5 research outputs found

    Appreciating Amartya Sen’s Thought for Religious Freedom in Indonesia

    Full text link
    The right to freedom of religion for everyone is regulated in the Constitution of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI). This right should be possessed and practiced properly for a better life of the nation and state. This research aims to appropriate Amartya Sen's thoughts for the practice of religious freedom in Indonesia. By tracing Amartya Sen's thoughts on freedom, this article seeks to ask questions such as how the pattern of religious freedom for citizens in Indonesia, which is pluralistic, and how the limits of religious freedom should be applied. This research uses two methods of data collection. First, the literature review method to trace the thoughts of Amartya Sen. Second, the netnography method to obtain data related to the practice of religious freedom in Indonesia. The data found were then analyzed using deductive-inductive content analysis techniques. After that, this research then appropriates Amartya Sen's thoughts for religious freedom in the Indonesian context. This research finds that religious freedom is the right of every citizen and the state should protect and guarantee these rights with the right mechanism

    Elaborating Conflict in Maluku Based on Dialogical Liberative Perspective

    Full text link
    The conflict in Maluku is one of the largest religious conflicts that has ever occurred in Indonesia. This study aims to elaborate the relationship between conflict in Maluku and interreligious and cultural dialogue based on a dialogical-liberative perspective. By using the library research method, relying on books and journals related to research questions, this study attempts to discuss forms of interreligious dialogue and pre- and post-conflict culture in Maluku with a liberative dialogue approach. This study argues that liberative dialogue is a relevant approach for inter-religious dialogue in Maluku. The results of this study indicate that liberative dialogue can be an alternative for elaborating the conflict in Maluku. [Konflik di Maluku adalah salah satu konflik agama terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi relasi antara konflik di Maluku dengan dialog antaragama dan budaya berdasar pada perspektif dialogis-liberatif. Dengan menggunakan pendekatan library reseach, dengan mengandalkan buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian, penelitian ini berusaha mendiskusikan bentuk-bentuk dialog antarumat beragama dan budaya pra dan pasca konflik di Maluku dengan pendekatan dialog liberatif. Penelitian ini berargumentasi bahwa dialog liberatif adalah pendekatan yang relevan bagi dialog antar agama di Maluku. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dialog liberatif bisa menjadi alternatif untuk mengelaborasi konflik di Maluku.

    AGAMA SEBAGAI AGENSI PENYEIMBANG KEKUASAAN (STUDI TERHADAP PERAN LEMBAGA AGAMA DALAM KONFLIK AGRARIA DI WADAS, KABUPATEN PURWOREJO, JAWA TENGAH)

    Full text link
    Kekuasaan asimetris menimbulkan dampak perbedaan secara interpretatif terhadap pengelolaan sumber daya alam di Desa Wadas dengan hadirnya kebijakan dari negara dan pasar terkait Proyek Strategis Nasional Bendungan Bener dan pengadaan tambang terbuka batu andesit (quarry) untuk bahan material bendungan. Masyarakat merasa bahwa tanah di mana tempat mereka tinggal dan melangsungkan hidup telah tereksploitasi oleh kebijakan yang diberikan negara dan pasar kepada masyarakat. Sejak awal kemunculan dari kebijakan tersebut, terjadi resistensi masyarakat dalam mempertahankan tanah mereka dengan melalui berbagai cara, mulai dari penggunaan people power, melibatkan berbagai lembaga swadaya masyarakat, sampai dengan melibatkan lembaga agama dalam upaya resistensi masyarakat terhadap kebijakan negara dan pasar. Lembaga agama yang dilibatkan oleh masyarakat ialah organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, kedua lembaga agama tersebut hadir untuk mengagensi masyarakat agar dapat berhadapan secara langsung dengan pihak negara dan pasar. Terdapat tiga hal yang dibahas dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana peran Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah pada konflik agraria di Desa Wadas yang bermula sebagai agen moral menjadi agen politik? Kedua, mengapa kedua lembaga agama tersebut dilibatkan dalam konflik?> Ketiga, bagaimana strategi resolusi konflik yang dirancang oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai agensi penyeimbang kekuasaan pada konflik agraria di Desa Wadas? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk memahami konflik agraria dan sosial keagamaan yang terjadi pada Desa Wadas dengan pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan studi agama dan konflik sosio-politik yang bersifat deskriptif-analitis. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teori strukturasi dari Anthony Giddens. Hasil dari penelitian ini mendiskusikan tiga hal. Pertama, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mengayomi dan mengawal masyarakat dalam memperjuangkan tanahnya. Kedua, sebab, masyarakat menganggap bahwa dengan penggunaan people power dan pelibatan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat tidak cukup mampu untuk bersinergi dengan kebijakan negara dan pasar. Ketiga, langkah atau strategi yang dicanangkan oleh Nahdlatul Ulama ialah dengan menggunakan pendekatan negosiasi atau musyawarah dengan negara dan pasar secara langsung. Sementara, Muhammadiyah mengawal langsung masyarakat yang kontra terhadap penambangan dengan pendekatan sosio-etis

    Understanding the Problem of Islamic Women’s Leadership in Indonesia: An Ecofeminism Analysis

    No full text
    This paper describes the problems of Muslim women’s leadership in Indonesia from an ecofeminist perspective. the issue changed preceded by a gender discourse that advanced in Indonesia, then discussing the connection between men and women, to research about the emergence of the issues of Muslim women's leadership in Indonesia through an ecofeminist approach. Consequently, troubles related to leadership for women need to be addressed and minimized with a purpose to recognize the standards of justice and equality as an excellent way to get the same opportunities to develop up to become leaders for Muslim women in Indonesia. This paper makes use of the kind of literature research. Thus, content analysis, critical discourse analysis, and deductive and inductive are used with the ecofeminist approach to reply to the problems experienced by using Muslim women in Indonesia.Tulisan ini memaparkan permasalahan kepemimpinan perempuan Muslim di Indonesia dari perspektif ekofeminis. Perubahan isu tersebut diawali dengan wacana gender yang berkembang di Indonesia, kemudian membahas keterkaitan antara laki-laki dan perempuan, hingga penelitian tentang munculnya isu-isu kepemimpinan perempuan Muslim di Indonesia melalui pendekatan ekofeminis. Oleh karena itu, permasalahan yang terkait dengan kepemimpinan bagi perempuan perlu ditanggulangi dan diminimalisir dengan tujuan untuk mengakui standar keadilan dan kesetaraan sebagai cara terbaik untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi pemimpin bagi perempuan Muslim di Indonesia. Makalah ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan. Dengan demikian, analisis isi, analisis wacana kritis, dan deduktif dan induktif digunakan dengan pendekatan ekofeminis untuk menjawab permasalahan yang dialami perempuan muslim di Indonesia.

    KRITIK TERHADAP PARADIGMA FILSAFAT ATHEISME: Menelaah Kajian Filsafat Agama

    Full text link
    Artikel ini menelaah paradigma filsafat atheisme berdasarkan pada analisis kritis filsafat agama. Artikel ini pada dasarnya bertujuan untuk memberi kritik terhadap paradigma kefilsafatan atheisme dengan pendekatan filsafat religious. Atheisme sendiri diartikan sebagai keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (T besar) ataupun tuhan (t kecil), namun atheisme sendiri, secara sederhana, memiliki beberapa bentuk berdasarkan pada tingkat kepercayaan mereka terhadap entitas Tuhan atau tuhan. Bentuk-bentuk pemahaman lain dari atheisme ialah antitheisme, nontheisme, apatheisme, ignostisisme, antireligion, irreligion, dan non-believer. Para pelopor atau penggerak dari atheisme di antaranya adalah August Comte, Ludwig Andreas von Feuerbach, Karl Marx, Sigmund Freud, Friedrich Nietzsche, dan Jean Paul Sartre. Kritik yang diberikan terkait paradigma dari atheisme ialah mengenai argumentasi koeksistensi antara manusia dengan Tuhan. Bagi mereka, para atheisme, kombinasi antara keduanya ialah tidak mungkin. Padahal, di titik itulah letak kelemahannya, terutama dalam konteks praktik manusia dalam menghayati eksistensi Tuhan atau tuhan
    corecore