1,721,451 research outputs found
Riba dalam Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy
Penelitian ini mengkaji penafsiran Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat dalam Al-Qur’an terkait riba dengan judul “Riba Dalam Tafsir An-Nur Karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy”. Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah penafsiran ayat-ayat riba menurut tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan cara pandang mufassir sezaman dengan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai bank. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penafsiran Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam kitab tafsir An-Nur terkait ayat-ayat riba dan mengetahui cara pandang mufassir sezaman dengan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai bank.
Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian kualitatif serta menggunakan metode deskriptif-analisis. Dalam penelitian ini sumber data primer yang digunakan berupa kitab tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy yang membahas ayat-ayat riba. Sedangkan sumber data sekunder berupa buku-buku, jurnal-jurnal, skripsi dan literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian.
Riba telah lama diperdebatkan dalam tataran akademik maupun dalam kitab-kitab klasik. Akan tetapi, sampai saat ini riba masih saja terjadi di berbagai aktivitas, seperti dalam jual beli, hutang piutang, maupun transaksi-transaksi lainnya. Padahal sudah jelas dalam Al-Qur’an riba merupakan perkara yang diharamkan dalam ajaran Islam bahkan, riba dikategorikan sebagai dosa besar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa riba menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy terbagi menjadi dua yakni riba halal dan riba haram. Terkait pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai bank dan para mufassir sezaman yaitu A.Hassan dan Buya Hamka haram hukumya. Akan tetapi, terdapat beberapa perbedaan sudut pandang mengenai bank. Yang mana Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan A. Hassan memberikan keringan atau toleransi kepada riba yang terdapat pada bank apabila keadaannya sudah mendesak atau urgent. Sedangkan menurut Buya Hamka, Ia tidak memberikan toleransi atau keringan sedikit pun terkait hukum riba pada bank, walaupun Pada bunga bank yang sudah diberikan informasi diawal tentang persentase yang ada. Dengan demikian Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan para mufassir sezaman menyarankan kepada pemerintah untuk mendirikan bank atau koperasi-koperasi dengan riba yang tidak berlipat ganda. Maka dari itu, orang-orang yang hendak berdagang kecil-kecilan tidak begitu susah untuk mendapatkan modal
Pemikiran Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy tentang salat Jum’at bagi wanita
Ajaran Islam mengenal dengan namanya salat Jum’at. Dinamakan salat Jum’at karena dilaksanakan pada hari Jum’at. Tentang siapa-siapa yang wajib melaksanakan salat Jum’at para ulama berbeda pendapat. Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy bependapat bahwa salat Jum’at itu diwajibkan atas setiap mukmin, baik laki-laki maupun wanita. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apa syarat dan rukun salat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dan bagaimana pemikiran yang dikemukakan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy tentang salat Jum’at bagi wanita. Dengan demikian skiripsi ini bertujuan untuk mengetahui syarat dan rukun salat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dan untuk mengetahui pemikiran yang dikemukakan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shidieqy tentang salat Jum’at bagi wanita. Penelitian ini berbentuk penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif dengan teknik conten analisysis (menganalisa isi dari sumber primer dan skunder). Penelitian ini akan menggambarkan bagaimana shalat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Dari penelitian yang dilaksanakan, peneliti mendapatkan hasil bahwa syarat dan rukun salat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy adalah tidak jauh beda dengan laki-laki, akan tetapi wanita tidak diberatkan menghadiri jamaah Jum’at ke masjid, namun wajib melaksanakannya. Adapun pemikiran Hasbi mengenai salat Jum’at bagi wanita adalah wajib untuk dilaksanakan atas tiap-tiap pribadi sebanyak dua rakaat, baik dikerjakan sendiri maupun berjamaah, dan dalil yang dikemukakannya adalah bersumber dari alQuran surah al-Jumu’ah ayat 9 dan hadis dari Thariq Ibn Syihab
KEAUTENTIKAN TAFSĪR AN-NŪR KARYA MUHAMMAD HASBI ASH-SHIDDIEQY
Skripsi Ini membahas tentang keautentikan tafsīr An-Nūr dengan tujuan untuk
membuktikan keautentikan/keaslian tafsīr An-Nūr karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy
dari tuduhan sebagian pembaca tafsir bahwa tafsīr An-Nūr karya Muhammad Hasbi Ash-
Shiddieqy ini dianggap menjiplak dari tafsīr Al-Maraghī, karangan ahmad mustafa Al-
Maraghi. Fokus dalam masalah dalam penelitian ini adalah: apakah ada persamaan dan
perbedaan antara tafsīr An-Nūr dan tafsīr Al-Maraghī? dan apakah benar tafsīr An-Nūr
menjiplak tafsīr Al-Maraghī? jenis penelitian yang digunakan (library receacc). Adapun
metode pengumulan data dalam penelitian ini dengan cara membaca, mencatat, mengkutip dan
menyususun berdasarkan pokok sekunder. Data primer yaitu tafsīr An-Nūr karya Muhammad
Hasbi Ash-Shiddieqy dan tafsīr Al-Maraghī karangan ahmad mustafa Al-Maraghī. Data
sekunder yaitu buku yang berjudul kaidah tafsīr karya M. Qurai Shihab, ilmu tafsīr karangan
rosihon anwar dll. Adapun metode analisis pengambilan data penelitian menggunakan metode
kuliatif. Selanjutnya dalam penelitian ini menggunakan metode deduktif. Metode pendekatan
yang digunakan dalam penelitian sekripsi ini adalah muqaran yaitu dengan cara membandinkan
antara kedua tafsir, apakah ada kesamaan atau perbedaan yang signifikan antara tafsir tersebut.
Guna untuk mengambil kesimpulan yang relevan dan aktual.
Berdasarkan data-data yang diperoleh dalam penelitian ini, setelah ditemukan bahwa
tafsīr An-Nūr dan Al-Maraghī memang ada kesamaan. Akan tetapi disisilain kedua tafsīr
tersebut ada perbedaan yang signifikan yaitu: (1) sumber pengambilan tafsīr Al-Maraghī
hanyalah salah satu dari sekian banyak kitab tafsīr yang dijadikan rujukan oleh Muhammad
Hasbi Ash-Shiddieqy. (2) Sistematis penulisan, jelas ada perbedaan antara keduanya, didalam
Al-Maraghī terdapat tafsīr mufradat, sedangkan An-Nūr tidak ada. (3) cara menarik
kesimpulan, pada An-Nūr terdapat kesimpulan disetiap penulis mengakhiri penafsiran satu atau
beberapa ayat, sedangkan pada Al-Maraghī tidak demikian. Melihat beberapa perbedaan diatas
maka peneliti dapat menyimpulankan bahwa tafsīr An-Nūr memang asli karya Muhammad
Hasbi Ash-Shiddieqy, bukan plagiat dari tafsīr Al-Maraghī
Pendapat Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqiy tentang hukuman bagi pelaku zina muhsan
Seks dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang suci. Di sisi lain adanya perzinaan maka seks menjadi sesuatu yang kotor, menjijikkan dan menimbulkan berbagai penyakit yang membahayakan kehidupan manusia. Berdasarkan keterangan itu, pantaslah semua agama samawi mengharamkan dan memerangi perzinaan. Fuqaha sepakat bahwa, hukuman bagi pezina muhsan adalah rajam. Namun tidak demikian dengan pendapat Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.
Permasalahan yang hendak dipecahkan adalah, bagaimana pendapat Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqiy tentang hukuman bagi pezina muhsan?. Serta bagaimana istinbath hukum yang dijadikan dasar oleh Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqiy memberikan hukuman terhadap pezina muhsan?. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research). Untuk menganalisis data yang telah terkumpul, maka penulis akan menggunakan metode deskriptif analitis, dan pendekatan analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan hukum (law approach).
Adapun hasil dari penelitian ini yaitu, Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy berpendapat bahwa hukuman terhadap pelaku zina muhsan adalah hukuman dera atau hukuman cambuk 100 (seratus) kali. Tidak ada perbedaan hukuman antara muhsan atau bukan muhsan, hal ini berdasarkan nash yang terdapat dalam surat an-Nur ayat 2. Istinbat hukum Teungku Muhammad Hasbi Ah-Shiddieqy berpendapat bahwa, hadist-hadist yang mengatur hukuman terhadap pelaku zina telah di-nasakh oleh Q.S. an-Nur ayat 2. Ayat tersebut menjadi landasan dasar penetapan hukuman terhadap pelaku zina muhsan
Penafsiran Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy terhadap ayat-ayat Al-Qur'an tentang menjaga lisan dalam Tafsir An-Nur
Penelitian ini mengkaji pemikiran Teungku Muhammad Hasbi Ash- Shiddieqy tentang ayat- ayat dalam al-Qur’an terkait menjaga lisan dengan judul; “Penafsiran Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy Terhadap ayat-ayat al-Qur’an tentang Menjaga Lisan Dalam Tafsir An-Nūr“. Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah penafsiran ayat-ayat menjaga lisan menurut tafsir An-Nūr Karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy serta relevansi penafsiran ayat-ayat menjaga lisan menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dengan isu-isu kekerasan secara verbal saat ini di Indonesia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penafsiran Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dalam tafsir An-Nūr dan mengetahui relevansi antara penafsiran ayat-ayat menjaga lisan menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dengan isu-isu kekerasan secara verbal saat ini di Indonesia.
Kasus-kasus pelecahan pada saat ini berkembang dalam bentuk yang baru. Seperti catcalling, bullying dan pelecahan di media sosial. Al-Qur’an menjadi kitab pedoman bagi kita hingga akhir jaman sudah tentu menjawab permasalah-permasalahan baru ini walau tidak akan dibahas secara langsung namun akar masalahnya yang akan tetap relevan dengan masalah saat ini.
Hasil penelitian yang diperoleh ialah dalam berlisan hendaknya kita berhati-hati dan harus mengikuti aturan agama maupun masyarakat. Menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy menjaga lisan sangatlah penting karena penyakit-penyakit yang muncul dari lisan kita menyebabkan dosa yang besar dan terkadang kita menganggap remeh. Adapun isu-isu menjaga lisan yang terjadi saat ini ialah Catcalling, Bullying dan kejahatan verbal di media sosial. Isu-isu tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran diri akan menjaga lisan. Dampaknya, banyak orang-orang yang tersakiti bahkan hingga bisa menimbulkan pertikaian antara kelompok. Menurut penulis, solusi yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kekerasan verbal yang terjadi dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terkait pentingnya menjaga lisan.
Kata Kunci: Lisan, Hasbi Ash-Shiddieqy
Penafsiran Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy terhadap ayat-ayat Al-Qur'an tentang menjaga lisan dalam Tafsir An-Nur
Penelitian ini mengkaji pemikiran Teungku Muhammad Hasbi Ash- Shiddieqy tentang ayat- ayat dalam al-Qur’an terkait menjaga lisan dengan judul; “Penafsiran Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy Terhadap ayat-ayat al-Qur’an tentang Menjaga Lisan Dalam Tafsir An-Nūr“. Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah penafsiran ayat-ayat menjaga lisan menurut tafsir An-Nūr Karya Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy serta relevansi penafsiran ayat-ayat menjaga lisan menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dengan isu-isu kekerasan secara verbal saat ini di Indonesia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penafsiran Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dalam tafsir An-Nūr dan mengetahui relevansi antara penafsiran ayat-ayat menjaga lisan menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dengan isu-isu kekerasan secara verbal saat ini di Indonesia.
Kasus-kasus pelecahan pada saat ini berkembang dalam bentuk yang baru. Seperti catcalling, bullying dan pelecahan di media sosial. Al-Qur’an menjadi kitab pedoman bagi kita hingga akhir jaman sudah tentu menjawab permasalah-permasalahan baru ini walau tidak akan dibahas secara langsung namun akar masalahnya yang akan tetap relevan dengan masalah saat ini.
