85 research outputs found
Intensi Profetik dan Lokalitas dalam Puisi A. Mustofa Bisri
This research aims to identify the prophetic intentions and the narration of locality in A. Mustofa Bisri’s poetry. As a Kiai-poet, the study of A. Mustofa Bisri’s poetry is important because with this study we can identify A. Mustofa Bisri’s perspective on phenomena and language. This study was based on data obtained from interviews with A. Mustofa Bisri at Islamic Boarding SchoolRaudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Central Java. The results of this study reveal that, first, literature (poetry) is positioned by A. Mustofa Bisri as a prophetic medium in loving the Prophet Muhammad, so that literature has the value of worship. Secondly, A. Mustofa Bisri positions pesantren as one of the aesthetic sources of poetics and his vision of local wisdom. Third, with the beauty of poetry, A. Mustofa Bisri seeks to create Islamic brotherhood(ukhuwah Islamiyah) and human brotherhood(ukhuwah basyariyah).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi intensi profetik serta narasi lokalitas di dalam puisi A. Mustofa Bisri. Sebagai kiai-penyair, kajian mengenai perpuisian A. Mustofa Bisri menjadi penting untuk karena dapat mengidentifikasi sudut pandangnya terhadap fenomena dan bahasa. Kajian ini diolah berdasarkan pada data yang diperoleh dari wawancara dengan A. Mustofa Bisri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa, pertama, sastra (puisi) diposisikan oleh A. Mustofa Bisri sebagai wasiilah profetik (kenabian) dalam mencintai Nabi Muhammad, sehingga sastra bernilai ibadah kepada Allah, kedua, A. Mustofa Bisri memposisikan pesantren sebagai salah satu sumber estetika persajakan dan visi kearifan lokalnya, ketiga, dengan keindahan puisi, A. Mustofa Bisri berupaya menciptakan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyah
Intensi Profetik dan Lokalitas dalam Puisi A. Mustofa Bisri
This research aims to identify the prophetic intentions and the narration of locality in A. Mustofa Bisri’s poetry. As a Kiai-poet, the study of A. Mustofa Bisri’s poetry is important because with this study we can identify A. Mustofa Bisri’s perspective on phenomena and language. This study was based on data obtained from interviews with A. Mustofa Bisri at Islamic Boarding SchoolRaudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Central Java. The results of this study reveal that, first, literature (poetry) is positioned by A. Mustofa Bisri as a prophetic medium in loving the Prophet Muhammad, so that literature has the value of worship. Secondly, A. Mustofa Bisri positions pesantren as one of the aesthetic sources of poetics and his vision of local wisdom. Third, with the beauty of poetry, A. Mustofa Bisri seeks to create Islamic brotherhood(ukhuwah Islamiyah) and human brotherhood(ukhuwah basyariyah).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi intensi profetik serta narasi lokalitas di dalam puisi A. Mustofa Bisri. Sebagai kiai-penyair, kajian mengenai perpuisian A. Mustofa Bisri menjadi penting untuk karena dapat mengidentifikasi sudut pandangnya terhadap fenomena dan bahasa. Kajian ini diolah berdasarkan pada data yang diperoleh dari wawancara dengan A. Mustofa Bisri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa, pertama, sastra (puisi) diposisikan oleh A. Mustofa Bisri sebagai wasiilah profetik (kenabian) dalam mencintai Nabi Muhammad, sehingga sastra bernilai ibadah kepada Allah, kedua, A. Mustofa Bisri memposisikan pesantren sebagai salah satu sumber estetika persajakan dan visi kearifan lokalnya, ketiga, dengan keindahan puisi, A. Mustofa Bisri berupaya menciptakan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basyariyah
PENAFSIRAN KH. BISRI MUSTOFA TENTANG AYAT-AYAT ETOS KERJA DALAM AL-QUR’AN DALAM TAFSIR AL-IBRIZ
Sumber pokok subtasnsi ajaran umat Islam adalah al-Qur’an dan hadist. Al-
Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prisip-prinsip umum
pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan makhluk
lainnya.Menurut Muhammad Abduh al-Qur’an harus memainkan peran yang
sangat penting dalam mengangkat masyarakat, memperbarui kondisi umat, dan
menyodorkan peradaban Islam Modern. Lantas yang menjadi pertanyaan bagi
penulis, mengapa di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah beragama
Islam dan memiliki sumber ajaran dari al-Qur’an, tapi kesenjangan sosialnya
masih tinggi. Apakah karena kurang mampu memahami pesan kandungan dalam
al-Qur’an atau karena al-Qur’an tidak memberikan solusi untuk mengurangi
kesenjangan tersebut?. Permasalahan-permasalan tersebut memantik penulis
untuk menggali lebih dalam pemahaman masyarakat Indonesia tentang ayat-ayat
yang berhubungan dengan etos kerja. Karena terlalu generalnya pemahaman
masyarakat Indonesia, penulis akan memfokuskan penelitian ini pada pemahaman
tafsir KH. Bisri Mustofa.
Berdasarkan kondisi tersebut, penulis merumuskan dua permasalahan yaitu:
1. Bagaimana penafsiran Bisri Mustofa mengenai ayat-ayat etos kerja dalam tafsir
al ibriz?. 2. Bagaimana kontekstualisasi penafsiran Bisri Mustofa dengan problem
ke-Indonesiaan hari ini?. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan bahan pustaka sebagai sumber
data utama; primer dan sekunder. Data primer skripsi ini adalah Kitab Tafsir Al-
Ibriz karangan KH. Bisri Mustofa. Sedangkan sekunder adalah data yang berupa
buku, artikel, laporan penelitian tentang KH. Bisir Mutofa, Al-Ibriz, dan etos
kerja. Berdasarkan data yang terkumpul kemudian metode analisa yang digunakan
penulis adalah hermeneutika filosofis H.G Gadamer..
Hasil penelitian ini menemukan bahwa KH. Bisri Mustofa hidup dalam
keluarga yang memiliki etos kerja yang tinggi dan agamis, berinteraksi dengan
dua tradisi keberagamaan yang berbeda (tradisionalis dan modernis), konteks
keberagamaan yang mengelilinginya merupakan masa peralihan dari zaman
ideologis menuju zaman ilmu pengetahuan. Dalam menafsirkan ayat-ayat al-
Qur’an, KH. Bisri Mustofa lebih mengedepankan aspek lokalitas dalam
penafsirannya. Tafsir dengan bahasa daerah, menurutnya agar umat Islam dari
berbagai suku bangsa memahami makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Tafsir
Al-Ibriz dapat diklasifikasikan sebagai tafsir al-ar’yi dan sesuai pendekatan aldirayah.
Aplikasi penafsiran KH. Bisri Mustofa yang menggunakan pendekatan
ushul fiqh, merupakan pencarian jawaban atas realitas sosial, dengan lebih
mengedepankan kemaslahatan dan kebaikan umat Islam. Seperti penafsiran KH.
Bisri Mustofa merupakan pencarian jawaban atas realitas terkait persolan etos
kerja. KH. Mustafa Bisri memahami bahwa pekerjaan yang kreatif itu harus
memaksimalkan sumberdaya alam yang ada disekitarnya dengan menggunakan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
SYARAH AHMAD MUSTOFA BISRI TERHADAP TAFSIR AL-IBRiZ
Penelitian ini mengkaji syarah Ahmad Mustofa Bisri terhadap
Tafsir al-Ibrīz. Objek ini dipilih dengan tiga alasan, yaitu: Tafsir al-
Ibrīz menggunakan bahasa Jawa yang merupakan penduduk mayoritas
di Indonesia sehingga memiliki potensi besar dalam penyebaran
khazanah keislaman; sosok Ahmad Mustofa Bisri sebagai pemegang
otoritas keagamaan sehingga syarah yang disampaikannya memiliki
legitimasi yang kuat dalam masyarakat; dan adanya hubungan
genealogis antara penulis Tafsir al-Ibrīz dan pemberi syarah.
Penelitian ini berusaha menjawab tiga pertanyaan besar: bagaimana
konteks sosio-kultural personal Ahmad Mustofa Bisri; bagaimana
karakteristik dan metode yang digunakan; dan mengapa terjadi
dinamika dalam syarah Ahmad Mustofa Bisri terhadap Tafsir al-Ibrīz.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sumber utama
video yang terdokumentasi dalam akun YouTube GusMus Channel
dan didukung oleh referensi lain yang terdokumentasi secara fisik dan
digital. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis isi
(content analysis). Penulis juga menggunakan pendekatan tekstual,
semi-tekstual, dan kontekstual yang dikembangkan oleh Abdullah
Saeed sebagai bingkai analisis.
Penelitian ini menemukan adanya perbedaan metodologis dan
corak tafsir antara Tafsir al-Ibrīz dan syarah Ahmad Mustofa Bisri.
Tafsir al-Ibrīz menggunakan metode ijmali yang cenderung ringkas
dan literal, sedangkan syarah Ahmad Mustofa Bisri membuka ruang
lebih luas yang dinamis dan disesuaikan dengan kompleksitas audiens
kontemporer. Syarah Ahmad Mustofa Bisri terhadap Tafsir al-Ibrīz
menampilkan dominasi pendekatan linguistik sebagai alat utama
memahami dan menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama melalui
pembacaan akar kata dan struktur gramatikal. Dalam isu sosial dan
teologis, Ahmad Mustofa Bisri memperkaya syarahnya dengan narasi
moral dan historis, namun tetap berada dalam batas tafsir normatif dan
tunduk pada makna tekstual. Sebaliknya, dalam isu muamalah tampak
kecenderungan elaborasi makna yang lebih kontekstual, seperti dalam. pembahasan suap, korupsi, dan bunga bank. Reinterpretasi kritis
hanya tampak terbatas dalam isu poligami, yang melahirkan
inkonsistensi tafsir gender di mana pada satu sisi ia menekankan
prinsip keadilan, sedangkan pada sisi yang lain seperti warisan dan
kepemimpinan rumah tangga, ia masih mempertahankan pembacaan
tradisional. Syarah Ahmad Mustofa Bisri juga merefleksikan ideologi
dan identitas kolektif yang tampak dari pemilihan diksi “santri”,
“tawāsuṭ”, dan “ukhuwwah nahḍiyyah” yang lekat dengan tradisi
Perkumpulan Nahdlatul Ulama.
Kata kunci: Al-Qur’an dan Tafsir, Syarah, YouTube, Tafsir al-Ibrīz
KONSEP TAWAKAL PERSPEKTIF BISRI MUSTOFA DAN RELEVANSINYA DENGAN KEHIDUPAN KONTEMPORER
Skripsi ini ditulis oleh Muhammad Arif Setyabudi, NIM. 126301212086, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, dengan judul “Konsep Tawakal Perspektif Bisri Mustofa dan Relevansinya dengan Kehidupan Kontemporer” yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ahmad Zainal Abidin, M.A.
Kata Kunci: Tawakal, Bisri Mustofa, Kehidupan Kontemporer.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dinamika kehidupan masyarakat kontemporer yang ditandai oleh ketidakpastian, tekanan psikologis, dan kompleksitas persoalan hidup yang semakin tinggi. Dalam situasi tersebut, manusia membutuhkan nilai-nilai spiritual yang mampu memberikan ketenangan dan arah, salah satunya adalah konsep tawakal. Penelitian ini mengkaji konsep tawakal dalam perspektif Bisri Mustofa sebagaimana tercermin dalam karyanya Tafsīr al-Ibrīz li Ma‘ānī al-Qur’ān al-‘Azīz, serta relevansinya dengan kehidupan kontemporer. Tawakal dalam pemikiran Bisri Mustofa bukanlah bentuk kepasrahan pasif, melainkan penyerahan total kepada Allah SWT setelah melalui usaha maksimal.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) bagaimana penafsiran Bisri Mustofa terhadap konsep tawakal dalam tafsīr al-Ibrīz, 2) bagaimana relevansinya dengan kehidupan kontemporer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan makna dan konsep tawakal menurut Bisri Mustofa serta mengkaji relevansinya dalam menjawab tantangan kehidupan kontemporer masa kini. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan menggunakan metode tematik tokoh dalam studi tafsir. Sumber utama dalam penelitian ini adalah tafsīr al-Ibrīz, serta literatur pendukung lainnya sebagai data sekunder.
Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa:1) konsep tawakal yang bersumber dari penafsiran Bisri Mustofa dalam tafsīr al-Ibrīz menghasilkan beberapa konsep yakni, QS. Āli ‘Imrān: 121-122 tawakal sebagai sebagai bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, QS. Āli ‘Imrān: 159-160 tawakal sebagai bentuk sikap seorang hamba setelah mengambil keputusan, QS. an-Nisā’:81 tawakal sebagai bentuk manifestsi keteguhan mental, QS. Yūnus:84-86 tawakal sebagai jalan menuju keselamatan, QS. Ibrāhīm:12 tawakal sebagai petunjuk menuju ketabahan, QS. an-Naḥl :41-42 tawakal sebagai pondasi perjuangan, QS. an-Naḥl:98-100 tawakal sebagai penangkal tipu daya syaithan, QS. aṭ-Ṭalāq:2-3 tawakal sebagai jalan keluar dan jaminan rezeki. 2) Kedelapan konsep tersebut memiliki relevansi kuat dengan berbagai tantangan kehidupan kontemporer, antara lain; Percaya kepada takdir Tuhan, ketenangan jiwa usai menetapkan keputusan, stabilitas emosional, perlindungan di tengah tekanan, pilar ketahanan jiwa, keyakinan dalam perubahan, perisai diri atas godaan, serta keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri
Pendidikan karakter perspektif KH. A. Mustofa Bisri : implementasinya dalam pendidikan formal
Pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter yang mulia (good character) dari peserta didik dengan mempraktikan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dalam hubungannya dengan Tuhannya. Tujuan penelitian ini untuk: 1)Mengetahui pendidikan karakter dalam pendidikan formal 2)Mengetahui pendidikan karakter perspektif KH. A. Mustofa Bisri 3)Mengetahui kemungkinan implementasinya dalam pendidikan formal. Penelitian ini merupakan penelitian studi tokoh. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara dan metode dokumentasi. Uji keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi metode.
Pendidikan Formal meliputi lembaga pendidikan TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan perguruan tinggi. Pendidikan karakter harus berlangsung melalui pembelajaran, kegiatan kokurikuler dan atau ekstra-kurikuler, penciptaan budaya satuan pendidikan dan pembiasaan. Sasaran pada pendidikan formal adalah peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. Kontribusi KH. A. Mustofa Bisri bagi dunia seni maupun karya tulis di Indonesia tidak diragukan lagi. Beberapa karya tulisnya, seperti cerpen, puisi, maupun buku mengandung nilai-nilai karakter yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia. Salah satu bentuk sumbangsih pemikiran beliau adalah yang tertuang dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial dan Membuka Pintu Langit karya KH. A. Mustofa Bisri sendiri.
Hasil penelitian memberikan saran bahwa pendidikan karakter perspektif KH. Mustofa Bisri ini layak dan baik untuk diimplementasikan dalam pendidikan formal. Sebagai tokoh agama dan budaya, maka pemikiran KH. A. Mustofa Bisri bukan hanya untuk meningkatkan moral masyarakat pendidikan non-formal seperti pesantren, akan tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa
Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial karya K.H. A. Mustofa Bisri
Buku Saleh Ritual Saleh Sosial, merupakan Buku yang dikarang oleh K.H. A. Mustofa Bisri. Buku ini menceritakan tentang gambaran kehidupan masyarakat di era sekarang. Kultur dongeng dalam masyarakat yang telah sirnah, dihadirkan kembali dengan gaya penulisan ala GusMus. Ritual bukan hanya sebuah rutinitas semata tetapi adalah kondisi dimana jiwa bisa mengerti dan tahu dirinya sendiri kemudian Tuhanya. Masyarakat yang semakin kehilangan rasa peduli, dan simpati kepada sesamanya. Fokus dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan akhlak dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu mencari; 1) Nilai-nilai pendidikan akhlak apa saja yang terkandung dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial Karya K.H. A. Mustofa Bisri, dan 2) Apa Relevansi nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial karya K.H. A. Mustofa Bisri. Sedangkan tujuan penelitian ini untuk; 1) Mendeskripsikan dan memahami nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam buku Saleh Ritual Saleh Sosial karya K.H. A. Mustofa Bisri, dan 2) Menjelaskan relevansi nilai-nilai pendidikan akhlak dalam buku Saleh Sosial Saleh Ritual karya K.H. A. Mustofa Bisri. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. edangkan untuk pendekatanya, penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutik yang secara gampangnya berarti menafsirkan. Analisis ini juga menggunakan teori Relevansi dari Dan Sperber dan Deirde Wilson sebagai pisau analisa guna mencari kecocokan konsep. Nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam buku ini Saleh Ritual Saleh Sosial karya K.H. A. Mustofa Bisri yaitu: 1) Akhlak kepada Allah dapat dilihat dari kisah-kisah klasik dengan contoh ulama maupun analogi GusMus, 2) Akhlak kepada diri sendiri dengan ditanamkan melalui bimbingan kesadaran, 3) Akhlak kepada sesama yang ditanamkan melalui bimbingan kesadaran bahwa potensi diri tidak untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain pula, dan 4) Akhlak kepada alam dapat ditanamkan melalui bimbingan kesadaran tentang penciptaan makhluk dan peran manusia sebagai khalifah. Sedangkan relevansinya terhadap pendidikan akhlak dewasa ini terletak pada tokoh-tokoh dan kesadaran diri
Implementasi amar ma’ruf nahi munkar perspektif Muhammad Abduh dan Bisri Mustofa : tinjauan komparatif dalam tafsir Al Manar dan tafsir Al Ibriz
Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan penafsiran amar ma’ruf nahi munkar menurut Muhammad Abduh dan Bisri Mustofa guna mencari titik persamaan dan perbedaan. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bersifat kepustakaan (library researching) dan metode komparatif yaitu membandingkan teks ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesamaan atau kemiripin redaksi yang beragam dalam satu kasus yang sama atau yang diduga sama, membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan hadis Nabi yang pada lainnya antara keduanya bertentangan, juga membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Dari penelitian ini, dapat ditemukan hasil rumusan masalah sebagai berikut: Muhammad Abduh berpendapat bahwa: pertama, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar adalah hanya untuk sebagian orang yang memiliki kemampuan khusus. Kedua, sebaik-baik umat yang diciptakan Allah SWT adalah mereka yang mau melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan beriman pada Allah SWT. Sedangkan Bisri Mustofa berpendapat bahwa: pertama, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar adalah untuk semua orang, karena dengan ber-amar ma’ruf nahi munkar, dapat mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kedua, yang dimaksud dengan sebaik-baik umat adalah bagi mereka yang beriman pada Allah SWT. Menurut Muhammad Abduh dan Bisri Mustofa, yang dimaksud dengan al-khair adalah agama Islam. Sebab Islam adalah agama Allah yang dipenuhi dengan petunjuk dan cahaya
Relevansi pendidikan multikultral perspektif KH. A. Mustofa Bisri terhadap pendidikan Agama Islam
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragam. Dalam lingkup pendidikan, keragaman juga tergambar dari beragamnya kondisi siswa di kelas. Menurut KH. A. Mustofa Bisri, keragaman dalam masyarakat Indonesia merupakan anugerah dari Allah Swt. maka hendaknya bangsa Indonesia agar menjaga keragaman tersebut agar tidak berpotensi menjadi konflik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran KH. A. Mustofa Bisri tentang pendidikan multikultral. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimana pandangan KH. A. Mustofa Bisri tentang pendidikan multikultural? (2) Bagaimana relevansi konsep multikultural menurut KH. A. Mustofa Bisri terhadap pendidikan agama Islam? Permasalahan tersebut dikaji melalui pendekatan studi tokoh, sehingga penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian ini didapatkan dari menggali buku karya KH. A. Mustofa Bisri serta wawancara dengan beliau. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) menurut KH. A. Mustofa Bisri pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang menghargai adanya keberagaman, sebab keberagaman merupakan sebuah anugerah dari Allah yang patut disyukuri dan merupakan fitrah serta sunnatullah. Untuk mewujudkan pendidikan multikulural di Indonesia, maka diperlukan pembenahan dalam sistem pendidikannya dahulu. Pendidikan di Indonesia itu belum sebenarnya ada, yang ada baru pengajaran saja sebagai sekedar bentuk penyampaiaan informasi. Artinya, pendidikan keteladanan masih sangat lemah. (2) Terdapat kerelevanan antara Pendidikan multikultural menurut KH. A. Mustofa Bisri dengan pendidikan agama Islam, dilihat dari ruang lingkup, nilai serta materi dalam pendidikan agama islam. Nilai multikultural menurut KH. A. Mustofa Bisri, diantaranya: fitrah keberagaman, hidup secukupnya, kemanusiaan, demokrasi, dan prinsip kehendak. Kesemua nilai tersebut memiliki kesamaan dengan dari ruang lingkup, nilai serta materi dalam pendidikan agama islam. Contonya, nilai fitrah keberagaman relevan dengan pembelajaran dalam pendidikan agama Islam dalam rumpun sejarah atau tarikh agama Islam. Dalam materi PAI kelas 7 semester 2 tentang dakwah Nabi Muhammad di Madinah.
Hasil penelitian memberikan saran bahwa pendidikan multikultural perspektif KH. Mustofa Bisri ini layak dan baik untuk apabila dijadikan referensi bagi peningkatan materi dalam pendidikan agama Islam . Sebagai pemikir, budayawan, serta tokoh agama, maka pemikiran beliau bukan hanya untuk meningkatkan moral masyarakat pendidikan non-formal seperti pesantren, akan tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa
Pesan dakwah tentang menjaga lisan dalam puisi “Mulut” karya KH. Mustofa Bisri
Bahaya dari lisan seseorang bagi orang lain tentunya menjadi perhatian penting dalam dakwah dengan berbagai media yang tidak batasi oleh waktu dan ruang serta sarana, media yang dijadikan sarana dalam berkomunikasi dan berdakawah terhadap orang lain untuk ajaran Islam. Media komunikasi melalui sastra sangat efisien dan efektif dalam menyampaikan pesan yang bisa bermanfaat dalam penyebaran dakwah. Sastra imerupakan media komunikasi yang iefektif idan iefisien dalam penyampaian ipesan, sastra juga merupakan simbol peradaban. Sehingga peneliti tertarik untuk mencoba meneliti subjek dakwah yang masuk dalam media sastra yaknio puisi “Mulut” karya KH. Ahamad Mustofa Bisri (Gus Mus). Maka Fokus permasalahan dari latarbelakang diatas yaitu bagaimana pesan dakwah tentang perintah menjaga lisan dalam puisi “Mulut” karya KH. Ahmad Mustofa Bisri?
Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah naskah puisi “Mulut” karya K.H Ahmad Mustofa Bisri. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan metode analisis semiotika Riffaterre .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan dakwah tentang perintah menjaga lisan dalam puisi “Mulut” karya KH. Ahmad Mustofa Bisri menggunakan tahapan Semiotika Riffaterre yakni (1) pembacaan heuristik dan hermeneutik, (2) ketidaklangsungan ekspresi yang terdiri dari penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti, (3) matriks, model, dan varian, dan (4) hipogram, dari tahapan tersebut ditemukan makna Puisi “mulut” lebih pada pemberian gambaran pilihan bagi seseorang melalui organ mulut yang milikinya untuk memilih jalan yang benar dan diredhai Allah SWT atau pilihan yang tidak benar, tidak dirihai oleh Allah SWT dan menjadikan kemadharatan bagi sesama. Oleh karena itu ajaran Islam selalu menganjkurkan untuk menjaga lisan dari berbagai perbuatan yang tercela dan tidak berguna
- …
