1,721,021 research outputs found

    Hubungan Self Control dengan Nomophobia Pada Siswa SMAN 1 Rupat Kabupaten Bengkalis

    Full text link
    Penelitian ini dilatar belakangi oleh penggunaan smartphone yang berlebihan pada siswa dapat menyebabkan nomophobia (ketakutan berlebih saat tidak memiliki akses ponsel) yang berdampak negatif pada kesehatan fisik dan psikologis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan self-control dan nomophobia, dan mengetahui hubungan antara self-control dengan nomophobia pada siswa SMAN 1 Rupat Kabupaten Bengkalis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional. Sampel penelitian ini sebanyak 124 siswa yang dipilih dengan teknik proportionate stratified random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen self-control dan instrumen nomophobia. Data diolah dengan teknik statistik menentukan nilai persentase yang diolah dalam program Microsoft excel, untuk mencari hubungan antara kedua variabel digunakan teknik pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Self-control pada siswa SMAN 1 Rupat secara umum berada pada kategori sedang dengan rata-rata skor capaian 52,82 (62,14%). artinya secara garis besar siswa SMAN 1 Rupat sudah memiliki self-control yang cukup baik, 2) Nomophobia pada siswa SMAN 1 Rupat secara umum berada pada kategori sedang dengan rata-rata skor 92,39 (63,72%). Hal ini berarti sebagian besar siswa SMAN 1 Rupat sudah memiliki nomophobia yang cukup tinggi, 3) Terdapat hubungan negatif signifikan antara self-control dengan nomophobia siswa SMAN 1 Rupat dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti Ha diterima. Implikasi layanan bimbingan dan konseling yang dapat diberikan oleh guru BK pada siswa SMAN 1 Rupat yaitu dengan melaksanakan layanan konseling individual konselor dapat membantu siswa mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu ketergantungan terhadap smartphone, kemudian layanan informasi dengan tema “bagaimana menetapkan batasan penggunaan smartphone”, serta layanan bimbingan kelompok dengan tema “cara mengontrol waktu dalam penggunaan smartphone”

    The Effectiveness of Group Counseling with Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) in Reducing Student Anxiety in Facing Exams

    Full text link
    The background of this research is based on the anxiety problems that often occur in students when facing an exam. This can be seen in students when taking exams‚ students often experience anxiety symptoms such as cold sweats‚ tremors‚ sleeping difficulty when exam day is near. Efforts made in dealing with this challenge are group counseling using a rational emotive behavior therapy approach. This research aims to see the effectiveness of group counseling with a rational emotive behavior therapy approach in reducing anxiety in facing exam students. This study uses an experimental design with a pretest and post-test control group design. The subjects in this study were students of SMAN 13 Padang. This study uses an experimental design with a pretest and post-test control group design. The subjects in this study were students of SMAN 13 Padang, who revealed sixteen students with high and moderate anxiety categories. The instrument used in this study is the instrument to face the test with a Likert scale. The population in this study are students of SMAN 13 Padang, with seven samples in the control group and 7 in the experimental group. The technique used is the Purposive sampling technique. The data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test and the Kolmogorov Smirnov 2 Independent Sample test with the help of SPSS version 20.00. The results of this study indicate that group counseling with a rational emotive behavior therapy approach effectively reduces students\u27 anxiety in facing exams

    Innovating Early Childhood Sexuality Education through Animated Learning Media: A Development and Validation Study

