1,720,969 research outputs found
Hakikat Sains dan Inkuiri
Hakikat Pendidikan Sains merupakan akumulasi dari content, process dan context. Content menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan fakta, definisi, konsep, prinsip, teori, model dan terminologi. Process berkaitan dengan keterampilan untuk memperoleh atau menemukan konsep dan prinsip. Context meliputi tiga elemen yaitu individu, masyarakat dan keseluruhan pengalaman sekolah (kurikulum). Pembelajaran sains (IPA) tidak terlepas dari hakikat sains itu sendiri, bahwa sains dipandang sebagai a body of knowledge (sains sebagai sekumpulan pengetahuan), a way of thinking (sains sebagai cara berpikir), dan a way of investigating (sains sebagai cara penyelidikan). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran sains melibatkan penggunaan sejumlah panca indera, hands-on dan minds-on.
Inkuiri merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan Sains, yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif, dan menghormati pendapat orang lain
PROGRAM PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI INKUIRI BERORIENTASI ENTREPRENEURSHIP (INKUIRI 5E+e) UNTUK MEMBEKALKAN LIFE-LONG LEARNING MAHASISWA
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan pengembangan suatu program pembelajaran Biologi melalui inkuiri berorientasi entrepreneurship (inkuiri 5E+e) untuk membekalkan life-long learning mahasiswa. Design and Development Research (DDR) yang digunakan dalam penelitian ini, terdiri dari empat langkah utama, yaitu analisis permasalahan, perencanaan, produksi dan evaluasi. Sejumlah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi pada salah satu LPTK di Jawa Tengah yang mengikuti perkuliahan Keanekaragaman Tumbuhan dan Hortikultura terlibat sebagai partisipan (n=86). Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen (kuesioner dan lembar observasi life-long learning, soal penguasaan konsep, pedoman wawancara). Kuesioner life-long learning diberikan sebelum dan setelah diterapkan program pembelajaran inkuiri 5E+e. Hasil analisis data secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif diinterpretasikan secara komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) struktur program yang dikembangkan dapat diterapkan dengan baik pada masing-masing mata kuliah; 2) kondisi life-long learning mahasiswa menunjukkan peningkatan selama mengikuti program inkuiri 5E+e; 3) program inkuiri 5E+e berdampak positif terhadap peningkatan penguasaan konsep mahasiswa; 4) keterampilan entrepreneurship mahasiswa menjadi faktor pendukung terhadap keberhasilan penerapan program; 5) ada beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan, antara lain: pengetahuan prasyarat mahasiswa mengenai konsep identifikasi tumbuhan dan keterampilan dasar bercocok tanam. Secara keseluruhan, program inkuiri 5E+e dapat membekalkan life-long learning mahasiswa, yang ditunjukkan dengan meningkatnya keterampilan mahasiswa dalam berpikir kompleks, lebih analitis dalam memproses informasi, efektif dalam berkomunikasi, produktif dalam berkolaborasi bersama tim, dan selalu menggunakan habits of mind dalam kegiatan belajar. Dengan demikian program pembelajaran inkuiri 5E+e perlu dilanjutkan penerapannya dalam perkuliahan Biologi untuk membekalkan life-long learning calon guru secara lebih luas dan lebih intensif.
Kata kunci: life-long learning, inkuiri, entrepreneurship, perkuliahan, Keanekaragaman Tumbuhan, Hortikultura.
ABSTRACT
This research is the development of a Biology learning program through entrepreneurship-oriented inquiry (5E+e inquiry) to prepare life-long learning students. This research used the Design and Development Research (DDR) method, which consists of three main steps: planning, production, and evaluation. The participants were 86 students who attend the Plant Diversity and Horticulture course in a Teachers Institution in Central Java of Indonesia. The data were obtained by disseminating the life-long learning questionnaire, questions of concept mastery, and by conducting an interview. The life-long learning questionnaire was administered before and after the implementation of the 5E+e inquiry learning program. The results of quantitative and descriptive qualitative data analysis were elucidated comprehensively. The results show that: 1) the structure of the developed program can be applied succesfully in each subject; 2) the life-long learning conditions of students show improvement during the 5E+e inquiry program; 3) the 5E+e inquiry program has a positive impact on improving students' mastery of concept; 4) student entrepreneurship skills are considered as the supporting factor for the successful implementation of the program; 5) Some points still need to be improved, such as: students’ prerequisite knowledge of the plant identification concept as well as the basic farming skill. Overall, the 5E+e inquiry learning program can equip students with life-long learning habit. It is shown by the increase of students skills that are extended to: having complex thinking, processing any information more analytically, acquiring good interpersonal and communication skills, being able to collaborate productively, and perpetually practicing the habits of mind during the learning process. Thus it is essential to continue the implementation of the 5E+e inquiry learning program in Biology courses to equip broader and more intensive life-long learning habit of prospective teachers.
