63 research outputs found

    Analisis Pertumbuhan dan Produksi Tanaman pada Sistem Tumpangsari Tomat-Kecipir

    No full text
    Tumpangsari adalah salah satu bentuk pertanaman ganda dalam rangka meningkatkan produktivitas lahan. Pada sistem pertanaman tumpangsari, keberadaan tajuk tanaman utama yang lebih tinggi mengurangi tingkat radiasi yang diterima oleh tanaman sela di bawahnya. Perubahan intensitas cahaya karena adanya naungan tersebut mengakibatkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan menempatkan kecipir sebagai tanaman utama dan tomat sebagai tanaman sela. Beberapa genotipe tomat ditanam pada dua populasi tanaman kecipir. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis respon pertumbuhan, perubahan fisiologis dan mengevaluasi respon produksi dari beberapa genotipe tomat, mengevaluasi pertumbuhan dan produksi kecipir serta menghitung nisbah kesetaraan lahan (NKL). Penelitian dilaksanakan pada Desember 2017-Juni 2018 di Kebun Percobaan Cikabayan IPB, Bogor, Indonesia. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali dengan membandingkan tiga genotipe tomat monokultur, kecipir monokultur (populasi rendah dan tinggi) dan tumpangsari (tiga genotipe tomat pada dua populasi kecipir). Hasil penelitian menunjukan bahwa tumpangsari meningkatkan laju fotosintesis, kondukstansi stomata, kandungan klorofil, karotenoid, kandungan total nitrogen, gula dan pati pada tanaman tomat. Pertumbuhan tiga genotipe tomat yakni Tora, F70030081-12-16-3 dan Apel Belgia tidak menunjukkan perbedaan antara perlakuan monokultur dan tumpangsari. Tumpangsari memperlambat umur berbunga ketiga genotipe tomat, menurunkan jumlah buah genotipe F70030081- 12-16-3 dan Apel Belgia, memberikan pengaruh yang nyata terhadap kelunakan buah, total asam titrasi pada semua genotipe, dan vitamin C selain Tora. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman kecipir memiliki pertumbuhan sama baiknya antara monokultur dengan tumpangsari, bahkan tumpang sari meningkatkan jumlah polong per tanaman. Genotipe tomat memiliki pertumbuhan lebih baik pada tumpangsari daripada monokultur. Hal tersebut menunjukan bahwa tumpangsari dengan kecipir memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tomat. NKL bernilai lebih dari satu, menunjukan pola tanam tumpangsari lebih efesien dan produktif dibandingkan monokultur. Implikasi penelitian ini adalah populasi kecipir menentukan tingkat produktivitas lahan ketiga genotipe tomat yang dibudidayakan. Dengan demikian, budidaya tomat dengan kecipir dapat dilakukan secara tumpangsari

    STUDI ANALISIS NILAI-NILAI ETIS DALAM INTERAKSI EDUKATIF DALAM KITAB ADABUD DUNYA WAD DIN KARYA SYAIKH ABI HASAN ALI BIN MUHAMMAD BIN HABIB AL-MAWARDI