    Full text link
    Introduction: The urgency of providing sexuality education during early childhood has been widely recognised; however, pedagogical approaches remain fragmented, culturally sensitive, and often neglected. Conventional teaching methods tend to rely on verbal explanations, which are limited in their ability to engage children and address issues of gender identity, body safety, and self-protection behaviours. This study responds to this gap by developing and validating an innovative animated learning medium designed for comprehensive, age-appropriate sexuality education in early childhood.Method: Adopting a Research and Development (R&D) design using the ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) framework, this study included 60 kindergarten children aged 5–6 years and 12 teachers from Indonesia. Expert validations, teacher evaluations, classroom observations, and focus group discussions were conducted to assess the validity, practicality, and effectiveness of the medium.Results: The animated video received strong validation scores (80–96.47%), high practicality (81.44–92%), and excellent effectiveness (86.31–92.10%). Children showed measurable progress in recognising gender identity, understanding social roles, and applying protective behaviours in risky situations. Teachers highlighted the cultural relevance of the medium and its role in reducing instructional barriers when addressing sensitive topics.Conclusion: The study demonstrates that animated media can serve as a transformative pedagogical tool in early childhood sexuality education. By combining developmental relevance with digital innovation, the intervention contributes to global discourses on inclusive education, abuse prevention, and early promotion of gender equity. The findings underscore the potential of animation-based learning to strengthen both child protection and educational innovation internationally

    Perilaku Agresif Remaja Yang Tinggal Bersama Orangtua Tunggal (Single Parent)

    Full text link
    Perilaku agresif dikalangan remaja begitu banyak terjadi. Perilaku agresif pada remaja terjadi karena tidak berfungsinya kedua orangtua sebagai figur tauladan bagi anak atau pengasuhan tunggal (single parent). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripikan perbedaan perilaku agresif remaja yang tinggal bersama orangtua tunggal (single parent) dilihat dari remaja yang tinggal bersama ibu tunggal dan ayah tunggal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa SMPN 15 padang yang tinggal bersama orangtua tunggal yang berjumlah 80 siswa dengan 48 siswa yang tinggal bersama ibu tunggal dan 32 siswa yang tinggal bersama ayah tunggal. Instrumen yang digunakan adalah “instrumen penelitian perilaku agresif remaja” dengan menggunakan skala model likert. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan teknik uji t sampel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Perilaku agresif remaja yang tinggal bersama ibu tunggal berada pada kategori rendah, 2) Perilaku agresif remaja yang tinggal bersama ayah tungal berada pada kategori rendah, dan 3) Terdapat perbedaan yang signifikan antar perilaku agresif remaja yang tinggal bersama ibu tunggal dana ayah tunggal dengan nilai signifikansi 0,02. (0,02 < 0,05) artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara perilaku agresif remaja yang tinggal bersama ibu tunggal dan ayah tunggal yang berarti Ha diterima. Implikasi layanan bimbingan dan konseling yang dapat dilakukan adalah layanan informasi, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok dan layanan konseling individu/ perorangan

    Manajemen Waktu dan Prokrastinasi Akademik

    Full text link
    Latar belakang penelitian ini adalah adanya fenomena yang dilakukan siswa ialah tidak mengumpulkan tugas dengan tepat waktu, menunda mengerjakan tugas yang diberikan, mengerjakan tugas ketika sudah deadline, tidak pernah membuat daftar tugas, lebih suka bermain game daripada membuat tugas, mengumpulkan tugas disaat jam belajar habis, mengerjakan tugas disaat jam pelajaran berlangsung, catatan yang tidak lengkap, nilai siswa yang kosong akibat telat mengumpulkan tugas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat manajemen waktu siswa, mendeskripsikan tingkat prokrastinasi siswa dan untuk menguji apakah terdapat hubungan yang signifikan antara manjemen waktu dengan prokrastinasi. Metode penelitian ini digukan adalah deskriptif korelasional. Penelitian dilakukan kepada siswa SMAN 8 padang pada tahun ajaran 2023/2024. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 283 siswa dengan menggukan teknik proportional random sampling. Instrument penelitian kuesioner Manajemen Waktu dan instrument kuesioner Prokrastinasi Akademik dengan menggunakan model skala likert. Kemudian data di analisis dengan menggunakan teknik person product moment correlation. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan: (1) manajemen waktu siswa pada kategori rendah (2) prokrastinasi akademik siswa pada kategori tinggi (3) terdapat hubungan negative signifikan pada kategori sedang antara manajemen waktu dengan prokrastinasi akademik dengan koefisein -0,540. Artinya semakin tinggi manajemen waktu maka semakin rendah prokrastinasi akademik, sebaliknya semakin rendah manajemen waktu siswa maka semakin tinggi prokrastinasi akademik. Implikasi layanan bimbingan konseling yang dapat dilakukanan adalah layanan informasi, layanan penguasaan konten dan layanan bimbingan kelompok