Hasil penelitian yang diperoleh ialah dalam berlisan hendaknya kita berhati-hati dan harus mengikuti aturan agama maupun masyarakat. Menurut Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy menjaga lisan sangatlah penting karena penyakit-penyakit yang muncul dari lisan kita menyebabkan dosa yang besar dan terkadang kita menganggap remeh. Adapun isu-isu menjaga lisan yang terjadi saat ini ialah Catcalling, Bullying dan kejahatan verbal di media sosial. Isu-isu tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran diri akan menjaga lisan. Dampaknya, banyak orang-orang yang tersakiti bahkan hingga bisa menimbulkan pertikaian antara kelompok. Menurut penulis, solusi yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi kekerasan verbal yang terjadi dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terkait pentingnya menjaga lisan.
Kata Kunci: Lisan, Hasbi Ash-Shiddieqy
PENDIDIKAN IBADAH MUHAMMAD HASBI ASH- SHIDDIEQY
This research is focused on Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy’s Thinking of Religious Education. Specifically in religious education resources, purpose, curriculum, method, evaluation, its relevance to Islamic education, these cases is an effort to find how is religious education concept in Islamic education contexts. To get the data, the writer used library research that founded sources of data from various readings either primer or secondary data. After researching data then it analyzed by using data analysis method (content analysis or istimbathiyah) to describe the real communication content objectively, systematically and quantitatively in getting resources of primer and secondary sources. The result of this research will find very ideal concept formulation, which has relation with religious education according to Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. The characteristic of this thinking will be appear well from various aspects such as; cognitive, affective, and piskomotoric. He said that religious education is an effort in giving awareness to human beings so that to obey in Allah. While the aim of religious education is to be ‘abid (Allah people) that obey him. In religious curriculum, he devided two kinds of religious, they are; mahdah and ghairu mahdah also there are two methods namely targhib and tarhib and the religious education is the last valuation of a human being, he changed or not his moral is very determined in doing worship, that is all depend on belonging knowledge and it will get in Islamic education. AbstrakFokus penelitian ini adalah pemikiran pendidikan Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy mengenai landasan pendidikan ibadah, tujuan, kurikulum, metode, evaluasi dan relevansinya terhadap pendidikan Islam. Hal ini sebagai usaha untuk melihat bagaimana konsep pendidikan ibadah dalam konteks pendidikan Islam. Pendekatan yang digunakan dalam mencari data pada penelitian ini adalah studi riset kepustakaan (library research) dengan tahapan pokok yang menelusuri sumber-sumber data dari berbagai bacaan baik yang bersifat primer maupun yang bersifat skunder. Setelah penelusuran data dilakukan, maka akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data (content analysis atau istimbathiyah), berupa pelukisan isi komunikasi yang nyata secara objektif, sistematik dan kualitatif terhadap bahan yang didapati dari sumber data primer dan skunder. Hasil penelitian ini akan menemukan formulasi konsep yang sangat ideal terkait dengan pendidikan ibadah menurut seorang ulama fiqh seperti Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Karakteristik pemikiran ini akan terlihat baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Muhammad Hasbi Ash Siddieqy mengatakan, pendidikan ibadah merupakan usah memberi kesadaran kepada manusia untuk taat kepada Allah. Sedangkan tujuan pendidikan ibadah adalah untuk menjadi ‘abid (hamba Allah) yang taat. Dalam kurikulum ibadah Hasbi membagi dua macam yaitu ibadah mahdah dan ghairu mahdah, metode juga Hasbi membentuk dua metode yaitu metode targhib dan tarhib adapun evaluasi ibadah merupakan penilaian akhir seorang hamba berubah atau tidaknya itu sangat ditentukan oleh ibadah yang dilakukan. Tentu semua itu juga tergantung ilmu yang dimiliki, dan ilmu akan didapatkan dalam pendidikan Islam
Pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat haji dalam Tafsir An-Nur
Febrianti Astuti (1901056016), Judul Pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy Mengenai Ayat-ayat Haji dalam Tafsir An-Nur
Tafsir menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy adalah proses menafsirkan dan menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an. Hasbi percaya bahwa tidak cukup hanya membaca dan melafalkan kitab suci, tetapi juga memahami ajarannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tafsir ayat-ayat haji menjadi rujukan tuntunan pelaksanaan ibadah bagi jamaah haji. Menurut Hasbi tafsir ayat haji mengandung makna penting bagi pemahaman jamaah haji dalam melaksanakan ibadah haji.
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat haji dalam tafsir An-Nur. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi literatur. Data diperoleh dengan teknik metode historis. Analisis data menggunakan metode tahlili (analisis).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat haji dalam tafsir An-Nur dengan pandangan beberapa tafsir menunjukkan bahwa penafsiran mereka ternyata tidak jauh berbeda, yang membedakan dari tafsir ini dan tafsir lain hanyalah gaya bahasanya. Tafsir An-Nuir meiruipakan peinafsiran yang paling baik diantara tafsiran beibeirapa peinafsir di dalam peineilitian ini, hal ini dikareinakan seilain meinafsirkan Al-Quir’an deingan Al-Quir’an tidak seirta meirta meinafsirkannya deingan keiheindak seindiri, teitapi ada banyak meitodei-meitodei yang meimbantuinya. Oleih kareina itui, meingguinakan tafsir An-Nuir leibih aman dalam peimahamannya dan tidak keiluiar dari syariat-syariat Islam
Islam ham : hak-hak asasi manusia
Buku ini menghadirkan pokok-pokok pikiran salah satu parpol Islam, yang diambil dari pidato Teungku Muhammad Hasbi As Shiddieqy tantang hak asasi manusia saebagai satu contoh betapa tegas, tarang dan lengkapnya ajaran isla
Epistemologi fiqh Indonesia : analisis pemikiran Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy / Liswan Hadi
Epistemologi Fiqh Indonesia: Analisis Pemikiran Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy: Untuk mendapatkan kajian yang mendalam dan memuaskan serta ilmiah, suatu hakikat ilmu ataupun disiplin tertentu perlu dilihat dari aspek epistimologi disiplin tersebut, hal ini bersesuaian dengan takrif dan ruang lingkup epistemologi yang menyelidik asal usul, sumber, sifat dan kaedah suatu ilmu tersebut. Antara kajian tersebut ialah kajian epistemologi fiqh Indonesia Hasbi ash-Shiddieqy. Objektif kajian ini adalah menganalisis epistemologi fiqh dan pendekatan serta metodologi pemikiran hukum Islam menerusi pandangan Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dalam teori fiqh Indonesia. Dari segi metodologinya, disertasi ini lebih menjurus kepada kajian perpustakaan (library research) iaitu dengan merujuk beberapa literatur dan karya-karya Hasbi ash-Shiddieqy. Di samping karya Hasbi ash-Shiddieqy tersebut, terdapat bahan rujukan lain yang relevan dengan kajian ini yang dikenali sebagai literatur sekunder. Kajian ini telah mendapati bahawa pembaharuan hukum Islam Indonesia yang dicadangkan oleh Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, ianya menekankan kepada keperluan melakukan ijtihad dengan mengambil kira permasalahan tempatan dan isu semasa di Indonesia. Oleh kerana itu, ulama moden Indonesia perlu mengambil kira konteks tempatan sebagai pertimbangan utama mereka dalam melakukan ijtihad. Melalui pendekatan ini, transformasi hukum Islam dapat dilakukan. Untuk merealisasikan ijtihad yang membawa kepada maslahat manusia, menurut pandangan Hasbi, ijtihad wajib mengambil kira kepada asas maslahah mursalah. Dengan mengambil kira konsep maslahah, maka hukum Islam dapat berjalan seiringan dengan nilai semasa dan setempat, khasnya di Indonesia
- …
