14 research outputs found
Analisis struktur dan nilai budaya sastra lisan dayak UUD danum/ Musfeptial
vii, 144 hal.; 21 cm
TRANSFORMASI KABA KE NASKAH DRAMA STUDI KOMPARATIF KABA MINANGKABAU DAN NASKAH DRAMA MALIN KUNDANG KARYA WISRAN HADI
This research is entitled “The Transformation of Kaba into Drama Script :
The Comparative Study of Kaba Minangkabau and The Drama Script of Malin
Kundang by Wisran Hadi”. The aim of this research was to describe the
transformation of text and the reception by Wisran Hadi toward the story of Malin
Kundang.
Based on that aim, this research used a comparative method, supported with
the theory of literature’s reception. Comparing the two texts resulted in the finding of
the transformation and the reception toward the story of Malin Kundang.
The result of this research showed that the transformation happenned with the
aspect of structure and contain of text. This transformation of the contain of text
showed the reception by Wisran Hadi towards the story of Malin Kundang.
Penelitian ini berjudul Transformasi Kaba ke Naskah Drama : Studi
Komparatif Kaba Minangkabau dan Naskah Drama Malin Kundang karya Wisran
Hadi. Tujuan penelitian ini untuk melihat transformasi dan resepsi Wisran Hadi
terhadap cerita Malin Kundang.
Sesuai dengan tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode
perbandingan dan didukung dengan teori resepsi sastra. Dari perbandingan kedua teks
ditemukan adanya transformasi dan resepsi terhadap cerita Malin Kundang.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi terjadi pada aspek
struktur dan isi teks. Adanya transformasi isi teks menunjukkan adanya resepsi
Wisran Hadi terhadap cerita Malin Kundan
IDENTITAS LOKAL PADA KARYA E. WIDIANTORO UPAYA PENGUATAN PERAN BAHASA IBU
Penelitian ini berjudul Identitas Lokal pada Karya Sastra E.Widiantoro: Upaya Penguatan
Peran Bahasa Ibu. Kajian ini berusaha memaparkan identitas lokal dalam sastra sebagai
penguatan peran bahasa ibu. Kajian ini berangkat dari teori struktural sastra dari aspek
kebahasaan dan budaya. Kajian ini didukung dengan pendekatan deskriptif analisis. Bahasa
sebagai media utama sastra tidak hanya dimaknai sebagai media saja .Akan tetapi, bahasa
dalam sastra juga harus dimaknai sebagai bentuk lain dari fungsi sastra sebagai penguat
bahasa. Dalam ranah sastra pengarang Kalimantan Barat, E.Widiantoro dalam penciptaan
karya sastra memanfaatkan kosa kata daerah sebagai penguat cerita . Hal ini tentu sangat
penting artinya dalam rangka penguatan peran bahasa ibu di Kalimantan Barat. Penggunaan
kosa kata sebagai judul karya sastra, judul antologi, serta pemakaian kosa kata dalam cerita
sangat besar pengaruh dan manfaatnya dalam pelestarian, pembinaan, dan penguatan
bahasa daerah yang ada di Kalimantan Barat. baik bahasa Dayak, dengan subrumpunnya
maupun bahasa Melayu yang ada di Kalimantn Barat
KONFLIK SOSIAL-EKONOMI DALAM NOVELBATAS ANTARA KEINGINAN DAN KENYATAAN KARYA AKMAL NASERY BASRAL
This research entitled ”Socio-Economic Conflict in Novel Batas Antara Keinginan dan Kenyataanby Akmal Nasery Basral”. The border regions of the country, such as Entikong in West Kalimantan, are important areas because there are cross-border boundary post which is the entrance of people from Indonesia and Malaysia. In addition, there are also dozens of paths that become the entrance to the country of Malaysia. Banayak conflicts that occur in national borders, such as social and economic conflicts. This is also the reason why research on this novel is interesting and important to do. This study aims to obtain a complete description of the social and economic conflicts of the novel. The theory used in this kajain is the theory of sociology of literature This research is a qualitative research with descriptive research method of analysis. Data analysis shows the social and economic conflicts of this novel. The social conflict in this novel is seen from the conflict between Otiq and the people in Ponti Tembawang. This social conflict is rooted in the business of smuggling labor abroad. Meanwhile, the economic conflict. Rooted in the control of trade on the border.
CERPEN ““AGIK IDUP AGIK NGELABAN”” MENGGUGAH KEARIFAN MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN HUTAN KALIMANTAN BARAT
Hutan Kalimantan merupakan satu di antara paru-paru dunia. Namun demikian, telah terjadi kerusakan hutan akibat deforestasi. Keadaan tersebut telah menggugah Dedy Ari Aspar untuk menulis cerpen “Agik Idup Agik Ngelaban”. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa penelitian terhadap cerpen ini menarik dan penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan memperoleh deskripsi utuh mengenai kritik sosial pada cerpen tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif analisis. Analisis data menunjukkan adanya kritik sosial pada cerpen ini. Kritik sosial dapat dilihat lewat dua aspek, yaitu lewat kehadiran tokoh dan lewat alur yang terangkai dalam cerita. Kritik sosial lewat tokoh cerita dapat dilihat dari perlawanan yang telah dilakukan tokoh Boni, Medang, Siyan, dan Lansi atas keserakahan yang dilakukan Tuai Rumah Panjang Sungai Besi. Selain itu, kritik sosial juga terlihat secara implisit dari sikap serakah dan tidak berpihaknya Tuai Rumah Panjang Sungai Besi dan Aparat Bersenjata kepada rakyat sebagai pemilik hutan adat Danau Sentar. Kritik sosial lewat alur cerita terlihat dari konflik yang dimunculkan pengarang dari awal cerita, konflik memuncak, hingga konflik mereda
Pusat (majalah sastra), edisi 14, tahun 2017
SASTRA DAN PERBATASAN
Sastra boleh dikatakan pribadi paling berbatas dengan alam meski juga tiada batas, bahkan menyusup pada perbatasan pada perbatasan ragawi dengan ilahiah.
Sejak zaman nenek moyang, bentuk-bentuk ritual
(barangkali ketika istilah sastra belum ada atau belum dikenal dengan sebutan sastra,
hubungan paling "privasi" antara manusia dengan tanah, leluhur, dan Sang Pencipta begitu tidak berjarak).
Begitu tidak terbatas, hubungan tersebut begitu intim bagai tiada tergantikan dan tiada terbataskan.
Saking tidak berbatas, segala sesuatu yang berurusan dengan kebutuhan pangan disajikan dengan berbagai bentuk upacara penghormatan berupa ritus-ritus penghormatan kepada tanah, leluhur, dan Sang Pencipta
