1,720,994 research outputs found
STUDI KRITIS TERHADAP AL-QUR’AN TARJAMAH TAFSIRIYAH MUHAMMAD THALIB ATAS SURAT AL-BAQARAH
Al-Qur’an merupakan rujukan dalam mencari solusi segala persoalan umat
Islam yang berdomisili di belahan bumi mana pun termasuk di Indonesia. Dari 114
surat dalam Al-Qur’an terdapat surat Al-Baqarah terdiri dari 286 ayat yang
merupakan surat terpanjang. Secara isi kandungannya bisa dikatakan sudah mewakili
Al-Qur’an secara keseluruhan karena sudah mencakup persoalan akidah, ibadah, dan
mu’amalah. Al-Qur’an diturunkan berbahasa Arab, sedang umat Islam di Indonesia
tentu tidak semuanya memahami bahasa Arab karena memang bukan bahasa ibu
mereka. Kegelisahan tersebut sudah ada solusi dari pemerintah yang diwakili oleh
Kementrian Agama RI dengan menerbitkan Al-Qur’an tarjamah berbahasa Indonesia,
tetapi menurut sebagian pihak ada kesalahan tarjamah, kemudian Muhammad Thalib
hadir dengan menawarkan sebuah alternatif dengan karyanya Tarjamah Tafsiriyah.
Pada kajian ini difokuskan pada Tarjamah Tafsiriyah atas Al-Baqarah.
Muhammad Thalib berpandangan kesalahan pada tarjamah Kemenag RI
tersebut karena metode yang dipakai, karena bahasa Arab dan bahasa Indonesia
memiliki karakter yang berbeda. Kemenag RI dalam menerjemahkan Al-Qur’an kata
perkata, sedangkan Muhammad Thalib menggunakan metode tarjamah tafsiriyah,
sehingga tidak terpaku pada kata yang diterjemahkan, dan yang menjadi bahan kajian
pada penelitian adalah apa yang menjadi sumber Muhammad Thalib dalam
menerjemahkan surat Al-Baqarah. Selain sumber tarjamah, yang tidak kalah penting
untuk dikaji adalah bagaimana metode yang ditempuh dalam menerjemahkan. Pada
poin berikutnya adalah apa yang menjadi tolok ukur kebenaran tarjamah tafsiriyah
atas surat Al-Baqarah.
Tarjamah Tafsiriyah memang merupakan karya yang monumental dari
Muhammad Thalib, karena selama ini belum pernah ada karya serupa yang berani
mengkritisi Al-Qur’an Tarjamah yang dikeluarkan oleh lembaga resmi Negara yang
diwakili oleh Kemenag. Ia layak mendapat sanjungan sekaligus mendapat kritikan
karena dalam penerjemahan yang ia lakukan terdapat beberapa hal yang layak untuk
dikritisi, diantaranya adalah sumber Tarjamah Tafsiriyah. Berdasarkan hasil kajian
penulis mengenai sumber Tarjamah Tafsiriyah atas surat Al-Baqarah, yang dilakukan
Muhammad Thalib sebatas menerjemahkan dari tafsir berbahasa Arab ke bahasa
Indonesia dari kitab tafsir yang menjadi rujukan seperti Al-Muntakhab, Al-Muyassar,
dan Al-Samarqandi, sehingga sumber tarjamahnya bi ar-ra’yi dan tidak murni ra’yu
Muhammad Thalib sendiri. Metode yang ia tempuh dalam menerjemahkan adalah
muqaran, sebab ia sebatas membandingkan tarjamah harfiyah dengan kitab-kitab
tafsir yang menjadi rujukan. Kemudia ia memilih salah satu dari tafsir tersebut tanpa
memberi alasan ilmiah, sehingga terkesan ia melakukan plagiasi. Sedangkan tolok
ukur kebenaran tarjamahnya antara lain tata bahasa dan logika bahasa Indonesia,akan
tetapi kesan yang ada ia kurang konsisten dengan tolok ukur yang ia buat sendiri. Dan
diharapkan penelitian ini memberi kontribusi positif bagi penelitian-penelitian
selanjutnya yang mengangkat tema yang terkait
KOMPARASI AL-QUR’AN DAN MAKNANYA KARYA M. QURAISH SHIHAB DAN TARJAMAH TAFSIRIYAH KARYA MUHAMMAD THALIB
Skripsi ini memkomparasikan Al-Qur’an dan Maknanya karya M. Quraish
Shihab dengan Tarjamah Tafsiriyah karya Muhammad Thalib, kedua karya
tersebut secara teoritis dan metodologis menggunakan metode terjemahan
tafsiriyah atau ma’nawiyah, tetapi hasil penerjemahan mereka sangatlah berbeda.
Sehingga penelitian ini berusaha menjawab beberapa permasalahan: Pertama,
berkenaan dengan terjemahan ayat-ayat Aqidah, Syari’ah dan Mu’amalah?. Ke
dua, analisis komparasi kedua karya berkenaan dengan perbedaan dan persamaan,
kelebihan dan kekurangan?. Ketiga implikasi dari terjemahan dalam konteks
masyarakat secara umum?. Penelitian ini bersifat library research. Data yang
diperoleh diolah dengan metode deskriptif-komparatif-analitik. Adapun sumber
primer penelitian ini adalah Al-Qur’an dan Maknanya karya M. Quraish Shihab
dengan Tarjamah Tafsiriyah karya Muhammad Thalib.
Dalam menerjemahkan ayat-ayat Aqidah, Syari’ah dan Mu’amalah, tidak
ada perbedaan yang signifikan antara Al-Qur’an dan Maknanya karya M. Quraish
Shihab dengan Tarjamah Tafsiriyah karya Muhamamd Thalib. Perbedaan yang
menonjol hanya pada gaya bahasa dan bentuk terjemahan Tafsiriyah antara
keduanya. Quraish Shihab hanya memberikan makna pada kata-kata tertentu,
disertai dengan catatan ilmiah tanpa memberikan pemaknaan utuh seluruh ayat.
Sedangkan Muhammad Thalib menerjemahkan dengan mengalihbahasan tanpa
terikat dengan struktur bahasa pertama, maka terjemahannya terkesan seperti
penafsiran. Secara umum kedua karya tersebut sama-sama menggunakan metode
Tafsiriyah dalam menerjemahkan ayat al-Qur’an, akan tetapi perbedaannya pada
sumber rujukan terjemahan seperti Muhammad Thalib merujuk kepada kitab tafsir
ulama-ulama klasik. Sedangkan M. Quraish Shihab terjemahannya hanya
bersumber pada satu kitab tafsir yaitu Tafsir Muntakhab karya para pakar Mesir.
Adapun kelebihan dan kekurangan terdapat pada langkah-langkah metode
penerjemahan, bahwa tolak ukur benarnya terjemahan Muhammad Thalib melihat
kepada 8 aspek yaitu tata bahasa Indonesia, logika bahasa Indonesia, sastera Arab,
asbabun nuzul ayat, maksud ayat, aqidah, syariah, mu’amalah. Sedangkan M.
Quraish Shihab mengacu kepada fatwa ulama al-Azhar, Mesir. Terakhir,
Perbedaan terjemahan antara M. Quraish Shihab dan Muhammad Thalib
berimpilkasi pada perbedaan pemahaman kandungan ayat al-Qur’an seperti Surat
Hud ayat 107 dan surat al-Fatihah ayat 1, terlihat M. Quraish Shihab bersikap
toleran kepada orang-orang non muslim ketika menerjemahkan kata ar-Rahman
dan ar-Rahim, siksa di dalam neraka. Persamaan makna pada bagian ayat-ayat
dalam al-Qur’an, seperti pada surat Al-Imran ayat 107 tentang wajah berseri-seri
hari kiamat dan pada ayat-ayat mu’amalah pada surat al-Ahzab ayat 49 dan 52
tentang kasus perceraian. Perbedaan keduanya juga berimplikasi pada pemahaman
ayat al-Qur’an, bahwa M. Quraish Shihab toleransi dengan adanya perbedaan
terjemahan, tetapi Muhammad Thalib tidak toleransi adanya perbedaan, justru
mengklain bahwa terjemahan tafsiriyah karyanya yang paling bena
Analisis terjemahan ayat-ayat moderasi oleh Mahmud Yunus dan Muhammad Thalib: studi komparatif
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis terjemahan ayat-ayat moderasi dalam al-Qur’an oleh dua tokoh penting, yaitu Mahmud Yunus dan Muhammad Thalib. Fokus penelitian ini adalah pada perbandingan makna dan pendekatan penerjemahan terhadap ayat-ayat yang mengandung nilai moderasi beragama. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), serta pendekatan komparatif (muqāran) untuk menggali persamaan dan perbedaan dalam tafsir dan terjemahan yang digunakan oleh kedua tokoh. Data primer diperoleh dari kitab Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan Al-Qur’anul Karim Tarjamah Tafsiriyah karya Muhammad Thalib. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun keduanya mengusung semangat wasathiyah, pendekatan dan gaya penerjemahan mereka berbeda secara signifikan. Mahmud Yunus cenderung menggunakan pendekatan tradisional dan normatif, sedangkan Muhammad Thalib menekankan aspek kontekstual dan linguistik. Perbedaan ini terlihat jelas dalam penafsiran terhadap istilah kunci seperti “ummatan wasathan” dalam QS. Al-Baqarah [2]: 143. Mahmud Yunus menerjemahkannya sebagai "umat pertengahan", sedangkan Muhammad Thalib memilih istilah "umat yang adil". Pemilihan diksi ini berpengaruh terhadap bagaimana nilai-nilai moderasi dipahami dan diinternalisasi oleh pembaca. Selain itu, latar belakang pendidikan, ideologi, dan orientasi dakwah kedua tokoh juga memengaruhi sudut pandang mereka dalam menerjemahkan teks suci. Penelitian ini tidak hanya memperlihatkan pentingnya penerjemahan sebagai instrumen pemahaman keagamaan, tetapi juga menegaskan bahwa tafsir dan terjemahan tidak pernah bebas nilai. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam studi tafsir kontemporer dan memperkaya wacana keislaman, khususnya dalam membangun pemahaman beragama yang moderat, toleran, dan kontekstual di tengah masyarakat multikultural seperti Indonesi
Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk terhadap Penerjemahan Muhammad Thalib pada Q.S. Al-Maidah [5]: 44, 45, dan 47
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerjemahan Muhammad Thalib
terhadap Q.S. Al-Maidah [5]: 44, 45, dan 47 dalam Al-Qur’an Tarjamah
Tafsiriyah guna mengungkap muatan ideologis yang terkandung di dalamnya.
Alasan peneliti memilih pendekatan Critical Discourse Analysis model Teun
A. van Dijk adalah karena model ini mampu mengkaji relasi antara bahasa,
ideologi, dan kekuasaan dalam teks, serta mengungkap bagaimana teks dapat
merepresentasikan kepentingan sosial tertentu. Fokus penelitian diarahkan
pada dua pertanyaan utama; pertama, bagaimana Muhammad Thalib
menerjemahkan Q.S. Al-Maidah ayat 44, 45, dan 47?. Dan kedua, bagaimana
microstructure, superstructure, dan macrostructure dalam terjemahan Thalib
berdasarkan analisis wacana kritis Van Dijk?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode
analisis teks. Data utama berasal dari terjemahan Tarjamah Tafsiriyah
Muhammad Thalib, sedangkan data pembanding diambil dari terjemahan
resmi Kementerian Agama Republik Indonesia. Tahapan penelitian meliputi;
pertama, pengumpulan data primer dan sekunder, kedua, identifikasi bentuk�bentuk perbedaan dalam terjemahan, ketiga, analisis microstructure,
superstructure, dan macrostructure, serta keempat, penarikan simpulan
berdasarkan kerangka CDA Van Dijk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjemahan Muhammad Thalib
mengandung pola wacana yang menekankan dominasi hukum Allah dan
mengkritik hukum buatan manusia. Pada microstructure, ditemukan pilihan
diksi seperti durhaka kepada Allah dan tidak mau menetapkan hukum yang
menunjukkan keberpihakan ideologis. Superstructure teks Thalib disusun
dengan pola argumentatif yang mengarahkan pembaca pada penolakan sistem
sekuler. Sementara pada macrostructure, ditemukan tema besar yang
mendukung penerapan syariah secara penuh. Dengan demikian, penerjemahan
ini tidak hanya bersifat linguistik, melainkan juga merupakan media
penyampaian ideologi Islamisme
TINJAUAN KOMPARATIF PENDIDIKAN KELUARGA (Telaah Pemikiran Muhammad Thalib dan Abdullah Nasih Ulwan)
Pendidikan keluarga pemikiran Thalib dan Ulwan mempunyai pesamaan mewujudkan fitrah manusia pada potensi yang paling sempurna dengan proses yang bertahap, serta tidak bertentangan dengan sumber-sumber hukum Islam. Permasalahannya, walaupun sebagian besar anggota keluarga mengenyam pendidikan baik formal maupun informal (keluarga), faktanya problem tetap terjadi semisal geng klithih, perselingkuhan, pergaulan bebas, dan lain sebagainya. Hal tersebut dipicu nilai moral yang rendah dan minimnya pemahaman agama dalam keluarga. Maka pendidikan keluarga dinilai sangat vital untuk menjadikan akhlak menjadi lebih baik. Kekhasan yang berbeda antara Thalib dan Ulwan dilatarbelakangi oleh perbedaan tempat, situasi, kondisi, budaya, politik dan jaman. Akan tetapi dengan manhaj yang sama (tarbiyah) maka dua tokoh pendidikan keluarga ini mempunyai pengaruh yang cukup besar di Indonesia. Karya keduanya yaitu Ensiklopedi Keluarga Sakinah dan Tarbiyatul Aulad Fil Islam menjadi rujukan kajian ilmiah baik jurnal, skripsi, tesis, maupun disertasi. Hal tersebut menunjukkan penerimaan publik akademik terhadap pemikiran keduanya.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis kritis serta deskripsi tentang tinjauan komparatif pendidikan keluarga, telaah pemikiran Muhammad Thalib dan Abdullah Nasih Ulwan dan juga menggali kendala yang mungkin akan dihadapi. Dengan sub fokus mencakup: (1) pemikiran pendidikan keluarga Muhammad Thalib, (2) pemikiran pendidikan keluarga Abdullah Nasih Ulwan, dan (3) komparasi pemikiran keduanya dalam bidang pendidikan keluarga.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggali sumber-sumber kepustakaan yang dilakukan dengan dokumentasi dan wawancara serta menggali data primer dan sekunder. Teknik analisis data dilakukan dengan lima tahap yaitu (1) Menentukan permasalahan, (2) Menyusun kerangka pemikiran, (3) Menyusun perangkat metodologi, (4) Analisis data, (5) Interpretasi data. Metode tersebut dimaksudkan dapat menganalisis seluruh pembahasan tentang pemikiran
Muhammad Thalib dan Abdullah Nasih Ulwan mengenai konsep pendidikan keluarga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pemikiran pendidikan keluarga Thalib dan Ulwan dilatarbelakangi dari manhaj yang sama yaitu tarbiyah namun realita situasi, kondisi, lokasi, dan waktu membuatnya berbeda dalam implementasi dan kontekstualisasinya. Kekuatan pemikiran Muhammad Thalib berusaha mengikuti alur jaman dan menciptakan metode pendidikan keluarga yang bersifat kekinian, sedang Ulwan masih tampak rigid dalam metode dan penerapannya. (2) Manhaj tarbiyah Thalib dan Ulwan mengarah pada konsep puritan teologis yang sekaligus mempunyai kontribusi besar terhadap pengembangan pendidikan keluarga di Indonesia, menjadi rujukan dalam berbagai kajian ilmiah dan diskusi akademik pendidikan keluarga
IDEOLOGICAL BIASES IN TRANSLATING THE QUR’AN: AN ANALYSIS STUDY OF AL-QUR’AN TARJAMAH TAFSIRIYAH BY MUHAMMAD THALIB
This paper examines the translation of the Qur’an in Indonesia, which is a sign of the interaction of Muslims in Indonesia with the Holy Scriptures, which is not limited to reading and studying it in the original Arabic pronunciation. Like the interpretation of the Qur’an, which is full of dynamics, the translation also touches on the realm of polemics that attract the attention of adherents from different circles. The polemic in question can be found among the long historical translation buildings. In this study, the author chooses Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah by Muhammad Thalib, in which the ideological bias of his organizational group is indicated. Is there an ideological bias produced by Muhammad Thalib in his translation