41 research outputs found

    Pemalakan pada remaja ditinjau dari perbedaan jenis kelamin, karakteristik lingkungan, dan jenjang pendidikan; studi terhadap siswa SMP & SMA di Surabaya.

    No full text
    ABSTRAK   Tamsil Muis, 2009. Pemalakan pada remaja ditinjau dari perbedaan jenis kelamin, karakteristik lingkungan, dan jenjang pendidikan; studi terhadap siswa SMP & SMA di Surabaya. Pembimbing (I) Prof. Johana Endang Prawitasari, Ph.D. Pembimbing (II) Dr. Marthen Pali, M.Psi. Pembimbing (III) Dr. Dany M. Handarini, M.A.   Kata kunci: Pemalakan, remaja, jenis kelamin, karakteristik lingkungan, dan jenjang pendidikan.     Di Indonesia, gejala pemalakan di sekolah-sekolah semakin meningkat frekuensinya. Hampir setiap sekolah terjadi peristiwa pemalakan, mulai dari sekedar menggoda sampai menyakiti fisik. Pemalakan (tindakan mengganggu, menggertak) merupakan bentuk perilaku anti-sosial yang diiringi dengan penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Bukti-bukti penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pemalakan lebih lazim dilakukan dan memberi dampak yang lebih merusak bagi jiwa anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: (1) Apa bentuk pemalakan yang dilakukan siswa pada beberapa sekolah menengah di Surabaya? (2) Apakah ada perbedaan bentuk pemalakan dilihat dari latar kepemalakan siswa yang dapat dirinci menjadi : (a) Jenis kelamin, (b) Karakteristik lingkungan sekolah, (c) Jenjang pendidikan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Lokasi penelitian berada di 6 sekolah jenjang SMP dan SMA yang berstatus negeri maupun swasta di Surabaya sebagai sampel sekolah. Responden penelitian berjumlah 206 siswa yang diambil secara acak pada sekolah yang telah ditetapkan sebagai sekolah sampel. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan dianalisis dengan teknik ANAVA menggunakan model SPSS-15 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bentuk pemalakan yang terjadi pada remaja di sekolah-sekolah di Surabaya meliputi: fisik, verbal, isyarat, pemerasan, dan pengucilan. (2) Perbedaan bentuk pemalakan dilihat dari latar kepemalakan dapat dirinci menjadi: (a) Perbedaan bentuk / jenis pemalakan ditinjau dari perbedaan jenis kelamin: kecenderungan untuk menjadi pemalak maupun korban pemalakan fisik, verbal, isyarat, dan pemerasan sama besar antara pria dan wanita. Sedangkan kecenderungan untuk menjadi pemalak pengucilan sama besar antara pria dan wanita dan kecenderungan untuk menjadi korban pengucilan lebih besar pria dibandingkan dengan wanita. (b) Perbedaan bentuk / jenis pemalakan ditinjau dari perbedaan karakteristik lingkungan remaja di surabaya: kecenderungan untuk menjadi pemalak maupun korban pemalakan fisik, verbal, isyarat, pemerasan, dan pengucilan sama besar antara sekolah yang memiliki aturan ketat dan sekolah yang memiliki aturan longgar. (c) Perbedaan / jenis bentuk pemalakan ditinjau dari perbedaan jenjang pendidikan: Kecenderungan untuk menjadi pemalak sekaligus korban fisik, verbal, isyarat, pemerasan dan pengucilan sama besar antara SMP dan SMA. Hipotesis penelitian ditolak, karena tidak ada perbedaan bentuk pemalakan berdasarkan latar kepemalakannya yaitu berdasarkan jenis kelamin, karakteristik lingkungan dan jenjang pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan hasil-hasil penelitian sebelumnya dengan sekarang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak mendukung atau tidak memvalidasi teori yang telah ada karena hasil penelitian berbeda dengan teori. Berdasarkan simpulan hasil penelitian, maka dikemukakan dua saran berikut: (1) Penelitian ini hanya terbatas pada tiga variabel yaitu jenis kelamin, karakteristik lingkungan, dan jenjang pendidikan. Untuk penelitian lebih lanjut perlu dipertimbangkan masuknya variabel latar belakang keluarga; khususnya pola pendidikan yang dialami anak dalam keluarga tampaknya juga membawa pengaruh terhadap terjadinya tindakan pemalakan. (2) Focus Group Discution (FGD) yang dilakukan pada penelitian ini terjadi secara berulang-ulang untuk kelompok yang sama dan heterogen. Semestinya FGD dilakukan cukup satu kali untuk satu kelompok yang homogen. (3) Sekolah memiliki peranan dan tanggung jawab terhadap upaya-upaya anti pemalakan. Di sekolah para siswa banyak bergaul dengan teman sebayanya; dan sekolah berkewajiban untuk menciptakan dan mendorong terjadinya pergaulan yang sehat. Ujung tombak dari program ini di sekolah, terletak pada Konselor. Oleh karena itu, Konselor perlu mendapatkan pelatihan yang memadai tentang program anti pemalakan. (4) Diduga kuat bahwa temuan penelitian tidak hanya berlaku pada siswa di Surabaya, tetapi juga berlaku pada siswa di kota-kota lain di Indonesia. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian serupa di kota-kota lain dengan menggunakan pendekatan-pendekatan lain, seperti longitudinal dan studi kasus. Dengan demikian, akan menghasilkan data dan simpulan-simpulan lebih luas dan komprehensif yang dapat memperjelas gambaran tentang pemalakan.