    Hubungan Kepercayaan Diri dan Perilaku Menyontek Siswa

    Full text link
    Ujian merupakan evaluasi dalam belajar. Pada pelaksanaan ujian terdapat siswa melakukan tindakan curang atau menyontek. Salah satu penyebab siswa menyontek karena kurangnya rasa percaya diri. Perilaku menyontek menyebabkan dampak negatif bagi peserta didik diantaranya yaitu bersifat manipulatif atau tidak jujur, tidak percaya akan kemampuan dirinya sendiri, dan tumbuhnya sikap curang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kepercayaan diri siswa, mendeskripsikan tingkat perilaku menyontek dan untuk menguji apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku menyontek. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Penelitian dilakukan kepada siswa MAN 1 Kota Payakumbuh. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 208 siswa dengan menggukan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan angket kepercayaan diri sebanyak 36 item dan angket perilaku menyontek sebanyak 37 item dengan menggunakan model skala likert. Kemudian data di analisis dengan menggunakan teknik person product moment correlation. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan: (1) kepercayaan diri siswa pada kategori tinggi dengan persentase 63% (2) perilaku menyontek siswa pada kategori rendah dengan persentase 50% (3) terdapat hubungan dengan arah kolerasi negatif yang signifikan pada kategori sedang antara kepercayaan diri dengan perilaku menyontek. Artinya semakin tinggi kepercayaan diri maka semakin rendah perilaku menyontek, sebaliknya semakin rendah kepercayaan diri siswa maka semakin tinggi perilaku menyontek

    Perbedaan Kepercayaan Diri Remaja Yatim dengan Remaja Dhuafa di Panti Asuhan

    Full text link
    Kepercayaan diri merupakan hal yang penting dimiliki oleh setiap individu. Keluarga sangat berpengaruh bagi pembentukan rasa percaya diri pada remaja. Masalah kepercayaan diri pada remaja terjadi karena tidak adanya kedua orangtua sebagai figur tauladan bagi remaja di panti asuhan. Terdapat perbedaan latar belakang status yatim dengan dhuafa. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif dan komparatif. Penelitian ini menggunakan populasi seluruh anak asuh dengan latar belakang status yatim dan dhuafa di Panti Asuhan Al-Falah yang berjumlah 445 remaja dengan sampel keseluruhan 88 remaja yang terdiri dari 40 remaja yang berstatus yatim dan 48 anak yang berstatus dhuafa. Pengumpulan data menggunakan skala kepercayaan diri. Data dianalisis dengan teknik statistik deskriptif dan uji independent sample t-test dengan bantuan SPSS 24. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Kepercayaan diri remaja yaim di panti asuhan kategori rendah, 2) Kepercayaan diri remaja dhuafa di panti asuhan berada pada kategori tinggi, dan 3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara kepercayaan diri remaja yatim dengan remaja dhuafa di panti asuhan dengan nilai signifikansi 0,000. Implikasi layanan bimbingan dan konseling dapat diberikan oleh wali pengasuhan di Panti Asuhan Al-Falah yang berlatar belakang pendidikan Strata 1 Bimbingan dan Konseling&nbsp; dengan melaksanakan layanan informasi dengan tema “Membangun Rasa Percaya Diri”, kemudian layanan bimbingan kelompok dengan mengelompokkan anak asuh sesuai dengan tingkat kepercayaan diri mereka dengan tema “Ayo Tingkatkan Rasa Percaya Dirimu” menggunakan teknik role playing, serta layanan konseling kelompok dengan teknik problem solving dengan tema yang ditentukan dalam kelompok sesuai dengan masalah kepercayaan diri anak asuh

    Analisis Perilaku Bullying yang Dialami Anak Jalanan (Studi Kasus pada Anak Jalanan di Kota Padang)

    No full text
    The problem that will be studied in this research is the types of bullying experienced by street children in the city of Padang. Street children are children who are forced to take to the streets due to several factors. The situation of street children is sometimes exacerbated by violence. Violence that occurs in the child's environment can be referred to as bullying. Bullying does not only occur in educational environments, but can also occur on the streets. This type of qualitative research with the case study method. Sources of data from street children as research subjects and research informants. Data collection methods used are interviews and observation. The data analysis technique refers to Miles and Huberman's interactive analysis model. To test the validity of the data used triangulation techniques with sources. The results showed that the type of bullying experienced by street children was direct bullying in the form of being beaten, pushed, tripped over, stoned, teased, humiliated, grabbed, compassed, pulled by his clothes, cursed at and slapped. For this type of indirect bullying in the form of being ostracized from social groups, spreading gossip, being insulted via the internet and being threatened via the internet

    Hubungan Self-efficacy dengan Perilaku Menyontek pada Siswa Saat Ujian di SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki

    Full text link
    Some students cheated or attempted to cheat during the exam. Cheating behavior in students during exams is caused by both internal and external factors. Self-efficacy is one of the internal factors that contribute to cheating behavior. The objective of this research was to: 1) to describe the self-efficacy of students at the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki. 2) to describe the behavior of students who cheat on exams at the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki. 3) to describe the relationship between self-efficacy and cheating behavior of students in the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki during exams. The descriptive correlational research method was used in this research. In this research, 236 students were chosen using the proportional stratified random sampling technique. A self-efficacy questionnaire with 28 items was used, as was a cheating behavior questionnaire on students during exams with 37 items. Descriptive analysis techniques and pearson product moment correlation techniques were used to process the research data. The research findings revealed that: 1) students at the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki had low overall self-efficacy at 37.55%. 2) the percentage of students who cheated during exams at the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki was 34.18%. 3) There was a negative correlation direction and a moderate degree of relationship between self-efficacy and cheating behavior in students during exams at the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki. A negative correlation had an inverse relationship, which means that the higher the self-efficacy, the lower the cheating behavior of students during exams at the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki, and vice versa, the lower the self-efficacy, the higher the cheating behavior of students during exams at the SMA Negeri 1 Kecamatan Suliki

    The Effectiveness of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) Group Counseling in Enhancing Academic Resilience among Students with Academic Difficulties

    Full text link
    Many students struggle to cope with academic pressure, leading them to give up easily when they receive poor grades, face difficult assignments, or experience failure. Over time, these experiences can erode self-confidence and foster self-deprecating beliefs, such as perceiving themselves as “stupid.” This study examined the effectiveness of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) group counseling in enhancing the academic resilience of students with academic difficulties. The research was conducted at SMP Pembangunan Laboratorium UNP with a sample of 20 students. A quantitative approach with a quasi-experimental pretest–posttest control group design was employed. Participants were selected using random sampling, and data were collected using a Likert-type academic resilience scale. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test and the Mann–Whitney test. The Wilcoxon signed-rank test indicated a significant increase in academic resilience in the experimental group (Z = −2.81, p = .005) and a significant change in the control group (Z = −2.81, p = .005). Furthermore, the Mann–Whitney test showed a significant difference in posttest academic resilience scores between the experimental and control groups (Z = −3.80, p = .001), demonstrating that REBT group counseling is effective in improving the academic resilience of students with academic difficulties
    corecore