1,720,989 research outputs found

    A SEMANTIC ANALYSIS OF WORDS “KHALAQA, JA’ALA, BADA’A, SHANA’A, FATHARA” IN REVEALING THE CONCEPT OF HUMAN CREATION

    Full text link
    This qualitative research argues that the concept of human creation in the holy Quran can be revealed by analyzing the words khalaqa, ja’ala, bada’a, shana’a, and fathara. In doing the analysis, the meaning of words is characterized based on lexical, grammatical, and contextual aspects. This research found that there are only two words used in verses concerning human creation, namely ‘خلق، جعل’ / ‘ja’ala, khalaqa’. The word khalaqa is an intransitive word (fi’il muta’addy) consisting of a single object (maf’ul). Furthermore, the word ‘جعل’ is a transitive verb consisting of two objects (muta’addi bi maf’ulaini). In the context of human creation, the word is used to describe the function of human beings. The word جعل functions as an element to describe the role of an object in the respective verses

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BALAGHAH BERBASIS PENDEKATAN ADÂBÎ

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lemahnya tingkat apresiasi mahasiswa ter-hadap materi kesastraan, khusunya balaghah. Untuk itu, dilakukan penelitianini dengan fokus sebagai berikut: a) bagaimana gambaran materi ajar balaghahdengan menggunakan pendekatan adâbî?; b) Bagaimana pelaksanaan pembelajaranmata kuliah balaghah dengan menggunakan materi yang disusun berdasarkanpendekatan adâbî?; c) Bagaimana persepsi mahasiswa yang belajarbalaghah dengan menggunakan materi ajar berbasis pendekatan adâbî?; d)Bagaimana kualitas prestasi balaghah mahasiswa yang belajar denganmenggunakan materi ajar yang berbasis pendekatan adâbî? Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Sampel dalampenelitian ini adalah mahasiswa yang mengikuti perkuliahan balaghahsebanyak 48 orang. Hasil penelitian sebagai jawaban atas permasalahan di atasadalah: 1) tersusunnya bahan ajar balaghah dengan pendekatan adâbî; 2) Tersusunnyalangkah-langkah pembelajaran balaghah dengan pendekatan adabiyang meliputi: persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. 3) Langkah-langkah pendekatanadâbî adalah sbb: pengajar menyampaikan suatu konsep yangmengandung aspek bahasan kepada para mahasiswa, kemudian mereka mengungkapkannya ke dalam bahasa Arab dengan menggunakan uslûb yangvariatif, setelah itu pengajar tidak  menyampaikan konsep-konsep dan kaidahkaidahbalaghahsecaraberlebihandancukupmenyampaikanhal-halyangbersifat‘umdah (pokok), dan materi serta tema-tema dalam pembelajaran lebihbanyak berkaitan dengan teks-teks sastra yang memiliki keindahan bahasa danmakna; 4) Pendekatan adabi menuntut untuk memperbanyak latihan-latihanapresiasi sehingga dalam diri mahasiswa tumbuh dzauq (perasaan) pada senidan keindahannya; 5) ada lima aspek yang ditanyakan kepada para mahsiswamengenai pendekatan adabi, yaitu: apersepsi yang dilakukan oleh dosen,metode pembelajaran yang digunakan, teknik menjelaskan materi, media pembelajaranyangdigunakan,dancontoh-contohyangdisajikanolehdosen.Sebagianbesar mahasiswa menyatakan kelima aspek tersebut menarik. Mengenaipengaruh pendekatan adabi terhadap apresiasi mahasiswa sebagian besar mahasiswamenyatakanbahwapendekatanadabiberpengaruhpadakemampuanapresiasimereka

    Metaphors in the Quran and its translation accuracy in Indonesian

    Full text link
    Metaphors (majaz in Arabic) are an important part of language style. In the Quran, they play a vital role in different interpretations of the Quran. The use of metaphors in Quranic verses may often cause semantic problems and varied interpretations for translation. The study of metaphors pertaining to the Quran aims to investigate accuracy issues in its translation. Previous studies on the translation of the Quran into Indonesian suggest that some metaphors are translated word-for-word. To some extent, the literal translation is an oxymoron leading to reduced nuances of meaning. The present study seeks to address two issues in relation to the use of metaphors: the actual translation product of Quranic metaphorical verses and translation techniques for Quranic metaphorical verses produced by the Ministry of Religious Affairs. In doing so, this study examines the metaphors of 15 verses in the Quran. Findings show that containing metaphors (13 verses containing lexical metaphors, and 2 verses containing sentential metaphors). Regarding the techniques, in the translated Quran published by the Ministry of Religious Affairs, 13 verses were translated by a literal technique and 2 verses by a non-literal technique. The findings of this suggest that when translating Quran verses, metaphorical features should be taken into account. It is also imperative for future research to scrutinize the implications of different translations on the construction of meaning in the Quran

