk menganalisisnya digunakan Teori Apraisal di dalam kajian Lngusitik Sistemik Fungsional.Teori Apraisal ini merupakan pengembangan dari interpersonal meaning yang merupakan salah satu metafungsi bahasa di dalam Linguistik Sistemik Fungsional. Tulisan ini dapat dikategorikan sebagai penelitian deskriptif kualitatif. Data diambil secara purposive dengan menentukan ciri/sifat tertentu dari data tersebut. Analisis data menggunakan tata cara dalam penelitian etnografi yang meliputi empat aspek yaitu domain, taksonomi, komponensial, dan temuan nilai budaya. Analisis bahasa menggunakan mettode agih dengan teknik dasar teori Bagi Unsur Langsung. Hasil analisis menunjukkan bahwa Ganjar Pranowo lebih banyak menggunakan kategori Kekuatan: Leksis Sikap dibandingkan dengan kategori Amplifikasi yang lainnya. Di dalam teks tidak ditemukan adanya umpatan sebagai salah satu kategori Amplifikasi. Penelitian ini dapat dilanjutkan untuk menganalisis penggunaan Modalitas di dalam teks maupun Genre dan Register, serta ideologi di dalam maklumat tersebut.Kata kunci : Apraisal, amplifikasi, force (kekuatan), focus (fokus
PENYAMARAN SEBAGAI WUJUD KESOPANSANTUNAN MASYARAKAT JAWA
Praktik kesantunan untuk menghindari konflik dan ketidaksopanan dalam budaya Jawa terefleksikan dalam pemakaian bahasa di antara masyarakat penuturnya. Dalam reklame makanan, penyamaran dipergunakan untuk memberi label nama resep, nama menu, bahkan nama warung atau kios makanan itu sendiri, misalnya di sini adalah penamaan sate anjing yang dijumpai di dalam kehidupan masyarakatJawa. Para penjual sate anjing ini tidak menuliskan dalam papan reklamenya secara jelas dan terang bahwa masakan yang dijualnya berbahan dasar daging anjing. Penamaaannya dilakukan secara tersamar karena prinsip kesopansantunan yang dianut oleh masyarakat Jawa. Latar belakang budaya,norma, dan tradisi menyebabkan perbedaan penamaan/penyebutan, sehingga sate anjing ini memilikisebutan nama khusus yang berpijak pada kearifan budaya masyarakat setempat.Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dalam bidang sosiolinguistik ini mendasarkan pada tindak kesopansantunan. Data-data tentang penamaan sate anjing ini dikumpulkan dengan mengamati pemberian nama pada papan reklame yang dibentangkan di warung-warung penjual sate tersebut. Data-data itu kemudian dicatat dan kamudian diklasifikasikan sesuai dengan kategori kesamaan dalam penamaan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa penyebutan untuk masakan berbahan dasardaging anjing yang dipergunakan oleh masyarakat Jawa, yaitu dengan peniruan suara, bumbu yang diracik untuk memasak, mitos, pembalikan susunan huruf, dan penyebutan hewan tesebut dalam tingkat tutur tinggi. Dalam penelitian mendatang perlu diteliti penggunaan penyamaran pada moda komunikasi lisan dan pada sistem semiotika yang lain selain reklame, sehingga dapat diperoleh sebuah pemahamanyang mendalam tentang penamaan menu masakan ini
NAMA DIRI ANAK JAWA DI ERA GLOBAL
In this global era, there is an interesting phenomenon in giving names to Javanese kids. Typical Javanese
names such as Joko, Sutrisno and Sumini are no longer used. The names have been replaced by such names
as Evan, Andreas, Daffa, or Nasya. The number of words in those new names may consist of more than
two words. Regarding the phenomenon, it is getting more difficult for people to identify the social status
of the children, especially those of their parents. The objective of this research is to describe the relationship
between the names of Javanese kids and the social status of their parents. Therefore, it can be expected if
the previously used theories are still relevant with the current condition. To reach the objective, the research
was based on an in depth review of culture and language. Data of the research were collected from the
names of the students of “Bintang Kecil” Play Group of Kelurahan Sumurboto, Kecamatan Banyumanik,
Semarang City, in the academic year of 2013/2014. The samples were expected to provide an actual
illustration about the naming of Javanese kids. A purposive sampling method was used to collect the
sample. A set of interviews were taken to analyze the sample. This consisted of in depth interviews and
recordings.The analysis provided the following conclusions:1. Javanese personal names consist of a group
of words, 2. Generally, the names use several words from different languages. 3. The names do not reflect
the social (educational and occupational) status of the parents. The results are expected to be useful as a
basis to make policies concerning with the conservation of Javanese culture as parts of the Indonesian
cultures
STRUKTUR DAN KOHERENSI ABSTRAK DI DALAM 5 JURNAL SINTA 5 DI POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
Sebagai karya pengantar kandungan sebuah jurnal, abstrak hendaknya disusun dengan baik agar mudah dipahami. Unsur-unsur pembangun abstrak dalam jurnal disusun agar memberikan informasi lengkap tentang materi atau pokok bahasan di dalam jurnal. Layaknya sebuah paragraf, susunan kalimat di dalam abstrak hendaknya berhubungan dengan baik antara satu kalimat dengan kalimat yang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan koherensi yang mendukung pembentukan abstrak dalam 5 jurnal Sinta 5 Politeknik Negeri Semarang. Secara random, diambil 2 abstrak pada masing-masing jurnal yang terbit antara tahun 2017-2022. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Pemilihan sumber data menggunakan teknik purposive sampling. Untuk menguji struktur abstrak digunakan pedoman penulisan jurnal dari penerbit Elsevier dan Sage. Untuk meneliti koherensi paragraph digunakan peranti koherensi sebagai parameternya. Hasil analisis terhadap abstrak menunjukkan bahwa tidak semua abstrak tersebut disusun dengan semua unsur pembangun sebuah abstrak. Pola terbanyak pada struktur abstrak adalah ^Latar Belakang^Tujuan^Metode^Hasil^ (sebanyak 9 abstrak atau 36% dari keseluruhan abstrak yang dianalisis). Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan kepada pengelola jurnal sebagai masukan untuk penulis dalam menyusun abstrak. Di samping itu, secara luas, hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai informasi bagi penulis-penulis pemula dalam menyusun abstrak pada karya tulis ilmiah/jurnal.Kata kunci : abstrak, struktur, coherence, jurnal Sinta 5As an introduction to the content of a journal, the abstract should be well structured so that it is easy to understand. The abstract building elements to provide complete information about the material or subject matter in the journal. The integration in the abstract is built with the element of coherence in its composition. The purpose of this study was to determine the structure and coherence that support the formation of abstracts in the 5 journals of Sinta 5 Semarang State Polytechnic. Randomly, 2 abstracts were taken in each journal published between 2017-2022. The research was conducted using a qualitative descriptive method. Selection of data sources using purposive sampling technique. To test the abstract structure, the guidelines for writing scientific papers Elsevier and Sage publication. To examine paragraph coherence, coherence tools are used as parameters. The results of the analysis of the abstracts showed that not all of the abstracts were composed with all the building blocks of an abstract. The most pattern in the abstract structure is ^Background (B)^Purpose (P)^Method(M)^Results (R)^ (9 abstracts or 36% of the total analyzed abstracts). The results of this study can be used as information for novice writers in compiling abstracts in scientific papersKeywords : abstract, structure, coherence, the journal Sinta
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
