1,721,041 research outputs found
Maintenance of sewerage plant / Muhamad Syukur Azizi
Planned maintenance of sewerage plant and continuing to maintain the quality and performance of the building. The main objective of this research is to identify the sewerage plant maintenance work in UITM Pulau Pinang. From the literature review, the authors have identified the key elements for measuring the effectiveness of maintenance management of key elements such as policy and structural maintenance, maintenance method of approach, scheduling and execution of work. To ensure that maintenance work performed, the policy must be clear and comprehensive maintenance. Maintenance sewerage plant inspection schedule should be provided to the upper or lower level to facilitate inspection
Pendugaan Parameter Genetik Karakter Umur Panen dan Bobot Per Buah pada Persilangan Cabai Besar dan Cabai Rawit (Capsicum annuum L.)
<p>Estimation of Genetic Parameter on Days to Harvest and Weight Per Fruit Characters of Hybrization Chilli and Cayyenne Papper (Capsicum annuum L.). Abdullah B. Arif, Linda Oktaviana, Sriani Sujiprihati, and Muhamad Syukur. Selection method is one of the most important factors in determining the success of pepper breeding programs. Selection method will be effective if it is supported by a complete knowledge of genetic character inheritance. The objective of this study was to aim information of inheritance pattern of pepper adaptability of quantitative characters. There are two steps in this experiment i.e developing material genetic and inheritance study of days to harvest and weight per fruit characters in the field. The results showed that days to harvest and weight per fruit characters are not maternal effect. The m[d][h][i][l] genetic model is suitable for days to harvest. The m[d][h][i][j] genetic model is suitable for fruit weight. Broadsense and narrow-sense heritabilities range from low to high.</p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Metode seleksi merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan program pemuliaan cabai. Metode seleksi akan lebih efektif jika didukung oleh sebuah pengetahuan yang lengkap tentang pola pewarisan karakter genetik. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi pola pewarisan karakter kuantitatif. Terdapat dua tahapan pada penelitian ini, yaitu pembentukan materi genetik dan studi pewarisan karakter umur panen dan bobot per buah di lapang. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh tetua betina terhadap karakter umur panen dan bobot per buah. Model genetik m[d][h][i][l] sesuai untuk karakter umur panen. Model genetik m[d][h][i][j] sesuai karakter bobot per buah. Heritabilitas dalam arti luas dan dalam arti sempit berada dalam kisaran rendah sampai tinggi.</p></jats:p
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Keragaman dan Struktur Genetik Plasma Nutfah Kelapa Sawit Koleksi Taman Buah Mekarsari Berdasarkan Karakter Agronomi dan Marka Mikrosatelit
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomi
penting sebagai sumber penghasil minyak nabati utama di dunia dan memiliki
produktivitas tertinggi dibandingkan dengan tanaman-tanaman penghasil minyak
nabati lain. Di Indonesia, kelapa sawit termasuk ke dalam salah satu komoditas
perkebunan strategis karena menjadi sumber penghasil devisa utama dan mampu
menghidupi jutaan masyarakat yang bergerak pada sektor perkebunan.
Keberlanjutan produksi tanaman kelapa sawit di Indonesia pada saat ini
dihadapkan pada permasalahan utama yaitu ketersediaan lahan untuk perluasan
perkebunan kelapa sawit semakin terbatas. Diperlukan upaya intensifikasi melalui
peningkatan potensi genetik tanaman agar produktivitas per hektar dapat
meningkat.
Karakter laju pertambahan tinggi yang lambat dan karakter arsitektur tajuk
kompak merupakan dua karakter penting yang menjadi target seleksi untuk
mendukung upaya intensifikasi perkebunan. Makin lambat tanaman bertambah
tinggi, makin panjang umur produktif tanaman karena makin mudah tandantandannya
untuk dipanen. Pada saat ini, rata-rata laju pertambahan tinggi tanaman
dari 37 varietas komersial yang telah dilepas di Indonesia berkisar antara 50-70
cm per tahun yang berarti bahwa pada umur 20 tahun tinggi tanamannya sudah
mencapai 10 – 14 meter sehingga tandan-tandannya sudah relatif sulit untuk
dipanen. Oleh karena itu masih diperlukan program pemuliaan untuk
menghasilkan varietas unggul kelapa sawit yang memiliki karakter laju
pertambahan tinggi yang lambat. Karakter tersebut dapat diintegrasikan ke
genotipe yang sudah memiliki karakter produksi minyak tinggi.
Ketersediaan sumber genetik dan variabilitas genetik yang luas merupakan
faktor penentu keberhasilan program pemuliaan tanaman. Populasi kelapa sawit
yang umum dibudidayakan di Indonesia merupakan populasi F1 (DxP) hasil
persilangan genotipe-genotipe dura sebagai tetua betina dengan genotipe-genotipe
pisifera sebagai tetua jantan pada spesies Elaeis guineensis. Upaya untuk merakit
varietas DxP yang memiliki kombinasi daya hasil tinggi dan laju pertambahan
tinggi yang lambat dimulai dengan merakit dan memperbaiki potensi genetik
tetuanya secara bersamaan baik dari populasi dura maupun populasi pisifera.
Salah satu plasma nutfah yang dapat digunakan untuk pemuliaan kelapa
sawit super pendek yaitu dura Elmina 206 (E206). Populasi dura E206 merupakan
populasi yang dikembangkan dari satu tanaman deli dura yang mengalami mutasi
spontan. Mutan ini ditemukan di perkebunan kelapa sawit Elmina, Malaysia.
Mutan E206 memiliki postur pendek yang berbeda jauh dengan deli dura sehingga
dikenal sebagai dura dumpy. Plasma nutfah kelapa sawit lain yang dapat
digunakan sebagai sumber untuk karakter pendek yaitu plasma nutfah E. oleifera.