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui Nilai-nilai etis dalam interaksi edukatif dalam Kitab Adabud Dunya Wad Din karya Syaikh Abi Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi (2) Untuk mendiskripsikan implementasi nilai-nilai etis dalam interaksi edukatif dalam kitab Adabud Dunya Wad Din karya Syaikh Abi Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi relevansinya terhadap perkembangan zaman di era modern Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sekunder. Proses pengumpulan data menggunakan kajian teks dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian menujukan bahwa (1) nilai-nilai etis dalam interaksi edukatif dalam Kitab Adabud Dunya Wad Din karya al-Mawardi menurut hasil peneliti sangatlah bagus dan bermanfaat. Karena guru harus memperhatikan nilai-nilai etis dalam melakukan interaksi edulatif dengan peserta didik demi keberhasilan pendidikan. Nilai-nilai etis itu adalah nilai tawadhu’, nilai keikhlasan, dan nilai keteladanan. Sikap tawadhu’ tersebut akan menyebabkan guru bersikap demokratis dalam menghadapi murid-muridnya. Dengan nilai keikhlasan guru mampu bersikap, berbuat dan mau memahami anak didiknya dengan segala konsekuensinya. Serta dengan nilai keteladanan, guru mampu menjadi teladan yang baik dan bukan hanya sebagai komunikator. Oleh karena itu segala tingkah laku guru harus sesuai dan sejalan dengan norma dan nilai ajaran agama. (2) Impementasi konsep pendidikan yang telah dirumuskan oleh al-Mawardi dalam Kitab Adabud Dunya wad Din pada saat ini belum dapat terealisasikan secara menyeluruh. Terbukti dengan adanya fenomena-fenomena tentang penyimpangan perilaku, baik dari guru maupun peserta didik. Dengan adanya konsep yang telah dirumuskan al-Mawardi dalam Kitab Adabud Dunya Wad Din, beliau menghendaki agar dapat menghasilkan out put pendidikan yang memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan serta akhlak mulia. Serta menawarkan kepada para pendidik dan pelaku pendidikan tentang batasan norma yang harus dibangun dalam rangka membangun sebuah generasi yang berperadaban Batasan tersebuat adalah nilai-nilai ketuhanan yang bersumber pada wahyu. Saran peneliti selanjutnya yaitu penelitian ini bersifat teoritik jadi alangkah baiknya penelitian ini dilanjutkan oleh peneliti lainnya yang langsung praktik di lapangan. Sehingga akan semakin membuktikan kebenaran dari konsep pendidikan al-Mawardi

    Strategi Kebijakan Pengembangan Pekarangan bagi Keberlanjutan Pangan Lokal di Distrik Arguni Bawah, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

