1,720,962 research outputs found
Analisis Pperjanjian Bni Griya Hasanah Murabahah Pembiayaan Kepemilikan Rumah (Studi Di Bni Syariah Cabang Medan)
Pasca terbitnya UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, maka
produk Pembiayan Pemilikan Rumah Syariah juga tumbuh, salah satunya produk
dari BNI Syariah yaitu BNI Griya Hasanah Murabahah adalah Pembiayaan
Pemilikan Rumah, dengan menggunakan akad pembiayaan murabahah. Tujuan
penelitian ini menganalisis Perjanjian BNI Griya Hasanah Murabahah
Pembiayaan Pemilikan Rumah antara lain: Bentuk Perjanjian Pembiayaan,
Kedudukan Para Pihak Dalam Perjanjian Pembiayaan Akad Pembiayaan
Murabahah dan Bagaimana Akibat Hukum jika Nasabah Wanprestasi, melalui
pendekatan secara kontrak keperdataan dengan konsep Syariah Islam.
Penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah deskritif analisis
dengan pendekatan yuridis yang diambil dari data primer, dengan melakukan
wawancara langsung kepada petugas di BNI Syariah Cabang Medan, mempelajari
brosur dan dokumen Perjanjian Pembiayaan Akad Murabahah, Surat Kuasa
Membebankan Hak Tanggungan, Akta Pemberian Hak Tanggungan dan data
sekunder dengan mengolah data dari bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder dan bahan hukum tertier.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa BNI Griya Hasanah
Murabahah, adalah Pembiayaan Pemilikan Rumah di BNI Syariah yang
menggunakan Akad Pembiayaan Murabahah yang berbentuk tertulis dan bersifat
kontrak baku, atas dasar prinsip syariah yang diatur dalam Undang Undang
Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan berdasarkan fatwa DSNMUI
No:04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah yang telah dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) serta ketentuan hokum positif seperti Kitab
Undang Undang Hukum Perdata Serta dan Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996
Tentang Hak Tanggungan. Apabila Nasabah BNI Griya Hasanah Murabahah melakukan
wanprestasi, maka Bank akan menempuh upaya penyelesaian dengan cara melakukan
negosiasi, melakukan musyawarah untuk mencari solusi. Jika upaya negosiasi dan musyawarah untuk mencari solusi mengalami jalan buntu, maka baru di tempuh upaya terakhir, dengan memberikan surat somasi serta melakukan pelelangan dimuka umum, namun tetap
memperhatikan dan tunduk pada prinsip prinsip dan ketentuan Syariah Islam sesuai yang telah
diatur dalam fatwa Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia di samping tetap tunduk kepada ketentuan Hukum Perdata dan Undangundang Hak Tanggungan
DINAMIKA GERWANI DI KOTA SEMARANG TAHUN 1954-1965
Berdirinya Gerwani di kota semarang di latar belakangi oleh beberapa hal
yaitu meliputi latar belakang geografis, sosial ekonomi, budaya, politik. Dari segi
geografis kota semarang dipilih karna letaknya yang strategis dimana kota ini
dekat dengan pelabuhan dan juga dikenal sebagai kota dagang. Semenjak VOC
membangun kawasan ini dan menjadikannya salah satu pusat perdagangan yang
paling utama di Jawa. Dan juga kota ini sempat menjadi pusat aktivisme golongan
Kiri dan Nasionalis semenjak awal 1920-an. kota Semarang memiliki dua
topologi, yaitu wilayah perbukitan (kota atas) dan lembah atau daratan (kota
bawah) yang berbatasan langsung dengan laut. Gerwani memulai persemaian awal
organisasinya melalu daerah perbukitan dahulu karena di anggap masih pelosok
sehingga lebih mudah untuk menyebarkan ideologinya yang kemudian menjalar
ke daerah lembah atau daerah kota. Pemilihan kota atas sebagai persemaian awal
juga didasari untuk memudahkan langkah Gerwani dalam melebarkan sayap
karena di kota atas masyarakatnya lebih mudah direkrut
Permohonan Izin Poligami Atas Dasar Ketidakpuasan Pelayanan Kebutuhan Seksual Ditinjau Berdasarkan Undang- Undang Perkawinan (Studi Putusan Pengadilan Agama Sidoarjo Nomor 330/Pdt.G/2021/PA.Sda) (C)
Perkawinan merupakan sebuah ikatan suci yang terikat dengan keimanan dan keyakinan seseorang kepada Allah SWT. Sebuah perkawinan tidak hanya bisa didasari oleh keinginan ataupun hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis saja, melainkan di dalam sebuah ikatan perkawinan tersebut mengandung nilai ibadah. Terdapat satu bentuk perkawinan yang sering diperbincangkan dalam masyarakat muslim adalah poligami. Contohnya pada permohonan izin poligami yang didasarkan atas kebutuhan seksual yang berlebih yang diajukan di Pengadilan Agama Sidoarjo dan hakim mengabulkan seluruh permohonan tersebut. Adapun permasalahan di dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana permohonan izin poligami atas dasar ketidakpuasan pelayanan kebutuhan seksual? (Studi Putusan Pengadilan Agama Sidoarjo Nomor 330/Pdt.G/2021/PA.Sda)? dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan konseptual, pendekatan undang-undang dan pendekatan kasus yang didukung oleh data dari tinjauan Pustaka dan juga data wawancara untuk memperkuat penelitian. Poligami sudah dilakukan umat manusia jauh sebelum Islam datang. Tetapi saat ini Poligami merupakan produk islam yang legal tujuannya untuk mencapai idealitas tatanan dalam sebuah komunitas tertentu. Oleh karena itu, poligami tidak dapat dihilangkan. Sehingga ketika Pemohon mengajukan permohonan izin poligami dengan alasan memiliki Hasrat seksual yang berlebih itu tidak tepat karena berdasarkan ketentuan di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Hukum Islam, dan Kompilasi Hukum Islam dapat disimpulkan bahwa kewajiban seorang istri dalam sebuah rumah tangga tidak hanya sekedar memenuhi Hasrat kebutuhan seksual suami yang memiliki Hasrat seksual berlebih
Adsorpsi Zat Warna Tartrazin menggunakan Hidrotalsit Ni/Al Terinterkalasi Polioksometalat K4[α-SiW12O40]
Pengolahan limbah zat warna tartrazin perlu dilakukan karena zat warna tartrazin dapat mencemari lingkungan serta memiliki dampak buruk bagi kesehatan makhluk hidup. Salah satu metode pengolahan limbah zat warna adalah adsorpsi. Hidrotalsit merupakan salah satu material yang cukup umum digunakan sebagai adsorben yang memiliki efektifitas baik dalam mengadsorpsi zat warna sintetik. Struktur hidrotalsit yang dimodifikasi dengan suatu interkalan mampu meningkatkan kapasitas adsorpsinya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan adsorpsi zat warna tartrazin menggunakan hidrotalsit Ni/Al terinterkalasi polioksometalat K4[SiW12O40] dengan beberapa parameter uji yang meliputi pH, waktu kontak, dan konsentrasi adsorbat. Selain itu dipelajari juga model kinetika dan isoterm adsorpsinya. Sintesis hidrotalsit dilakukan menggunakan metode kopresipitasi yang dilanjutkan dengan proses hidrotermal pada suhu 100oC selama 15 jam pada rasio 3:1 (Ni:Al) menghasilkan Ni/Al-NO3. Interkalasi senyawa polioksometalat K4[SiW12O40] terhadap Ni/Al-NO3 dilakukan dengan metode pertukaran ion pada rasio 1:1 menghasilkan Ni/Al-[α-SiW12O40]. Hasil sintesis dikarakterisai menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), dan Scanning Electron Microscopy - Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDX). Kondisi optimum adsorpsi tartrazin oleh hidrotalsit Ni/Al-[α-SiW12O40] diperoleh pada pH 3, waktu kontak 90 menit, serta konsentrasi adsorbat 10 mg/L. Kinetika adsorpsi yang dihasilkan mengikuti model kinetika pseudo orde dua dengan nilai R2 sebesar 0,9997; konstanta laju adsorpsi sebesar 0,9368 g/mg.menit; dan nilai qe sebesar 22,0264 mg/g. Isoterm adsorpsi yang dihasilkan mengikuti model Isoterm Langmuir dengan nilai R2 sebesar 0,9974; KL sebesar 3,4758 L/mg; dan Qmaks sebesar 68,4931 mg/g
Analisis Efek Metode dalam Penggunaan Aitem Favorabel dan Unfavorabel pada Ethnic Identity Scale (EIS)
Penelitian ini menggunakan empat alternatif model yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan efek metode dalam penggunaan aitem favorabel dan unfavorabel pada skala Ethnic Identity Scale (EIS). Efek metode adalah munculnya variabel yang berada di luar dari pengukuran yang keberadaannta dapat mempemgaruhi validitas dari skala. Empat ratus empat puluh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) mengisi skala EIS. Pada penelitian ini, menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk mengetahui efek metode dari penggunaan aitem favorabel dan unfavorabel. Empat kriteria uji kecocokan model digunakan untuk menguji kecocokan model. Hasil dari analisis CFA, tiga dari empat model memiliki kecocokan model dengan data, Hasil dari penelitian ini adalah, terdapat efek metode penggunaan favorabel dan unfavorabel aitem pada skala EIS
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
