1,721,185 research outputs found

    Manajemen Komunikasi Dalam Mengembangkan Mutu Lembaga Pendidikan (Studi Kasus di SMK Negeri 2 Ponorogo)

    No full text
    Nurdin, Muhammad. 2021. Manajemen Komunikasi dalam Mengembangkan Mutu Lembaga Pendidikan (Studi Kasus di SMK Negeri 2 Ponorogo). Skripsi. Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Dr. Mukhibat, M.Ag. Kata Kunci: Manajemen Komunikasi, Mutu Lembaga Pendidikan Manajemen komunikasi merupakan proses penggunaan berbagai sumber daya komunikasi secara terpadu melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan unsur-unsur komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi sampai saat ini masih banyak lembaga pendidikan yang mengabaikan pentingnya manajemen komunikasi ini. Sehingga mengakibatkan kurangnya mutu lembaga pendidikan. Mutu pendidikan merupakan suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenakan kepada jasa tertentu berdasarkan kinerjanya. Banyak lembaga pendidikan yang menggebu-gebukan mutu lembaga pendidikan akan tetapi dalam pelaksanaannya masih belum sesuai dengan mutu yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan oleh faktor diantaranya adalah manajemen komunikasi antar anggota di lembaga tersebut berjalan kurang baik, perencanaan yang tidak diimbangi dengan pelaksanaan yang baik dan evaluasi yang tidak diperbaiki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perencanaan komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo, (2) Pelaksanaan komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo, (3) Evaluasi komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian lapangan dan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan ini, kedudukan peneliti sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data, penafsir dan menjadi pelapor. Sedangkan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara tersetruktur, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa (1) Perencanaan komunikasi di SMK Negeri 2 Ponorogo yaitu dengan menyusun perencanaan dan program kerja sehingga membuat anggota organisasi merasa terlibat dan merasa memiliki andil dalam perencanaan itu. (2) Pelaksanaan komunikasi di SMKN 2 Ponorogo selama ini sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan yang ada, meskipun terkadang masih terdapat kendala. Kendala tersebut bisa berasal dari antar pribadi dan beberapa persepsi orang berbeda. Hal itu menjadi wajar karena berhadapan dengan orang yang berbeda. Bentuk komunikasi yang terjadi di SMKN 2 Ponorogo bukan hanya untuk warga sekolah saja melainkan juga untuk masyarakat. Sedangkan mekanisme komunikasi yang digunakan adalah satu jalur dan dua jalur sesuai dengan komunikasi itu akan disampaikan kepada siapa dan seberapa penting komunikasi yang akan dilakukan. (3) Evaluasi komunikasi yang dilaksanakan oleh SMKN 2 Ponorogo dimulai dengan adanya evaluasi program. Evaluasi program dilakukan untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka menentukan kebijakan selanjutnya. Melalui evaluasi suatu program dapat dilakukan penilaian secara sistematik, rinci dan sesuai prosedur yang sudah diuji secara cermat. Tujuan adanya evaluasi adalah sebagai informasi mengenai tingkat ketercapaian program serta seberapa terlibatnya semua pihak dalam komunikasi yang dijalankan

    ..(GUNAKAN TANDA TANGAN ASLI BUKAN SCAN PADA LEMBAR PERSETUJUAN, TAMBAHKAN LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI DAN KEASLIAN TULISAN, UPLOAD ULANG)..MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM MENGEMBANGKAN MUTU LEMBAGA PENDIDIKAN (STUDI KASUS di SMK NEGERI 2 PONOROGO)