work? This study attempts to answer the above questions using a qualitative method based on library research, with a social identity approach and critical discourse analysis as its formal object. In addition, this study will use the hermeneutical analysis offered by Sahiron Syamsudin. In addition, the method used in this qualitative research is content analysis to analyze the results of Muhammad Thalib's translation, leading to a narrative justification of his ideology. Finally, this research resulted in a conclusion that the results of Muhammad Thalib’s translation of the Qur’an in the form of Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah in it are indeed many translations that have an interest in defending his organizational group, MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), which adheres to the ideological ideology of Islamism which departs from the view of integral Islam and is an incarnation of the reproduction of Islamic Revivalism and Neo-revivalism which tends to be traditional and conservative as found in the Wahhabiyah, Ikhanul Muslimin, and Jemaah Islamiyyah movements in the Thaliba
Dinamika Terjemah Al-Qur\u27an (Studi Perbandingan Terjemah Al-Qur\u27an Kemenerian Agama RI dan Muhammad Thalib)
This paper compares two translations of the Qur’an: Al-Quran dan Terjemahnya by the team of the Ministry of Religious Affairs/MORA and Al-Quran Tarjamah Tafsiriyah by Muhammad Thalib. Scholars argue differently as to whether the Qur’an is translatable or not. Several classical and contemporary scholars argue that translating the Qur’an is forbidden (haram), while others allow it. Muhammad Thalib claims that Al-Quran dan Terjemahnya includes literal (harfiyah) translation, which is forbidden by scholars, and contains 3400 errors. On that basis, he composed Al-Quran Tarjamah Tafsiriyah as a correction of the former translation. I compare Al-Quran dan Terjemahnya’s translations of several verses on theological doctrine, syari’ah and mu’amalah, of which Thalib considers as containing errors, and those of Thalib’s translation himself to look for similarities and differences. The research shows that there is no significant difference between the two translations. The difference was limited to their respective method and purpose. MORA’s translation was oriented to translate the Qur’an faithfully, while Muhammad Thalib’s translation was oriented to provide an interpretive translation. For some verses, Thalib’s translation provides clearer meaning than that MORA’s. I argue that while translation errors are found in Thalib’s translation, none is found in MORA’s translation.Key words: Al-Quran Terjemahnya, Tarjamah Tafsiriyah, comparison, strength, weakness
Kritik Muhammad Thalib Terhadap Terjemahan Al-QurÔÇÖan Kementerian Agama Republik Indonesia
Fokus pembahasan ini adalah pada dua terjemahan al-QurÔÇÖan: al-QurÔÇÖan dan terjemahannya oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (ATD) dan Tarjamah tafs├«r├«ah oleh Muhammad Thalib (ATT). Metode yang digunakan adalah library research. Pembahasan dimulai dengan kemungkinan al-QurÔÇÖan diterjemahkan, penjelasan atas makna al-QurÔÇÖan, serta menelusuri metode ATD dan ATT. Dari pembahsan tersebut ditemukan; pertama, teks al-Qur'an adalah teks yang sakral, walaupun demikian, al-Qur'an dapat diterjemahkan secara harf├«ah atas makna ashl├«ah atau dengan metode tafs├«r├«ah. Kedua, ATD dan ATT memiliki orientasi yang berbeda; orientasi ATD lebih kepada mempertimbangkan bahasa sumber (BSu) sehingga padanan yang sering dimunculkan adalah makna ashl├«ayah. Sedangkan orientasi ATT lebih kepada mempertimbangkan bahasa tujuan (BTu) sehingga padanan yang sering dimunculkan adalah makna tafs├«r├«ah
IDEOLOGI DALAM AL-QUR’AN TARJAMAH TAFSIRIYAH (ANALISIS KONTEN TERJEMAHAN AYAT-AYAT JUSTIFIKASI IDEOLOGI SYARIAT ISLAM DALAM AL-QUR’AN TARJAMAH TAFSIRIYAH KARYA AL-USTADZ MUHAMMAD THALIB)
Al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah written by Muhammad Thalib is
criticizing the al-Qur’an translation by the Ministry of Religion. His
courage to translate the Quran is so unsual. Throughout the history of
al-Qur’an translation in Indonesia, there has been no one to criticize
the translation of the ministry, the official one. The alternative
Muhammad Thalib proposes is worth considering despite the need for
in-depth high-and-low study.
