1,721,020 research outputs found
Pembentukan Akhlakul Karimah Melalui Metode Uswah Hasanah Di Madrasah Tsanawiyah Muhammad Shodiq Desa Sumberduren
Penelitian ini dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Muhammad Shodiq Desa Sumberdurenini yang dilatar belakangi oleh pentingnya sikap siswa yang masih labil dan rentan dengan pengaruh luar, yang mengharuskan guru untuk memberikan contoh yang baik seperti tawadhu’, kasih sayang, tolong menolong. Dengan harapan, siswa mampu memunculkan uswah hasanah melalui apa yang dicontohkan oleh guru. Fokus penelitian ini adalah 1) Bagaimana pembentukan akhlak tawadhu’ melalui metode uswah hasanah di Madrasah Tsanawiyah Muhammad Shodiq Desa Sumberduren 2) Bagaimana pembentukan akhlak tolong menolong melalui metode uswah hasanah di Madrasah Tsanawiyah Muhammad Shodiq Desa Sumberduren 3) Apa faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi dalam pembentukan akhlakul karimah pada siswa di MTs Muhammad Shodiq Sumberduren. Penelitian ini menggunakan kualitatifdeskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, , wawancara, dokumentasi. Analisis data peneliti menggunakan beberapa langkah seperti mreduksi data,penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk mengecek keabsahandata menggunakan perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi, triangulasi, dan diskusi dengan teman sejawat. Hasil dari penelitian ini diantaranya, 1) guru mencontohkan tawadhu’ melalui kebiasaan apabila bertemu dengan guru lain atau atasan, guru mencontohkan tawadhu’ dengan selalu menghargai pendapat orang lain agar merasa bukan yang terbaik, guru juga mencontohkan melalui spiritual dengan mengajak untuk sholat berjamaah. 2) Penerapan metode uswah hasanah dalam membentuk sikap tolong menolong, guru melakukan kunjungan atau menjenguk siswa yang sakit dan terkena musibah, guru melaksanakan tugas dan taat dengan peraturan sekolah maupun agama untuk mencontohkan rasa tanggung jawab kepada siswa. Dan diantara faktor pendukungnya adalah: 1) Adanya kesadaran dalam diri siswa, 2) Teladan dalam diri guru, 3) Kerja sama dan dukungan orang tua, 4)Sarana dan prasarana. Adapun faktor penghambatnya adalah, 1) Penyalah gunaan gadget, 2) Lingkungan siswa, 3) Latar belakang yang berbeda, 4) Terbatasnya pengawasan pihak sekolah
PROFIL BERPIKIR METAFORIS (METAPHORICAL THINKING) SISWA SMP DALAM MEMECAHKAN MASALAH PENGUKURAN DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Profil Berpikir Metaforis (Metaphorical
Thinking) Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Pengukuran ditinjau
dari Gaya Kognitif” ini ditulis oleh Muhammad Shodiq Wahyudi, NIM.
17204163277, pembimbing Dr. Dewi Asmarani, M.Pd.
Kata Kunci: Berpikir Metaforis, Gaya Kognitif
Terdapat beberapa penyebab yang menjadikan kemampuan pemecahan
masalah matematika di Indonesia masih rendah. Penyebab tersebut diantaranya
siswa di Indonesia masih belum terbiasa mengerjakan soal-soal berbasis
pemecahan masalah. Salah satu penyebab yang lain adalah kurangnya
pembiasaan kepada siswa untuk berpikir metaforis. Hal tersebut dialami juga
oleh beberapa siswa-siswi SMPN 2 Kalidawir karena belum terbiasa
mengerjakan soal-soal berbasis pemecahan masalah. Berpikir metaforis
merupakan suatu aktifitas yang merujuk kepada kegiatan mengubah sesuatu
dari keadaan materi dan makna yang satu ke keadaan yang lain. Seiring
meningkatnya kemampuan berpikir metaforis, kemampuan pemecahan
masalah matematika juga akan meningkat karena siswa diajak untuk terbiasa
menganalisis permasalahan matematika.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mendeskripsikan bagaimana
cara berpikir metaforis siswa gaya kognitif field independent SMPN 2
Kalidawir dan 2) untuk mendeskripsikan bagaimana cara berpikir metaforis
siswa gaya kognitif field dependent SMPN 2 Kalidawir.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan tes, wawancara dan
dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari 2 siswa bergaya kognitif field
independent dan 2 siswa bergaya kognitif field dependent di kelas VIII SMPN
2 Kalidawir. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian
data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini adalah 1) siswa bergaya kognitif field independent (FI)
dalam memecahkan masalah pengukuran adalah dapat memenuhi semua
indikator dalam berpikir metaforis yaitu menghubungkan dua ide (connect),
mengaitkan ide dengan pengetahuan yang sudah diketahui (relate),
membangun atau menggambar model (explore), menganalisis masalah
(analyze), eksplorasi dan analisis terhadap gambar (transform) dan penemuan
baru (experience). Sedangkan 2) siswa bergaya kognitif field dependent (FD)
dalam memecahkan masalah pengukuran adalah dapat dapat memenuhi tiga
indikator berpikir metaforis yaitu menghubungkan dua ide (connect),
eksplorasi dan analisis terhadap gambar (transform) dan penemuan baru
(experience)
KEMAMPUAN PEMBUKTIAN MATEMATIS MAHASISWA PADA INDUKSI MATEMATIKA DITINJAU DARI PROKRASTINASI AKADEMIK
Tesis dengan judul “Kemampuan Pembuktian Matematis ditinjau
dari Prokrastinasi Akademik Mahasiswa pada Induksi Matematika” ini
ditulis oleh Muhammad Shodiq Wahyudi, NIM. 128512203027 dengan
pembimbing 1 Dr. Maryono, M.Pd. dan pembimbing 2 Dr. Muniri, M.Pd.
Kata Kunci: Kemampuan Pembuktian Matematis, Prokrastinasi Akademik,
Induksi Matematika
Terdapat beberapa faktor yang menjadikan kemampuan pembuktian
matematis di lingkup perguruan tinggi masih rendah. Salah satu faktor tersebut
diantaranya rendahnya minat dan motivasi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas
dari dosen secara maksimal. Hal tersebut berdampak pada tingkat penundaan
mahasiswa dalam mengumpulkan tugas. Tingkat penundaan tersebut secara
ilmiah disebut dengan prokrastinasi akademik. Hal tersebut juga dialami oleh
beberapa mahasiswa Program Studi Tadris Matematika (TMT) UIN Sayyid Ali
Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU).
Kemampuan pembuktian matematis mahasiswa dipengaruhi oleh
kedisiplinan dalam pengumpulan tugas. Kedisiplinan itulah yang erat kaitannya
dengan prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
kemampuan pembuktian matematis mahasiswa Program Studi Tadris Matematika
(TMT) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU)dengan
prokrastinasi rendah, sedang, tinggi-disfungsional dan tinggi-fungsional pada
induksi matematika.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis
penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan angket
prokrastinasi akademik, tes induksi matematika dan wawancara. Subjek penelitian
terdiri dari 2 mahasiswa prokrastinasi tinggi-fungsional, 2 mahasiswa
prokrastinasi tinggi-disfungsional, 2 mahasiswa prokrastinasi sedang dan 2
mahasiswa prokrastinasi rendah. Triangulasi yang digunakan adalah sumber dan
waktu. Teknik analisis yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, analisis
data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini adalah 1) Mahasiswa prokrastinasi akademik tinggi
fungsional memenuhi semua indikator teori berpikir Robert Swartz yaitu menghasilkan
ide-ide (Generating Ideas), berpikir kompleks (Complex Thinking), menjelaskan ide-ide
(Clarifying of Ideas) dan menilai kelayakan/kepantasan ide-ide (Assessing the
Reasonableness of Ideas); 2) Mahasiswa dengan prokrastinasi akademik tinggi
disfungsional memenuhi tiga indikator yaitu menghasilkan ide-ide (Generating Ideas),
berpikir kompleks (Complex Thinking), dan menilai kelayakan/kepantasan ide-ide
(Assessing the Reasonableness of Ideas); 3) Mahasiswa dengan prokrastinasi akademik
sedang memenuhi dua indikator yaitu menghasilkan ide-ide (Generating Ideas) dan
berpikir kompleks (Complex Thinking); 4) Mahasiswa dengan prokrastinasi akademik
rendah memenuhi semua indikator teori berpikir Robert Swartz
INTERNALIZATION OF ISLAMIC VALUES IN SHAPING STUDENTS' MORALITY
This research aims to explain how the internalization of Islamic religious values can be something that can change the morals or character of a student at school, especially at Muhammad Shodiq Maron Middle School, Probolinggo, which is used as a place of observation for researchers. Meanwhile, internalization related to Islam can be interpreted as the process of integrating Islamic values completely into the heart, so that the mind and soul move based on Islamic teachings. Internalization of Islamic values occurs through understanding the teachings of the Islamic religion as a whole and is based on awareness of the importance of Islam and finding ways to implement it in life. The main aim of the researcher is to collect data that is relevant to the problem topic and research objectives. Based on the results of observations, interviews and also conducted by researchers obtained in the field while conducting research at Muhammad Shodiq Middle School, Muhammad Shodiq Brani Kulon Maron Probolinggo shows that the aim of internalizing Islamic religious values carried out by Muhammad Shodiq Middle School is to help students in increase knowledge of Islamic religion while being able to practice it directly in daily life in accordance with Islamic religious values
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Eksistensi dan Gerakan Dakwah Tarekat Ṣiddîqîyah di Tengah Masyarakat Urban Surabaya
The article attempts to analyze the existence of Tarekat Ṣiddîqîyah community in Surabaya focusing on its struggle and development process from minority to be relatively a well-established Sufi order, which has many branches in many areas in Indonesia. In Surabaya, Tarekat Ṣiddîqîyah has established four branches of caliphate, which locate in Tandes, Perumahan Pondok Candra, Karangrejo Wonokromo, and Manukan Kulon. It has also founded a branch that focuses on education in Nglampis Ngasem. The author finds that Tarekat Ṣiddîqîyah promulgated its teachings in Surabaya by spreading information manually, from person to person and coordination among its followers, and formation of spiritual organizations, namely YPS and Orshid. The advent of Ṣiddîqîyah to Surabaya has been done through infiltration, identification, coordination, and mobilization. In addition, the author finds that there have been various motives of Surabaya people in adhering Ṣiddîqîyah, such as improving their religious knowledge, joining a socio-spiritual community/fraternity, having a lifeline in the form of dhikr and wirid, and having prayer to prevent themselves from committing immoral deeds (tolak balak). The followers of Ṣiddîqîyah also claim that the tarekat has been able to fulfill their spiritual needs. Social interaction of Ṣiddîqîyah?s members amongst Surabaya people in general runs peacefully and harmoniously for they can assimilate and adapt to the local culture
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Eksistensi dan Gerakan Dakwah Tarekat Ṣiddîqîyah di Tengah Masyarakat Urban Surabaya
The article attempts to analyze the existence of Tarekat Ṣiddîqîyah community in Surabaya focusing on its struggle and development process from minority to be relatively a well-established Sufi order, which has many branches in many areas in Indonesia. In Surabaya, Tarekat Ṣiddîqîyah has established four branches of caliphate, which locate in Tandes, Perumahan Pondok Candra, Karangrejo Wonokromo, and Manukan Kulon. It has also founded a branch that focuses on education in Nglampis Ngasem. The author finds that Tarekat Ṣiddîqîyah promulgated its teachings in Surabaya by spreading information manually, from person to person and coordination among its followers, and formation of spiritual organizations, namely YPS and Orshid. The advent of Ṣiddîqîyah to Surabaya has been done through infiltration, identification, coordination, and mobilization. In addition, the author finds that there have been various motives of Surabaya people in adhering Ṣiddîqîyah, such as improving their religious knowledge, joining a socio-spiritual community/fraternity, having a lifeline in the form of dhikr and wirid, and having prayer to prevent themselves from committing immoral deeds (tolak balak). The followers of Ṣiddîqîyah also claim that the tarekat has been able to fulfill their spiritual needs. Social interaction of Ṣiddîqîyah’s members amongst Surabaya people in general runs peacefully and harmoniously for they can assimilate and adapt to the local culture
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
