24 research outputs found

    KEPEMIMPINAN DAN CAPACITY BUILDING DALAM KONSTRUKSI PENINGKATAN MUTU MADRASAH ALIYAH SWASTA

    No full text
    This study aims to analyze the role of leadership and capacity building strategies  in the construction of improving the quality of madrasas in Madrasah Aliyah Private (MAS) Patra Mandiri Palembang. The approach used is descriptive qualitative with a case study design, which focuses on the leadership practices of madrasah heads, strengthening the capacity of human resources, and the implementation of the internal quality assurance system (SPMI). Data were obtained through in-depth interviews, participatory observations, and documentation studies, then analyzed with the interactive model Miles, Huberman, and Saldaña. The results of the study show that madrasah heads play the role of transformational leaders who combine Islamic values with modern management principles, building a reflective, collaborative, and quality-oriented culture. The capacity building strategy  is implemented through continuous training, reflective supervision, and the formation of a professional learning community, which collectively strengthens the professionalism of teachers and the madrasah work climate. This finding confirms that the synergy between value-based leadership and capacity building is the main foundation in realizing the quality of religious, adaptive, and competitive madrasas. This research provides theoretical contributions to the development of Islamic education management as well as practical implications for policy makers in designing sustainable and contextual quality improvement models

    Kajian Penggunaan Lahan dalam Pengembangan Kawasan Objek Wisata Pantai Cermin Kabupaten Deli Serdang/Serdang Bedagai

    No full text
    Salah satu obyek wisata di Sumatera Utara adalah Pantai Cermin di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai yang diarahkan menuju obyek wisata yang berkarakter “perwujudan dari ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya, sejarah bangsa dan tempat serta keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk kunjungan wisata”, (Undang-Undang RI No.9 Thn 1990) yang tercermin pada aneka kegiatan rekreasi yang ditawarkan dalam suatu perencanaan fisik kawasan wisata Pantai Cermin. Perencanaan pembangunar obyek wisata di pinggir pantai merupakan hasil kegiatan manusia yang dipengaruhi oleh keadaan alam (fisik) dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat di kawasan pinggir pantai yang memerlukan penataan yang baik, terencana, lebih efisien dan efektif serta dapat menghambat atau setidak-tidaknya meminimalisir/mengurangi bahaya gelombang laut. Dengan mengangkat permasalahan bagaimana optimalisasi pengaturan guna lahan eksisting di kawasan obyek wisata Pantai Cermin maka dilakukan penelitian yang bertujuan menemukan konsep pengaturan guna lahan yang optimal pada kawasan obyek wisata di pinggir pantai. Lingkup kawasan yang dikaji adalah sempadan pantai, daerah penyangga pantai dan pemanfaatan lahan sebagai kawasan obyek wisata di Pantai Cermin. Dengan metode pengamatan obyek secara langsung di lapangan didukung oleh data sekunder berupa master plan kawasan rekreasi Pantai Cermin serta dilengkapi data pendapat masyarakat tentang kemungkinan nengembangan tata guna lahan kawasan pantai maka dilakukan analisa dengan membandingkan kondisi eksisting dengan teori pola tata guna lahan yang dilakukan di pantai lain yang telah ada. Temuan penelitian adalah bahwa penataan kawasan wisata Pantai Cermin perlu ditingkatkan dengan optimalisasi penempatan kegiatan wisata sesuai dengan ketentuan wilayah sempadan pantai (untuk kegiatan rekreasi pantai terbuka berpasir tanpa bangunan permanen dan pepohonan sejarak 100 m dari batas pantai pasang tertinggi), sesuai ketentuan daerah penyangga pantai (untuk kegiatan rekreasi pantai terbuka dengan bangunan semi permanen dan teduhan pepohonan buffer yang berpotensi untuk mengurangi/penghalang gelombang besar) dan ketentuan daerah daratan pantai (untuk kegiatan rekreasi dan fasilitas umum dengan bangunan permanen)Tesis Magiste