    Luqman Hakim’s Speech and Politeness to his Son

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tindak tutur dan varian kesantunan berbahasa yang digunakan Luqman Hakim dalam memberikan pendidikan kepada anaknya dalam Surah Luqman. Tujuan ini didasarkan pada problematika kurangnya pengetahuan orang tua, terutama bagi seorang ayah tentang memberikan pendidikan kepada anak-anak sehingga mereka tidak dapat mencerna pendidikan yang baik. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran bahasa dalam alat komunikasi dan menyampaikan tujuan yang diinginkan. Bahasa yang sangat efektif dalam pendidikan karakter adalah bahasa yang santun dan lembut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi dalam varian versi Einar Haugen. Penelitian dilakukan dengan menganalisis tuturan Luqman Hakim kepada anaknya dalam surah Luqman dan menggunakan landasan utama teori tindak tutur Austin (1962) dan teori skala kesantunan Leech (1983). Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tuturan Luqman Hakim kepada anaknya menggunakan tindak tutur langsung pada varian imperatif dan tindak tutur tidak langsung pada varian deklaratif yang mengandung makna imperatif. Setiap varian kalimat yang digunakan disertai dengan maksim kesantunan dengan kegunaan dan rahasianya yang memiliki pengaruh yang bervariasi pada mitra tutur

    PENGEMBANGAN MATERI AJAR BALAGHAH BERBASIS PENDEKATAN KONTRASTIF

    Full text link
    Difficulties in understanding Arabic Balaghah is common among Indonesian students learning Arabic. One of the factors attributable to the difficulties is the different characteristics  of Arabic and Indonesia. This contrastive research aimed at developing more understandable materials for the study of Balaghah. The research used a quasi-experimental method. Based on the questionnaires distributed, the respondents considered that lectures using contrastive materials for the study of Balaghah were easier and more understandabl

    PENGARUH STRUKTUR BAHASA ARAB TERHADAP BAHASA INDONESIA DALAM TERJEMAHAN AL-QURʼAN

    Full text link
    The process of translation in fact gave birth to a sociolinguistic phenomenon like bilingualism when the structure of a language that translated influence on the translation. This paper examines the translation of the Koran, which follows the pattern of the structure of the Arabic language in terms of word order (sequence pattern) element of Arabic and Indonesian. Based on the analysis of the function, the result of translation is not necessarily a literal translation has the same syntactic pattern with the source text. Indonesian function often different in sentence patterns with sentence patterns of Arabic, although it is the literal translation of the Arabic sentence. It happened because of the workings of the Arabic grammarians differ from Indonesian linguist in analyzing its function. DOI: 10.15408/a.v1i1.1128</p

    Pengantar ilmu balaghah

    No full text

    Tahliil Al-‘Awamili Al-Musabbabati Shu’ubah Fii Ta’limi Al-Lughati Al-‘Arabiyati Fii Ashsoffi Al-‘Asyiri Qismu ‘Ulumu Al_iJtima’iyati 4 Al-Madrasati At-Tsanawiyayti Al-Islamiyati Al-Hukumiyati Al-Ula Jombang

    No full text
    ???? ????? ?????? ????? ????? ?????? ?????????? ?????? 13? ?????1 (?) 2011 Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Bahri Djamarah, Syaiful. ( 2011). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Hadi, Amirul. Haryono. (1998). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. Hermawan, Acep. (2011). Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT Rosda karya Offset. Muhajir, Noeng. (1998). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Reke Sarasin. Nazir, Moh. (1998). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Nurbayan, Yayan. (2008). Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Zein Al Bayan. Subini, Nini dkk. (2012). Psikologi Pembelajaran. Yogyakarta: Mentari Pustaka. Sugiyono. (2013). Metode Penilitian Pendidikan: pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&amp;D. Bandung: Alfabeta. Yusuf, Tayar. Anwar, Syaiful. (1997). Metodologi Pengajaran Agama Dan Bahasa Arab. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. &nbsp

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore