567 research outputs found
Right to counsel / Azhar Musa
The right to counsel was not an in,tended topic of my oroject paper until I came across an" interesting article by Ta"n Sri Mohammad Salleh bin Abbas. title "Riqht of an arrested person to consult counsel". When the project paper was imposed on every final year students. and upon spotting the article by Tan Sri Mohanvnad Salleh Abbas. it qive me the interest and idea to write on this topic with the intentio'n of hiqhliqhting the adequacy or otherwise of laws pertaining I Right to Counsell and also to see the extend and developments. problems as well as to look into various ways of over coming problems faced by the arrested person to consul this counsel
MENEMUKAN NILAI-NILAI ADAB PADA KISAH NABI MUSA DAN KHIDIR DI DALAM SURAT AL-KAHFI AYAT 60-82 (Studi Komparatif Tafsir Al-Jalalain Dan Al-Azhar)
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Menemukan Nilai-nilai Adab pada kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir di dalam Surat Al-Kahfi ayat 60-82 (Studi Komparatif Tafsir Al-Jalalain dan Al-Azhar).” Penelitian ini dilatarbelangi dari kisah Nabi Musa ketika berkhutbah di depan kaumnya, nabi musa mengatakan bahwa ia yang lebih berilmu dari pada yang lain sehingga Allah SWT menegurnya dan memerintahkan nabi musa untuk bertemu dan berguru kepada seorang hamba yang shaleh yang berada di antara dua laut. Merasa paling benar dan paling berilmu merupakan akhlak yang sangat tercela. Dan sifat tersebut terlihat jelas belakangan hari ini seperti Sombong, memandang rendah orang lain, durhaka terhadap guru. Untuk mengkaji permasalahan tersebut peneliti mengangkat rumusan masalah pertama apa saja nilai-nilai adab pada kisah Nabi Musa dan Khidir dalam surat Al-Kahfi ayat 60-82 dan kedua bagaimana komparasi penafsiran antara Tafsir Al-Jalalain dengan Al-azhar dalam surat Al-Kahfi ayat 60-82 Tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dan dalam menyusun skripsi ini penulis mengambil data dari tafsir seperti tafsir Al-Jalalain dan Al-Azhar. Dari hasil penelitian tersebut dapat di ambil beberapa kesimpulan pertama, Nilai-nilai akhlak yang terdapat pada kisah Nabi Musa dan Khidir dalam surat Al-Kahfi ayat 60-82 menurut Tafsir Jalalalin dan Al-Azhar ialah : mendaftarkan diri atau meminta izin menuntut ilmu kepada guru, loyal terhadap guru selama perintahnya tidak melanggar syari’at, mentaati kontrak belajar yang diberikan oleh guru, bersedia di evaluasi jika melakukan pelanggaran, bersedia menerima punishment atas kesalahannya. Kedua komparasi penafsiran Al-Jalalain dengan Al-Azhar dalam menggali nilai-nilai adab pada surat Al-Kahfi ayat 60-82, terletak pada uraian penjelesan ayatnya, dimana tafsir Al-Jalalain lebih cenderung menafsirkan ayatnya secara singkat dan lebih banyak menjelaskan perkata yang terdapat dalam ayat tersebut tanpa menjelasakan lebih ditail maksud atau kandung ayat tersebut, sedangkan tafsir al-azhar menjelasakan lebih rinci kandungan ayat-ayat yang berhubungan dengan adab murid terhadap guru sebagaimana Hamka membagi surat Al-Kahfi ayat 60-82 dengan tiga pengelompokan. Di mulai dari ayat 60-64 diberi judul Nabi Musa Pergi Berguru (I). ayat 65-73 Nabi Musa Pergi Berguru (II), ayat 74-82 tanpa memberi judul.
Kata Kunci : Nilai Adab - Kisah Nabi Musa dan Khidir - Surat Al-Kahfi - Komparasi Tafsir Al-Azhar dan Jalalai
STRATEGI MUSA DALAM BERINTERAKSI DENGAN FIR`AUN DALAM AL QUR`AN (STUDI KOMPARATIF TAFSIR FI ZHILALIL AL QUR`AN DENGAN TAFSIR AL AZHAR)
ABSTRAK
Kajian ini membahas mengenai Strategi Nabi Musa dalam berinteraksi dengan Fir`aun dalam al-Qur`an (Studi Komparatif tafsir fi zhilalil Qur'an dan tafsir al-Azhar), Strategi Nabi Musa dalam Berinteraksi dengan Fir`aun adalah yang disampaikan dalam Al-Qur'an, terdapat dalam Surat Thaha dalam kisah Nabi Musa dan Fir'aun, menggambarkan Firman Tuhan ketika ditempatkan dalam realitas sosial. Maka penelitian ini mengkaji bagaimana penafsiran ayat-ayat tentang kisah Musa dan Fir'aun menurut Tafsir Fi Zhilalil Qur'an dan Tafsir al-Azhar dan bagaimana strategis Nabi Musa dalam Berinteraksi dengan Fir' aun dalam Al-Qur'an? Penelitian ini bersifat penelitian kepustakaan dan metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah komparatif. Data yang berkaitan dengan penelitian ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan disajikan dengan jenis analisis deskriptif, yaitu dengan menjelaskan ayat-ayat yang relevan, dengan mengacu pada Al-Qur'an. Sebagai data primer dan buku literatur yang berkaitan dengan data sekunder. Hasil penelitian ini berupa tafsir kisah Nabi Musa dan Fir'aun dalam Fi Zhilalil Al-Qur'an dan Tafsir Al-Azhar yaitu tentang strategi Nabi Musa terhadap Fir`aun, masyarakat terhadap pemahaman mereka dalam menggambarkan Firman Tuhan. Kecenderungan Sayyid Qutb menyikapi dengan gaya berpikir yang kuat bermula dari kajiannya terhadap pemikiran barat yang dianggap menjauhkan diri dari wilayah keagamaan. Lain halnya dengan Buya Hamka, meski harus berpergian dan harus bertapa. Hamka cenderung mengandalkan Allah SWT. Walaupun mempunyai gaya berfikir yang berbeda tetapi memiliki corak dan metode tafsir yang sama. Dan Menurut Sayyid Quthb strategi Nabi Musa Sebelum Berinteraksi ke Firaun, Mengawali dialog secara lembut dan langsung membahas apa yang akan disampaikan, Sedangkan Menurut Hamka, pada awal tatap muka, strategi Nabi Musa dalam berinteraksi dengna Fir`aun yaitu pihak yang akan diinteraksi sebaiknya tidak langsung mengambil sikap keras, melainkan dalam suasana damai.
Kata Kunci : Strategi, Berinteraksi , Nabi Musa, Fir`au
KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN DALAM KISAH NABI MUSA DAN FIR’AUN PERSPEKTIF TAFSIR AL-AZHAR
ABSTRAK
Menurut pandangan Jeremie Kubicek kepemimpinan seperti yang kita
ketahui sudah mati karena terlalu banyak pemimpin yang menyalah gunakan
posisi mereka dan kehilangan arah moral mereka. Prinsip-prinsip
kepemimpinan tradisional, tampaknya tidak berfungsi di dunia modern.
Keserakahan, keegoisan, korupsi, dan pelestarian diri telah menang berkali
kali dalam beberapa tahun terakhir, sering kali mendatangkan efek yang
menghancurkan. Kepemimpinan yang efektif dibangun atas dasar menjalin
hubungan yang saling menguntungkan dengan pengaruh yang aktif. Namun,
kepemimpinan yang efektif lebih dari sekadar kolaborasi. Seorang pemimpin
menyoroti jalan, menjadi contoh prinsip dan nilai suatu kelompok, atau suatu
departemen, atau suatu organisasi secara keseluruhan, dan mendorong
mereka yang mengikutinya untuk mengejar tujuan yang telah ditetapkan
dengan jelas.
Rumusan masalah penelitian ini adalah mengkaji karakteristik
kepemimpinan nabi Musa dan Fir’aun melalui tafsir Al-Azhar terletak pada
pendekatan
historis
yang ditawarkan dalam memahami konsep
kepemimpinan Islam, Mengkaji bagaimana kepemimpinan nabi Musa dan
Fir’aun, serta mengkaji nilai kepemimpinan nabi Musa dan Fir’aun dalam
kepemimpinan modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji
karakteristik kepemimpinan nabi Musa dan fir’aun, serta mengetahui nilai
karakteristik kepemimpinan nabi Musa dan Fir''aun dalam konteks
kepemimpinan modern.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan
historis-interpretatif, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research), data dianalisis
ii
dengan menggunakan pendekatan tematik, yaitu mengidentifikasi tema-tema
utama dari kisah nabi Musa dan Fir’aun.
Hasil penelitian ini adalah kepemimpinan nabi Musa dibangun di atas
fondasi keteguhan iman yang kuat kepada Allah SWT, dan karakteristik
kepemimpinan Fir’aun dalam Tafsir Al-Azhar menunjukkan potret pemimpin
yang menjalankan kekuasaan secara otoriter dan represif. Dalam konteks
kepemimpinan modern, nilai-nilai karakteristik kepemimpinan Nabi Musa
dan Fir‘aun memberikan pembelajaran yang sangat relevan. Model
kepemimpinan Nabi Musa yang berbasis spiritual (spiritual leadership),
transformasional, dan humanis menawarkan paradigma kepemimpinan yang
dibutuhkan di era kontemporer, dan karakteristik kepemimpinan Fir’aun
menjadi peringatan tentang bahaya kepemimpinan yang otoriter, egosentris,
dan menindas yang harus dihindari.
Kata Kunci: Kepemimpinan, Nabi Musa dan Fir’aun, Tafsir Al-Azhar
iii
iv
ABSTRACT
According to Jeremie Kubicek, leadership as we know it is dead
because too many leaders abuse their position and lose their moral direction.
Traditional leadership principles, however, do not seem to work in the
modern world. Greed, selfishness, corruption, and self-preservation have
triumphed many times in recent years, often with devastating effects.
Effective leadership is built on the basis of establishing mutually beneficial
relationships with active influence. However, effective leadership is more
than just collaboration. A leader highlights the path, exemplifies the
principles and values of a group, or a department, or an organization as a
whole, and encourages those who follow it to pursue clearly defined goals.
The formulation of this research problem is to examine the
characteristics of the leadership of the prophets Moses and Fir’aun through
the interpretation of Al-Azhar lies in the historical approach offered in
understanding the concept of Islamic leadership, examining how the
leadership of the prophets Moses and Fir’aun was, and examining the
leadership values of the prophets Moses and Fir’aun in modern leadership.
The purpose of this study is to examine the leadership characteristics of the
prophets Moses and Fir’aun, as well as to find out the value of the leadership
characteristics of the prophets Moses and Fir’aun in the context of modern
leadership.
This research is a qualitative research with a historical-interpretive
approach, the data collection technique used in this study is library research,
the data is analyzed using a thematic approach, namely identifying the main
themes of the story of the prophets Moses and Fir’aun.
The result of this research is that the leadership of the prophet Moses
was built on the foundation of strong faith in Allah SWT, and the
characteristics of Fir’aun leadership in Tafsir Al-Azhar show a portrait of a
leader who exercises power in an authoritarian and repressive manner. In the
context of modern leadership, the characteristic values of the leadership of
the Prophet Moses and Fir’aun provide a very relevant lesson. The Prophet
Moses' spiritual, transformational, and humanist leadership model offered the
leadership paradigm needed in the contemporary era, and the characteristics
of Pharaoh's leadership were a warning about the dangers of authoritarian,
egocentric, and oppressive leadership that must be avoided.
Keywords: Leadership, Prophet Moses and Fir’aun, Tafsir Al-Azhar
v
الملخص
ل
م ةيديلقتلا ةدايقلا ئدابم نأ ودبيو
مادختسا ةءاسإ ببسب كلذو ،تتام دق اهفرعن امك ةدايقلا نإف ،كيبوك ييميرج ةيؤرل ا ً قفو
ةيقلاخلأا ةلصوبلل منهادقفو مهبصانلم ةداقلا نم ديدعلا
.
تارم ةدع ءاقبلا بحو داسفلاو ةينانلأاو عشلجا ترصتنا ثيح ،ثيدلحا
ساسأ ىلع نىب ُ ت ةلاعفلا ةدايقلا نإ
.
ل
ماعلا في لمعت دعت
ةرمدم راثآ لىإ تدأ ام ا ً بلاغو ،ةيرخلأا تاونسلا للاخ
ىلع بيج ثيح ،نواعتلا درمج زواجتت انهأ لاإ ،لاعف يرثأت تاذ عفنلا ةلدابتم تاقلاع ةماقإ
يرطلا راتيخ نأ دئاقلا
.
ةمظنم وأ مسق وأ ةعوملمج ميقلاو ئدابملل ا ً جذونم نوكيو ،حيحصلا ق
حوضوب ةددلمحا فادهلأا قيقتح ونح يعسلل هعابتأ زّ فيح نأ بيج امك ،اهلمكأب
نوعرفو ىسوم بينلا دنع ةدايقلا صئاصخ ليلتح في لثمتت ةساردلا هذه في ثحبلا ةيلاكشإ
ي
رسفت للاخ نم
موهفم مهفل يرسفتلا همدقي يذلا ييخراتلا جه
نلما للاخ نم كلذو
"،
رهزلأا
"
كلذكو ،نوعرفو ىسوم بينلا نم لك ةدايق ةعيبط ةسارد لىإ ةفاضلإاب ،ملاسلإا في ةدايقلا
ةثيدلحا ةدايقلا قايس في امهيدل ةيدايقلا ميقلا ليلتح
فاشكتسا لىإ ةساردلا هذه فدتهو
ىدمو امبه ةصالخا ةيدايقلا ميقلا
.
ةفرعم كلذكو ،نوعرفو ىسوم بينلا ىدل ةدايقلا صئاصخ
.
ةرصاعلما ةدايقلا ميهافبم اهطابترا
عجم تم ثيح ،ييرسفتلا
ييخراتلا جهنلما مادختساب يعونلا جهنلما ىلع ةساردلا هذه دمتعت
ىلع زكري يذلا يعوضولما جهنلما مادختساب اهليلتح ثم
.
,
ب
يتكلما ثحبلا للاخ نم تانايبلا
نوعرفو ىسوم بينلا ةصق نم ة
ا
ً
سورد نوعرفو ىسوم
يسيئرلا تاعوضولما طابنتسا
ل
ل
هاب قيمعلا نايملإا نم ينتم ساسأ ىلع تين ُ ب ىسوم بينلا ةدايق نأ رهظت ثحبلا جئاتن
ةطلسلا سرايم دئاق ةروص "رهزلأا يرسفت" في نوعرف ةدايق سكعت امنيب ،لىاعتو هناحبس
ب
ينلل ةيدايقلا ميقلا مدقت ،ةثيدلحا ةدايقلا قايس في .دادبتساو ةيشحوب
vi
ةيلوحتلاو
ةيحورلا ةدايقلا لىإ دنتسلما ،ىسوم بينلا ةدايق جذومنف
.ةيربك ةلص تاذ
ةدايق صئاصخ امأ .ثيدلحا رصعلا تاجايتحا بيلي ا ً يلاثم ا ً يدايق ا ً جذونم رفوي ،ةيناسنلإاو
ف
ي اهبنتج بيج تيلا
،
،ةيعمقلاو ،ةينانلأا ،ةيدادبتسلاا ةدايقلا رطامخ نم ا ً ريذتح لكشتف نوعرف
.يدايق قايس يأ
.رهزلأا ريسفت ،نوعرف ىسوم يبنلا ،ةدايقلا صئاصخ :ةيحاتفملا تاملكل
KISAH NABI MUSA DALAM Al-QUR’AN MENURUT PENAFSIRAN HAMKA DAN M. QURAISH SHIHAB
Kisah Nabi Musa dalm al-Qur’an merupakan salah satu kisah nabi yang memiliki banyak ‘ibrah berharga bagi para pembaca. Keberadaannya diantara kisah nabi lainnya menjadi salah satu poin menarik. Hal tersebut karena sosok Musa disebut sebagai salah seorang lingkaran nabi yang tegas dan patut dijadikan teladan umat Islam dalam mempertahankan agama. Untuk mengkaji makna dan pesan yang terkandung dalam kisah ini, dibutuhkan penafsiran-penafsiran yang mampu menjelaskan gaya bahasa kisah dalam al-Qur’an dalam penelitian ini. Adapun pemilihan Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Misbah dalam penelitian ini, karena keduanya memiliki kurun waktu yang berbeda dan memungkinkan adanya pergeseran makna kisah nabi Musa. Di samping itu, persamaan metodologi keduanya dalam menafsirkan ayat juga memungkinkan berpengaruh terhadap penafsiran ayat-ayat Kisah nabi Musa. Sedangkan fokus yang diangkat adalah untuk mengetahui dan mengungkapkan perjalanan penting Musa yang perannya dalam kisah nabi Musa belum banyak diketahui dalam kisah-kisah al-Qur’an, mengetahui penafsiran ayat-ayat kisah nabi Musa berdasarkan Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Misbah serta menunjukkan nilai kisah nabi Musa dalam kehidupan masa kini. Adpun metode penelitian ini, penulis menggu nakan metode komparatif dari dua kitab tafsir fenomenal yaitu Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Misbah. Metode tersebut penulis gunakan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan keduanya terhadap ayat-ayat kisah tentang nabi Musa dalam al-Qur’an.
Setelah melalui proses penelitian, penulis menemukan bahwa kisah ini ingin menjelaskan tentang perhatian Allah kepada rasul pilihan-Nya, cara Allah memantapkan hati Musa dan mengukuhkan dakwahnya. Serta menjelaskan bagaimana Allah menyikapi orang-orang yang berbuat zalim dan ingkar kepada-Nya. Di samping itu, penafsiran komparasi ayat-ayat kisah nabi Musa berdasarkan kitab Tafsir al-Azhar dan Tafsir al-Misbah diketahui memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Perbedaan yang signifikan yakni pada penjelasan tentang keluarnya nabi Musa dan Bani Israil. Adapun persamaan keduanya memiliki penafsiran yang mirip tentang nasib akhir Fir’aun dan kaumnya, kitab Taurat. Berdasarkan komparasi penafsiran ayat-ayat kisah nabi Musa penulis melihat bahwa pendapat ciri khas dari masing-masing mufassir baik dari segi sumber penafsiran maupun bentuk penafsiran mufassir. Berkenan dengan nilai edukasi dan implementasi karakter nabi Musa pada masa kini bahwa kisah nabi Musa menunjukkan beberapa pendidikan karakter kunci kesuksesan dunia akhirat itu adalah menjadi manusia yang beriman kepada Allah atau menjaga keimanan seutuhnya kepada Allah, mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dan menjaga hubungan baik sesama manusia dengan akhlak yang mulia. Hal tersebut menjadi kunci utama manusia dalam menghadapi problematika kehidupan masa kini
Optimization of RNA Extraction Method of Banana Leaf Using Li Buffer and GENEzol Reagent
High quality extracted RNA from plant tissues is used in downstream transcriptomic application that needs high quantity for multiple analysis. Attaining high quality and high yield for banana plant tissue is a challenge with its high number of secondary metabolites becoming contaminants, effecting the purity of RNA extracted. A procedure to extract banana plant RNA with high quality and quantity in this study is developed to be simple, robust, affordable and accessible using basic lab equipment and materials. This study optimizes RNA extraction from the leaf of juvenile Pisang Susu (Musa spp.) using a combination of Li buffer (modified CTAB) and GENEzol reagent. Treatment differs in the use of β-mercaptoethanol and the duration of sample precipitation with isopropanol. NucleoSpin RNA Plant extraction kit was made as comparison. Measurement of RNA quantity used quantus fluorometer, and quality measured by spectrophotometer. Results showed that the addition of β-mercaptoethanol in Li buffer is vital with samples left to precipitate overnight providing best results. The total RNA obtained had a higher yield compared to the commercial kit with 108 – 211 ng/µl and 0.35 – 0.37 ng/µl respectively. Light absorbance A260/280 indicating sample purity between method has similar RNA quality of 0.917 – 1.084 and 0.843 – 1.026. This study proved that modification of CTAB buffer using Li buffer for RNA extraction resulted in better quality and quantity of RNA compared to the commercial RNA extraction kit.Keywords – Banana, Optimization, RNA Extraction
Millenaire de la Mosquee-Universite d’el Azhar
page, Plate 1: History of Cairo and al-Azhar - plans of al-Azhar and surrounding area in 1940 and the 1000 years previou
NILAI-NILAI USWAH DAN QUDWAH KISAH IBU DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF TAFSIR AL-AZHAR
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “Nilai-Nilai Uswah dan Qudwah Kisah Ibu dalam Al-
Qur’an Perspektif Tafsir Al-Azhar (Kajian Tematik)”. Kajian ini menilik lagi
kisah Siti Hajar yang ditinggal pada lembah yang tak berpenghuni dan kisah ibu
Musa yang Allah beri wahyu berupa menghanyutkan bayinya Musa kesungai Nil.
Guna mengambil nilai-nilai uswah dan qudwah. Persoalan yang akan diteliti
dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana penafsiran ayat-ayat dalam kisah ibu al-
Qur‟an menurut tafsir Al-Azhar? 2). Bagaimana nilai-nilai uswah dan qudwah
kisah ibu dalam al-Qur‟an menurut tafsir al-Azhar? Jenis penelitian ini adalah
kepustakaan, metode penelitian tafsir tematik (maudhu‟iy). Adapun hasil dari
penelitian ini adalah, pertama penafsiran ayat: Penafsiran pada kisah Siti hajar
pada QS. Ibrahim: 37 adalah Ibrahim mempunyai dua cabang keturunan, yaitu
keturunan Ishak yang beranak Ya'kub dan Ya'kub beranak dua belas orang yang
disebut Bani Israil. Dan Ismail, yang dibawa sendiri oleh ibunya yang tengah
mengandungnya ke lembah yang tidak bertumbuh-tumbuhan itu. Serta pada kisah
Ibu Musa pada QS. Thaha: 38-40 adalah Allah menurunkan wahyu kepada Ibu
musa untuk menghanyutkan musa kesungai Nil dan rangkaian cerita sampai Musa
sampai kepada Ibunya kembali. Kedua, Nilai-nilai uswah dan qudwah seorang ibu
dapat diukur melalui kisah dalam Al-Qur‟an seperti pada kisah Siti Hajar dan Ibu
Musa. Berupa: ketaatan kepada Allah, keyakinan yang kuat, bertawakal, hati yang
teguh, kesabaran yang luas, sosok yang tangguh, memiliki kecerdasan etos kerja
yang tinggi. Dari tokoh-tokoh tersebut menggambarkan betapa mulia dan
berakhlakul karimahnya tokoh tersebut.
Kata kunci: uswah dan qudwah, kisah, ib
Millenaire de la Mosquee-Universite d’el Azhar
page, Plate XII: rendering of a night celebration at al-Azhar after proposed works are complete
Optimalisasi Kemampuan Membaca untuk Meningkatkan Kemahiran Menulis Dalam Bahasa Mandarin Mahasiswa Prodi Tiongkok Universitas Al Azhar Indonesia
Learning writing skills in Mandarin is often something that is feared and less desirable because of the level of difficulty, because it requires a learning method that can overcome the obstacles faced by learners in this proficiency. This research seeks to provide an alternative method of learning to write by optimizing students' reading abilities. By using a qualitative approach, the author tries to optimize the reading of Chinese texts in learning activities to improve students' writing skills. From the results of this study, it is known that by providing more reading input, students also have more knowledge regarding the topic of writing and its development, better vocabulary mastery and understanding of good writing methods/methods so that it has a positive impact on the development and improvement of writing skills of students in MandarinKeywords – Mandarin, Writing Skills, Reading Abilities, Optimizing.
- …
