1,720,960 research outputs found

    ILMU LADUNI SEBAGAI SYARAT MURSYID THARIQAH (Pemikiran Muhammad Luthfi Ghozali tentang Pemimpin Tasawuf)

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi adanya anggapan di tengah masyarakat, khususnya kalangan pesantren bahwa ilmu laduni merupakan ilmu yang didatangkan secara langsung tanpa proses yang mendahului. Bahkan sudah menjadi anggapan umum, bila ilmu laduni dikaitkan dengan hal supranatural, mistis, takhayyul serta kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu diluar nalar atau yang lebih populer dengan istilah “yukha riq al-‘a dah”. Anggapan lain menyebut bahwa ilmu ini hanya bisa diperoleh oleh seorang wali. Di sisi lain, tugas manusia sebagai kholifah di bumi dianggap sebagai tugas mutlak yang diemban oleh semua makhluk yang ditakdirkan menjadi manusia. Akan tetapi pada kenyataannya, banyak manusia yang menunjukkan perilaku dan sikap yang bertentangan bahkan bertolak belakang dengan tugasnya sebagai kholifah di bumi. Penelitian ini dikhususkan pada pemikiran Muhammad Luthfi Ghozali. Sebagai pemerhati, ahli sekaligus praktisi dalam dunia tasawuf, ia memiliki pemahaman yang berbeda dari pandangan ilmuan muslim lain dalam hal ilmu laduni. Ia menganggap bahwa ilmu laduni merupakan ilmu pemberian langsung atau ilmu yang diwariskan oleh orang yang terlebih dahulu mendapatkannya dari pewarisnya. Menurutnya semua orang bisa memperolehnya asal mau membangun sebab diperolehnya, yaitu rahmat sebelum ilmu, buah takwa, nubuwwah atau walayah dan ilmu yang diwariskan. Berkenaan dengan kholifah bumi, Luthfi Ghozali memahaminya sebagai guru mursyid thariqah, yang membidani kelahiran kedua bagi anak asuhnya. Ia merupakan penunjukan secara langsung oleh sistem ilahiyyah, bukan hasil pemilihan secara aklamasi oleh suatu organisasi thariqah. Guru mursyid memiliki tugas untuk mendiagnosa penyakit anak asuhnya dan memberikan solusi yang tepat baginya. Oleh karena itu, Luthfi Ghozali mensyaratkan ilmu laduni bagi mursyid thariqah. Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana konsep ilmu laduni menurut Muhammad Luthfi Ghozali? 2) Bagaimana cara memperoleh ilmu laduni menurut Muhammad Luthfi Ghozali? 3) Bagaimana konsep khalifah bumi menurut Luthfi Ghozali dan mengapa ia mensyaratkan ilmu laduni bagi mursyid thariqah? Manfaat dari penelitian ini dibedakan menjadi dua, yakni secara teoritis dan praktis. Secara teoritis penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsih bagi perkembangan khazanah ilmu tasawuf terutama yang berkenaan dengan ilmu laduni, cara memperolehnya dan mursyid thariqah yang dipahami Luthfi Ghozali sebagai kholifah bumi. Adapun secara praktis penelitian ini bermanfaat untuk para akademisi sebagai rujukan, bahan bagi jurusan tasawuf dan studi islam sebagai acuan dalam pengembangan kurikulum maupun bidang kajian konsentrasinya, rujukan sekaligus perenungan bagi para praktisi tasawuf dalam pengembaraan spiritualnya, serta pijakan bagi para peneliti untuk melakukan penelitian berikutnya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), yakni penelitian yang menitikberatkan pada upaya menggali dan melakukan telaah buku, serta literatur secara mendalam. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan wawancara, sementara analisis data yang peneliti gunakan adalah analisis isi (content analysis). Temuan penelitian dalam disertasi ini adalah 1) ilmu laduni menurut Muhammad Luthfi Ghozali merupakan ilmu pemberian atau warisan langsung dari pewarisnya yang terlebih dahulu telah mendapatkan warisan dari pendahulunya, berupa ilham spontan yang memancar dari dalam hati kemudian terpancarkan lagi keluar dalam bentuk perilaku, baik ucapan maupun perbuatan melalui akal dan fikiran. 2) ilmu laduni bisa diperoleh dengan membangun sebab didapatkannya ilmu laduni, yaitu rahmat sebelum ilmu, buah taqwa, proses nubuwwah atau wala>yah dan ilmu yang diwariskan. 3) konsep kholifah bumi dalam pandangan Muhammad Luthfi Ghozali adalah para guru mursyid thariqah, yakni para orangtua asuh sejati, bapak ruhaniyah, yang membidani kelahiran kedua dan pembimbing perjalanan dalam pengembaraan ruhani murid-muridnya. Tugas utamanya adalah mendiagnosa penyakit anak muridnya, memberikan solusi yang tepat baginya dan membidani kelahiran kedua. Sistem pengangkatannya bersifat ghaib melalui sistem ilahiyah, bukan pemilihan aklamasi organisasi thariqah tertentu. Indikatornya selalu memberi manfaat kepada sesama, saat memandangnya tergerak hati untuk mengingat Allah, mengingat dosa dan kemaksiatan. Oleh karena tugasnya bersifat ruhani dan ghaib, mursyid thariqah dibekali dengan ilmu laduni, yang mana Luthfi Ghozali menjadikannya sebagai syarat yang mesti dimiliki seorang mursyid thariqah. Kata Kunci: Ilmu Laduni, Mursyid Thariqa