Hampir semua genotipe E. oleifera memiliki laju pertambahan tinggi yang super
lambat yaitu sekitar 10-12 cm per tahun atau tingginya hanya sekitar 2 – 2.4 m
pada usia 20 tahun.
Penelitian ini mengkaji keragaman genetik karakter laju pertambahan tinggi
tanaman dan karakter-karakter agronomi lain dari plasma nutfah kelapa sawit
koleksi Taman Buah Mekarsari. Selain itu, marka mikrosatelit sebagai marka
yang bersifat kodominan dan multialelik digunakan pada penelitian ini untuk
mengestimasi struktur genetik yang bermanfaat untuk menentukan strategi
pemuliaan. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2014 sampai Maret 2017
di Kebun Percobaan PT. Sasaran Ehsan Mekarsari, Cileungsi, Bogor dan di
Laboratorium Biologi Molekuler Tanaman (PMB Lab), Departemen Agronomi
dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian yang dilakukan dibagi menjadi lima bagian yang terdiri atas (1)
analisis keragaman karakter agronomi pada 18 populasi dura elit, (2) analisis
struktur genetik pada 26 populasi dura elit dan evaluasi heterozigositas genetiknya
berdasarkan mikrosatelit, (3) analisis keragaman populasi pisifera berdasarkan
karakter morfologi tandan dan molekuler, (4) komparasi genetik populasi intra
dan inter spesies kelapa sawit, (5) identifikasi marka-marka SSR yang berasosiasi
dengan beberapa karakter agronomi penting.
Hasil penelitian pertama menunjukkan bahwa karakter kecepatan
pertambahan tinggi tanaman pada populasi dura bervariasi baik dalam populasi
maupun antar populasi. Genotipe-genotipe dura yang memiliki laju pertambahan
tinggi tanaman kurang dari 30 cm per tahun berhasil diidentifikasi. Berdasarkan
kombinasi informasi fenotipe dan genotipe yang dihasilkan pada bagian penelitian
pertama dan kedua pada populasi dura dapat dirancang strategi persilangan untuk
menghasilkan genotipe dura yang memiliki karakter unggulan.
Karakerisasi morfologi dan molekuler pada populasi pisifera menunjukkan
bahwa terdapat variasi yang luas pada populasi pisifera koleksi Mekarsari.
Menggunakan kombinasi karakter morfologi dan informasi molekuler telah
terpilih genotipe-genotipe pisifera yang memiliki karakter jumlah floret dan
jumlah spikelet per tandan yang tinggi, bersosok pendek sehingga memiliki umur
produktif yang lebih panjang, dan memiliki arstitektur tajuk yang relatif kompak
dengan dugaan konstitusi genetiknya sudah hampir homozigot untuk banyak lokus
sehingga turunannya diduga akan seragam.
Analisis perbandingan genetik antara spesies E. guineensis dan E. oleifera
menunjukkan bahwa populasi kelapa sawit E. oleifera koleksi Mekarsari memiliki
keragaman genetik yang lebih luas dibanding populasi kelapa sawit E. guineensis.
Berdasarkan analisis filogenetiknya diketahui bahwa secara umum jarak genetik
populasi dura dengan E. oleifera lebih jauh dibanding jarak genetik populasi
pisifera dengan E. oleifera. Hal ini memberikan petunjuk bahwa plasma nutfah E.
oleifera akan lebih efektif jika dimanfaatkan untuk perbaikan populasi pisifera.
Program perbaikan populasi pisifera menggunakan pendekatan introgresi dari
spesies E. oleifera dapat dipercepat dengan bantuan marka-marka yang berfungsi
sebagai marker assisted backcrossing (MAB). Pada penelitian ini berhasil
diidentifikasi 10 lokus SSR yang membawa alel-alel spesifik untuk E. oleifera
yang dapat digunakan lebih lanjut untuk pengembangan MAB yang berbasis
foreground dan background selection.
Selain marka spesifik spesies, pada penelitian ini berhasil diperoleh markamarka
yang berasosiasi dengan beberapa karakter agronomi yang dapat digunakan
untuk marker assisted selection. Lokus mEgCIR3691, mEgCIR3376 dan
mEgCIR0801 berasosiasi dengan karakter super dumpy. Lokus mEgCIR3376
berasosiasi dengan karakter panjang daun. Lokus mEgCIR3350, mEgCIR2813,
dan mEgCIR0878 berasosiasi dengan karakter bobot tandan. Lokus mEgCIR3428
dan mEgCIR0783 berasosiasi dengan karakter jumlah tandan. Lokus-lokus
tersebut dapat diuji pada populasi pemetaan yang berbeda.
Secara menyeluruh dapat disimpulkan bahwa populasi kelapa sawit koleksi
Taman Buah Mekarsari memiliki keragaman genetik yang luas baik intra maupun
inter spesies. Diperlukan pendekatan pemuliaan konvergen untuk menghimpun
sifat-sifat baik ke dalam satu populasi atau memfiksasi gen-gen yang tersebar
diantara genotipe ke dalam satu populasi. Pendekatan pemuliaan tersebut dapat
diakselerasi menggunakan bantuan penanda genetik yang berasosiasi dengan
beberapa karakter penting. Genotipe-genotipe yang sudah dalam kondisi
homozigot dapat digunakan untuk beberapa tujuan (1) memproduksi benih
komersial yang lebih homogen dan unggul, (2) bahan untuk membentuk populasi
pemetaan (mapping population), (3) untuk studi genetik mempelajari pola
segregasi karakter-karakter yang belum diketahui regulasi genetiknya
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
- …
