77 research outputs found
Pengarusutamaan Islam Moderat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya
Islam Moderat lahir sebagai penengah dan menjaga keseimbangan dari kecendrungan-kecendrungan Islam Liberal dan radikal. Islam Indonesia bercirikan moderat, ramah kepada siapapun (smelling face). Moderatisme Islam di Indonesia direpresentasikan oleh Islam mainstream, Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Penelitian ini menganalisis Pengarusutamaan Islam Moderat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis, untuk mencari jawaban atas pertanyaan: 1) Bagaimana konstruksi Islam Moderat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya?, dan 2) Bagaimana pengarusutamaan Islam Moderat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya? Hasil penelitian ini menyimpulkan: Pertama, Konstruksi Islam Moderat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dibangun di atas prinsip dasar; tawasut, tawazun, ta‘adul, tasamuh. Tawasut, tawazun, ta‘adul, dipahami senantiasa mengambil posisi di tengah-tengah, tidak ekstrem dalam setiap pemahaman. Tasamuh, bersikap toleran terhadap hal-hal yang bersifat furu‘iyah, bukan usuliyah, sosiologis bukan teologis. Berdakwah ber-amar ma‘ruf wa nahy ‘an al-munkar bi al-ma‘ruf, mengedepankan al-akhlaq al-karimah untuk mewujudkan Islam rah}mah li al-a‘lamin, dan 2) Dinamika pengarusutamaan Islam Moderat di MAS dilakukan dengan strategi dan langkah-langkah mengawal dakwah Islam yang rah}mah li al-‘alamin, menjunjung tinggi al-akhlaq al-karimah sesuai visi, misi dan nilai MAS, mengedepankan Amanah, Istiqamah, Uswah, Mas’uliyah dan Li Jami‘ al-Ummah). Sedangkan tipologi Islam moderat MAS adalah Islam Tradisionalis-Modernis bercorak Islam Nusantara Berkemajuan
Penciptaan Setan untuk Kebaikan Manusia
In Arabic Satan means an enemy, one who is distant, misled, burnt, disowned from the grace of God and displaced from His mercy. He is so distant that he cannot any longer hear and know the truth. He is so arrogant that he became the victim of his own attitude. In the Qur?an the word Satan is always mentioned in its concrete from (ma?rifah) which means that the existence and threat of the Satan is true and real. This also means that Satan is created solely to mischief man on his earthly life and mislead him from the grace of God. Different views however have been expressed to the extent that the creation of the Satan may also be understood as an indication of God?s mercy upon His creation especially human being. If it is not because of Satan, human being would not be able to distinguish between good and vice. And it is exactly because of Satan that human being ?upon his success to avoid his deceive- may be raised to the higher status as human being. This paper is concerned with this controversy and with the logical implication that emerges thereof. It is ultimately about tracing the Qur?anic and prophetic notion of what Satan is, and what it means to be human
Wacana pluralisme dan dialog antar umat agama
Berbicara mengenai agama bagaikan berbicara tentang suatu paradoks. Di satu pihak, agama dialami sebagai jalan dan penjamin keselamatan, cinta dan perdamaian. Di lain pihak, sejarah membuktikan, agama justru menjadi sumber, penyebab, dan alasan bagi kehancuran dan kemalangan umat manusia. Karena agama, orang bisa saling mencinta. Tetapi atas nama agama pula, orang bisa saling membunuh dan menghancurkan. Apalagi setelah tragedy 11 September 2001, bahwa agama seakan- akan membawa permusuhan dan kekerasan, dan atas nama agama, orang seakan-akan diperbolehkan untuk meniadakan sesamanya. Melenium baru yang seharusnya membawa harapan ternyata malah menjadi awal bagi kesedihan dan kekhawatiran, kini atas nama agama orang bisa saling menghancurkan. Oleh sebab itu perlu memahami tugas dan misi agama untuk menyumbangkan perdamaian dan kemaslahatan manusia dalam dunia yang plural ini
Penciptaan Setan untuk Kebaikan Manusia
In Arabic Satan means an enemy, one who is distant, misled, burnt, disowned from the grace of God and displaced from His mercy. He is so distant that he cannot any longer hear and know the truth. He is so arrogant that he became the victim of his own attitude. In the Qur’an the word Satan is always mentioned in its concrete from (ma’rifah) which means that the existence and threat of the Satan is true and real. This also means that Satan is created solely to mischief man on his earthly life and mislead him from the grace of God. Different views however have been expressed to the extent that the creation of the Satan may also be understood as an indication of God’s mercy upon His creation especially human being. If it is not because of Satan, human being would not be able to distinguish between good and vice. And it is exactly because of Satan that human being –upon his success to avoid his deceive- may be raised to the higher status as human being. This paper is concerned with this controversy and with the logical implication that emerges thereof. It is ultimately about tracing the Qur’anic and prophetic notion of what Satan is, and what it means to be human
Wacana dan praktik pluralisme keagamaan di Indonesia
Hidup bersama dalam damai dan saling hormat barang kali saat ini telah menjadi barang yang sangat mewah. Di tengah kehidupan sosial keagamaan yang seringkali dibalut rasa curiga dan benci, pesan-pesan kemuliaan agama mungkin seperti lukisan indah yang hampir setiap orang memujanya namun menjadi robek-terkoyak karena setiap orang ingin memilikinya seorang diri. Tidak semua orang memiliki kesanggupan untuk berbagi dengan orang lain sekalipun mungkin mereka mendamba kehidupan sosial yang penuh kedamaian. Agama tidak melulu soal dimensi batin. Jika agama hanya tentang ketundukan batiniah kepada sang Khaliq, mungkin tidak ada kisah di mana manusia beragama terlibat dalam perselisihan antara satu dengan lainnya. Namun, agama juga memiliki dimensi lahir, baik dalam wujud simbolsimbol maupun persekutuan jamaah. Di titik inilah, agama masuk ke dalam kehidupan sosial sebagaimana manusia itu sendiri yang tidak hanya makhluk individual, tapi juga sosial. Dalam wilayah kehidupan sosial ini, komunitas satu agama berjumpa dengan komunitas agama lain. Layaknya dalam kehidupan sosial, kepentingan individu maupun kelompok agama tertentu seringkali menjadi dorongan yang lebih dominan daripada hasrat untuk membangun kebaikan bersama (common good/al-maslahah al-ammah)
Pluralisme, dialog antar agama, dan tantangan ke depan: refleksi pengelolaan pluralisme keagamaan
Hidup bersama dalam damai dan saling hormat barangkali saat ini telah menjadi barang yang sangat mewah. Di tengah kehidupan sosial keagamaan yang seringkali dibalut rasa curiga dan benci, pesan-pesan kemuliaan agama mungkin seperti lukisan indah yang hampir setiap orang memujanya namun menjadi robek-terkoyak karena setiap orang ingin memilikinya seorang diri. Di buku ini, para pakar akan membahas wacana pluralisme dalam praktik keagamaan di masyarakat Indonesia dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Hampir setiap kelompok memiliki pandangan tersendiri dalam mempraktekkan pluralisme beragama. Buku ini menjadi penting dibaca karena dibahas oleh beberapa pakar yang menggeluti disiplin ilmu masing-0masing
KONFLIK PEMAKAMAN NON MUSLIM DI LINGKUNGAN PEMAKAMAN ISLAM DI DESA NGIMBANGAN KABUPATEN MOJOKERTO PERSPEKTIF EGALITARIAN RECIPROCITY SEYLA BENHABIB
The burial conflict of non-Muslims in an Islamic cemetery in Ngimbangan Village, MojokertoRegency, reflects the challenges of implementing principles of justice and equality in a multicultural society. Using Seyla Benhabib's theory of egalitarian reciprocity, this study highlights the importance of treating every individual fairly, regardless of their religious background. This conflict arose due to the clash of interests between majority and minority groups. This qualitative research employs a descriptive method, relying on data collected through interviews and direct observation. The findings reveal that dialogue and deliberations involving religious leaders, local communities, and village authorities serve as a means to apply the principles of justice and equality. These efforts not only support decisions that respect minority rights but also foster collective awareness of the importance of mutual respect in interfaith relations. However, resistance from some community members who feel their interests are inadequately accommodated poses a significant challenge to the implementation of egalitarian reciprocity. This study underscores the importance of inclusive approaches in resolving such conflicts, ultimately contributing to sustainable social harmony.Konflik pemakaman non-Muslim di lingkungan pemakaman Islam di Desa Ngimbangan,Kabupaten Mojokerto, mencerminkan tantangan dalam menerapkan prinsip keadilan dan kesetaraandalam masyarakat multikultural. Menggunakan teori egalitarian reciprocity oleh Seyla Benhabib,penelitian ini menyoroti pentingnya memperlakukan setiap individu secara adil tanpa memandang latarbelakang agama. Konflik ini muncul akibat benturan kepentingan antara kelompok mayoritas danminoritas. Penelitian kualitatif dengan metode deskriptif ini mengandalkan data dari wawancara danobservasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialog dan musyawarah yang melibatkantokoh agama, masyarakat lokal, dan pemerintah desa menjadi sarana untuk menerapkan prinsip keadilandan kesetaraan. Upaya tersebut tidak hanya mendukung keputusan yang menghormati hak kelompokminoritas tetapi juga membangun kesadaran bersama akan pentingnya saling menghormati dalamhubungan antarumat beragama. Namun, resistensi dari sebagian masyarakat yang merasakepentingannya kurang terakomodasi menjadi tantangan utama dalam implementasi prinsip egalitarianreciprocity. Studi ini menekankan pentingnya pendekatan inklusif untuk menyelesaikan konfliksemacam ini, yang pada akhirnya dapat menciptakan harmoni sosial yang berkelanjutan.Kata Kunci: Konflik Pemakaman, Egalitarian Reciprocity, Kesetaraan
Khazanah sejarah UiTM: menjunjung kasih Tuanku Canselor koleksi kenangan 5 tahun bersama UiTM (2007 - 2011) / Jabatan Arkib Universiti
Buku ini merupakan himpunan kenangan Seri Paduka Bagunda Yang Di-Pertuan Agong, Al-Wathiqu Biliah Tuanku Mizan Zainal Abidin Aibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Biliah Shah
UiTM Hari Ini Dalam Sejarah: 13 Disember 2006: pelantikan Canselor Universiti Teknologi MARA (UiTM) ke-3 / Jabatan Arkib Universiti
Pada 13 Disember 2006, Tuanku Mizan Zainal Abidin Ibni Almarhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah telah dilantik sebagai Canselor UiTM yang ke-3
Paradigma dan Doktrin Tasawuf Salafī: arah baru taksonomi sufisme di antara sunnī dan falsafī
Selama ini taksonomi sufisme yang berkembang dalam khazanah pemikiran Islam dipusatkan pada dua tipologi utama, Sunnī dan Falsafī. Para akademisi mencoba menginventarisir mazhab sufisme menjadi dua kelompok besar, Sunnī dan Falsafī. Sayangnya kedua tipologi ini akan sulit mengakomodir sufisme yang selama ini digagas oleh ulama mazhab Hanbalī seperti al-Ansārī al-Harawī, Ibn Taymīyah, Ibn Qayyim al-Jawzīyah. Tiga sample sufi ini mempunyai kekhasan dalam uraian sufismenya dan sangat kontras jika dibandingkan dengan kedua tipologi yang populer. Kitab Manāzil al-Sāirīn menjadi gambaran sufisme yang diusung oleh al-Harawī, Majmū‘ Fatāwā Ibn Taymīyah volume 11 mengurai dengan gamblang doktrin-doktrin tasawufnya, pun dengan kitab Madārij al-Sālikīn karya Ibn Qayyim dianggap cukup representatif mengurai dimensi sufismenya. Sayangnya riset-riset yang berkembang—barangkali didasarkan pada unsur kesengajaan—menempatkan sosok-sosok tersebut sebagai kelompok antisufi, ketimbang sisi lain yang perlu diulas secara mendalam. Kelompok Salafī modern pun menolak relasi apapaun antara Ibn Taymīyah dengan sufisme manapun. Di sinilah pentingnya mengulas doktrin apa yang sudah digagas oleh para ulama yang dikenal sebagai figur antisufi. Padahal hakikatnya mereka mengusung sufisme yang khas dan berbeda dengan sufisme Sunnī maupun Falsafī. Selain itu, beberapa penyebutan yang dikembangkan oleh para akademisi seperti Muhammad Mustafā Hilmī dalam tipologi tasawuf Salafī perlu kiranya dieksplorasi secara komprehensi di Indonesia, agar pemahaman tentang khazanah ketasawufan di Indonesia jauh lebih komprehensif. Dari riset ini disimpulkan beberapa poin, di bawah ini: Pertama, tasawuf Salafī adalah praktik sufistik yang dianggap selaras dengan model ideologi salafisme Ibn Taymīyah. Salaf secara etimologis berarti “masa lalu”. Yang termasuk golongan salaf adalah para sahabat, tābi‘īn, dan tābi‘ al-tābi‘īn. Secara istilah, salafiyah berarti sekelompok Muslim yang menjaga akidah dan metode Islam sesuai dengan pemahaman Muslim awal yang mendapatkan ilmu langsung dari Nabi Muhammad. Mereka berpegang teguh pada al-Qur’ān dan Sunnah Nabi. Kedua, adapun perbedaan antara ketiga tipologi sufisme Salafī, Sunnī, dan Falsafī adalah jika tasawuf Sunnī masih menerima takwil dengan dasar akal yang berpedoman pada aspek sharī‘ah, maka tasawuf Salafi menolak dengan tegas takwil terhadap teks-teks keagamaan. Tasawuf Salafī mempunyai kecenderungan pada antropomorphisme, sedangkan Tasawuf Sunnī menghindari apapun bentuk yang mengarah pada dimensi antropomorphisme dalam mengkaji Tuhan. Tasawuf Salafī mendasari semua doktrin sufismenya pada fondasi al-Qur’ān, Sunnah, dan tradisi generasi al-salaf al-sālih. Tidak ada satupun pandangan para sufi yang punya derajat luhur kecuali semuanya didasarkan pada pengetahuan yang bersumber pada sumber autentik Islam. Doktrin sufisme apapun harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip shar‘ī. Adapun sufisme Falsafī adalah kelompok ini meyakini tentang al-wujūd al-mutlaq, sifat alami jiwa, akal, wahyu, kenabian, dan hal-hal lain baik yang baik atau buruk. Tokoh sentral dalam kelompok ini adalah Ibn ‘Arabī. Ketiga, adapun tokoh-tokoh yang dianggap masuk dalam lingkaran tasawuf Salafī antara lain ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī (w. 561 H./1165 M), Abū ‘Umar b. Qudāmah (w. 607 H. 1210 M.), Muwaffaq al-Dīn b. Qudāmah (w. 620 H./1223 M.), Ibn ‘Abī ‘Umar b. Qudāmah (w. 682 H. 1283 M.), Ibn Taymīyah (w. 728 H./1328 M.), Ibn Qayyim al-Jawzīyah (w. 751 H./1350 M.), dan Ibn Rajab (w. 795 H./1393 M.)
- …