    No full text
    Nurdin, Muhammad. 2021. Manajemen Komunikasi dalam Mengembangkan Mutu Lembaga Pendidikan (Studi Kasus di SMK Negeri 2 Ponorogo). Skripsi. Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Dr. Mukhibat, M.Ag. Kata Kunci: Manajemen Komunikasi, Mutu Lembaga Pendidikan Manajemen komunikasi merupakan proses penggunaan berbagai sumber daya komunikasi secara terpadu melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan unsur-unsur komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi sampai saat ini masih banyak lembaga pendidikan yang mengabaikan pentingnya manajemen komunikasi ini. Sehingga mengakibatkan kurangnya mutu lembaga pendidikan. Mutu pendidikan merupakan suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenakan kepada jasa tertentu berdasarkan kinerjanya. Banyak lembaga pendidikan yang menggebu-gebukan mutu lembaga pendidikan akan tetapi dalam pelaksanaannya masih belum sesuai dengan mutu yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan oleh faktor diantaranya adalah manajemen komunikasi antar anggota di lembaga tersebut berjalan kurang baik, perencanaan yang tidak diimbangi dengan pelaksanaan yang baik dan evaluasi yang tidak diperbaiki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perencanaan komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo, (2) Pelaksanaan komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo, (3) Evaluasi komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian lapangan dan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan ini, kedudukan peneliti sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data, penafsir dan menjadi pelapor. Sedangkan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara tersetruktur, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa (1) Perencanaan komunikasi di SMK Negeri 2 Ponorogo yaitu dengan menyusun perencanaan dan program kerja sehingga membuat anggota organisasi merasa terlibat dan merasa memiliki andil dalam perencanaan itu. (2) Pelaksanaan komunikasi di SMKN 2 Ponorogo selama ini sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan yang ada, meskipun terkadang masih terdapat kendala. Kendala tersebut bisa berasal dari antar pribadi dan beberapa persepsi orang berbeda. Hal itu menjadi wajar karena berhadapan dengan orang yang berbeda. Bentuk komunikasi yang terjadi di SMKN 2 Ponorogo bukan hanya untuk warga sekolah saja melainkan juga untuk masyarakat. Sedangkan mekanisme komunikasi yang digunakan adalah satu jalur dan dua jalur sesuai dengan komunikasi itu akan disampaikan kepada siapa dan seberapa penting komunikasi yang akan dilakukan. (3) Evaluasi komunikasi yang dilaksanakan oleh SMKN 2 Ponorogo dimulai dengan adanya evaluasi program. Evaluasi program dilakukan untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka menentukan kebijakan selanjutnya. Melalui evaluasi suatu program dapat dilakukan penilaian secara sistematik, rinci dan sesuai prosedur yang sudah diuji secara cermat. Tujuan adanya evaluasi adalah sebagai informasi mengenai tingkat ketercapaian program serta seberapa terlibatnya semua pihak dalam komunikasi yang dijalankan

    ..(LENGKAPI WATERMARK, TANDA TANGAN ASLI DAN STEMPEL PADA LEMBAR PERSETUJUAN, UPLOAD ULANG)...MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM MENGEMBANGKAN MUTU LEMBAGA PENDIDIKAN (STUDI KASUS di SMK NEGERI 2 PONOROGO)

