1,720,980 research outputs found

    PERANAN INTERPOL DALAM EKSTRADISI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI MUHAMMAD NAZARUDDIN

    Full text link
    Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui peranan Interpol dalam proses penangkapan dan penyerahan M. Nazaruddin sebagai pelaku tindak pidana korupsi oleh Interpol melalui ekstradisi. Rumusan masalah yang diajukan yaitu : 1) Bagaimana proses Ekstradisi di dalam kasus korupsi Muhammad Nazaruddin? 2) Bagaimana peranan Interpol dalam proses pencarian dan penangkapan Muhammad Nazaruddin? Penelitian ini termasuk penelitian yuridis normatif. Data penelitian dikumpulkan secara pengamatan suatu referensi melalui library seacrh. Analisi dilakukan dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa : 1) Peran Interpol dalam proses pencarian dan penangkapan tindak pidana korupsi Muhammad Nazaruddin sangat besar karena NCB Indonesia bekerja dengan baik dan efektif di dalam Interpol. Bantuan juga diberikan oleh Interpol melalui NCB negara anggota yaitu NCB Dominika dan NCB Kolombia atas dasar hubungan baik dan red notice yang telah diterbitkan oleh NCB Indonesia atas nama Muhammad Nazaruddin kemudian disebarluaskan ke seluruh negara anggota Interpol. 2) Proses Deportasi dan Ekstradisi di dalam kasus Muhammad Nazaruddin sesuai dengan UNCAC (United Nation Conventions Againts Corruption) yang disahkan dalam UU Nomor 7 Tahun 2006 peluangnya sangan kecil karena prartik setiap negara berbeda-beda. Di Indonesia dalam menangani kasus tersangka korupsi melarikan diri ke luar negeri menggunakan cara ekstradisi, dikarenakan Indonesi tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Kolombia, maka Kolombia melakukan proses deportase dalam pemulangan Muhammad Nazaruddin dengan sebab Muhammad Nazaruddin menggunakan Illegal Travel Documents. Kata kunci : Interpol, Ekstradisi, Deportasi, Tindak Pidana Korupsi, M.Nazaruddin, United Nation Convention

    WACANA PEMBERITAAN MUHAMMAD NAZARUDDIN PADA MEDIA INDONESIA DAN JURNAL NASIONAL: Analisis Wacana Kritis

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pemberitaan Media Indonesia dan Jurnal Nasional dalam mengangkat isu dugaan kasus korupsi Muhammad Nazaruddin terkait pembangunan wisma atlet untuk Sea Games di Palembang. Masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagaimanakah struktur makro teks pemberitaan seputar Muhammad Nazaruddin pada Media Indonesia dan Jurnal Nasional?; 2) Bagaimanakah superstruktur teks pemberitaan seputar Muhammad Nazaruddin pada Media Indonesia dan Jurnal Nasional?; 3) Bagaimanakah struktur mikro teks pemberitaan seputar Muhammad Nazaruddin pada Media Indonesia dan Jurnal Nasional?; 4) Bagaimanakah representasi ideologi Media Indonesia dan Jurnal Nasional pada pemberitaan seputar Muhammad Nazaruddin? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Data dalam penelitian ini berupa bahasa pada teks pemberitaan pada Media Indonesia dan Jurnal Nasional dari edisi 11 Mei s.d. 7 Juli 2011. Teknik analisis data menggunakan model analisis Teun A. van Dijk. Model analisis ini membagi teks ke dalam tiga bagian, yakni struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Hasil penelitian menunjukkan kesimpulan sebagai berikut. 1) Pada tataran struktur makro berita-berita Media Indonesia mengesankan bahwa Nazaruddin terlibat dalam kasus korupsi pembangunan wisma atlet di Palembang. Sementara itu, Jurnal Nasional dalam pemberitaannya mengesankan bahwa isu dugaan kasus korupsi yang menjerat Nazaruddin terkait pembangunan wisma atlet di Pelembang adalah sebuah fitnah. 2) Pada tataran superstruktur berita-berita Media Indonesia selalu menghadirkan kritik kepada Partai Demokrat yang dikesankan melindungi Nazaruddin. Sementara itu, Jurnal Nasional dalam pemberitaannya selalu menghadirkan pembelaan kepada Nazaruddin. 3) Pada tataran struktur mikro berita-berita Media Indonesia selalu menonjolkan isi berita yang menghadirkan citra negatif kepada Nazaruddin dan Partai Demokrat. Sementara itu, Jurnal Nasional selalu menonjolkan isi berita yang menghadirkan citra positif kepada Nazaruddin dan Partai Demokrat. 4) Media Indonesia dalam pemberitaannya tidak berpihak kepada Nazaruddin. Sementara itu, Jurnal Nasional berpihak kepada Nazaruddin

    PERANAN INTERPOL DALAM EKSTRADISI TERSANGKA KORUPSI (Studi Kasus Penangkapan Tersangka Muhammad Nazaruddin Di Cartagena, Kolombia)

    Full text link
    2016RAMDAN DWITAMA ILYAS B111 12 007, Peranan INTERPOL Dalam\ud Ekstradisi Tersangka Korupsi (Studi Kasus Penangkapan Muhammad\ud Nazaruddin di Cartagena, Colombia). Di bombing oleh, S.M. Noor dan\ud Maskun.\ud Tujuan dari penelitian ini adalah ; (1) untuk mengetahui bagaimana\ud kedudukan deportasi dan ekstradisi dalam proses pemulangan\ud Muhammad Nazaruddin sesuai UNCAC. (2) untuk mengetahui peran\ud Interpol dalam proses pemulangan Muhammad Nazaruddin.\ud Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif yaitu\ud metode dengan cara mengumpulkan data kemudian disusun,\ud diinterpretasikan, dan analisis sehingga memberikan gambaran yang\ud lengkap bagi pemecahan masalah.\ud Hasil Penelitian menunjukkan bahwa : (1) Kedudukan Deportasi\ud dan Ekstradisi dalam mekanisme proses pemulangan Muhammad\ud Nazaruddin di Cartagena, menggunakan sarana deportasi disebabkan\ud tidak adanya pengaturan didalam UNCAC tentang ekstradisi. Sedangkan\ud praktik deportasi yang dilaksanakan atas kerjasama NCB Indonesia\ud dengan NCB ??? Bogota dilakukan dengan cara deportasi dalam bentuk\ud pengusiran. (2) Peran NCB - Interpol Indonesia dalam melakukan proses\ud pemulangan tersangka korupsi Muhammad Nazaruddin yaitu dengan cara\ud penerbitan Red Index Wanted Notices oleh Interpol pusat di Lyon,\ud Perancis untuk menyebar perintah penangkapan ke 190 negara anggota\ud ICPO ??? Interpol untuk mempermudah proses pencarian buronan.\ud Meskipun dalam kasus Muhammad Nazaruddin kenyataannya Indonesia\ud diharuskan memenuhi syarat tertentu oleh pemerintah Kolombia. karena\ud tidak adanya perjanjian ekstradisi.\ud Kata Kunci : Peran dan Fungsi Interpol Indonesia, Deportasi, Ekstradisi

    KOMPARASI PENANGANAN KASUS KEJAHATAN MONEY LAUNDERING OLEH NATIONAL CENTRAL BUREAU (NCB)-INTERPOL INDONESIA (Studi Kasus: Muhammad Nazaruddin dan Rafat Ali Rizvi-Hesham Al-Warraq)

    Full text link
    ABSTRACT This thesis aims to study and examine further the role of National Central Bureau (NCB)-Interpol Indonesia in handling criminal cases of money laundering in Indonesia. The case study highlighted was the case of Muhammad Nazaruddin and the case of Bank Century bailout involving two controlling shareholders, Rafat Ali Rizvi and Hesham Al-Warraq. Both of these cases illustrate two dimensions, namely the success of which is illustrated by the success of NCB Interpol Indonesia to repatriate Muhammad Nazaruddin, and failure is illustrated by the failure of INCB Interpol ndonesia in repatriating Rafat Ali Rizvi and Hesham al-Warraq. Keywords: NCB Interpol Indonesia, money laundering, Muhammad Nazaruddin, Rafat Ali Rizvi, Hesham A-Warra

    Analisis Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Terkait Dengan Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Muhammad Nazaruddin (Studi Kasus Putusan Nomor 69/PID.B/TPK/2011/ PN.JKT.PST) / oleh Janet Christianty