    Laduni Science On Muhammad Luthfi Ghozali’s Perspective

    No full text
    Abstract This article examines the science of laduni and how to acquire it. Laduni science is generally perceived as a supernatural science that cannot be obtained aside from by few individuals. This knowledge is often associated with things that happen abruptly without any preceding process. Muhammad Lutfi Ghozali disproved this assumption by proposing logical, rational arguments and sticking to the naṣ of the Qur'an and Hadith. Muhammad Luthfi Ghozali explained that laduni science has an analytical mechanism. Those who understand the substance of laduni science and construct causal mechanisms will be achievable to acquire this knowledge. The thought of Muhammad Lutfi Ghozali places a comprehension of laduni science that seems mystical and irrational. Keywords: laduni science, Muhammad Luthfi Ghozali, rational, mystical Abstrak Artikel ini membahas tentang ilmu laduni dan cara-cara mendapatkannya. Ilmu laduni umumnya dipahami sebagai ilmu mistik yang tidak mungkin diperoleh kecuali oleh sebagian kecil orang. Ilmu ini kerapkali dihubungkan dengan hal yang terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya proses yang mendahuluinya. Muhammad Luthfi Ghozali membantah anggapan tersebut dengan mengajukan argumentasi logis, rasional serta tetap berpegang pada naṣ Al-Qur’an dan hadits. Muhammad Luthfi Ghozali menjelaskan bahwa ilmu laduni memiliki mekanisme rasional. Mereka yang memahami substansi ilmu laduni dan membangun mekanisme sebab akan mungkin untuk mendapatkan ilmu ini. Pemikiran Muhammad Luthfi Ghozali ini mendudukkan pemahaman tentang ilmu laduni yang seolah mistik dan tidak rasional. Kata kunci: ilmu laduni, Muhammad Luthfi Ghozali, rasional, mistik

    LADUNI SCIENCE ON MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI’S PERSPECTIVE

    Get PDF
    This article examines the science of laduni and how to acquire it. Laduni science is generally perceived as a supernatural science that cannot be obtained aside from by few individuals. This knowledge is often associated with things that happen abruptly without any preceding process. Muhammad Lutfi Ghozali disproved this assumption by proposing logical, rational arguments and sticking to the naṣ of the Qur'an and Hadith. Muhammad Luthfi Ghozali explained that laduni science has an analytical mechanism. Those who understand the substance of laduni science and construct causal mechanisms will be achievable to acquire this knowledge. The thought of Muhammad Lutfi Ghozali places a comprehension of laduni science that seems mystical and irrationa

    Percikan samudra hikmah: syarah hikam Ibnu Atho'illah As-Sakandari

    No full text
    Buku ini adalah salah satu dari sedikit syarah al-hikam yang lahir dari penulis asli Indonesia?dan karenanya syarah ini memiliki posisi yang unik. Ada beberapa alasan. Pertama, setiap karya kerohanian, selain memuat tema yang universal, juga mengandung elemen ?lokal,? yakni setidaknya dipengaruhi oleh faktor kapabilitas penulisnya (daya nalar, maqam spiritual, kemampuan bahasa, dan sebagainya), faktor ruang (lingkungan yang membentuk penulisnya), dan faktor waktu (zaman di mana sebuah karya ditulis). kedua, syarah ini ditulis bukan hanya berdasarkan analisis intelektual belaka; tetapi, ia juga ditulis berdasarkan pengalaman rohani penulis, dan berdasarkan interaksi ?esoteris? penulis dengan setiap elemen lahir dan batin yang dikandung dalam kitab al-Hikam

    percikan Samudra Hikmah : syarah hikam ibnu atho'illah as-sakandari

    No full text
    Buku ini membahas tentang nilai-nilai tasawufxvi. 596 hlm. ; 23 c

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore