7 research outputs found
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Nilai-Nilai Kafaah dalam Praktik Perkawinan Sayyid di Sulawesi Selatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Konsep Kafaah dalam perkawinan keturunan Sayyid di Sulawesi Selatan masih mempertahankan konsep Kafaah nasab. (2) Kriteria Kafaah yang ada dalam masyarakat Sayyid ada tiga, yang pertama agama yaitu seorang Syarifah tidak sekufu dan tidak dibenarkan menikah dengan seseorang yang berbeda agama, yang kedua nasab seorang syarifah tidak sekufu dengan laki-laki yang non sayyid, dan yang ketiga Aliran seorang syarifah ahlussunnah wal jamaah tidak sekufu dengan laki-laki yang yang bukan ahlussunnah wal jamaah . (3) Hukum Islam dalam permasalahan kafaah terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama mazhab. Namun semua tetap mendasarkan pada faktor agama yang diharuskan pada kesepadanan dalam perkawinan selain faktor yang lain (nasab, kemerdekaan, pekerjaan, kekayaan)
Tinjauan Hukum Islam Terhadap Nilai-Nilai Kafaah dalam Praktik Perkawinan Sayyid di Sulawesi Selatan
Penelitian ini merupakan field research kualitatif deskriptif yang merupakan penelitian lapangan (field research) maka metode Pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan Teologi Normatif dan Pendekatan Yuridis Empiris. Sumber data yaitu data primer yakni data empiris yang bersumber atau yang didapatkan secara langsung dari Sayyid atau Syarifah. Data sekunder yaitu data pendukung yang telah tersedia dimana penelitian hanya perlu mencari tempat untuk mendapatkannya. Data Tersier Sumber data tersier ini dimaksudkan sebagai bahan penunjang sumber dan primer dan sekunder. Tekhnik pengumpulan data melalui Observasi, Interview (wawancara), dan dokumentasi.Selanjutnya data pada penelitian ini menggunakan Riset Lapangan dengan melalui wawancara serta observasi, sedangkan teknik pengelolahan dan analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Konsep Kafaah dalam perkawinan keturunan Sayyid di Sulawesi Selatan masih mempertahankan konsep Kafaah nasab. (2) Kriteria Kafaah yang ada dalam masyarakat Sayyid ada tiga, yang pertama agama yaitu seorang Syarifah tidak sekufu dan tidak dibenarkan menikah dengan seseorang yang berbeda agama, yang kedua nasab seorang syarifah tidak sekufu dengan laki-laki yang non sayyid, dan yang ketiga Aliran seorang syarifah ahlussunnah wal jamaah tidak sekufu dengan laki-laki yang yang bukan ahlussunnah wal jamaah . (3) Hukum Islam dalam permasalahan kafaah terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama mazhab./ Namun semua tetap mendasarkan pada faktor agama yang diharuskan pada kesepadanan dalam perkawinan selain faktor yang lain (nasab, kemerdekaan, pekerjaan, kekayaan).Implikasi Penelitian Konsep (1) kafaah hendaknya dipahami dan dikembalikan pada tujuan awalnya yakni untuk mencapai keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah. (2) Dalam sistem perkawinan, persoalan nasab hendaknya tidak menjadi penghalang bagi dua insan yang hendak mengarungi bahtera rumah tangga, asalkan calon mempelainya adalah seorang muslim yang memiliki akhlakul karimah. (3)Perlunya merelevansikan hukum yang berkaitan dengan konsep kafaah dalam fiqih munakahat dengan kafaah yang berlaku dalam suatu komunitas masyarakat serta perkembangan zaman. Kata Kunci : Tinjauan Hukum Islam, Kafaah, Praktik Perkawinan Sayyi
MAQĀṢID AL-SHARI'AH THEORY BY IMAM AL-SYĀṬIBĪ
The purpose of this study is to explain the theory and application of Maqāṣid al-Syari'ah from al-Syāṭibī's perspective. This research is qualitative, the type of research is library research. The data collection method used is a literature study. The results showed that; First, Maqāṣid al-Syari'ah is the central theme that became the foundation of Imam al-Syatibi in determining the law. According to Imam al-Syatibi, the main purpose of Maqāṣid al-Syari'ah is to organize the natural order by realizing maslahah and avoiding damage. Departing from the purpose of istinbat all laws in Islam which is the essence of maqasid al-Syariah that is implied and explicit, it is impossible to realize hifz al-din with the intention or purpose of neglecting hifz al-nafs, hifz al-nasl, hifz al-mal, and hifz al-'aql. Second, the application of Maqāṣid al-Shari'ah can be seen in the adoption of three maslahat, namely primary, secondary, and tertiary maslahat in contemporary muamalah. For example, the application of primary maslahat in the use of AstraZeneca vaccine which contains elements from pigs. Furthermore, the application of secondary maslahat to the practice of Islamic mutual funds is considered very urgent, because not a few have property, but are unable to manage or organize it. As for the application of tertiary maslahat in transactions via telephone, internet, instagram, WhatsApp, and other social media applications
Efek Mediasi Citra Merek pada Pengaruh Green Product Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Yotta di Kota Makassar
This research aims to determine the mediating effect of brand image on the influence of green products on consumer purchasing decisions of Yotta in Makassar City. This study uses a type of quantitative research with a descriptive approach. The population in this study was unknown and the sample used amounted to 100 respondents. The sampling technique used purposive sampling. Data collection was carried out using observation and questionnaire methods. The data analysis technique used is Partial Least Square (PLS) using SmartPLS 4 software. The results showed that green products have a positive and significant effect on Yotta's consumer purchasing decisions in Makassar City, green products have a positive and significant effect on Yotta's brand image in Makassar City, brand image has a positive and significant effect on Yotta's purchasing decisions in Makassar City, and brand image is able to mediate the effect of green products on Yotta's consumer purchasing decisions in Makassar City.