    KAJIAN UMUR SIMPAN JAMUR TIRAM PUTIH (PLEUROTUS OSTREATUS) DITINJAU BERDASARKAN UMUR PANEN DAN SUHU PENYIMPANAN

    No full text
    Umur simpan Jamur Tiram Putih yang relatif singkat menyebabkan pemasaran dan penyebarannya hanya di sekitar tempat budidayanya saja. Oleh karena itu, perlu adanya penanganan lebih tepat untuk memperpanjang umur simpan umur simpan Jamur Tiram Putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi umur panen dan suhu penyimpanan yang tepat sehingga mampu memperpanjang umur simpan Jamur Tiram Putih.Alat-alat yang digunakan yaitu: timbangan digital, lemari pendingin (refrigerator), thermometer, wadah styrofoam, cawan pengabuan, tanur pengabuan, penjepit cawan, pemanas kjeldahl, alat destilasi, peralatan gelas. Dan bahan yang digunakan adalah Jamur Tiram Putih segar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yang diuji yaitu Umur panen (3 hari, 4 hari, dan 5 hari) dan suhu penyimpanan (10 oC, 15 oC dan suhu ruang 28 oC) dengan 2 kali ulangan. Analisis parameter mutu meliputi susut bobot, kekerasan, kadar abu, kadar protein, TPT, COP, dan uji organoleptik yaitu warna aroma tekstur dan penerimaan keseluruhan yang diamati sehari sekali hingga konsumen menolak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan Jamur Tiram Putih dapat bertahan Selama 6 hari, Perlakuan terbaik Jamur Tiram Putih untuk parameter susut bobot, kekerasan, dan kadar abu Selama 6 hari Penyimpanan terdapat pada variasi umur panen 3 hari pada suhu rendah 15 oC dengan persentase susut bobot 37,25 %, kekerasan 0,15 kg/cm2, dan kadar abu 0,76 %. Sedangkan Perlakuan terbaik untuk parameter kadar protein dan nilai total padatan terlarut Selama 6 hari Penyimpanan terdapat pada variasi umur panen 4 hari pada suhu rendah 15 oC dengan persentase kadar protein 6,38 % dan nilai total padatan terlarut 8,3% Brix. Analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa semua parameter mempengaruhi kualitas Jamur Tiram Putih kecuali kadar total padatan terlarut. Berdasarkan hasil perhitungan COP pada suhu penyimpanan 15 oC nilai COP yang didapatkan sebesar 2,36 sedangkan nilai COP untuk suhu penyimpanan 10 oC adalah 2,24, kemudian energi yang dilepaskan pada suhu penyimpanan 10 oC adalah 183,6 kJ, sedangkan untuk suhu penyimpanan 15 oC energi yang dilepaskan adalah 132,6 kJ

    Kebijakan PEMDA NAD dalam implementasi pendidikan Dayah di Aceh

    No full text
    xi+104hlm.;29c

    Pendidikan Dayah di Aceh: Mulai Hilang Identitas

    No full text
    xvi, 136 hal; 13.5x19 c

    Ideologi Pendidikan Qurani: Gagasan dan Tawaran

    No full text
    Ideologi Pendidikan Qur’ani menjadi penting dikaji berdasarkan empat alasan, yaitu: pertama, istilah “ideologi” digunakan dengan merujuk pengertiannya yang luas yaitu konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Implikasi penggunaan ideologi dalam pendidikan adalah keharusan adanya konsep cita-cita dan nilai-nilai yang secara eksplisit dirumuskan, dipercayai dan diperjuangkan. Kedua, filsafat dan teori pendidikan lebih kental dengan muatan akademisnya sedangkan ideologi agak kurang tuntutan akademisnya, akan tetapi lebih diarah kepada aksi. Ketiga, di dalam benturan peradaban sebagai dampak globalisasi, terjadi pergumulan ideologi dunia. Sementara ideologi Qur’ani sarat dengan nilai- nilai universal dan transedental seharusnya dapat ditawarkan sebagai paradigma ideologi alternatif. Terlebih lagi, pendidikan sebagai wahana sangat strategis dalam membangun peradaban alternatif perlu diformulasikan dengan pendekatan ideologis sehingga memiliki daya pengikat dan penggerak untuk aksi. Keempat, di tengah-tengah munculnya semangat al-Qur’an saat ini yang berorientasi pada nila-nilai dasar al-Qur’an yang sejatinya sangat humanis, sehingga semangat progresivisme dan liberalisme tidak kehilangan landasannya

    Ideologi Pendidikan Qurani: Gagasan dan Tawaran

    No full text
    Buku ini menelusuri konsep pendidikan menurut perspektif al- Qur'an melalui beberapa unsur pendidikan, antara lain unsur tujuan, unsur subyek didik, pendidik dan beberapa unsur lain berupa alat pendidikan dan budaya masyarakat. Semua konsep tersebut dikonstruk dengan menggunakan pola fikir reflektif kontekstual, yaitu mencari kebermaknaan antara yang sentral (al-Qur'an al-Karim) dengan perifernya yaitu konsep pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli. Kemudian ditata kernbali sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat untuk Pendidikan Islam yang dilaksanakan pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan forma

    Analysis of Teacher Performance Assessment in Elementary School

    No full text
    Teacher performance assessment is the process of giving grades to teacher performance which includes aspects of leadership, honesty, loyalty, dedication and teacher participation in institutional or group organization activities. Teacher performance assessment is the process of giving grades to teacher performance based on elements of the teacher's main activities, which aims to develop the teacher's rank, professionalism and position. The aim of this research is to determine the competencies that can be used to evaluate the performance of elementary school teachers, the indicators needed to carry out the main functions and duties of elementary school teachers, research on teacher performance, and the benefits of teacher evaluation. show. This research uses library research methods, namely research carried out by collecting data from various library sources, such as books, journals, articles, and so on. Teacher Competency Standards consist of four main competencies, namely pedagogical, personality, social and professional competencies. These four competencies are interrelated and integrated in teacher performance. Teachers' teaching skills are seen from several indicators, namely questioning skills, reinforcement skills, variation skills, explanation skills, lesson opening and closing skills, small group discussion guiding skills, class management skills, and individual learning skills. In conclusion, teacher performance has certain criteria that can be seen and measured based on specifications or competency criteria that every teacher must have
    corecore