Muhammad Thalib thinks that the mehode the ministry use is
inappropriate for it is literally transaltion method which is likely to
bear errors. His courageous act to criticize and make the translation
right tickles scientific questions with regard to: first, the governmet
institution that prepares the translation was a select team; second,
Quran translations of the kind are available, such as the Quran
translation by A. Hasan, Mahmud Yunus and Hasbi Ash Shiddeqi.
These questions are formulated into three basic questions. First, why
did Muhammad Thalib do the translation? Second, what is the position
of his work in the Quran translation discourse in Indonesia? Third,
how is the ideological construction in his work?
A theory of interpretation translation and a theory of literally
translation were utilized to seek strengths and weaknesses of
Muhammad Thalib’s work, and a theory of ideology translation was
used to reveal the ideology within.
Why did Muhammad Thalib write interpretation translation? The
question is essential for it can reveal the actual motif of writing it and
the connection with his criticism of the ministry’s Qur’an translation.That there is a certain ideology being offered by the translators makes
the Ministry of Religion’s translation a target of criticism, not the
others. Criticizing the ministry’s work will go more viral than studying
other similar translations, so the critic’s ideology will receive more
public’s attention.
What is the position of Muhammad Thalib’s interpretation translation
in the history of translation work in Indonesia? His work appears
phenomenal. A new genre emerges in Indonesian Quran translation
history as literary method is done traditionally. The new genre is full
of its own characteristics in spite of the need, as a man-made work, of
necessary notes and criticism.
How is the ideological construction of the Islamic sharia in the
translation? As a new genre in the history of Quran translation in
Indonesia, al-Qur’an Tarjamah Tafsiriyah tends to be Islamic sharia
application ideology. This can be seen from the fact that translator is
so bound to Majelis Mujahidin Indonesia, an organization where he
serves as the chairman. The proposed ideology is also seen from the
Islamic sharia diction repeatedly found in the translations of surah al-
Baqarah:191 and 193 and surah Ali ‘Imran:103 which are not
supposed to be translated into Islamic sharia. In addition, Majelis
Mujaidin Indonesia is strongly related to Islamic sharia application
ideology in Indonesia
DINAMIKA PENERJEMAHAN AL-QUR’AN: Polemik Karya Terjemah Al-Qur’an HB Jassin dan Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an Muhammad Thalib
Tulisan ini mengkaji tentang penerjemahan al-Qur’an di Indonesia yang menjadi penanda adanya interaksi umat Islam di Indonesia dengan Kitab Sucinya yang tidak terbatas pada membaca dan mengkajinya dalam lafaz asli, yaitu bahasa Arab. Seperti halnya tafsir al-Qur’an yang penuh dengan dinamika, penerjemahan al-Qur’an pun menyentuh ranah polemik yang menyeret perhatian para penganutnya dari kalangan yang berbeda-beda. Polemik yang dimaksud dapat ditemukan di antara bangunan sejarah penerjemahan yang panjang. Dalam kajian ini, penulis memilih dua polemik penerjemahan yang pernah muncul, yaitu “Al-Qur’an Bacaan Mulia” dan “Al-Qur’an Berwajah Puisi” karya HB Jassin dan “Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an” Muhammad Thalib. Keduanya memiliki wajah yang sangat berbeda, yang pertama, dengan berpegang pada paradigma etika dan estetika secara bebas mengutamakan keindahan kalimat dan kedalaman makna yang syarat akan nuansa sastra. Sedangkan yang kedua, melalui paradigma teologis mendasarkan terjemahnya atas tafsir-tafsir Al-Qur’an sehingga menghasilkan terjemah yang sangat hati-hati, terbatas akan makna dan kandungannya.</jats:p
- …
