2 research outputs found
Semiotika Kemasan Bir Guinness Zero ABV "One Indonesia Edition"
RINGKASAN Muhammad Awaludin Yusuf. 2018. Semiotika Kemasan Bir Guinness Zero Abv “One Indonesia Edition”. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Pujiyanto, M.Sn. Kata Kunci: semiotika, kemasan, guinnes zero abv, one indonesia edition Kemasan adalah pelindung sebuah produk yang terwujud karena pemenuhan kebutuhan dari hubungan kausal antara produk dengan konsumen yang mempertimbangkan fungsi dan kebutuhan. Batik merupakan kesenian tradisional dan warisan budaya dari leluhur yang sarat akan makna-makna simbolik dan filosofi yang sangat mendalam tentang kehidupan, khususnya bagi masyarakat Jawa. Penelitian ini secara khusus akan mengkaji tentang semiotika tanda pada kemasan bir Guinness Zero Abv “One Indonesia Edition”, di mana di dalamnya terdapat visual tradisional batik dan tipografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap (1) maksud penggunaan elemen desain batik yang meliputi motif megamendung, motif gurda dan paksi, motif lung-lungan padi beserta teks “One Indonesia Edition” yang terdapat pada kemasan bir Guinness Zero Abv “One Indonesia Edition”, (2) mengungkap makna simbolik yang terkandung dalam motif-motif batik tersebut pada kemasan bir Guinness Zero Abv “One Indonesia Edition”. Metodologi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotik. Secara umum penelitian ini bersifat kualitataif-interpretatif. Dalam menganalisa subjek yang diteliti, penelitian ini berlandaskan teori semiotika Charles Sanders Peirce sebagai acuan untuk memahami dan mengetahui keberadaan tanda-tanda pada kemasan bir Guinness Zero Abv “One Indonesia Edition”. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model segitiga makna Charles Sanders Peirce (triangle of meaning) untuk mencari keberadaan tanda-tanda dengan mengklasifikasikan tanda menjadi tiga trikotomi, meliputi representamen, objek dan interpretan serta untuk membedah makna simbolik didalamnya. Instrumen penelitian ini yaitu peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah kemasan bir Guinness Zero Abv “One Indonesia Edition”
KONSTRUKSI PASANGAN CALON DALAM PILGUB JATENG 2008 OLEH MEDIA MASSA (KASUS PEMBERITAAN JAWA POS RADAR SEMARANG DAN SUARA MERDEKA)
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable.
Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang
terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai
gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai
Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai
Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq
Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan
calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon
dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal
ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi
pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan
politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi
masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang
pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor
internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif.
Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan
realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi.
Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa
Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing
pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik
redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita
tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara
Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang
berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable
kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan
HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi
unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip-
Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan
tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka
cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit
Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang
favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip-
Sudharto dalam bingkai unfavorable
