168 research outputs found

    ETIKA POLITIK M. NATSIR

    No full text
    Politics does not merely deal with achieving a ruling position. This implies that to reach any level in any organization at any time, one must put civility, politness, moral, and ethic forward to set a highly dignified nation. Political thoughts and behaviour always attract people to study as politics exists in every aspect of life in a society. It also underlies internal conflicts and wars. To most people, politics is described as a way to reach a desired position by doing whatever it takes. It does not mean, however, that politicians are immoral. There are, of course, honest, kind ones. But as a politician eagerly targets a position, he leaves his positive characters behind. In the history of Indonesia, M. Natsir played an important role in the world of Indonesian politics. His great ideas and manoeuvre proposing “Natsir integral motion” made him a figure attracting researchers to fulfil their curiosity. Being one of them, the author conducted a study entitled “M. Natsir‟s Political Ethic (Etika Politik M. Natsir)” focusing on his thoughts towards political ethic, factors influencing his thoughts, his contributions, and its relevance to Indonesia as nation. The study employed intelectual historical approach or the thought history. Intelectual history is the study of past thoughts, the study of concepts, values, and inherent characters of the object of study. Object of study was then split into two: material and formal. The former covered M. Natsir‟s thoughts on political ethic, whereas the later embraced the history of thoughts or the history of intelectual. The aim of the study was to explore his ideas on political ethic, i.e. politics was not merely a process of achieving power but also an effort in applying moral or ethic. It also aimed to grab the supporting factors including the conditions of social, politics, culture, and emerging ideas at that time. Other goals were to acknowledge his contributions to the nation and their relevance to nationalism. The results showed that M. Natsir thought that political ethic was an ethical base of power taken from religious rightness, whereas socio-politic situation at the time underlay his thoughts. Rivalry between Islam and secular nationalistsoccurred from 1930 to 1940. His involvement in politics and fought and his ideas before independence era were his real contributions. In the era of Soekarno and Soeharto, he also involved actively. The relation his activities and contributions before and after independence make this study relevant to the recent condition in Indonesi

    GERAKAN DAKWAH MOHAMMAD NATSIR DALAM PEMBAHARUAN DAKWAH DI INDONESIA

    No full text
    ABSTRAK Mohammad Natsir dikenal sebagai seorang mujahid dakwah. sebab baginya dakwah dalam artian amar ma’ruf nahi mungkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan hidup secara individu dan masyarakat. Melalui jalur dakwah yang begitu luas cakupannya Mohammad Natsir telah menunjukkan dedikasinya sebagai khairu al Ummah, sebuah sifat yang ia sendiri serukan kepada umat muslimin di negeri ini untuk merintisnya. Mendalami perjuangan Mohammad Natsir satu demi satu terasa sangat penting sebagai bahan untuk memetakan dasar-dasar pemikirannya di setiap karya besar yang dihasilkannya. Jelas sekali bahwa Mohammad Natsir memahami perjuangan demi perjuangan berdasarkan kepada sebuah nilai yang ia yakini kebenarannya. Penulis menggunakan pemikiran dakwah Mohammad Natsir serta karyanya yang berjudul Fiqhud Dakwah. Mengingat pada zamannya ia adalah tokoh yang sangat dikenal dengan politik dan dakwahnya yang banyak menyumbangkan pemikiran dan karya-karya hebat. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui gerakan dakwah yang dilakukan oleh Mohammad Natsir dalam pembaharuan dakwah di Indonesia. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu observasi yang menitikberatkan pembahasannya pada referensi- referensi baik berupa buku, jurnal maupun terbitan lainnya. Berdasarkan hasil analisis buku "Fiqhud Dakwah" dengan pendekatan teori Ferdinand de Saussure, dapat disimpulkan bahwa Mohammad Natsir memberikan kontribusi signifikan dalam gerakan dan pembaharuan dakwah Islam yang relevan hingga masa kini. Mohammad Natsir menekankan pentingnya pemahaman kontekstual dalam dakwah, yaitu memperhatikan kondisi sosial, politik, dan budaya masyarakat yang menjadi sasaran. Pendekatan ini sejalan dengan tren dakwah kontemporer yang semakin menekankan pentingnya memahami dan beradaptasi dengan kondisi lokal dan global. Kata Kunci : Fiqhud Dakwah, Gerakan Dakwah, Mohammad Natsir. ABSTRACT Mohammad Natsir is known as a warrior of da'wah. because for him, da'wah in the sense of enjoining good and forbidding wrong is an absolute requirement for the perfection of life both individually and collectively. Through the extensive path of da'wah, Mohammad Natsir has shown his dedication as khairu al-Ummah, a trait that he himself called upon the Muslim community in this country to pioneer. Delving into Mohammad Natsir's struggles one by one feels very important as material to map the foundations of his thoughts in each major work he produced. It is clear that Mohammad Natsir understood each struggle based on a value he believed to be true. The author uses Mohammad Natsir's da'wah thoughts and his work titled Fiqhud Dakwah. Considering that in his time he was a well-known figure in politics and da'wah, contributing many great thoughts and works. This research aims to understand the da'wah movement carried out by Mohammad Natsir in the renewal of da'wah in Indonesia. This research includes library research, which is an observation that emphasizes the discussion on references in the form of books, journals, and other publications. Based on the analysis of the book "Fiqhud Dakwah" using Ferdinand de Saussure's theory, it can be concluded that Mohammad Natsir made significant contributions to the movement and renewal of Islamic preaching that remain relevant to this day. Mohammad Natsir emphasized the importance of contextual understanding in da'wah, which involves paying attention to the social, political, and cultural conditions of the target society. This approach is in line with contemporary da'wah trends that increasingly emphasize the importance of understanding and adapting to local and global conditions. Keywords: Fiqhud Dakwah, Dakwah Movement, Mohammad Natsir

