1,454 research outputs found
RELIGIUSITAS MASYARAKAT BANTARAN KALI NGROWO WILAYAH KELURAHAN KUTOANYAR KABUPATEN TULUNGAGUNG
Nur Aini Latifah, 2014, “Religiusitas Masyarakat Bantaran Kali Ngrowo Wilayah Kelurahan Kutoanyar Kabupaten Tulungagung”, Penelitian DIPA IAIN Tulungagung.
Penelitian ini membahas tentang kegiatan religiusitas masyarakat kelompok marginal, khususnya tentang kelompok orang pinggiran dalam hal ini warga barak penampungan di Bantaran Kali Ngrowo di Kelurahan Kutoanyar Kabupaten Tulungagung. Religiusitas yang dimaksud adalah tingkat pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan seseorang atas ajaran Agama yang diyakininya, atau suatu sikap penyerahan diri kepada suatu kekuatan yang ada diluar dirinya yang diwujudkan dalam aktivitas dan perilaku individu sehari – sehari meliputi lima aspek – aspek atau dimensi yaitu Keyakinan Agama (Ideologis), Peribadatan atau praktik agama (Ritualistik), Pengetahuan agama (Education), Penghayatan (Eksperiensial), Pengamalan agama (Konsekuensial).
Yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1). Bagaimana pemahaman Agama Islam pada warga barak penampungan di Bantaran Kali Ngrowo wilayah Kelurahan Kutoanyar? (2) Bagaimana pengamalan ajaran – ajaran Agama Islam pada warga barak penampungan di Bantaran Kali Ngrowo wilayah Kelurahan Kutoanyar? (3) Bagaimana Fungsionalisasi masjid dan apa faktor yang mempengaruhi masjid Al – Azhaar di sekitar barak penampungan di Bantaran Kali Ngrowo kurang berfungsi?
Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode induktif, dengan perspektif fenomenologi. Jenis penelitiannya adalah deskriptif eksploratif, dan lokasi penelitian di Bantaran Kali Ngrowo Kelurahan Kutoanyar Kabupaten Tulungagung. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer yang terbatas pada 5 orang informan, sedang sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, skripsi, thesis, jurnal penelitian, laporan penelitian dan data BPS Kabupaten Tulungagung yang berkaitan dengan keberadaan masyarakat marginal di Bantaran Kali Ngrowo wilayah Kelurahan Kutoanyar secara umum. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi terlibat (participant observation) dan trianggulasi. Teknik analisa data secara deskriptif kualitatif .
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa disimpulkan bahwa kondisi ekonomi dan profesi memiliki peran dalam menentukan tingkat dan posisi religiusitas pada masyarakat, kondisi ekonomi yang kuat dan profesi yang terhormat cenderung mampu meningkatkan tingkat religiusitas, sebaliknya kondisi ekonomi yang lemah dan profesi yang kurang menguntungkan cenderung menurunkan tingkat religiusitas. Selanjutnya tingkat religiusitas masyarakat merupakan salah satu faktor penyebab fungsionalisasi masjid Al – azhaar untuk warga barak penampungan di Bantaran Kali Ngrowo kurang maksimal, disamping ada beberapa faktor lain meliputi faktor kepemimpinan, motivasi masyarakat, keterbatasan waktu, dan kemiskinan. Dari beberapa faktor tersebut yang paling dominan yaitu faktor kepemimpinan, karena terlihat bahwa segala bentuk kegiatan keagamaan pada masyarakat tergantung pengurus masjid setempat dalam mengintruksi dan mengkoordinir masyarakat. Selanjutnya faktor kemiskinan yang telah diuraikan diatas
“Etika Subsistensi Orang-Orang Pinggiran (Studi Kasus Pada Pedagang Sayur Keliling di Kabupaten Tulungagung)”
Nur Aini Latifah, 2013, “Etika Subsistensi Orang-Orang Pinggiran (Studi Kasus Pada Pedagang Sayur Keliling di Kabupaten Tulungagung)”, Penelitian DIPA STAIN Tulungagung.
Penelitian ini membahas tentang kegiatan ekonomi sektor informal, khususnya tentang kelompok orang pinggiran dalam hal ini pedagang sayur keliling. Karena skala kerja yang kecil, usaha sektor informal ini bersifat padat karya dengan segala keterbatasan modal, pendidikan, ketrampilan dan peralatan. Pertumbuhan proporsi usaha-usaha sektor informal ini menandakan peminggiran golongan miskin dalam ekonomi perkotaan yang oleh sebagian penulis sering disebut sebagai “involusi kegiatan ekonomi informal”. Mereka bekerja dengan curah waktu melebihi jam kerja normal (overworks), dalam rangka jaminan keberlangsungan hidup (subsisten), selain karena ketiadaan kesempatan dan peluang pada pekerjaan sektor formal, mereka juga harus menopang ekonomi keluarga sehingga terjadi beban kerja ganda (double burden) .
Yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah : (1). Strategi apa yang digunakan orang-orang pinggiran (pedagang sayur keliling ) di Kabupaten Tulungagung menjalankan etika subsistensi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan mempertahankan kehidupannya. Dan (2) Resiko-resiko apa yang diterima orang-orang pinggiran (pedagang sayur keliling) di Kabupaten Tulungagung dalam menjalankan etika subsistensi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan mempertahankan kehidupannya.
Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode induktif, dengan perspektif fenomenologi. Jenis penelitiannya adalah deskriptif eksploratif, dan lokasi penelitian di Kabupaten Tulungagung. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer yang terbatas pada 5 orang informan, sedang sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, skripsi, thesis, jurnal penelitian, laporan penelitian dan data BPS Kabupaten Tulungagung yang berkaitan dengan perempuan pedagang sayur atau sektor informal secara umum. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi terlibat (participant observation) dan trianggulasi. Teknik analisa data secara deskriptif kualitatif .
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa Strategi mereka bertahan pada pekerjaan sebagai pedagang sayur adalah : Dengan membuat pelanggan membeli kembali, Harga yang bersaing, Akrab dengan pembeli, Tepat waktu, Menentukan rute berjualan, Jaga kebersihan barang dagangan, Buat kode panggil tersendiri. Sedang resiko-resiko usaha yang sering mereka temui dalam menjalankan profesinya adalah : Resiko permodalan, Resiko jerat rentenir dan lilitan hutang, Resiko keamanan
Linguistik terapan dalam pengolahan suara dan pembicaraan
Buku Linguistik Terapan Berbasis Digital menghadirkan
pandangan komprehensif tentang bagaimana teknologi digital dapat
diaplikasikan dalam kajian linguistik terapan. Di era digital ini,
perkembangan pesat dalam bidang teknologi informasi telah
membuka banyak peluang untuk menganalisis bahasa dengan cara
yang lebih canggih dan efisien. Buku ini mengulas berbagai konsep
penting seperti pemrosesan bahasa alami (NLP), analisis korpus, serta
penerapan alat digital dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa.
Dengan pendekatan yang praktis dan teori yang mendalam, buku ini
dirancang untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana
teknologi dapat mempermudah penelitian dan aplikasi linguistik di
berbagai sektor.
Tidak hanya berfokus pada teori, buku ini juga menyajikan
studi kasus dan contoh nyata tentang penggunaan perangkat lunak
berbasis digital untuk analisis bahasa. Para pembaca akan diajak
memahami peran teknologi dalam mempercepat dan meningkatkan
keakuratan proses linguistik, dari penerjemahan otomatis hingga
analisis wacana digital. Buku ini cocok bagi mahasiswa, peneliti, serta
praktisi di bidang linguistik yang ingin menggali lebih dalam tentang
potensi teknologi digital dalam memperluas kajian dan penerapan
linguistik terapa
Linguistik terapan dalam pengolahan suara dan pembicaraan
Buku Linguistik Terapan Berbasis Digital menghadirkan
pandangan komprehensif tentang bagaimana teknologi digital dapat
diaplikasikan dalam kajian linguistik terapan. Di era digital ini,
perkembangan pesat dalam bidang teknologi informasi telah
membuka banyak peluang untuk menganalisis bahasa dengan cara
yang lebih canggih dan efisien. Buku ini mengulas berbagai konsep
penting seperti pemrosesan bahasa alami (NLP), analisis korpus, serta
penerapan alat digital dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa.
Dengan pendekatan yang praktis dan teori yang mendalam, buku ini
dirancang untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana
teknologi dapat mempermudah penelitian dan aplikasi linguistik di
berbagai sektor.
Tidak hanya berfokus pada teori, buku ini juga menyajikan
studi kasus dan contoh nyata tentang penggunaan perangkat lunak
berbasis digital untuk analisis bahasa. Para pembaca akan diajak
memahami peran teknologi dalam mempercepat dan meningkatkan
keakuratan proses linguistik, dari penerjemahan otomatis hingga
analisis wacana digital. Buku ini cocok bagi mahasiswa, peneliti, serta
praktisi di bidang linguistik yang ingin menggali lebih dalam tentang
potensi teknologi digital dalam memperluas kajian dan penerapan
linguistik terapa
“DAMPAK PENGIRIMAN PEKERJA MIGRAN INDONESIA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL, EKONOMI DAN PSIKOLOGI ANAK TENAGA KERJA INDONESIA (DI KABUPATEN TULUNGAGUNG)”
Bekera lintas batas negara merupakan fenomena global sekaligus sebagai konsekuensi dari globalisasi itu sendiri. Bekerja atau menjadi pekerja migran di luar negeri kini menjadi sebuah pilihan banyak orang, termasuk warga Indonesia. Bukan hanya warga dari negara berkembang saja bekerja di luar negeri tetapi warga dari negara maju juga melakukannya. Diperkirakan pada tahun 2014, sebanyak 10 juta tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja diluarnegeri dan hanya sekitar 3,8 - 3,9 juta yang merupakan TKI terdokumentasi. Kritik maupun dukungan terhadap program pengiriman TKI/TKW terus memicu perdebatan di masyarakat kita. banyak permasalahan yang muncul akibat dari keberangkatan para TKI/TKW tersebut, baik tentang kelangsungan hidup rumah tangganya, maupun masalah pendidikan anak-anaknya. Hal ini dikarenakan fungsi istri bagi suami dan ibu bagi anak ternyata tak tergantikan, sehingga keberangkatan para TKW ini menimbulkan disfungsi dalam keluarganya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang dampak pengirimanTKI keluar negeri terhadap kehidupan social, ekonomi dan psikologi anak tenaga kerja indonesia. Dampak ini dikaitkan dengan keberadaan orang tua yang relative jauh dari keluarga dan perubahan kehidupan social, ekonomi serta perilaku anak berikut pemanfaatan remitansi yang dikirimkan. Pemahaman yang didapatakan bermanfaat sebagai masukan dalam penyusunan kebijakan dan program pemberdayaan TKI migrant dalam pembinaan kesejahteraan keluarga TKI dan pemanfaatan remitansi sebagai investasi yang lebih bermanfaat dari sekedar memenuhi kebutuhan konsumtif.
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bersifat naturalistic dengan jenis penelitian fenomenologis. Sedangkan strategi yang digunakan mengingat penelitian tersebut sudah direncanakan secara terperinci dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan, maka strateginya yang cocok adalah embedded research (penelitian terpancang). Adapun langkah-langkahnya adalah 1) pengumpulan sumber melalui wawancara, observasi, dan teknik dokumentasi; 2) mereduksi data dengan tujuan untuk menyederhanakan dan mengkategorisasi data; 3) menyajikan data dalam bentuk deskripsi memorial; 4) menarik kesimpulan sebagai interpretasi; 5) mengajukan rekomendasi berupa implikasi; dan 6) menyusun laporan penelitian.
Penelitian dilakukan di Kabupaten Tulungagung, yang merupakan salah satu daerah pengirim (sending area) TKI dalam jumlah besar di Indonesia. Terdapat beberapa Desa yang terpilih sebagai lokasi penelitian ini adalah Desa Pagersari Kecamatan Kalidawir, Desa Pojok Kecamatan Ngantru dan Desa Tugu Kecamatan Sendang Kabup[aten Tulungagung. Pengumpulan data dilakukan menggunakan berbagai metode, yaitu kajian literatur, survei, wawancara mendalam, dan focus group discussion (FGD) hasil Dari Penelitian Ini Untuk Desa Pagersari Kecamatan Kalidawir dampak Pengiriman TKI terhadap kehidupan anak secara sosial, ekonomi dan psikologi ternyata sangat mmprihatinkan, karena anak-anak keluarga TKI sangat banyak yang bermasalah terutama terlibat dalam kenakalan remaja dan pergaulan yang salah, banyak yang terlibat kasus narkoba, miras dan remaja putus sekolah. Kemudian penelitian yang dilakukan di Desa Tugu Kecamatan Sendang menunjukkan hasil bahwa secara sosial anak-anak keluarga TKI cenderung menjadi anak yang pendiam, kurang aktif dalam pergaulan, menjadi anak rumahan. Dan secara ekonomis, dari sisi ketercukupan sandang pangan dan papan, rata-rata terpenuhi walaupun secara kesehatan kurang maksimal dengan kondisi anak-anak yang sering sakit-sakitan sedang jika dilihat dari sisi pendidikan, rata-rata pendidikan yang ditempuh juga tidak terlalu tinggi, sekolah hanya tamat SMP dan SMA. Dari kehidupan psikologi, anak-anak TKI menjadi pribadi yang introvert dan pasif serta kurang percaya diri. Sedang untuk penelitian yang dilakukan di Desa Pojok Ngantru seperti halnya yang terjadi di Desa Pagersari, menunjukkan hasil yang sangat memprihatinkan karena selain berdampak pada kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkoba, miras dan perubahan perilaku yang tidak baik pada anak, ternyata dampak pengiriman TKI juga sangat mempengaruhi ketahanan keluarga TKI, terbukti dengan tingginya angka perceraian di Desa Pojok, sehingga secara sosial, ekonomi maupun psikologi anak sangat terganggu dan banyak masalah yang menimpa anak-anak keluarga TKI. Dari fenomena tersebut secara umum dampak pengiriman TKI terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan psikologi anak-anak TKI mengalami kondisi sebagai anak yang terabaikan
Perempuan Dan Anak Dalam Situasi Khusus ( Studi Kasus Di Kabupaten Tulungagung)
Salah satu program Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2004 – 2009, adalah ”Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak” yang telah direncanakan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2007. Masalah utama dalam pembangunan pemberdayaan perempuan adalah rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik. Sedang untuk kegiatan Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak bertujuan untuk mewujudkan anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, dan berahlak mulia, serta melindungi anak terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
Peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan sangat diperlukan karena kualitas kehidupan perempuan masih jauh lebih rendah daripada laki-laki. Demikian pula halnya dengan anak, yang merupakan generasi penerus, perlu ditingkatkan kesejahteraan dan pelindungannya. Secara umum, pembangunan pemberdayaan perempuan dan pelindungan anak telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, tetapi berbagai permasalahan masih dihadapi, seperti masih tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih adanya kesenjangan pencapaian hasil pembangunan antara perempuan dan laki-laki, yang tercermin dari masih terbatasnya akses sebagian besar perempuan ke layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, dan keterlibatan dalam kegiatan publik yang lebih luas
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN EKONOMI RAWAN PADA PEREMPUAN PEDAGANG SAYUR KELILING DI KABUPATEN TULUNGAGUNG
Perempuan dalam posisi ekonomi rawan masuk dalam sektor ekonomi informal. Hal itu disebabkan Akumulasi penduduk di suatu wilayah tidak diikuti penyediaan kesempatan kerja formal luas. Penduduk dengan tingkat pendidikan dan keahlian rendah, cenderung masuk ke sektor informal. Mereka bekerja seadanya, lapangan usaha apa saja, jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan ketrampilan dan pendidikan yang tinggi (Sethuraman 1981, Mazumdar 1984, Adams 1995 , Pitoyo, 1999). Menurut Departemen Perindustrian (1990) dalam Pitoyo, batasan sektor informal adalah sifat usaha yang tidak terorganisir, teknologi sederhana,lokasi usaha yang tidak tetap, jam kerja yang tidak pasti, modal kecil, tidak membutuhkan pendidikan dan ketrampilan yang tinggi, penghasilan rendah, relatif menyerap tenaga kerja (padat karya).
Aktifitas ekonomi berskala kecil atau usaha-usaha sektor informal merupakan kegiatan usaha yang adaptif terhadap kondisi ekonomi rawan, seperti perdagangan, pengolahan makanan, industri bertekhnologi rendah dan sederhana, serta jasa. Kondisi krisis memperlihatkan kemampuan sector informal bertahan di tengah tekanan kondisi ekonomi dan politik. Saat krisis ekonomi berkepanjangan, bencana bertubi-tubi, kelompok usaha informal mampu mempertahankan kelangsungan hidup mereka (subsistensi). Segala keterbatasan sumber daya yang dimiliki mengharuskan pelaku sektor informal melakukan aktifitas apa saja, terutama status pekerjaan usaha sendiri seperti pedagang sayur, pedagang asongan, pedagang kaki lima, pemulung, jasa angkut barang, agar usaha dan hidup mereka dapat bertahan
KEBIJAKAN MONETER DALAM PERSPEKTIF EKONOMI SYARIAH
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran
mengenai dampak kebijakan pemerintah yang dilaksanakan khususnya
dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakam laju
pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi
yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat pertumbuhan
ekonomi yang terjadi. Kuznets dan Sirojuzilam mendefinisikan
pertumbuhan ekonomi sebagai “Kenaikan jangka panjang dalam
kemampuan suatu Negara untuk menyediakan semakin banyak barang
kepada penduduknya, kemampuan ini bertambah sesuai dengan
kemajuan teknologi dan penyesuaian kelembagaan dan ideologis yang
diperlukan”. Untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi
tetapi stabil tidaklah pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan, ini
ibaratnya mata uang 2 sisi, kadang dicapai pertumbuhan ekonomi
yang tinggi tapi tidak stabil. Untuk mencapai inilah diperlukan
kebijakan moneter. Kebijakan moneter bertujuan mengarahkan
perekonomian makro ke kondisi yang lebih baik dan atau diinginkan.
Kondisi-kondisi tersebut diukur dengan menggunakan indicatorindikator makro utama seperti terpeliharanya pertumbuhan ekonomi
yang baik, stabilitas harga umum yang terkendali, dan menurunnya
tingkat pengangguran. Kebijakan moneter tujuannya adalah untuk
mencapai stabilisasi ekonomi. Berhasil tidaknya tujuan dari kebijakan
moneter tersebut dipengaruhi oleh dua faktor, pertama: kuat tidaknya
hubungan kebijakan moneter dengan kegiatan ekonomi tersebut,
kedua: jangka waktu perubahan kebijakan moneter terhadap kegiatan
ekonomi
Structural and functional analysis of aqp7 and its role in cancer
Author Latifah AlmaneaMasterarbeit Johannes Kepler Universität Linz 202
Review on survey of paediatric optometry practice / Nur Latifah Abdullah Zawawi
Paediatric optometry was one of the many branches of optometry practice in which it focuses only on children from infant till school age. The priority of paediatric optometry is to ensure the children to receive full eye check-up from young age. This was because any early detection could lead to better prognosis for any children who had vision abnormalities, either by treating or decreasing the progress of the abnormalities detected.
This study was to review the scopes in published surveys used to investigate the current practice of paediatric optometry among all the eye care practitioners and to propose scopes of the survey on comprehensive paediatric practice among eye care practitioner in Malaysia based on the review. All the existing surveys were obtained through search engine Science Direct, Wiley Online Library, Pub Med, Sage and Google Scholar .The keywords used were “paediatric”, “optometry”, “eye care practitioner”, “eye care
services”, “vision screening”, “comprehensive eye
examination” and “survey”. Out of 32 journals reviewed, 22 (68.8%) did not mention about the length of the survey while 10 (31.3%) mention the length of the survey. Among 32 journals, 17 (53.1%) were distributed by mail, 3 (9.4%) were distributed by email, 11 (34.4%) were based on
interview and 1 (3.1%) by mail and email. The number of journals that targeted the eye care practitioners was 9 (28.1%) which were distributed among optometrists, another 9 (28.1%) were distributed among ophthalmologists and 2 (6.3%) were distributed among
orthoptists. Among 32 journals reviewed, 18 (56.3%) included the information of the respondents (year of graduation of the respondent, the educational level of the respondent and the demographic data). Regarding the practice’s characteristics, 5 (15.6%) included the location of the practice and 11 (34.4%) included the type of the practice. Out of 32 journals, only 17 (53.1%) included the age group in the survey. As for the scope of the test, 9 (28.1%) out of 32 included the required tests in the survey. While for the management of the patient in the practice, 11 (34.4%) out of 32 journals included the management in the survey. It was concluded that 5 scopes should be included in the survey with each modification made to suit the need of the survey. The 5 scopes were the demographic data of the respondent, the information regarding their practice, age group of the patient attended, the scope of the tests query and the management given to the patient
- …