    Filsafat Pendidikan : Teori dan Praktik

    No full text

    Filsafat Pendidikan Teori dan Praktik

    No full text

    Filsafat Pendidikan Teori dan Praktik

    No full text

    Jame al- Tamsil and Its Etymology and the Stories

    No full text
      Abstract Jame-al-Tamsil book written by Mohammad Ali Hableh Rudy (Live 1054) including the most ancient persian Proverbs and contains the most pure Persian proverbs which had great reader and moral story book during four centuries so more than fifty times is published. This valuable and benefit book with mixing the allegory and poetry with a verse and the Hadith take the story sweet for reader. Author tries to Nurture or change the story to make it sweet and beautiful. In this paper after the introduction of the author and book and his style we will mention his DP Story methods then we say the base of story. hableh rudy at this book used 150 stroy for proverbs that at this paper we found sources of 107 story and we refere to them and we note their differences.

    Tindakan Kekerasan Guru Terhadap Siswa dalam Interaksi Belajar Mengajar (Studi Kasus di SMAN Surabaya)

    No full text
    AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk menghasilkan sebuah penjelasan teoritis tentang proses dan penyebab terjadinya tindakan kekerasan dengan menekankan pada dinamika interaksi belajar mengajar antara pelaku (guru) dan korban (siswa). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus, proses penelitian diawali dengan menggali informasi dari pejabat Diknas kota Surabaya (Pengawas Sekolah), penentuan sekolah terjadinya kekerasan di sekolah menurut rekomendasi Waslah kota Surabaya, penentuan guru-guru yang pernah melakukan kekerasan melalui angket dari siswa, kemudian wawancara dan observasi terhadap guru-guru yang sering melakukan kekerasan dalam proses belajar mengajar. Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Diknas Surabaya belum memiliki suatu sistem monitoring/pemantauan tentang kekerasan dalam interaksi belajar mengajar (kibem) di sekolah; (2) Guru-guru yang melakukan kibem, lebih disebabkan oleh paradigma dan wawasan kependidikannya, bahwa untuk menegakkan disiplin harus dengan kekerasan; (3) Hasil penelitian menunjukkan bentuk kekerasan yang sering terjadi di sekolah adalah kekerasan verbal (mengucapkan kata-kata kasar dan menyinggung perasaan), psikologis (mengabaikan, mengancam), dan fisik (menjewer, menendang, mencubit); (4) Siswa yang menjadi korban kekerasan menganggapnya sebagai sesuatu yang memang harus terjadi dan cenderung pasrah, hanya sebagian kecil siswa (10,6%) yang mengakibatkan rasa dendam dalam diri mereka  AbstractThe purpose of this research is to get description about reason and happening process of violence in teaching learning process between teacher as subject and student as victim. Method of this research is qualitative research with case study design. Begin finding information from Departemen Pendididikan Nasional (Diknas) Surabaya, especially from the supervisor of school (usually called Pengawas Sekolah), this research corned in interview process with the teacher who known as a subject. The result of this research is (1) Diknas Surabaya haven’t monitoring system which concentrated in violence action in teaching learning process, (2) the cause of violence action is focused on paradigm and knowledge of the teacher that to built student’s discipline attitude is with violence action, (3) The kind of violence which happen in teaching learning process is verbal violence, physic violence, dan psychology violence, and (4) the victim of this violence action just can defensiveness and 10% getting resentment.</jats:p

    Tindakan Kekerasan Guru Terhadap Siswa dalam Interaksi Belajar Mengajar (Studi Kasus di SMAN Surabaya)