    Tradisi Menulis Ulama Indonesia Abad 19-21: Buya Hamka dan Muh Natsir

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi menulis ulama Indonesia pada abad ke-19 hingga abad ke-21 dengan menyoroti akar doktrinal aktivitas kepenulisan dalam Islam, dinamika pasang surut tradisi literasi ulama, serta faktor-faktor yang mendukung berkembangnya khazanah intelektual di Nusantara. Kajian ini menggunakan metode penelitian studi pustaka dan analisis deskriptif untuk memetakan perkembangan pemikiran, corak tulisan, serta kontribusi intelektual para ulama. Penelitian ini juga berfokus pada dua tokoh penting Muhammadiyah dan bangsa, yakni Buya Hamka dan Mohammad Natsir, yang dikenal memiliki produktivitas tinggi dalam bidang agama, sastra, dan politik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun keduanya hidup dalam situasi sosial-politik yang penuh tantangan, terutama pada masa perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara Indonesia, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkarya. Sebaliknya, keterbatasan justru memperkuat komitmen mereka dalam menghasilkan karya tulis yang bermutu dan berpengaruh luas. Karya-karya mereka tidak hanya mencerminkan kedalaman intelektual, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan peradaban bangsa dan pendidikan umat. Hingga kini, tulisan-tulisan Hamka dan Natsir tetap relevan dan menjadi rujukan penting dalam studi keislaman, kebudayaan, dan politik Indonesia. Kata Kunci: Tradisi; Menulis; Hamka; Natsi

    MOHAMMAD NATSIR: DARI PEMIKIRAN POLITIK KE PEMIKIRAN SOSIAL

    No full text
    Terdapat banyak tokoh Islam yang berpengaruh di besar dalam perkembangan sosial dan politik di Indonesia, salah satu di antaranya adalah Mohammad Natsir. Melalui sudut pandangan sosiologi pengetahuan, penelitian ini mengkaji secara sosiologis tentang proses transformasi pemikiran Mohammad Natsir dari pemikiran politik ke pemikiran sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat konteks sosiologis dari pemikiran Mohammad Natsir. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk melihat relevansi pemikiran Mohammad Natsir dalam konteks perkembangan sosial dan politik di Indonesia saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan data-data primer langsung melalui buku-buku yang langsung ditulis oleh Mohammad Natsir. Teknik olah data yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini ialah dengan menggunakan analisa deskriptif melalui pendekatan isi (content analysis). Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan adanya keterkaitan antara eksistensi gagasan politik dan sosial Mohammad Natsir, pengaruh pembentukan pemikirannya, dan konteks sosialnya sebagai aktor dalam merespon setiap peristiwa sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bermacam relasi sosial yang ia bangun, serta berbagai peristiwa sejarah yang terjadi, ternyata mampu melahirkan gagasan yang beragam pula sesuai dengan konteks sosialnya. Penelitian ini juga menunjukkan adanya relevansi dari pemikiran Mohammad Natsir dengan perkembangan sosial dan politik di Indonesia saat ini, sehingga diharapkan peneltian ini berguna secara akademis maupun secara praksis. There are many influential Islamic figures at large in social and political development in Indonesia, one of whom is Mohammad Natsir. From the standpoint of the sociology of knowledge, this study examines sociologically the process of transforming Mohammad Natsir's thought from political thought to social thought. The purpose of this study is to look at the sociological context of the thoughts of Mohammad Natsir. In addition, this study also aims to look at the relevance of Mohammad Natsir's thoughts in the context of current social and political developments in Indonesia. The method used in this study is a qualitative research method with a library research approach. The data collection technique used by the author is to use primary data directly through books directly written by Mohammad Natsir. The data processing technique used by the author in this study is to use descriptive analysis through a content analysis approach. Based on the results of the study, the authors found a link between the existence of Mohammad Natsir's political and social thoughts, the influence of his thought formation, and his social context as actor in responding to every historical event. This shows that the more various social relations that he built, as well as various historical events that occurred, were able to produce thoughts that are also diverse in accordance with their social context. This research also shows the relevance of Mohammad Natsir's thought with social and political developments in Indonesia today, so it is hoped that this research will be useful academically and practically