    No full text
    abstrak (A) Nama: JANET CHRISTIANTY (NIM: 205080061). (B) Judul Skripsi: Analisis Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Terkait Dengan Tindak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Muhammad Nazaruddin (Studi Kasus Putusan Nomor 69/PID.B/TPK/2011/ PN.JKT.PST) (C) Halaman: vi+ 78 + 31 + 2013 (D) Kata Kunci: Tindak Pidana Korupsi, Korporasi. (E) Isi: Korporasi atau badan hukum pada awalnya adalah subyek yang hanya dikenal di dalam hukum perdata yakni sebagai legal person (rechtpersoon) yang merupakan suatu badan hukum dan memiliki sifat sebagai legal personality. Konsep pertanggungjawaban pidana oleh korporasi sebagai pribadi (corporate criminal liability) merupakan hal yang masih mengundang perdebatan. Permasalahan akan segera muncul sehubungan dengan pertanggungjawaban pidana dari korporasi, karena asas utama dari pertanggungjawaban pidana adalah harus ada kesalahan (schuld) pada pelaku. Penulis menemukan 1 putusan pengadilan negeri yang akan diteliti. Apakah suatu korporasi dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana? Apakah PT Anak Negeri dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana terkait dengan tindak pidana korupsi yang terbukti dilakukan oleh Muhammad Nazaruddin? Tujuan Penulis untuk mengetahui korporasi dapat dimintakan pertanggungjawaban sebagai pelaku tindak pidana korupsi. Penulis meneliti masalah tersebut dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan kasus dan pendekatan konseptual. Data hasil penelitian melalui pustaka dan wawancara dengan narasumber dari lembaga dan ahli hukum menunjukkan adanya pemahaman yang sama bahwa dalam kasus korupsi yang dilakukan oleh Muhammad Nazaruddin, PT Anak Negeri tidak dapat dipidanakan. Dalam kasus ini, Terdakwa Muhammad Nazaruddin menerima uang suap dalam kapasitasnya sebagai penyelenggara negara, dalam hal ini sebagai anggota DPR-RI. Korporasi merupakan badan hukum yang dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana. Seharusnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dapat menjadi landasan hukum untuk memberantas kasus-kasus korupsi, terutama yang melibatkan penyelenggara negara dan korporasi sebagai subjek hukumnya. (F) Acuan: 31 (1983-2013) (G) Pembimbing: Dr. Hasbullah F. Sjawie, S.H., M.M., LL.M. (H) Penulis: Janet Christiant

    Analisis Kerjasama Kepolisian Negara Republik Indonesia Dengan International Criminal Police Organization Dalam Penangkapan Muhammad Nazaruddin Di Cartagena Kolombia

    Full text link
    The process of arresting Nazaruddin was the result of the hard work of members of the Indonesian National Police who followed him, in collaboration with Interpol and Colombian police. Before the arrest, National Police Chief General Timur Pradopo had sent a letter requesting assistance for Nazaruddin's arrest to the Head of Interpol in France. After coordinating with Interpol, the National Police team then coordinated with Colombian police to ensure that the person in question was Nazaruddin. The fugitive was finally captured at a cafe in Cartagena, a famous tourist city about an hour away by commercial plane from Bogota. The main problem in this research is how the cooperation of the Republic of Indonesia National Police with the International Criminal Police Organization in the arrest of Muhammad Nazaruddin in Cartagena Colombia and how the authority of the International Criminal Police Organization in the arrest of Muhammad Nazaruddin in Cartagena Colombia. This type of research is research that the author does including in the type of Normative Law research or library research. While the nature of this research is analytical descriptive in the form of a description of the implementation of the mechanism of cooperation between the International Criminal Police Organization with the National Police. Cooperation of the Republic of Indonesia National Police with the International Criminal Police Organization in the Arrest of Muhammad Nazaruddin returning to perpetrators of crimes who fled abroad often faces obstacles because of the weak bargaining power of the Indonesian people against certain countries as a result of the current conditions of Indonesia's Geostrategy and Geopolitics. The weakness of the State Bargaining Power of Indonesia towards certain countries is finally used as a hiding place rather than the perpetrators of criminal acts from Indonesia to secure themselves, save assets including avoiding the entanglement of Indonesian criminal law. The weakness of the bargaining power of the Indonesian people cannot be used to "force" another country to want to make and ratify bilateral or multilateral agreements related to extradition efforts and reciprocal assistance in criminal matters. The main authority of INTERPOL is securing the global police communication network, providing support for police operational data services, providing support for police services and providing police education and training. This collaboration through Interpol makes it easy for the police of each of its member states to eradicate transnational crime. Collaboration with the Indonesian National Police is carried out through. information exchange, issuance of notices, joint investigations, training of police staff and cooperation in the pre-extradition of perpetrators

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore