1,720,962 research outputs found
The Correlation Of Self Efficacy And Coping Stress In Of Student Class XI SMA Pancabudi Medan
104 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan self-efficacy dengan coping
stress pada siswa kelas XI di sekolah SMA Pancabudi Medan . Jenis penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel gunakan
adalah simple random sampling dengan populasi 168 siswa dan sampel 65
siswa. Metode pengambilan data menggunakan skala angket. Maka hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada Hubungan Self Efficacy dengan
Coping Stress Pada Siswa kelas XI. Dengan asumsi semakin tinggi self efficacy
maka semakin tinggi pula coping stress pada siswa begitu juga sebaliknya.
Analisis data yang digunakan hasil analisis dengan metode analisis Korelasi r
Product Moment, diketahui bahwa ada hubungan positif antara self efficacy
dengan coping stress dimana rxy = 0,415 dengan signifikan p = 0.001 < 0,050.
Begitupun, self efficacy tinggi sebab nilai rata-rata empirik (76,54) lebih besar
dari hipotetik (67,5), dan coping stress tergolong tinggi sebab nilai rata-rata
empirik (77,95) lebih tinggi dari nilai rata-rata hipotetik (65). Koefisien
determinan (r2) dari hubungan antara variable bebas X dengan variable terikat
Y adalah sebesar r2 = 0.172. Ini menunjukkan bahwa self efficacy berkontribusi
terhadap coping stress sebesar 17,2%. Maka kesimpulan dari hipotesis yang di
ajukan dinyatakan diterima. This study aims to see the correlation between self-efficacy and coping stress in of
students at SMA Pancabudi Medan. This type of research uses a quantitative
approach. The sampling technique used was simple random sampling with a
population of 168 students. The data collection method uses a Likert scale. So the
hypothesis proposed in this study is that there is a correlation between Self
Efficacy and Coping Stress in class XI students. With the assumption that the
higher the self-efficacy, the higher the coping stress on students and vice versa.
The data analysis used the results of the analysis with the Product Moment
Correlation analysis method, it is known that there is a positive correlation
between self-efficacy and coping stress where rxy = 0.415 with a significant p =
0.001 <0.050. Likewise, self-efficacy is high because the empirical average value
(76.54) is greater than the hypothetical (67.5), and coping stress is high because
the empirical mean value (77.95) is higher than the hypothetical average value.
(65). The determinant coefficient (r2) of the correlation between the free variable
X and the dependent variable Y is r2 = 0.172. This shows that self-efficacy
contributes to coping stress by 17.2%. Then the conclusion of the proposed
hypothesis is declared accepted
Effect Of Organasization Culture On Employee Engagement Of Employees PT. Putra Mandiri Express
48 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk pengaruh budaya organisasi terhadap employee engagement.
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Subjek penelitian adalah
karyawan PT. Putra Mandiri Express. populasi pada penelitian ini sebanyak 40 karyawan dengan
sampel sebanyak 40 karyawan. Dengan hipotesis ada hubungan yang positif antara budaya
organisasi dengan employee engagement. Diasumsikan Semakin kuat budaya organisasi
terinternalisasi dalam diri karyawan maka akan semakin tinggi employee engagement dan
sebaliknya, semakin lemah budaya organisasi terinternalisasi dalam diri karyawan maka akan
semakin rendah tingkat employee engagement. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan skala untuk menguji hipotesis yang diajukan dilakukan dengan menggunakan
teknik Analisis Korelasi Product moment koefesian determinan. Berdasarkan hasil analisis data
yang dilakukan maka diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh budaya organisasi dan employee
engagement. Hasil ini diketahui dengan melihat nilai rxy= 0,444dengan P = 0,00 < 0,05 artinya
ada keterikatan ataupun pengaruh budaya organisasi dengan employee engagement, jadi antara
kedua variabel tersebut ada pengaruh sebab akibat maka hipotesis yang diajukan diterima. Hal
ini berarti hipotesis yang diajukan berbunyi ada pengaruh antara budaya organisasi dengan
employee engagement. Nilai rata-rata empirik budaya organisasi = 108,13 dan hipotetik = 95
sedangkan pada employee engagement nilai rata-rata empirik = 113,90 dan hipotetik = 102,5. This study aims to influence organizational culture on employee engagement. The method used
in this study is a quantitative method. The research subjects were employees of PT. Putra
Mandiri Express. the population in this study were 53 employees with a sample of 40 employees.
With the hypothesis there is a positive relationship between organizational culture and employee
engagement. It is assumed that the stronger the organizational culture internalized in employees,
the higher the employee engagement and vice versa, the weaker the internalized organizational
culture in the employees, the lower the level of employee engagement. Data collection is done by
using a Likert scale to test the proposed hypothesis by using the product moment coefficient
determinant correlation analysis technique. Based on the results of the data analysis, the results
show that there is an influence of organizational culture and employee engagement. These
results are known by looking at the value of rxy = 0.444 with P = 0.00 <0.05, which means there
is an attachment or influence of organizational culture to employee engagement, so between
these two variables there is a causal effect, the proposed hypothesis is accepted. This means that
the hypothesis proposed says there is an influence between organizational culture and employee
engagement. The average value of empirical organizational culture = 108.13 and hypothetical =
95 while in employee engagement the empirical mean value = 113.90 and hypothetical = 102.
Relationship Of Self-Concept With Imitation Behavior In Adolescent K-Pop Fans
106 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan perilaku
imitasi pada remaja penggemar K-POP. Perilaku imitasi merupakan perilaku
meniru yang dilakukan oleh seseorang melalui pengamatan terhadap perilaku
yang ditunjukkan oleh orang lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif. Sampel penelitian ini sebanyak 80 orang, teknik pengambilan sampel
dengan metode total sampling. Penelitian ini menggunakan model skala likert.
Teknik analisis yang dilakukan menggunakan korelasi Product Moment. Hasil
penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi rxy = -0,393 dengan p = 0,000
(p<0,050), artinya ada hubungan negative antara konsep diri dengan perilaku
imitasi. Dengan hasil tersebut, hipotesis dalam penelitian ini yaitu ada hubungan
negative antara konsep diri dengan perilaku imitasi dapat diterima. Nilai koefisien
korelasi negative menunjukkan bahwa arah hubungan kedua variabel adalah
negatif, artinya semakin tinggi konsep diri yang dilakukan maka semakin rendah
perilaku imitasi. Konsep diri memberikan sumbangan efektif sebesar 39,3% pada
perilaku imitasi dan sebesar 60,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti
dalam penelitian ini yaitu seperti faktor control diri, lingkungan dan penguatan.
Mean empirik variabel konsep diri yang diperoleh yaitu 48.48 sedangkan mean
empirik variabel perilaku imitasi sebesar 115,56 lalu untuk mean hipotetik
variabel konsep diri sebesar 75 dan mean hipotetik variabel perilaku imitasi
sebesar 100. Meninjau hasil penelitian maka penelitian ini dinyatakan diterima. This study aims to determine the relationship between self-concept and imitation
behavior in adolescent K-POP fans. Imitation behavior is imitation behavior that is
done by someone through observing the behavior shown by other people. This
study uses a quantitative approach. The sample of this research was 80 people, the
sampling technique was the total sampling method. This study uses a Likert scale
model. The analysis technique used is Product Moment Correlation. The results of
this study indicate the correlation coefficient of rxy = -0.393 with p = 0.000 (p
<0.050), meaning that there is a negative relationship between self-concept and
imitation behavior. With these results, the hypothesis in this study that there is a
negative relationship between self-concept and imitation behavior is acceptable.
The negative correlation coefficient value indicates that the direction of the
relationship between the two variables is negative, meaning that the higher the selfconcept
is done, the lower the imitation behavior. The self-concept provides an
effective contribution of 39.3% to imitation behavior and 60.7% is influenced by
other factors not examined in this study, such as self-control, environmental and
reinforcement factors. The empirical mean of the self-concept variable obtained
was 48.48, while the empirical mean of the imitation behavior variable was 115.56,
then the hypothetical mean of the self-concept variable was 75 and the hypothetical
mean of the imitation behavior variable was 100. Reviewing the results of the
study, this study was declared accepted
PERBEDAAN POST POWER SYNDROME DITINJAU DARI PERBEDAAN JABATAN PADA PENSIUNAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Post Power Syndrome ditinjau dari perbedaan jabatan pada pensiunan Pertamina.Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Post Power Syndrome yang sangat signifikan antara anggota Himpana Medan dengan berbagai jabatan yang berbeda (FA = 33,194 ; P < 0,010 ; uji dua ekor), dimana : Post Power Syndrome anggota Himpana Medan dengan jabatan kepala bagian (Mean A1 = 225,800) lebih tinggi dari jabatan staf (Mean A2 = 207,040).Post Power Syndrome anggota Himpana Medan jabatan kepala bagian (Mean A1 = 225,800) lebih tinggi dari jabatan karyawan biasa (Mean A3 = 190,320).Post Power Syndrome anggota Himpana Medan dengan jabatan staf (Mean A2 = 207,040) lebih tinggi dari karyawan biasa (Mean A3 = 190,320)
PERBEDAAN POST POWER SYNDROME DITINJAU DARI PERBEDAAN JABATAN PADA PENSIUNAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Post Power Syndrome ditinjau dari perbedaan jabatan pada pensiunan Pertamina.Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Post Power Syndrome yang sangat signifikan antara anggota Himpana Medan dengan berbagai jabatan yang berbeda (FA = 33,194 ; P < 0,010 ; uji dua ekor), dimana : Post Power Syndrome anggota Himpana Medan dengan jabatan kepala bagian (Mean A1 = 225,800) lebih tinggi dari jabatan staf (Mean A2 = 207,040).Post Power Syndrome anggota Himpana Medan jabatan kepala bagian (Mean A1 = 225,800) lebih tinggi dari jabatan karyawan biasa (Mean A3 = 190,320).Post Power Syndrome anggota Himpana Medan dengan jabatan staf (Mean A2 = 207,040) lebih tinggi dari karyawan biasa (Mean A3 = 190,320)
PERBEDAAN POST POWER SYNDROME DITINJAU DARI PERBEDAAN JABATAN PADA PENSIUNAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Post Power Syndrome ditinjau dari perbedaan jabatan pada pensiunan Pertamina.Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Post Power Syndrome yang sangat signifikan antara anggota Himpana Medan dengan berbagai jabatan yang berbeda (FA = 33,194 ; P < 0,010 ; uji dua ekor), dimana : Post Power Syndrome anggota Himpana Medan dengan jabatan kepala bagian (Mean A1 = 225,800) lebih tinggi dari jabatan staf (Mean A2 = 207,040).Post Power Syndrome anggota Himpana Medan jabatan kepala bagian (Mean A1 = 225,800) lebih tinggi dari jabatan karyawan biasa (Mean A3 = 190,320).Post Power Syndrome anggota Himpana Medan dengan jabatan staf (Mean A2 = 207,040) lebih tinggi dari karyawan biasa (Mean A3 = 190,320)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prokrastinasi Akademik Siswa yang Menjadi Anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik pada siswa yang menjadi anggota OSIS. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu jenis data penelitian yang diperoleh langsung kepada pihak yang bersangkutan. Metode pengambilan data yang digunakan yaitu metode sampling. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutan faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik pada siswa yang menjadi anggota OSIS yaitu Time Disorganisation, Keadaan Fisik Individu, Karakteristik Tugas, Sikap Dan Keyakinan, Kondisi Psikologis Individu, Anxiety, Dukungan Sosial, Gaya Pengasuhan Orang Tua, Hostility With Other, Dan Kondisi Lingkungan
Hubungan Kontrol Diri dengan Perilaku Menyontek pada Siswa YP Mts. Al-Azhar Medan
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk menguji dan mendapatkan data secara empiris mengenai hubungan kontrol diri dengan perilaku menyontek pada siswa. Sejalan dengan landasan teori, maka diajukan hipotesa yang berbunyi ada hubungan negatif antara kontrol diri dengan perilaku menyontek. Dimana semakin tinggi kontrol diri siswa, maka semakin rendah perilaku menyontek. Penelitan ini melibatkan 187 siswa YP MTs Al-Azhar Medan sebagai subjek penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen skala likert untuk skala kontrol diri dan skala perilaku menyontek. Skala kontrol diri disusun berdasarkan aspek-aspek menurut Averil, 1973 yaitu: kontrol perilaku, kontrol kognitif, dan kontrol keputusan. Skala perilaku menyontek disusun berdasarkan bentuk-bentuk menurut Klausmeier, 1985 yaitu: menggunakan catatan jawaban sewaktu ujian atau tes, menyontoh jawaban sewaktu ujian, memberikan jawaban yang telah selesai kepada teman, dan menghindar dari aturan-aturan ujian. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil terdapat hubungan negatif antara kontrol diri dengan perilaku menyontek. Hasil ini dibuktikan dengan koefisien korelasi, dimana rxy = - 0.222; p = 0.002 < 0.05. Nilai koefisien determinasi (R square) penelitian dengan nilai sebesar 0.049. Dapat diartikan bahwa variabel kontrol diri mempengaruhi perilaku menyontek sebesar 4.9%. Dari hasil perhitungan mean hipotetik dan mean empirik diperoleh kontrol diri tinggi dan perilaku menyontek rendah
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