    Pemikiran Mohammad Natsir Dalam Menangkal Sekularisasi Politik Di Indonesia

    No full text
    Perdebatan tentang dasar negara Indonesia pra dan pasca-kemerdekaan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas karena menjadi sesuatu yang tidak terlupakan, baik oleh kaum nasionalis sekuler yang diwakili oleh Ir.Soekarno, maupun nasionalis Islam yang diwakili oleh Mohammad Natsir. Dalam perdebatan ini, terlihat jelas pertentangan dua idiologi besar pemahaman tentang dasar negara yang berlanjut hingga Sidang Majelis Konstituante yang berlangsung alot pada tahun 1957-1959. Tujuan penulisan jurnal ini adalah untuk memenuhi persyaratan pendaftaran sidang munaqosah Skripsi di Fakultas Agama Islam prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIKA Bogor, kemudian juga dimaksudkan untuk meneliti lebih dalam lagi tentang pemikiran dan konsep kenegaraan yang dicanangkan dan diperjuangkan secara Konstitusional oleh Mohammad Natsir untuk menyatukan konsep negara yang sesuai dengan ajaran Islam dan terhindar dari sekularisasi politik, yang nantinya akan berdampak pada kehidupan Umat Islam di Indonesia. Kemudian untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sekularisasi politik, proses sekularisasi politik yang terjadi di Indonesia, serta apa pemikiran Muhammad Natsir dalam membendung sekularisasi politik di Indonesia. Dalam jurnal ini dijelaskan bagaimana konsep pemikiran kenegaraan Soekarno yang dibantah oleh natsir yang tidak ingin Indonesia menjadi negara sekuler, yang memisahkan urusan negara dan pemerintahan dengan agama. Konsep negara Demokrasi Islam yang ditawarkan Natsir merupakan konsep matang yang dirancang agar syariat Isla bisa diterapkan di Indonesia dengan baik, namun tetap mengedepankan kebhinnekaan yang melindungi dan menjamin kehidupan dan keadilan bagi pengikut agama dan ras lainnya. Dalam penulisan jurnal  ini, penulis menggunakan metode kualitatif library research, yaitu penulis menguraikan secara teratur seluruh konsepsi tokoh, yakni dengan langkah mengumpulkan data-data dari beberapa sumber primer berupa buku induk dan sumber sekunder berupa buku-buku pendukung dan karya ilmiah lainnya.Abstract The debate about the basis of the pre- and post-independence Indonesian state has always been an interesting matter to discuss because it has become something that is not forgotten, both by secular nationalists represented by Ir. Soekarno, and Islamic nationalists represented by Mohammad Natsir. In this debate, it is clear that the two major ideological contradictions in understanding the basics of the state continued until the difficult Constituent Assembly Session in 1957-1959. This journal explains how Soekarno's concept of state thought was refuted by Natsir who did not want Indonesia to become a secular state, which separated state and government affairs from religion. The concept of an Islamic democratic state offered by Natsir is a mature concept designed so that Islamic law can be implemented in Indonesia properly, but still prioritizes diversity that protects and guarantees life and justice for followers of other religions and races. In writing this journal, the author uses a qualitative library research method, where the author describes regularly all the conceptions of the characters, namely by collecting data from several primary sources in the form of main books and secondary sources in the form of supporting books and other scientific works