    No full text
    Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan sebuah penjelasan teoritis tentang proses dan penyebab terjadinya tindakan kekerasan dengan menekankan pada dinamika interaksi belajar mengajar antara pelaku (guru) dan korban (siswa). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus, proses penelitian diawali dengan menggali informasi dari pejabat Diknas kota Surabaya (Pengawas Sekolah), penentuan sekolah terjadinya kekerasan di sekolah menurut rekomendasi Waslah kota Surabaya, penentuan guru-guru yang pernah melakukan kekerasan melalui angket dari siswa, kemudian wawancara dan observasi terhadap guru-guru yang sering melakukan kekerasan dalam proses belajar mengajar. Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Diknas Surabaya belum memiliki suatu sistem monitoring/pemantauan tentang kekerasan dalam interaksi belajar mengajar (kibem) di sekolah; (2) Guru-guru yang melakukan kibem, lebih disebabkan oleh paradigma dan wawasan kependidikannya, bahwa untuk menegakkan disiplin harus dengan kekerasan; (3) Hasil penelitian menunjukkan bentuk kekerasan yang sering terjadi di sekolah adalah kekerasan verbal (mengucapkan kata-kata kasar dan menyinggung perasaan), psikologis (mengabaikan, mengancam), dan fisik (menjewer, menendang, mencubit); (4) Siswa yang menjadi korban kekerasan menganggapnya sebagai sesuatu yang memang harus terjadi dan cenderung pasrah, hanya sebagian kecil siswa (10,6%) yang mengakibatkan rasa dendam dalam diri mereka    Abstract The purpose of this research is to get description about reason and happening process of violence in teaching learning process between teacher as subject and student as victim. Method of this research is qualitative research with case study design. Begin finding information from Departemen Pendididikan Nasional (Diknas) Surabaya, especially from the supervisor of school (usually called Pengawas Sekolah), this research corned in interview process with the teacher who known as a subject. The result of this research is (1) Diknas Surabaya haven’t monitoring system which concentrated in violence action in teaching learning process, (2) the cause of violence action is focused on paradigm and knowledge of the teacher that to built student’s discipline attitude is with violence action, (3) The kind of violence which happen in teaching learning process is verbal violence, physic violence, dan psychology violence, and (4) the victim of this violence action just can defensiveness and 10% getting resentment

    PERAN GURU BK DALAM MENGATASI SISWA MEMBOLOS SEKOLAH DI SMA AL-ISLAM KRIAN SIDOARJO

    No full text
    Penelitian ini dilaksanakan di SMA Al-Islam Krian dengan tujuan: 1) Apa yang menjadi penyebab siswa membolos sekolah SMA Al-Islam Krian Sidoarjo, 2) Apa yang dilakukan guru BK untuk mengatasi siswa membolos di SMA Al-Islam Krian Sidoarjo. Penelitian ini ialah peneitian kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menelliti peran guru BK untuk mengatasi siswa membolos. Teknik penelitian ini ialah observasi, wawancara, dokumenasi. Tekni ini untuk mereduksi, menyajikan dan menarik kesimpulan dalam data. Setelah itu peneliti melakukan hasil dari peran Guru BK di Sma Al-Islam Krian Sidoarjo untuk mengatasi siswa membolos yang pertama guru BK harus dapat mengantisipasi dan pencegahan yang kedua melakukan proses konseling kepada siswa tersebut yang terakhir menghadapkan orang tua dan siswa kemudian mengelompokkan masalah-masalah yang dihadapi siswa yang bersangkutan

    PENGEMBANGAN BUKU PANDUAN PELATIHAN REGULASI EMOSI SISWA DI SMKN 1 KALITENGAH LAMONGAN

    No full text
    ABSTRAK Pengembangan buku panduan pelatihan regulasi siswa yag diberikan kepada siswa di SMKN 1 Kalitengah Lamongan ini bertujuan untuk membantu siswa yang memiliki tingkat regulasi emosi yang rendah, agar siswa mampu meregulasi emosinya dengan baik. Untuk mengetahui tingkat regulasi emosi siswa tersebut yakni dengan memberikan angket regulasi emosi agar diisi oleh siswa. Sehingga dari angket tersebut dapat diketahui banyaknya siswa yang memiliki tingkat regulasi emosi rendah. Tidak hanya dari hasil angket tersebut, dapat diketahui dari hasil wawancara kepada guru BK di sekolah tersebut bahwa banyaknya siswa yang menunjukkan sikap yang memiliki tingkat regulasi emosi rendah seperti siswa suka berbicara jorok, suka marah-marah kepada teman, suka menyendiri dan terlihat semangat tiba-tiba menjadi malas. Selain beberapa hal di atas, siswa di sekolah tersebut diberikan angket kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan materi-materi mengenai regulasi emosi dalam buku panduan tersebut. Setelah mengetahui kebutuhan materi yang dibutuhkan siswa, kemudian peneliti membuat media yang berupa buku panduan itu. Saat peneliti selesai membuat media tersebut, peneliti melaksanakan penilaian akseptabilitas produk kepada uji ahli materi dan uji ahli media. Setelah melakukan uji ahli materi dan media, peneliti melaksanakan uji lapangan skala kecil dan uji praktisi (konselor). Dari hasil penilaian akseptabilitas yang dilakukan oleh 8 siswa yang memiliki tingkat regulasi emosi rendah mendapat penilaian sebanyak 94,9%. Sebelum melaksanakan uji lapangan skala kecil produk buku panduan telah diuji oleh ahli media, ahli materi, dan uji praktisi (konselor), dimana hasil prosentase dari uji ahli media sebesar 87,5%, ahli materi sebesar 96,6% dan uji ahli calon praktisi (konselor) sebesar 97,3%. Yang mengartikan bahwa produk buku panduan telah memenuhi kriteria akseptabilitas sangat baik dan tidak perlu direvisi. Keyword : Pengembangan Buku Panduan, Regulasi Emosi, SiswaABSTRACT The guidebook development of students’ emotion regulation training that given to students of SMKN 1 Kalitengah Lamongan aims to help the students who have low emotion regulation, so they can manage their emotion. The students fill the questionnare to find out about the level of their emotion regulation, so the number of students who have low emotion regulation can be known. The result not only can be found from the questionnare but also from the interview of guidance ccounselor in that school. The interview reveals how many students who indicate low emotion regulation behaviour, such as the students who like to utter swear word, easily irritated by his friend, dissociate from others, and suddenly become lazy. Besides several points above, the students were given the requirement questionnare to fulfill the contents about emotion regulation in the guidebook. After knowing the requirement materials that students need, researcher make a media which is the guidebook. After the researcher finished making the media, the researcher do product acceptability examination to material experts examination and media experts examination. After doing test activity, researcher do minor-scale field test and practical examination (counselor). Based on the acceptability test which done by eight students, the students who have low emotion regulation got 94.9%. Before doing minor-scale field test, guidebook product had been examined by media expert, material expert, and pratictioner expert (counselor) and get 87.5% from media expert examination, 96.6% from material expert examination, and 97.3% from practitioner expert examination which indicates that guidebook product has been fulfilled excellent acceptability criteria and no need to revise. Keyword: Guidebook Development, Emotion Regulation, Student

    STUDI KASUS TENTANG PERILAKU MEMBOLOS SISWA DI SMA NEGERI 1 PLUMPANG TUBAN

    No full text
    Penelitian ini dilatar belakangi oleh seringnya perilaku membolos yang muncul di SMA Negeri 1 Plumpang Tuban. Sehingga perlunya pengkajian terkait dengan perilaku membolos siswatentang apa saja bentuk-bentuk perilaku membolos, faktor yang mendorong siswa berperilaku membolos, keterlibatan orang tua dalam perilaku membolos siswa, dampak yang ditimbulkan dari perilaku membolos, persepsi siswa terhadap perilaku membolos dan penanganan yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X dan XI yang sering membolos. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk perilaku membolos yang dilakukan oleh siswa di SMA Negeri 1 Plumpang Tuban yaitu membolos satu hari penuh dan membolos pada saat jam pelajaran tertentu. Faktor yang mendorong siswa berperilaku membolos meliputi faktor dari diri siswa sendiri, faktor keluarga dan faktor lingkungan. Keterlibatan orang tua dalam perilaku membolos siswa utamanya adalah orang tua tidak terlibat langsung dalam perilaku membolos siswa yaitu dilihat dari pola asuh orang tua. Dampak dari perilaku membolos meliputi psikis, akademik dan non akademi serta penanganan yang sudah dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling adalah pemberian layanan informasi, guru Bimbingan dan Konseling memanggil siswa yang berperilaku membolos untuk dilaksanakan bimbingan, pemanggilan orang tua, serta kerjasama dengan kepala sekolah, wali kelas dan orang tuasiswa. Kata kunci : Studi, Perilaku, Membolos, Sisw
    corecore