    No full text
    Pemanfaatan lahan untuk kebun dan kegiatan usaha pertanian dikembangkan oleh berbagai suku di Indonesia dengan cara yang beragam. Pemanfaatan produksi tumbuhan dan tanaman di Papua untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan cenderung masih bersifat subsisten. Di sisi lain, diketahui bahwa keanekaragaman tumbuhan di Papua yang sangat berlimpah di alam belum dimanfaatkan secara maksimal karena masih banyak yang belum sepenuhnya diketahui kegunaan dan manfaatnya secara luas. Di samping itu, terjadi peningkatan aktivitas masyarakat di Papua yang tinggi terhadap pemanfaatan hutan dan lahan, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berbagai kebutuhan. Pengembangan pekarangan pada pemukiman yang menetap (settlement) dapat menjadi solusi guna mengurangi kegiatan perladangan berpindah di dalam kawasan hutan. Pekarangan adalah lahan terbuka yang terdapat di sekitar rumah tempat tinggal dan dikelola oleh masyarakat secara turun-temurun yang diwariskan berdasarkan garis keturunan serta diakui di dalam lembaga adat. Pekarangan mengandung perspektif kepemilikan lahan yang erat kaitannya dengan distribusi tanaman yang memiliki nilai manfaat secara ekonomi serta dengan sengaja ditanam dan dikembangkan oleh masyarakat lokal. Keanekaragaman hayati tumbuhan dan potensinya yang digunakan selama ini oleh masyarakat tradisional dengan kearifan lokal belum terlalu banyak dikaji secara mendalam pada penelitian-penelitian terdahulu di tanah Papua. Sedangkan pangan dan masalah ketahanan pangan merupakan isu pokok yang selalu menjadi masalah di Indonesia ketika kemandirian pangan belum dikelola dengan baik. Pengelolaan lahan pekarangan masyarakat di tanah Papua dengan keragaman suku dan budaya masih banyak yang belum dikaji secara mendalam termasuk dengan tanamantanaman yang dibudidayakan di lahan pekarangan oleh masyarakat setempat. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis nilai keberlanjutan berdasarkan persepsi masyarakat terhadap aspek ekologi, sosial budaya dan spiritual, (2) mengkaji komposisi tanaman pekarangan berdasarkan struktur, fungsi dan manfaat bagi masyarakat, dan (3) merumuskan prioritas kebijakan pengelolaan pekarangan di Distrik Arguni, Bawah Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Distrik Arguni Bawah, Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat kampung di wilayah Distrik Arguni Bawah berjumlah 15 kampung. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 pekarangan yang masing-masing kampung terdiri atas 3 pekarangan/ kampung, dan secara geografis dibedakan menjadi pekarangan kampung dekat pantai, di bagian tengah dan paling jauh dari pesisir pantai. Pengolahan data untuk penilaian keberlanjutan dilakukan dengan metode Community Sustainability Assessment (CSA). Metode pengolahan data analisis vegetasi tanaman pekarangan dilakukan dengan teknik tabulasi analisis statistik deskriptif dengan program microsoft excel 2007. Sedangkan untuk menentukan strategi digunakan metode analytical hierarchy process (AHP) dengan program Expert choise 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampung Jawera mempunyai nilai keberlanjutan tertinggi yaitu: 1035 hal ini berarti progres kampung Jawera sangat baik menuju keberlanjutan sehingga dapat dijadikan kampung percontohan sebagai indikator bagi penilaian keberlanjutan masyarakat. Secara umum, aspek sosial dan spiritual menampilkan penilaian yang cukup baik dibandingkan dengan aspek ekologis. Luas ukuran pekarangan yang dominan ditemukan dari 45 sampel tersebut berukuran besar (400m2< pekarangan besar ≤1000m2) sebanyak 25 pekarangan (55.6%). Sedangkan ukuran pekarangan sedang (120m2< pekarangan sedang ≤400m2) berjumlah 12 pekarangan (26.7%) dan pekarangan dengan ukuran luas sangat besar (>1000m2) yaitu 8 pekarangan (17.8%). Selanjutnya dihitung indeks nilai penting (INP) dan summed dominance ratio (SDR) untuk melihat tanaman yang dominan ditemukan. Jenis tanaman yang memiliki nilai kerapatan dan SDR tertinggi di 45 pekarangan masyarakat ada 7 jenis tanaman dari 5 fungsi tanaman yaitu: (1) tanaman penghasil pati berupa keladi (strata I) dan pisang (strata IV), (2) tanaman sayuran berupa sayur gedi (strata II) dan bayam (strata I), (3) tanaman penghasil buah pisang (strata IV), (4) tanaman hias berupa keladi hias (strata I) dan (5) tanaman kegunaan lainnya berupa kelapa dan pinang (strata V). Komoditi tanaman keladi banyak ditemukan di 4 kampung yaitu: Waromi, Sumun, Serara dan Ukiara. Tanaman penghasil sayuran ditemukan di 3 kampung Kufuriai, Ruara dan Wermenu. Sedangkan untuk tanaman penghasil buah ditemukan di kampung Tenusan, Jawera, dan Nagura. Tanaman penghasil minyak dan fungsi lainnya ditemukan di kampung Urisa dan Inary yaitu kelapa dan pinang. Tanaman hias hanya ditemukan terbanyak di kampung Wanoma. Nilai keanekeragaman hayati dihitung berdasarkan indeks Shanon-winner (H´) berkisar antar 1.8-2.5. Artinya, bahwa keanekaragaman hayati tanaman spesies pekarangan pada sampel populasi tanaman pekarangan diinterpretasikan bernilai sedang. Alternatif kebijakan yang terpilih dengan cara memilih dan menetapkan antar aktor, kriteria, faktor dan alternatif pilihan. Alternatif kebijakan yang muncul dalam AHP yaitu: strategi pemasaran dengan bobot (0.359) dimana pemerintah sebagai penentu pemangku kepentingan dapat memainkan peran dalam mengelola pekarangan agar berkelanjutan. Kriteria sosial budaya dengan bobot (0.413) menjadi penting dalam pengambil keputusan. Kegiatan utama untuk mendorong pengembangan pekarangan agar berkelanjutan adalah membangun kemandirian pangan dengan bobot (0.441)

    Studi Percampuran Genotipe Padi Sawah Terhadap Hasil Dan Kejadian Hama Utama

    No full text
    Dalam upaya merespon tingginya kebutuhan beras seiring dengan laju peningkatan jumlah penduduk yang tinggi di Indonesia, peningkatan produktivitas padi secara nasional harus terus dilakukan. Namun demikian, upaya peningkatan produktivitas padi dihadapkan pada beberapa faktor pembatas diantaranya adalah keterbatasan dalam potensi hasil suatu varietas dan adanya serangan organisme pengganggu tanaman. Kedua faktor tersebut hingga saat ini masih menjadi kendala utama yang membayangi keberhasilan peningkatan produktivitas padi di Indonesia. Oleh sebab itu, dengan kondisi lingkungan yang beragam, percampuran genotipe padi (Oryza sativa L.) dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang lebih ekonomis dibandingkan dengan penanaman genotipe tunggal untuk mengontrol kejadian hama dan mempertahankan hasil gabah. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mendapatkan informasi keragaman genetik genotipe padi yang dibentuk dari penanaman genotipe campuran terhadap keragaan hasil, komponen hasil, stabilitas hasil, keberadaan serangga hama utama (penggerek batang dan wereng coklat) dan musuh alami. Sedangkan tujuan khususnya adalah :1) untuk mengetahui interaksi genotipe x lingkungan, hasil dan stabilitas hasil dari beberapa genotipe padi tipe baru di berbagai lingkungan uji, 2) untuk mendapatkan metode percampuran genotipe padi yang terbaik terhadap keberadaan hama utama dan musuh alami, 3) untuk menguji pengaruh keberadaan hama dan dua metode percampuran terhadap hasil dan komponen hasil, 4) untuk mengetahui daya campur, keragaan karakter agronomi dan stabilitas hasil dari percampuran dua komponen genotipe padi. Materi genetik yang digunakan pada penelitian meliputi lima genotipe padi, yaitu IPB 117-F-4-1-1 yang dipilih berdasarkan hasil analisis stabilitas beberapa padi harapan tipe baru di enam lingkungan uji, genotipe IPB 4S, IR64, Inpari 11, dan Inpari 13. Percampuran genotipe padi dengan dua metode percampuran yaitu campuran benih (seed mix) dan campuran baris (row mix) dilakukan pada kelima genotipe padi selama dua musim tanam. Kejadian hama dan musuh alami serta keragaan karakter agronomi dan hasil diamati dan dibandingkan dengan rerata hasil dari genotipe padi tunggal penyusun campuran selama musim tanam tersebut. Percampuran benih (seed mix) dengan menggunakan dua komponen genotipe padi dilakukan untuk mengetahui daya gabung dari kelima genotipe padi yang digunakan dalam penelitian ini. Selanjutnya pengamatan keragaan karakter agronomi dan daya campur hasil dari percampuran dua komponen genotipe padi tersebut dilakukan di tiga lingkungan uji. Hasil analisis stabilitas hasil pada beberapa genotipe harapan padi tipe baru menunjukkan bahwa terdapatnya interaksi yang sangat nyata antara genotipe dan lingkungan yang mengindikasikan adanya genotipe padi tertentu yang sesuai untuk lingkungan spesifik. Berdasarkan analisis stabilitas dan keragaan agronominya, IPB 117-F-4-1-1 merupakan genotipe padi yang terpilih untuk dimasukkan dalam penelitian percampuran genotipe padi karena genotipe padi tersebut memiliki arsitektur tanaman yang lebih kokoh dan vigornya yang baik sehingga diharapkan mempunyai kemampuan kompetitif dan keragaan agronomi yang lebih baik dalam percampuran genotipe padi. Berdasarkan dua metode percampuran (seed mix dan row mix) dengan menggunakan lima komponen genotipe padi pada dua musim tanam menunjukkan bahwa peningkatan hasil padi terdapat pada musim tanam kedua dibandingkan dengan rata-rata hasil komponen genotipe dalam bentuk tegakan tunggal (monokultur). Campuran seed mix menunjukkan rata-rata hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan row mix pada musim tanam kedua yang ditunjukkan oleh laju peningkatan hasil relatif yang lebih besar, yaitu sebesar 7,26% pada seed mix dan 4,63% pada row mix. Karakter panjang malai dan bobot seribu butir merupakan karakter komponen hasil yang konsisten menunjukkan efek positif pada campuran seed mix dan row mix di kedua musim tanam. Keragaman genotipe tanaman padi melalui percampuran seed mix pada musim tanam pertama dapat menurunkan kejadian hama dengan persentase penurunan relatif untuk penggerek batang dan wereng coklat masing-masing adalah sebesar 46, 55% dan 29,83%, sedangkan pada campuran row mix, persentase penurunan kedua hama lebih tinggi dibandingkan dengan seed mix, yaitu 100% untuk hama penggerek batang dan 47,37% untuk wereng coklat. Seed mix secara konsisten berpengaruh baik terhadap penurunan hama wereng coklat didalam campuran yang ditunjukkan oleh penurunan relatifnya sebesar 6,61% pada musim tanam kedua, sedangkan pada tipe row mix secara konsisten memberikan dampak yang konsisten terhadap penurunan penggerek batang dengan persentase penurunan relatifnya dalam campuran adalah 1,4%. Peningkatan kelimpahan musuh alami di lapang ditemukan pada percampuran seed mix yang ditunjukkan dengan persentase peningkatan populasinya dalam campuran tersebut selama dua musim tanam. Percampuran benih dengan dua komponen genotipe padi, menunjukkan genotipe IPB 4S + Inpari 11 mempunyai rerata hasil lebih tinggi dari rerata genotipe penyusunnya dan dari semua genotipe yang diuji. Berdasarkan analisis daya campur umum ada beberapa genotipe tunggal dapat meningkatkan hasil gabah dalam campuran dibandingkan dengan genotipe tunggal lainnya. Berdasarkan pengaruh interaksi lingkungan dengan GMA menunjukkan bahwa peningkatan hasil gabah dalam campuran berbeda diberbagai lingkungan. Rerata di semua lingkungan, campuran memiliki hasil lebih tinggi 10,98% dibandingkan rerata hasil komponen genotipe tunggalnya. Genotipe Inpari 11 memiliki nilai daya campur umum yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe padi lainnya. Efek daya campur khusus yang paling tinggi untuk hasil gabah adalah interaksi positif antara Inpari 11 dan IR64. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menggunakan pendekatan percampuran genotipe memberikan peluang untuk menurunkan kejadian hama sambil tetap mempertahankan bahkan meningkatkan hasil gabah dibandingkan dengan rerata hasil genotipe tunggalnya

    Pertumbuhan dan Produksi 5 Galur Harapan Tomat (Solanum lycopersicum L.) pada Naungan Jagung Manis

    No full text
    Percobaan ini dilakukan untuk menguji pertumbuhan dan produksi 5 galur harapan tomat dan varietas pembandingnya terhadap pengaruh naungan tanaman semusim khususnya jagung manis. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasir Kuda Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, Ciomas, Bogor pada bulan Desember 2017 sampai bulan Mei 2018. Percobaan menggunakan rancangan petak tersarang, dua faktor dan empat ulangan. Petak utama merupakan dua tingkat naungan yaitu terdiri atas intensitas naungan 0% (N0) dan naungan jagung manis (N1) dan anak petaknya berupa lima galur harapan tomat (F4SSH34979-326-4, F4SSH34979-370-1, F4SSH34979-380-13, F4SSH34979-380-16 dan F4SSH34979- 384-11) dan lima varietas pembanding (SSH3, 4979, Palupi, Karina dan Tora). Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan jagung manis menurunkan pertumbuhan dan produksi tomat, kecuali pada genotipe F4SSH34979-326-4, F4SSH34979-380- 16, F4SSH34979-384-11 dan SSH3 yang meningkat pada naungan jagung manis dibandingkan dengan tanpa naungan

    Analisis kewarisan terhadap anak di luar nikah pasca putusan Mahkamah Konstitusi nomor 46/PUU-VIII/2010

    No full text
    Sebelum Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010, anak luar perkawinan tidak memperoleh hak-hak konstitusional sebagai warga negara yang menganut prinsip Negara hukum. Secara konstitusional, hal tersebut telah merugikan hak anak terutama di bidang kewarisan. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010, menjadi angin segar bagi anak luar perkawinan untuk memperoleh kembali hak tersebut. Prinsip persamaan derajat yang menjadi dasar pemikiran dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 telah sesuai dengan prinsip mashalikhu al-‘am (kemaslahatan umum). Putusan Mahkamah Konstitusi tidak hanya berakibat terhadap reposisi keberpihakan hak kewarisan anak, tetapi berakibat pula dalam menjamin dan melindungi hak-hak anak lainnya seperti hak memperoleh nafkah, hak perwalian, dan hak alimentasi dari ayah biologis. Oleh karena itu, meskipun transformasi prinsip persamaan dan keadilan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi sesuai dengan prinsip universalitas dan keadilan fitrah, kontekstualisasi Putusan Mahkamah Konstitusi yang melebihi tuntutan pihak pemohon (Aisyah Mokhtar dan Muhammad Iqbal) harus tetap dibatasi hanya berakibat hukum dalam perkara waris dan dalam konteks anak luar kawin sebagai hasil perkawinan sirri dalam perspektif formalisme hukum. Berdasarkan pemaparan di atas, pokok masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah Bagaimana kewarisan terhadap anak diluar nikah Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010. ? Bagaimana dasar hukum tentang kewarisan Anak Diluar Nikah Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010.? Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu dilakukan sebuah penelitian, Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini yaitu penelitian dokumen (library research). Dalam penelitian dokumen ini penulis menggunakan studi kepustakaan berupa Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/ PUU-VIII/ 2010 tentang Anak Diluar Nikah. penelitian ini merupakan studi hukum Islam dengan pendekatan secara teoritis dan dokumenter. Dalam pendekatan teoritis diterapkan konsep ushuliyah yang merupakan teori kajian hukum Islam, sedangkan dalam pendekatan dokumenter diterapkan objek masalah terkait seperti perundang-undangan. Dengan tujuan ke-maslahat-an anak, agar memperoleh kasih sayang, perawatan dan pendidikan dari ayah dan ibunya secara utuh kepada anak tersebut. Majelis hakim menetapkan keputusan tersebut berlandaskan Dalam pertimbangan Majelis Hakim Konstitusi yang telah kita kemukakan sebelumnya, pertimbangannya sangat logis dan bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan berupa perlindungan bagi anak diluar perkawinan tersebut agar dia mendapat jaminan kehidupan dan tidak lagi mendapat stigma negatif dalam pergaulan sehari-hari lantaran dosa kedua orang tuanya. Penulis juga menggaris bawahi bahwa jika keberadaan Pasal 2 Ayat 2 dan 43 Ayat 1 Undang-Undang Perkawinan mengandung madharat (keburukan) dan menghapusnya juga mengandung madharat, maka pilih paling ringan madharatnya

    Manajemen orsospol

    No full text

    Strategi Dakwah Salafi di Indonesia

    No full text
    Pertumbuhan dakwah Salafi di Indonesia mencapai puncaknya setelah tumbangnya rezim Orde Baru. Kemunculannya berawal dari Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA), yang memperkenalkan manhaj salâf as-sâlih kepada umat Islam Indonesia. Mereka didukung oleh lembaga-lembaga donor dari Timur Tengah berupa pendidikan gratis di Timur Tengah serta dana untuk mendirikan lembaga-lembaga untuk menunjang eksistensi dakwah Salafi, seperti pendirian yayasan, sekolah, rumah  sakit, pondok  pesantren, dan lembaga kursus bahasa Arab. Di samping mendirikan lembaga-lembaga  formal, mereka pun mengisi ceramah keagamaan, khutbah, tablig akbar, halaqah, dan daurah.Kegiatan-kegiatan tersebut didokumentasikan menjadi kaset, VCD, DVD, yang kemudian dijual bersama buku, jurnal, dan majalah. Di samping itu, ada pula yang memberikan tausiah, nasehat, dan dakwah melalui media penyiaran, seperti stasiun televisi  dan  radio, serta dunia maya, seperti website, blog, mailing list (milis), dan jejaring sosial
    corecore