20 research outputs found

    Model Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Berkelanjutan: Studi Kasus Kabupaten Bekasi.

    No full text
    Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak dapat digantikan fungsinya. Pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat merupakan kewajiban Pemerintah karena menyangkut kebutuhan dasar manusia. Konflik kepentingan terjadi antar pengelola air bersih karena adanya pelimpahan kewenangan ke daerah sementara daerah belum siap serta adanya nilai ekonomi dalam sumberdaya air. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih secara berkelanjutan, sehingga kebijakan dan strategi yang disusun dapat mendorong upaya pemenuhan kebutuhan air bersih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah integrasi antara (1) evaluasi kinerja layanan air bersih secara deskriptif dengan indikator: cakupan layanan, kualitas, kuantitas, kontinuitas, kebocoran dan keterjangkauan; (2) WTP (willingness to pay) sebagai indikator keinginan kontribusi masyarakat terhadap perbaikan layanan air bersih; (3) ISM (interpretative structural modeling) untuk mengetahui struktur dan hubungan kontekstual dari pemangku kepentingan, kendala, program dan perubahan yang diharapkan; (4) SD (Sistem dinamik) untuk menyusun keterkaitan antar variabel dalam fenomena yang ada. Hasil penelitian menyatakanan bahwa kinerja layanan air bersih berdasarkan indikator kualitas, kuantitas, kontinuitas, keterjangkauan, cakupan layanan dan tingkat kebocoran berada dalam kategori kurang baik. Cakupan layanan air bersih di Kabupaten Bekasi masih sangat rendah (15,69% dari penduduk administrasi) dengan tingkat kebocoran 33%. Dalam penelitian ini diperoleh nilai keinginan kontribusi masyarakat dalam peningkatan layanan air bersih yaitu sebesar Rp 103 548 untuk pengguna layanan perpipaan dan Rp 70 484 untuk pengguna layanan non perpipaan. Kendala kunci dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih adalah rendahnya political will dan sumber air baku. Untuk program kunci adalah penyusunan Blue print pengembangan air bersih dan peningkatan alokasi pasokan air. Pemangku kepentingan yang paling berperan adalah Pemerintah Daerah dan DPRD sedangkan target perubahan adalah terpenuhinya hak dasar masyarakat. Model dinamik menunjukkan bahwa pasokan air dan kapasitas IPA (Instalasi Pengolahan Air) terpasang masih mampu memenuhi kebutuhan hingga tahun 2040

    Strategi Penguatan Sistem Penanganan Kebakaran Diperkotaan

    No full text
    Fire is a condition of a building, such as a house, factory, market, or building, burning uncontrollably, causing casualties. Fire is one of the disasters caused by non-natural factors. The purpose of this study is to analyze internal and external environmental factors in fire prevention. As well as designing a strategy formulation in fire prevention prevention. The method used in this research is SWOT analysis using the QSPM (Quantitative Strategy Planning Matrix) matrix. The number of respondents who were taken in this study were three people. The results of this study are based on interviews with the fire department which resulted in factors influencing the occurrence of fires from internal and external during the fire fighting strategy. The most influential internal factor in terms of strength is the formation of early handling officers at the RW level to provide counseling to the community. Already has a lot of fleet facilities. Lack of training for new firefighters. External factors on fire prevention include. Provide external training for firefighters who are in the agency/community while in terms of threats, namely weak cooperation with electricity, water providers. Strategies that can improve fire prevention include increasing fire prevention capacity building for the community and agencies and residents maximizing early fire prevention so that fires are immediately extinguishe

    ANALISIS KENAIKAN RETRIBUSI DESTINASI WISATA PANTAI PANGANDARAN

    No full text
    Pariwisata memiliki potensi untuk meningkatkan perekonomian. tetapi termasuk salah satu aktivitas yang sangat rentan terhadap berbagai perubahan, tekanan dan kondisi keamanan serta kenyamanan.  Dengan demikian, untuk mengoptimalkan dampak positif dari sektor pariwisata, perlu adanya pengelolaan yang serius dan mencakup berbagai aspek (holistic). Pantai Pangandaran merupakan destinasi pariwisata yang berkembang pesat dengan variasi obyek wisatanya seperti pantai yang indah, taman hutan lindung serta wisata kuliner makanan laut. Untuk meningkatkan nilai jual dari kawasan tersebut, perlu adanya pengelolaan dan pengembangan kawasan yang berkelanjutan sebagai destinasi wisata.. Pengembangan Kawasan Wisata Pangandaran dibangun dengan pendekatan sistem, dengan elemen kajian terdiri dari program yang diharapkan  dan   stakeholder yang berperan.  Untuk mendukung pengelolaan Kawasan wisata Pangandaran dibutuhkan anggaran yang cukup. Sumber anggaran tersebu dapat dari pajak beberapa industry terkait seperti hotel dan restoran, anggarang pemerintah, dan juga retribusi masuk Kawasan. Untuk besar retribusi masuk Kawasan ini perlu disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Kajian peningkatan retribusi ini mengambil data dari wisatawan yang datang ke Kawasan wisata Pangandaran, dan diolah secara diskripstif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 80 % wisatawan setuju kenaikan besar retribusi masuk Kawasan wisata Pangandaran dengan besar kenaikan bervariasi 50, 100, hingga 200

    Carbon Footprint of Elephant Mammal Management in Taman Margasatwa Ragunan Using Life Cycle Assessment Approach

    No full text
    Tourism is the second largest contributor to Indonesia\u27s foreign exchange. In addition, tourism can be a leverage factor for other developments, especially in the socio-economic field. nHowever, this development can have an impact on environmental quality such as climate chage. Jakarta as an urban area has many tourism potentials, one of which is Taman Margasatwa Ragunan (TMR). The development of urban tourism has become a new trend in the community because the distance traveled is relatively closer and the cost is relatively cheaper. In its development, urban tourism needs to be controlled and well designed in order to be sustainable.  This study aims to identify the impacts that may arise and calculate the carbon emissions generated from elephant management. Elephants are taken as the object of study because among the existing animals, elephants are the animals with the most food consumption and produce the most carbon emissions.   The method used to calculate environmental impacts is life cycle assessment (LCA). The scope taken in this study is gate to gate, so that the impacts taken into account are those that occur in the process of raising elephants. The research began with observation of Ragunan Wildlife Park to identify input-process-output components in elephant management. The results showed that the carbon footprint value of elephant mammal management in TMR was 4.62 kg CO2eq/elephant. The hotspot GHG emission-contributing sector is elephant feed in the form of elephant gras

    Pelatihan Pembuatan Sabun Dari Minyak Jelantah Sebagai Upaya Peningkatan Kepedulian Masyarakat Terhadap Lingkungan di Kawasan Wisata Pangandaran

    No full text
    Pantai Pangandaran merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal di Jawa Barat. Masyarakat  sekitar lokasi wisata pantai Pangandaran banyak yang membuka usaha rumah makan. Limbah yang dihasilkan dari rumah makan diantaranya minyak jelantah yang merupakan sisa minyak hasil menggoreng. Limbah  minyak jelantah tidak pernah  dimanfaatkan lebih lanjut,  limbahnya  dibuang begitu saja ke lingkungan. Dengan jumlah rumah makan  yang cukup banyak, limbah minyak goreng yang dihasilkan akan banyak.  Untuk  mengatasi masalah volume limbah minyak goreng yang tinggi, perlu dilakukan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah limbah minyak goreng dengan jalan mengolahnya menjadi sabun. Dari program pelatihan  yang sudah dilaksanakan, peserta sangat mengapresiasi dan kagum dengan hasil pembuatan sabun dari minyak jelantah. Kegiatan  ini juga memberikan dampak positif dengan terbukanya peluang usaha pengolahan minyak jelantah menjadi sabun cair  sehingga  berdampak pada peningkatan pendapatan ekonomi bagi para pedagang kuliner. Selain  itu pengurangan pembuangan limbah minyak jelantah, sehingga menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan

    Merdeka Belajar Kampus Merdeka Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Lulusan

    No full text
    Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan program untuk mempersiapkan lulusan perguruan tinggi  agar siap menghadapi tantangan masadepan.  Penyesuaian bentuk  pembelajaran  menjadi urgent untuk dilakukan guna mempersiapkan  lulusan yang  tangguh dan  siap  merespon perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui  respon  dari stakeholder  terhadap kebijakan merdeka belajar  sebagai upaya peningkatan kualitas lulusan. Responden  survey  terdiri dari mahasiswa aktif, dosen dan tenaga kependidikan.    Hasil  survey menunjukkan   bahwa mahasiswa,dosen dan tendik Sebagian besar telah mengetahui program MBKM tetapi belum secara keseluruhan, media publikasi yang efektif menurut mahasiswa, dosen dan tendik   berbasis pada perguruan tinggi  baik Web maupun media sosial. Kegiatan MBKM yang telah terlaksana sudah dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa yaitu berupa peningkatan softskill, kesiapan mahsiswa menghadapi masa pasca kuliah dan peningkatan kompetensi di bidang studinya masing-masing. </jats:p

    Potential for Developing Access to Safe Drinking Water in the Highlands Area (Case Study: Bogor City, Indonesia)

    No full text
    The need for water in Indonesia is not directly proportional to its availability. This challenge is not limited to rural areas but also affects urban areas like Bogor City. Since 2004, Regional drinking water company of Bogor City has been classified as healthy and is a pilot city for the prime drinking water zone program alongside two other Indonesian cities. This research aims to assess Bogor City\u27s potential for safe drinking water development, considering the physical environment, readiness of the drinking water system, social conditions, and economic conditions of the community. The methodology used is mixed with a quantitative approach via spatial analysis. The physical environment variable yielded 4 classifications: high potential, potential, moderate potential, and low potential. The very potential classification was dominant in 45 sub-districts. The drinking water system readiness had 4 classifications: potential, moderate potential, low potential, and no potential, with the moderate potential dominating in 51 sub-districts. The community social condition had 4 classifications: potential, moderate potential, low potential, and no potential, with the low potential dominating in 36 sub-districts. The community economic condition variable resulted in 4 classifications. Moderate potential dominates in 29 sub-districts. Bogor City has moderate potential for developing access to safe drinking water. The key factors for this classification are the community\u27s social and economic conditions, as well as the drinking water system\u27s readiness

    Pengaruh Pelaksanaan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) Terhadap Kinerja Perawat di Ruang Operasi Rumah Sakit King Fahad Madinah Al-Munawwaroh

    No full text
    The work accident rate shows that it still occurs from 2019-2021 at 4-6% in the hospital environment, while the quality of service for health care facilities needs to be maintained and improved through one of them by implementing an occupational health and safety management system (SMK3) and optimizing the performance of nurses. which is the largest health worker in any health care facility. The purpose of the study was to determine the implementation of the health and safety management system, to determine the performance of nurses and to determine the effect of the implementation of the occupational health and safety management system on performance. The method in this study used a descriptive cross-sectional observational design with simple regression analysis and used a sampling technique using a total sampling of 35 nurses. The results of the research on the implementation of the occupational health and safety management system went in the good category by 80% while 20% went in the poor category and the overall nurse performance performed in the good category and there was a significant influence between the implementation of the occupational health and safety management system on the nurse's performance by 24, 5% while the rest is influenced by other factors. Hospitals need to design socialization programs, training workshops on SMK3 for every employee (nurse) at least once every six months to improve the implementation of SMK3 in the future can be in the very good category so that it can affect the performance of nurses more optimally in the very good category

    Strategi Pengelolaan Limbah Padat Infeksius di Rumah Sakit Ibu dan Anak Family Jakarta Utara

    No full text
    The hospital is a health service that produces various infectious wastes that can endanger the officers who handle the waste and visitors and the community around the hospital. The purpose of the study was to determine the performance of infectious solid waste management at the Family Mother and Child Hospital, to determine the internal and external factors in the management of infectious solid waste at the Family Mother and Child Hospital, and to obtain the formulation of infectious solid waste management strategies at the Mother's Hospital. and Child Family. This research was conducted at the Mother and Child Family Hospital, North Jakarta, related to infectious solid waste management strategies. Data collection methods used are interviews, focus group discussions (FGD) and questionnaires. To get the main priority strategy using the IFE- EFE- IF- SWOT matrix. Research Results Based on the analysis of the QSPM matrix, there were 6 strategies that could be prioritized based on the highest ranking, namely (1) Implementing infectious solid waste management systems and procedures in a professional manner, (2) Improving the quality and competence of officers to prevent environmental pollution, (3) Conducting periodic socialization/training to employees related to infectious solid waste management, (4) Preparing medical waste management plans in accordance with the standards of the Minister of Health, (5) Providing sanctions to employees who do not follow the rules in handling infectious solid waste, (6) Optimizing the budget in infectious solid waste management.   Keywords: Infectious Solid Waste Management Strategy

    PELATIHAN LAYANAN PRIMA DI UMKM WISATA HUTAN BAMBU BEKASI

    No full text
    Salah satu kunci dalam memenangkan persaingan bisnis saat ini adalah kepuasan pelanggan, termasuk pada bisnis pariwisata. Akan tetapi, fakta di lapangan pengelola dan pedagang di Wisata Hutan Bambu Bekasi masih belum menerapkan prinsip kepuasan pelanggan terhadap pengunjung wisatawan. Mereka masih kurang pemahaman dan belum terlalu peduli tentang kenyamanan dan kepuasan wisatawan selama berwisata. Pelayanan prima (Service Excellence) adalah pelayanan yang memenuhi standar kualitas yang sesuai dengan harapan dan kepuasan pelanggan. Wisata hutan bambu hanya memiliki 5 orang pengelola dan beberapa pedagang yang ikut terlibat melayani pengunjung. Seluruh pengelola harus bekerja keras untuk mewujudkan komitmen dalam mengembangkan usaha dan memberikan layanan terbaik bagi seluruh pengunjung. Oleh karena itu, pelatihan ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan dan latihan singkat tentang pengelolaan layanan prima yang baik kepada seluruh stakeholder wisata hutan bambu. Jenis metode yang dilakukan yaitu dengan memberikan penyuluhan dalam bentuk sosialisasi dan penjabaran informasi mengenai pelayanan prima dan implementasinya di wisata Hutan Bambu Bekasi. Peserta tampak antusias dengan pengetahuan kualitas layanan, layanan prima, dan penerapannya dalam wisata Hutan Bambu Bekasi. Peserta juga menambah keterampilan dalam penerapan layanan prima sesuai alur proses pengunjung di wisata Hutan Bambu. Para pedagang dapat menerapkan layanan prima pada proses pengunjung membutuhkan makanan atau minuma di wisata Hutan Bambu
    corecore