    No full text
    Nurdin, Muhammad. 2021. Manajemen Komunikasi dalam Mengembangkan Mutu Lembaga Pendidikan (Studi Kasus di SMK Negeri 2 Ponorogo). Skripsi. Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing Dr. Mukhibat, M.Ag. Kata Kunci: Manajemen Komunikasi, Mutu Lembaga Pendidikan Manajemen komunikasi merupakan proses penggunaan berbagai sumber daya komunikasi secara terpadu melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan unsur-unsur komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi sampai saat ini masih banyak lembaga pendidikan yang mengabaikan pentingnya manajemen komunikasi ini. Sehingga mengakibatkan kurangnya mutu lembaga pendidikan. Mutu pendidikan merupakan suatu ukuran penilaian atau penghargaan yang diberikan atau dikenakan kepada jasa tertentu berdasarkan kinerjanya. Banyak lembaga pendidikan yang menggebu-gebukan mutu lembaga pendidikan akan tetapi dalam pelaksanaannya masih belum sesuai dengan mutu yang seharusnya. Hal tersebut disebabkan oleh faktor diantaranya adalah manajemen komunikasi antar anggota di lembaga tersebut berjalan kurang baik, perencanaan yang tidak diimbangi dengan pelaksanaan yang baik dan evaluasi yang tidak diperbaiki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perencanaan komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo, (2) Pelaksanaan komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo, (3) Evaluasi komunikasi dalam mengembangkan mutu lembaga pendidikan di SMKN 2 Ponorogo. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian lapangan dan menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pendekatan ini, kedudukan peneliti sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data, penafsir dan menjadi pelapor. Sedangkan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara tersetruktur, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa (1) Perencanaan komunikasi di SMK Negeri 2 Ponorogo yaitu dengan menyusun perencanaan dan program kerja sehingga membuat anggota organisasi merasa terlibat dan merasa memiliki andil dalam perencanaan itu. (2) Pelaksanaan komunikasi di SMKN 2 Ponorogo selama ini sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan perencanaan yang ada, meskipun terkadang masih terdapat kendala. Kendala tersebut bisa berasal dari antar pribadi dan beberapa persepsi orang berbeda. Hal itu menjadi wajar karena berhadapan dengan orang yang berbeda. Bentuk komunikasi yang terjadi di SMKN 2 Ponorogo bukan hanya untuk warga sekolah saja melainkan juga untuk masyarakat. Sedangkan mekanisme komunikasi yang digunakan adalah satu jalur dan dua jalur sesuai dengan komunikasi itu akan disampaikan kepada siapa dan seberapa penting komunikasi yang akan dilakukan. (3) Evaluasi komunikasi yang dilaksanakan oleh SMKN 2 Ponorogo dimulai dengan adanya evaluasi program. Evaluasi program dilakukan untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka menentukan kebijakan selanjutnya. Melalui evaluasi suatu program dapat dilakukan penilaian secara sistematik, rinci dan sesuai prosedur yang sudah diuji secara cermat. Tujuan adanya evaluasi adalah sebagai informasi mengenai tingkat ketercapaian program serta seberapa terlibatnya semua pihak dalam komunikasi yang dijalankan

    Pengaruh Teknologi Komunikasi Dan Informasi Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Camat Medan Perjuangan

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknologi informasi (X) terhadap kinerja karyawan (Y). Penelitian ini dilakukan di Jl. Pendidikan No.89, Tegal Rejo, Medan Perjuangan, Kota Medan, Sumatera Utara 20236. Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research dengan pendekatan kuantitatif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35 orang pegawai di Kantor Camat Medan Perjuangan. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis data, dan regresi linier. Teknik sampel yang digunakan adalah sampel populasi. Hasil penlitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Pegawai. Dan dari sini dapat diketahui bahwa kedua variabel bebas tersebut yang paling dominan pengaruhnya terhadap. Kinerja Pegawai adalah Kemanfaatan Penggunaan Teknologi Informasi. Dari hasil regresi linier dapat disimpulkan bahwa variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat yaitu kinerja Pegawai yaitu sebesar 52,8%. Sedangkan sisanya sebesar 47,2% merupakan variabel lain yang dapat mempengaruhi kinerja Pegawai. Variabel lain yang dapat mempengaruhi kinerja Pegawai diantaranya yaitu kemampuan (ability) dan motivasi dari karyawan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan penyebaran kuisoner kepada populasi yang secara menyeluruh dijadikan sampel yakni seluruh karyawan yang bekerja di kantor pusat. Analisis data dengan menggunakan uji regresi linier sederhana

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    PREDICTION OF RIVER FLOW DISCHARGE USING HYBRID NEURAL NETWORK ALGORITHM

    No full text
    Imam Suprayogi, Bochari, Manyuk Fauzi, Joleha, Nurdin, Muhammad Idraq Ibnuts Tsauri, Azmer

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore