6 research outputs found

    PENAFSIRAN KH. BISRI MUSTOFA TENTANG AYAT-AYAT ETOS KERJA DALAM AL-QUR’AN DALAM TAFSIR AL-IBRIZ

    No full text
    Sumber pokok subtasnsi ajaran umat Islam adalah al-Qur’an dan hadist. Al- Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prisip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan makhluk lainnya.Menurut Muhammad Abduh al-Qur’an harus memainkan peran yang sangat penting dalam mengangkat masyarakat, memperbarui kondisi umat, dan menyodorkan peradaban Islam Modern. Lantas yang menjadi pertanyaan bagi penulis, mengapa di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam dan memiliki sumber ajaran dari al-Qur’an, tapi kesenjangan sosialnya masih tinggi. Apakah karena kurang mampu memahami pesan kandungan dalam al-Qur’an atau karena al-Qur’an tidak memberikan solusi untuk mengurangi kesenjangan tersebut?. Permasalahan-permasalan tersebut memantik penulis untuk menggali lebih dalam pemahaman masyarakat Indonesia tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan etos kerja. Karena terlalu generalnya pemahaman masyarakat Indonesia, penulis akan memfokuskan penelitian ini pada pemahaman tafsir KH. Bisri Mustofa. Berdasarkan kondisi tersebut, penulis merumuskan dua permasalahan yaitu: 1. Bagaimana penafsiran Bisri Mustofa mengenai ayat-ayat etos kerja dalam tafsir al ibriz?. 2. Bagaimana kontekstualisasi penafsiran Bisri Mustofa dengan problem ke-Indonesiaan hari ini?. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan bahan pustaka sebagai sumber data utama; primer dan sekunder. Data primer skripsi ini adalah Kitab Tafsir Al- Ibriz karangan KH. Bisri Mustofa. Sedangkan sekunder adalah data yang berupa buku, artikel, laporan penelitian tentang KH. Bisir Mutofa, Al-Ibriz, dan etos kerja. Berdasarkan data yang terkumpul kemudian metode analisa yang digunakan penulis adalah hermeneutika filosofis H.G Gadamer.. Hasil penelitian ini menemukan bahwa KH. Bisri Mustofa hidup dalam keluarga yang memiliki etos kerja yang tinggi dan agamis, berinteraksi dengan dua tradisi keberagamaan yang berbeda (tradisionalis dan modernis), konteks keberagamaan yang mengelilinginya merupakan masa peralihan dari zaman ideologis menuju zaman ilmu pengetahuan. Dalam menafsirkan ayat-ayat al- Qur’an, KH. Bisri Mustofa lebih mengedepankan aspek lokalitas dalam penafsirannya. Tafsir dengan bahasa daerah, menurutnya agar umat Islam dari berbagai suku bangsa memahami makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Tafsir Al-Ibriz dapat diklasifikasikan sebagai tafsir al-ar’yi dan sesuai pendekatan aldirayah. Aplikasi penafsiran KH. Bisri Mustofa yang menggunakan pendekatan ushul fiqh, merupakan pencarian jawaban atas realitas sosial, dengan lebih mengedepankan kemaslahatan dan kebaikan umat Islam. Seperti penafsiran KH. Bisri Mustofa merupakan pencarian jawaban atas realitas terkait persolan etos kerja. KH. Mustafa Bisri memahami bahwa pekerjaan yang kreatif itu harus memaksimalkan sumberdaya alam yang ada disekitarnya dengan menggunakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

    PERNIKAHAN TANPA RESTU ORANG TUA: KAJIAN FIKIH MUNAKAHAT DAN \u27URF TERHADAP TRADISI PERNIKAHAN NAIK

    No full text
    This study investigates the practice of “pernikahan naik” (elopement marriage) in Persada Tongra Village, Terangun District, Gayo Lues Regency, Aceh Province, from the perspectives of Islamic law and customary law. “Pernikahan naik” refers to a traditional form of marriage where a man takes the woman he loves to the home of a religious figure (tengku imem) to be married, often without the consent or knowledge of the woman’s parents. This practice is commonly driven by factors such as lack of parental approval, expensive dowries, family disputes, or premarital pregnancy. Although it appears to violate social and legal norms, in the Gayo community, it has become institutionalized through customary procedures and religious involvement. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through observation, interviews, and documentation involving pesantren alumni couples, customary leaders, and religious figures. Data analysis involved reduction, presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that pernikahan naik follows several stages: mutual agreement between the couple, elopement to the religious leader’s residence, and the solemnization of the marriage witnessed by community figures. From the standpoint of Islamic law, such marriages are considered valid as long as they fulfill the essential elements (rukun) and conditions (syarat) of nikah. However, from the customary law perspective, this practice is seen as a violation and may incur sanctions, such as a fine of a goat. In the context of Islamic jurisprudence, although pernikahan naik may be normatively accepted, it can be classified as urf fasid (corrupt custom) because it neglects the obligation to honor the bride’s guardian (wali). Therefore, the study recommends the need for comprehensive legal socialization that integrates Islamic law, statutory regulations, and customary values, to mitigate such practices while preserving local wisdom. This research contributes to a broader understanding of how social dynamics, religious values, and customary systems shape the formation of harmonious families within pesantren and indigenous communities. &nbsp

    Istighosah Gus Ali Mutofa Asady dalam membangun emosional spiritual quotient pada siswa dalam menghadapi ujian nasional di Singosari Kabupaten Malang

    No full text
    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana proses istighosah Gus Ali Mustofa Asady dalam membangun emosional spiritual quotient pada siswa menghadapi ujian nasional di Singosari Kabupaten Malang?. 2) Bagiamana hasil istighosah Gus Ali Mustofa Asady dalam membangun emosional spiritual quotient pada siswa menghadapi ujian nasional di Singosari Kabupaten Malang? Dalam menjawab rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif tentang proses istighosah Gus Ali Mustofa Asady yang diperoleh berdasarkan hasil analisis pengalaman pribadi peneliti saat mengikuti kegiatan tersebut. Disamping itu peneliti menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan hasil dari proses penelitian ini. Proses istighosah Gus Ali Mustofa Asady dalam membangun emosional spiritual quotient pada siswa menghadapi ujian nasional di Singosari Kabupaten Malang terdiri dari muqaddimah, isi, dan penutup. Hasil istighosah Gus Ali Mustofa Asady dalam membangun emosional spiritual quotient pada siswa menghadapi ujian nasional di Singosari Kabupaten Malang: membangun jiwa kembali tersadarkan, ingat kepada Allah, menyesali dosa-dosa, dan merasakan kepasrahan yang menenangkan dalam proses menghadapi ujian nasional. Hati menjadi ikhlas, pasrah dan yakin bahwa dengan kekuasaan Allah semuanya bisa terjadi

    TERAPI BERPIKIR POSITIF UNTUK MENINGKATKAN PENYESUAIAN DIRI SANTRIWATI BARU PONDOK PESANTREN AL-QUR’AN AL MUSTOFA NGANTRU TULUNGAGUNG

    No full text
    ABSTRAK Skripsi dengan judul "Terapi Berpikir Positif untuk Meningkatkan Penyesuaian Diri Santri Baru Putri Pondok Pesantren Al-Qur'an Al Mustofa Ngantru Tulungagung" ini ditulis oleh Intan Nurmalasari Ratna Ningtyas, NIM. 1733143025, dosen pembimbing Muhammad Ainun Najib, M.Fil.I. Kata kunci: terapi berpikir positif, penyesuaian diri, santri pondok pesantren Penelitian ini dilatar belakangi dari suatu fenomena yang ada di Pondok Pesantren Al-Qur'an Al Mustofa Ngantru Tulungagung yang memiliki jumlah santri dengan total kurang lebih sebanyak 250 santri dengan santri baru putri sebanyak 23 santri. Dengan rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah (1) apakah terapi berpikir positif efektif untuk meningkatkan penyesuaian diri santri baru putri Pondok Pesantren Al-Qur'an Al Mustofa Ngantru-Tulungagung ? (2) seberapa besar tingkat efektifitas terapi berpikir positif untuk meningkatkan penyesuaian diri santri baru putri Pondok Pesantren Al-Qur'an Al Mustofa Ngantru-Tulungagung ? Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori berpikir positif menurut Ibrahim Elfiky, berpikir positif merupakan sumber kekuatan dan sumber kebebasan bagi manusia. Dikatakan sumber kekuatan karena ia membantu manusia memikirkan solusi sampai mendapatkannya. Dikatakan sumber kebebasan karena dengannya manusia akan terbebas dari penderitaannya dan belenggu pikiran negatif yang dapat mempengaruhi fisik manusia. Teori penyesuaian diri menurut Hurlock adalah proses dari mencapai tujuan dari pola sosialisasi. Adapun yang terpenting dan tersulit dari tahapan ini adalah dengan meningkatnya pengaruh teman sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest Control Group Design. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah terapi berpikir positif dan yang menjadi variabel terikat adalah penyesuaian diri. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 10 subjek dengan pembagian 5 kelompok eksperimen dan 5 kelompok kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket atau kuesioner dengan skala pengukuran yaitu skala likert. Hasil hitung uji nilai gain score antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan uji mann whitney didapatkan niali asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,031 karena nilai asymp. Sig < 0,05 atau 0,031 < 0,05 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada pengisian kuesioner penyesuaian diri kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sedangkan hasil uji beda pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menggunakan uji wilcoxon signed ranks tetst didapatkan nilai asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,005 karena nilai aymp. Sig < 0,05 atau 0,005 < 0,05 sehingga disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada pengisian kuesioner penyesuaian diri pada saat pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Untuk mengetahui tingkat efektivitas terapi berpikir positif dalam meningkatkan penyesuaian diri santri baru putri pondok pesantren dengan menggunakan sumbanganregresi linier dan didaptkan nilai R Square sebesar 0,535 atau 53,5%. Berdasarkan hasil hitung tersebut maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam penelitian ini terapi berpikir positif efektif dalam meningkatkan penyesuaian diri santri baru putri Pondok Pesantren Al-Qur’an Al Mutofa Ngantru Tulungagung

    Mencari bening mata air

    No full text
    Pembahasan:Teladan sang NabiMembuka mata hatiSyiar suara kemenanganMenjadi kekasih Alla

    Soil-derived Streptomyces sp. GMR22 producing antibiofilm activity against Candida albicans: bioassay, untargeted LC-HRMS, and gene cluster analysis

    No full text
    Biofilm-forming fungi, Candida albicans, are currently a serious problem in infectious disease cases. Soil bacteria Streptomyces sp. GMR22 have a large genome size and antifungal metabolites against C. albicans, but its potential antibiofilm activity is not clearly defined. The aims of this study were to determine the antibiofilm activity of GMR22 against C. albicans, identify the main constituents of active extracts, and investigate the biosynthesis gene clusters encoding the enzymes related to metabolism pathways. Antifungal and antibiofilm measurements were performed using in vitro assays on C. albicans ATCC 10231. Main constituents of active extracts were analyzed using untargeted Liquid Chromatography tandem High-Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS). RAST software was applied to investigate the gene clusters of the biosynthesis pathways based on whole genome sequences. Chloroform extract of GMR22 has antifungal and antibiofilm properties at 13–420 μg/mL with palmitic acid (C(16)H(32)O(2), 273.27028 Da), a saturated fatty acid as a major constituent (42.74). Streptomyces sp. GMR22 has 53 subsystems related to fatty acids biosynthesis (Fab) FAS II. The Kyoto Encyclopedia of Gene and Genome map of Fab revealed 10 of 21 (47.6%) gene clusters encode enzymes related to Fab. There were six gene clusters encoding the enzymes related to the hexadecenoic acid (palmitic acid) biosynthesis pathways: 6.4.12; FabD, FabH, FabF, FabG, FabI and 1.14.192. Each enzyme was encoded by 3–14 genes. These results confirmed that soil Streptomyces sp. GMR22 bacterium has remarkable biotechnological potential by producing fatty acids which are mostly palmitic acid as an active antibiofilm agent against C. albicans
    corecore