Keyword: life-long learning, inquiry, student entrepreneurship, course, Plant diversity, Horticulture
Hakikat Sains dan Inkuiri
Hakikat Pendidikan Sains merupakan akumulasi dari content, process dan context. Content menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan fakta, definisi, konsep, prinsip, teori, model dan terminologi. Process berkaitan dengan keterampilan untuk memperoleh atau menemukan konsep dan prinsip. Context meliputi tiga elemen yaitu individu, masyarakat dan keseluruhan pengalaman sekolah (kurikulum). Pembelajaran sains (IPA) tidak terlepas dari hakikat sains itu sendiri, bahwa sains dipandang sebagai a body of knowledge (sains sebagai sekumpulan pengetahuan), a way of thinking (sains sebagai cara berpikir), dan a way of investigating (sains sebagai cara penyelidikan). Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran sains melibatkan penggunaan sejumlah panca indera, hands-on dan minds-on.
Inkuiri merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan Sains, yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif, dan menghormati pendapat orang lain
SCIENTIFIC SKILLS
Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat karena dengan melakukan keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya; Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena mungkin mereka melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat; dan keterampilan sosial dimaksudkan bahwa mereka berinteraksi dengan keterampilan proses, misalnya mendiskusikan hasil pengamatan
SCIENTIFIC SKILLS
Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual, dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat karena dengan melakukan keterampilan proses siswa menggunakan pikirannya; Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena mungkin mereka melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau perakitan alat; dan keterampilan sosial dimaksudkan bahwa mereka berinteraksi dengan keterampilan proses, misalnya mendiskusikan hasil pengamatan
Analisis Kemampuan Computational Thinking dan Science Reasoning Siswa SMP pada Materi Gerak dan Gaya
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kemampuan Computational Thinking (CT) dan Science Reasoning (SR) siswa kelas VIII SMP IT PAPB Semarang pada materi Gerak dan Gaya. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya penguatan keterampilan berpikir abad ke-21 dalam pembelajaran IPA, khususnya dalam menghadapi tantangan global dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah berbasis sains dan teknologi. Sebanyak 58 siswa dijadikan responden dalam studi ini. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan instrumen berupa soal tes CT dan SR serta lembar penilaian portofolio siswa yang telah divalidasi oleh ahli dan diuji coba. Data dianalisis menggunakan persentase kategori kemampuan serta korelasi Pearson Product Moment untuk melihat hubungan antara CT dan SR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa berada pada kategori sedang dalam kemampuan CT (62,07%) dan SR (65,52%). Pada aspek CT, sedangkan hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara CT dan SR dengan nilai r = 0,642 dan p < 0,01, yang mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan CT dapat mendukung penguatan kemampuan SR. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya integrasi strategi pembelajaran yang mengembangkan aspek CT dan SR secara seimbang, khususnya dalam materi Gerak dan Gaya di mata pelajaran IPA. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya pengembangan model pembelajaran inovatif yang mengajak keterlibatan siswa untuk menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada siswa
Analisis Tingkat Penerapan Konsep Well-Being Siswa dalam Pembelajaran Biologi SMA di Kabupaten Pemalang
Kurangnya penerapan konsep well-being siswa dalam pembelajaran biologi, sedangkan penerapan konsep well-being pada siswa sangat penting untuk mendukung pembelajaran. Well-being sebagai keadaan siswa mencapai kepuasan dalam memenuhi kebutuhan yang mempengarui yaitu kondisi sekolah, penelitian ini mengunakan teknik purposive sampling dalam penentuan subjek penelitian, dijadikan sampel berdasarkan letak tengah kabupaten dan tepi kabupaten yaitu SMA Negeri 3 Pemalang dan SMA Negeri 1 Bantarbolang dari hasil analisis menunjukkan tingkat well-being siswa tinggi dalam pembelajaran biologi adalah indikator positif bahwa upaya penerapan konsep well-being tersebut memberikan dampak yang baik pada siswa, dilakukan penerapan konsep well-being siswa dalam pembelajaran biologi dapat dilihat dari hasil rata-rata siswa dua SMA Negeri kabupaten Pemalang sebesar 74,6 yang mana termasuk kategori “Tinggi” yang artinya bahwa SMA Negeri 3 Pemalang mempunyai nilai rata-rata tertinggi dengan nilai rata-rata 77,5 dengan kategori “Tinggi” dan SMA N 1 Bantarbolang memiliki nilai rata-rata 72,9 yang dimana termasuk kedalam kategori “Tinggi”, Nilai rata-rata yang dimiliki oleh tiap sekolah bervariasi karena sudah melakukan menerapkan konsep well-being pada saat proses pembelajaran biologi dan kecenderungan terhadap letak tengah kabupaten dan tepi kabupaten secara signifikan berpengaruh terhadap nilai rata-rata konsep well-being disebabkan oleh kultur yang dibangun dari sekolah tersebut serta sarana prasarana yang dapat mendukung
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