Dinamika Kondisi Oseanografi di Perairan Spermonde pada Musim Timur
Perairan Spermonde merupakan perairan yang mengelilingi pulau-pulau Spermonde dengan dangkalan yang berada di sebelah barat daya Sulawesi Selatan dan terpisah dari dangkalan Sunda yang terletak di seberang Selat Makassar. Kawasan perairan kepulauan ini meliputi bagian selatan Kabupaten Takalar, Kota Makassar, Kabupaten Pangkep, hingga Kabupaten Barru pada bagian utara pantai Barat Sulawesi Selatan (Jalil, A.R., 2013). Letaknya yang berada di Selat Makassar, sehingga kondisi perairannya dipengaruhi selat tersebut, serta segala aktifitas yang terjadi di dalamnya.Kabupaten yang memiliki pulau – pulau terbanyak di perairan Spermonde adalah Kabupaten Pangkep dengan jumlah 117 pulau (Dinas Kelautan dan Perikanan Pangkep, 2007). Mayoritas Penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Aktifitas penangkapan ikan dipengaruhi oleh keadaan musim, dan juga kegiatan yang tidak ramah lingkungan, menyebabkan hasil tangkapan ikan nelayan menjadi berkurang yang berimbas pada kondisi perekonomian rumah tangga.Tujuan penelitian ini yaitu bertujuan memberikan gambaran kondisi oseanografi khususnya pada musim timur di perairan Spermonde di kabupaten Pangkep dan kabupaten Takalar pada bulan Juni-Juli 2019. Parameter yang diukur antara lain suhu, salinitas, pH, phosphate, nitrat, Do, dan Co2. Hasil kajian ini menjadi basis data system informasi kelautan dalam memanfaatkan kondisi oseanografi untuk kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat nelayan pada saat tidak dapat melaut akibat kondisi lingkungan.Kata kunci: dinamika, oseanografi, Spermonde, musim timu
Understanding the Prohibition of Interfaith Marriage in Islamic Teachings: A Semiotic Analysis Of Q.S. Al-Baqarah (2):221 Using Ferdinand de Saussure's Approach
This research aims to understand the prohibition of interfaith marriage in Islamic teachings through the analysis of the sacred texts of the Quran and Hadith using Ferdinand de Saussure's semiotic approach. Saussure's semiotic approach allows us to understand the signs and meanings contained in the verses and hadiths regarding interfaith marriage. In Islam, the prohibition of interfaith marriage is found in Surah Al-Baqarah (2):221. The research methodology used involves literature research and findings show that literally, this verse prohibits Muslims from marrying non-Muslims, including the people of the book (those who have sacred books like Jews and Christians) and polytheists (idol worshippers). However, the understanding of this verse provides tolerance with certain conditions. Muslim men are allowed to marry people of the book with the intention of inviting their partners to embrace Islam, while Muslim women are not allowed to marry non-Muslim men. The prohibition also includes Muslim men marrying polytheistic women, including idol worshippers, atheists, fire worshippers, apostates, and followers of libertine sects. In this research, the author used the literature research method to analyze relevant texts. Saussure's semiotic analysis helps in understanding the linguistic signs and meanings contained in these texts. Thus, this research provides a deeper understanding of the prohibition of interfaith marriage in the context of Islamic religion. The results of this research not only enhance religious understanding but also provide a basis for further research in this field. By using the semiotic approach, we can better understand the signification and meanings contained in religious texts and how it affects the religious practices of Muslims regarding interfaith marriage. Ultimately, this research shows that the prohibition of interfaith marriage in Islam has a strong theological foundation and requires careful understanding of the sacred texts. Saussure's semiotic analysis provides deeper insights into the meanings and signification contained in these texts, thus providing a richer understanding in the religious context. Therefore, this writing is not only aimed at enhancing religious understanding but also offers a foundation for further research in this field
