1,721,009 research outputs found
The Nature of Food Commodity Prices Volatility in Driving Inflation and Policy
The objective of research is to analyze the volatility effect of food commodity prices and whether surging food commodity prices have spilled over into food inflation and total inflation with time series data through Box-Jenkins method for 12 food commodity prices. The results have proved that only beef price had high volatility effects and have asymmetric effect. While, soybeans, cooking oil, and food are vulnerable but did not have volatility effects. The change in food commodity prices are significant drive the inflation in the long-term although in the short-term insignificant. The government needs to overcome the full transmission effect of an exogenous shock and to introduce economic reform through investment, infrastructure, and markets for corn and egg for food inflation; eggs and peanuts for total inflation. Besides, strong second-round effects of higher commodity prices on inflation have generally been absent converged to core inflation.DOI: 10.15408/sjie.v6i1.4523</jats:p
PELATIHAN PEMILIHAN DAN LABEL KEMASAN PADA PRODUK TERASI UDANG REBON KELOMPOK WANITA NELAYAN
Udang rebon (Mysis sp.) adalah salah satu hasil perikanan yang sangat diandalkan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terutama pada musim togok, yaitu bulan Februari-Mei. Hasil tangkapan kelompok nelayan dapat mencapai 0,5-1 ton/hari, kecuali musim hujan. Namun, tangkapan menjadi cepat membusuk akibat infrastruktur untuk mengawetkan hasil tangkapan sangat terbatas. Salah satu upaya menaikkan nilai jual dan daya simpannya, maka udang rebon dioleh menjadi terasi oleh kelompok wanita nelayan. Proses pembuatan terasi tersebut masih sangat sederhana karena menggunakan kemasan kertas koran, daun atau plastik biasa sehingga menurunkan mutu produk serta lazim dijual dalam bentuk kering di pasar tradisional di wilayah sekitar. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk mengambil nilai tambahnya dengan penggunaan kemasan yang lebih baik. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah pelatihan pada kelompok wanita nelayan agar memiliki pengetahuan dan praktek terkait pemilihan dan label kemasan yang lebih menarik dan aman. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada 18 orang wanita nelayan di Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas dengan analisis deskriptif, dan distribusi frekwensi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat ketercapaian pengetahuan adalah tinggi dan cukup, tetapi masih ada kesenjangan dengan keterampilannya terutama terkait persyaratan kemasan. Oleh sebab itu, keseriusan dan kemauan untuk memperoleh informasi terkait kebutuhan dan keinginan konsumen, pemasaran dan promosi melalui pameran dan kerjasama stakeholders’ serta dukungan dan peran serta pemerintah daerah melalui pembinaan, penyuluhan, pelatihan, kemudahan akses modal, bantuan alat pengawetan hasil tangkapan serta perbaikan infrastrukur sangat diperlukan untuk mendorong berkembangnya usaha secara berkelanjuta
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Materi Pecahan melalui Model Make a Macth kelas IV SD Negeri 056000 Kampung Baru Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat Tahun Ajaran 2020/2021.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Proses
pembelajaran Matematika; 2) Hasil belajar siswa sebelum dan sesudah
menggunakan model Make a Match mata pelajaran matematika; 3) peningkatan
hasil belajar siswa dengan penggunaan model Make a Macth.
Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
dengan dua siklus dan setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 056000
Kampung Baru Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat. Subjek penelitian ini
adalah siswa/i kelas IV dengan jumlah siswa 22 orang.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: 1) Proses
Pembelajaran Matematika guru masih menggunakan model konvensional,
banyak siswa yang bosan, tegang dan siswa sulit memahami materi pelajaran,
sehingga siswa kurang aktif dan suasana kelas tegang dalam proses pembelajaran.
2) Hasil belajar siswa Sebelum menggunakan model pembelajaran Make a Macth
nilai rata- rata 55,90 dengan siswa yang tuntas berjumlah 6 siswa (27,27%), hasil
Belajar siswa setelah menggunakan model Make a Match berdasarkan hasil
penelitian siklus I memiliki nilai rata-rata 62,27 dengan siswa yang tuntas
berjumlah 9 siswa (40,90%), namun belum mencapai nilai ketuntasan klasikal,
maka perlu dilanjutkan ke siklus II diperoleh nilai rata-rata 68,18 dengan siswa
yang tuntas berjumlah 14 siswa (63,63%), namun belum mencapai ketuntasan
klasikal, dan perlu dilanjutkan ke siklus III diperoleh nilai rata-rata 75,45 dengan
siswa yang tuntas berjumlah 17 siswa (77,27%). 3) Penggunaan model
pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini
ditunjukkan dari hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan setelah
menggunakan model pembelajaran Make a Match
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN PENGKAJIAN DAN PENANGANAN KASUS PERTANAHAN DI KOTA PALU
This Research Target is know and analyse the Policy Implementation of[is Solving of dispute Land Ground in Palu Town of this Research Type is research qualitative with the informan selected by the four of people. Data collecting use the technique interview and documentation. Technique analyse the data used by that is (1) Editing (2) Subdividing (3) Interpretation Mean (4) Withdrawal of Conclusion and Suggestion. Result of Research (1) policy Implementation of solving of land;ground dispute in Office of Land;Ground of Palu Town seen from factor of standard and policy target not yet walked better, seen from time duration still in solving of dispute, so that society feel saturated in managing dispute and visit upon the office of Land;Ground of Palu Town. (2) policy Implementation is solving of land;ground dispute in Office of Land;Ground of Palu Town seen from Resource factor not yet walked better this matter is seen from there no fund prepared to the solving of dispute and also medium also not yet adequate. Like there no counter of denunciating of land;ground dispute. (3) policy Implementation is solving of land;ground dispute in Office of Land;Ground of Palu Town seen from factor comunicatioan, characteristic, political and economic social condition and also disposition factor not yet walked better, this matter is seen by that tren of dispute denunciating every year tend to increase later;then facility which disedikan not yet adequate and also supported by result of interview with the informan conducted by a field telling not yet walked bette
Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini 5-6 Tahun Kelompok B Melalui Seni Gerak dan Tari di TKIT Nurul Ilmi Pecut Sei Tuan Tahun Ajaran 2017-2018.
Effects of Sociographic and Personal Factors on Food Purchasing in Traditional Markets
Research Originality: The current literature lacks a structured analysis of how interactions between lifestyle factors and sociodemographic changes impact food purchasing behavior in traditional markets. By analyzing these factors, businesses can optimize product selections, refine marketing strategies, and enhance customer engagement to align with the diverse preferences and requirements of their target market, adapting to both current trends and future changes.Research Objectives: This study employs a psychodynamic approach, the theory of personality traits, two-way physical and perceptual interactions, and household assumptions to examine how sociographic lifestyle, household characteristics, and personality traits influence food purchasing behavior. Research Methods: The mixed methods, which included in-depth interviews with 183 household customers, utilized non-probability sampling and partial least squares structural equation modeling.Empirical Results: Increased food purchasing behavior is caused by changing sociographic lifestyles rather than personality traits and household characteristics. A greater sociodemographic lifestyle, personality traits, and household characteristics correspond to increased friendship, values, responsible spending, and household size.Implications: Food safety regulations must be implemented effectively, which includes appointing market management authorities, as agencies in the informal food sector are often underfunded and unregulated.JEL Classification: D1, E21, L66, R2How to Cite:Nurliza. (2025). Consumers in Traditional Markets: Sociographic Lifestyle, Household Features, and Personality Traits. Etikonomi, 24(1), 205 – 220. https://doi.org/10.15408/etk.v24i1.38288
Creating Strategic Competence of Independent Smallholders for Sustainable Palm Oil
Penelitian dilakukan di kabupaten perbatasan melalui wawancara mendalam terhadap 120 petani swadaya dalam kerangka Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO), mencakup aspek hukum, pengelolaan dan pemantauan lingkungan, organisasi petani dan aspek manajemen untuk mewujudkan kompetensi strategis menggunakan diagram sungai dan diagram tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa target inisiatif kinerja kompetensi terkait aspek legalitas dan manajemen lingkungan serta aspek pengawasan adalah mempelajari dan menerima praktik pengetahuan secara bertahap dalam semua kelompok petani, termasuk pengetahuan terkait tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran dan peningkatan bisnis secara berkelanjutan. Selain itu, target inisiatif kinerja kompetensi terkait aspek pencegahan dan pengendalian kebakaran dan keanekaragaman hayati adalah menerima transfer pengetahuan. Namun, daerah yang memiliki kompetensi lebih tinggi atau kesenjangan kompetensi yang lebih rendah dapat menjadi penyedia penerima pengetahuan dengan mempertimbangkan adopsi teknologi dan metode motivasi yang sesuai. Oleh karena itu, upaya mengatasi pengetahuan dan kompetensi petani rendah atau kesenjangan yang tinggi antara pengetahuan dan kompetensi dilakukan dengan pendekatan menangkap pengetahuan dengan cara memastikan bahwa semua petani belajar dan dapat mengakses layanan dan inovasi; dan pendekatan berbagi pengetahuan melalui program pendidikan dan pelatihan, praktik budidaya yang tepat, sertifikasi, dan kemitraan dengan universitas, perusahaan, pemerintah dan masyarakat
STRUKTUR POPULASI ITIK BAYANG DI KECAMATAN LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN
STRUKTUR POPULASI ITIK BAYANG DI KECAMATAN LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN
Nurliza, dibawah bimbingan
Dr. Ir. Firda Arlina, M.Si dan Ir. H. Rijal Zein,MS
Bagian Ilmu dan Teknologi Produksi Ternak Fakultas Peternakan
Universitas Andalas Padang, 2016
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data struktur populasi, menghitung jumlah populasi aktual (Na), populasi efektif (Ne), dan laju inbreeding (∆f) itik Bayang di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan. Data struktur populasi berasal dari 85 orang peternak yang memelihara itik Bayang di 3 Nagari yaitu Nagari Lakitan Utara, Kambang Barat, dan Lakitan Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penentuan daerah lokasi penelitian dilakukan dengan cara stratified sampling. Pengumpulan data pada masing – masing Jorong berdasarkan sumber informasi dari masyarakat (snow ball) yang berada di Nagari yang terpilih dengan pengamatan secara langsung menggunakan kuisioner. Peubah yang diamati adalah jumlah itik jantan dewasa (Nm), jumlah itik betina dewasa (Nf), jumlah itik jantan muda, jumlah itik betina muda, dan jumlah anak itik. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan dari tanggal 17 Maret sampai 8 April 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah populasi itik Bayang di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan 9.156 ekor. Struktur populasi itik Bayang di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan terdiri dari itik jantan dewasa (3,29 %), itik betina dewasa (81,47 %), itik jantan muda (0,25 %), itik betina muda (6,53 %), dan anak itik (8,46 %). Jumlah populasi aktual (Na) adalah 7.760 ekor, jumlah populasi efektif (Ne) adalah 1.157 ekor, dan laju inbreeding (∆f) itik Bayang di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan adalah 0,04 %. Ratio itik jantan dewasa dengan itik betina dewasa itik Bayang di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan adalah 1 : 24.
Kata Kunci : Itik Bayang, Laju Inbreeding (∆f), Populasi Aktual (Na), Populasi Efektif (Ne)
Quality Dimensions of Purchase Behavior Decision on Fishery Products
The role of fishery product has been developed and acknowledged in terms of food security both as income sources and food supplies for developing countries. On the other hand, quality control has become a challenge in overcoming consumers’ decision to purchase the products. The objective of research is to understand and evaluate consumer behavior in purchasing the products in regards to quality dimension on fishery products by using non-probability sampling technique to 142 consumers in three different locations in Pontianak (shops, mini/supermarkets, and local markets). Data were gathered by in-depth interviews divided into four categories consisting of consumer profiles; product knowledge; perception and preference; and quality dimension variable with conjoint analysis. The result shows that price, flavor, moistness, texture, nutrition, packaging color, and packaging size do not affect consumers’ decision to purchase the products. On the contrary, package durability attribute is the primary factor in their decision to purchase, and it is then followed by packaging material, availability, flavor, guarantee, guarantee source, brand, packaging form, and product form. This is beneficial for producers to improve the quality factors and develop market opportunities in the future. Besides, consumers can obtain information on product characteristics to fulfill their expectation and satisfaction.Keywords: conjoint analysis, fishery products, non-probability sampling, purchase behavior, quality dimensionsABSTRAKPeran produk olahan perikanan telah berkembang dan diakui dalam keamanan pangan–baik sebagai sumber pendapatan maupun sumber makanan bagi negara-negara berkembang. Namun, pengendalian terhadap karakteristik mutu menjadi sebuah tantangan dalam menghadapi keputusan pembelian konsumen. Tujuan penelitian adalah memahami dan mengevaluasi perilaku keputusan pembelian konsumen terkait dimensi mutu pada produk olahan perikanan menggunakan teknik non-probability sampling terhadap 142 konsumen pada tiga lokasi di Pontianak (toko, mini/supermarket, dan pasar lokal). Data dikumpulkan dengan metode wawancara mendalam yang terbagi menjadi empat bagian, yaitu profil konsumen; pengetahuan produk; persepsi dan preferensi; dan variabel dimensi mutu dengan conjoint analysis. Hasil menunjukkan bahwa harga, aroma, kelembaban, tekstur, nutrisi, warna kemasan, dan ukuran kemasan tidak memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Namun, atribut daya tahan prduk menjadi faktor terpenting dalam keputusan pembelian yang diikuti dengan bahan kemasan, ketersediaan, aroma, jaminan, sumber jaminan, merek, entuk kemasan, dan bentuk produk. Hal tersebut bermanfaat bagi produsen untuk meningkatkan mutu yang dipentingkan oleh konsumen dan mengembangkan peluang pasar dimasa mendatang. Disamping itu, konsumen dapat memperoleh informasi karakteristik produk penting untuk memenuhi kepuasan dan harapan konsumen.Kata kunci: conjoint analysis, produk olahan perikanan, non-probability sampling, perilaku pembelian, dimensi mutu</p
Pelatihan Online Marketing Pada Pelaku UMKM Olahan Makanan
Online marketing is a set of tools and methodologies used to promote products and services over the internet. Online marketing includes broader marketing elements than traditional business marketing because of the extra channels and marketing mechanisms available on the internet. Online marketing is also known as marketing using the internet, web-based marketing, and digital marketing. Community service activities aim to increase the number of research outputs and community service per lecturer, which have succeeded in gaining international recognition or been implemented by the community (IKU 5). The solution for improving processed food MSMEs related to online marketing is carried out using counseling and demonstration (Practice) methods. Marketing management regarding online marketing in question is knowledge about online marketing, techniques for managing grammar in online marketing, and online marketing evaluation techniques. This activity includes counseling and technical guidance packaged in the form of online marketing knowledge and skills. The number of participants who will take part in the training is 10 people at UMKM Chef Gui in Pontianak. The stages of implementing Community Service consist of planning, field observation, preparation, implementation of training, evaluation and monitoring, reporting and dissemination of the results of Community Service Activities. Conclusion: The community service activities carried out went well. Chef Gui's Food Processed MSME employees received increased knowledge (75 percent) regarding online marketing for Community Service
- …