    PERAN POLITIK MOHAMMAD NATSIR PADA MASA REPUBLIK INDONESIA SERIKAT (1949-1950)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran politik Mohammad Natsir pada masa Republik Indonesia Serikat tahun 1949-1950. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Belanda dengan beragam strateginya ingin menguasai Indonesia kembali. Salah satu strategi yang digunakan Belanda ialah pembentukan negara-negara bagian yang dimulai melalui Perjanjian Malino pada tahun 1946. Pembentukan negara-negara bagian ini mengalami beragam kemajuan hingga mencapai puncaknya pada saat Konferensi Meja Bundar yang berhasil menjadikan Indonesia negara federal dengan nama Republik Indonesia Serikat. Setelah terbentuknya Republik Indonesia Serikat, terjadi pergolakan di daerah-daerah menuntut kembalinya bentuk negara kesatuan. Mohammad Natsir dengan kejeliannya membaca situasi dan kondisi saat itu kemudian mengajukan suatu mosi yang akhirnya mosi ini dijadikan landasan oleh pemerintah Republik Indonesia Serikat untuk mengatasi problematika yang terjadi saat itu. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan pendekatan deskriptif naratif. Pada penelitian ini penulis juga menjelaskan bagaimana strategi Mohammad Natsir agar mosi yang diajukannya dapat diterima setiap fraksi dalam parlemen RIS. Untuk meyakinkan setiap fraksi dalam parlemen RIS tersebut, Mohammad Natsir melakukan kunjungan ke setiap negara-negara bagian, selain itu Natsir juga melakukan pertemuan dengan setiap pemimpin fraksi yang ada di parlemen RIS, Natsir juga menjelaskan permasalahan yang utama bukanlah perihal unitarisme dan federalisme, sehingga perlu melepaskan pembicaraan pada hal-hal yang berkaitan dengannya, Natsir juga menekankan pemerintah haruslah mengambil penyelesaian secara integral untuk mengatasi permasalahan saat itu. Penelitian ini juga menjelaskan bagaimana sikap dari setiap fraksi yang ada di parlemen RIS terhadap pembentukan negara kesatuan, dari jawaban yang diberikan oleh fraksi-fraksi tersebut, semua fraksi sepakat tentang pembentukan negara kesatuan yang merupakan hasil dari Mosi Integral Natsir. Selain itu, semua fraksi menganggap bahwa pembentukan negara kesatuan merupakan kehendak seluruh rakyat dan harus dilaksanakan segera. Kata Kunci: Mohammad Natsir, Mosi Integral, Republik Indonesia Serikat. ***** This research aims to explain the political role of Mohammad Natsir during the United Republic of Indonesia in 1949-1950. When Indonesia proclaimed its independence on 17 August 1945, the Dutch with various strategies wanted to regain control of Indonesia. One of the strategies used by the Dutch was the formation of states which began with the Malino Agreement in 1946. The formation of these states experienced various progresses until it reached its peak at the Round Table Conference which succeeded in making Indonesia a federal state under the name of the Republic of the United States of Indonesia. After the formation of the Republic of Indonesia, there were upheavals in the regions demanding a return to the unitary state. Mohammad Natsir with his foresight in reading the situation and conditions at that time then proposed a motion which was finally used as a basis by the government of the Republic of Indonesia to overcome the problems that occurred at that time. This research uses a historical method with a descriptive narrative approach. In this study, the author also explains how Mohammad Natsir's strategy was to make his motion acceptable to every faction in the RIS parliament. To convince each faction in the RIS parliament, Mohammad Natsir made visits to each state, besides that Natsir also held meetings with each faction leader in the RIS parliament, Natsir also explained that the main problem was not about unitarism and federalism, so it was necessary to let go of discussions on matters related to it, Natsir also emphasised that the government must take an integral solution to overcome the problems at that time. This research also explains the attitude of each faction in the RIS parliament towards the formation of a unitary state, from the answers given by the factions, all factions agreed on the formation of a unitary state which was the result of Natsir's Integral Motion. In addition, all factions considered that the formation of a unitary state was the will of the entire people and must be implemented immediately. Keywords: Mohammad Natsir, Integral Motion, United Republic of Indonesi

    Prototipe Kesombongan Firaun dalam Kehidupan (Suatu Kajian Amsal)

    No full text
    Firaun merupakan sebuah keniscayaan untuk diungkap karena bukan hanya pribadinya yang dikepung siksa yang pedih, tetapi juga tim kerjanya secara bersamasama. Dia sudah berdusta sudah bingung (al-mukazzibin al-dallin juga al-dallin al-mukazzibin), kebingungan dan kedustaannya ditularkan pula kepada koleganya. Untuk mendapatkan penjelasan lebih detail silakan baca uraian peneliti dalam tulisan ini. Pusat penelitian dan penerbitan mengafreasi penelitian dimaksud

    Pengaruh pemikiran Hasan al-Banna dan Mohammad Natsir terhadap politik Islam di Indonesia: kajian perbandingan

    No full text
    This study was about The Influence of thought of Hasan Al-Banna and Mohammad Natsir towards Islamic politic in Indonesia, the research methodology was qualitative research with three approaches; political approach, historical approach and the Islamic worldview approach. The aim of this study was to study and research the influence of thought of Hasan Al-Banna (1906-1949) and Mohammad Natsir (1908-1993) towards Islamic politics in Indonesia, afterwards conducted the analytical comparison as method of investigation. The author chose the two leading figures as the object of the study simply because they were among the foremost leaders in the twenty centuries. Hasan Al-Banna with his organization of Ikhwanul Muslimin often carried out the change in Egypt especially and giving the influence in many other Muslim countries including Indonesia. Likewise Mohammad Natsir with his political party well known as Partai Masyumi and the Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), gave newly revival of the Islamic development & teaching in Indonesia. In comparing of the two leading figures, the author considered had several equalities that covered of vision and the mission about Islamic politics, the concept of democracy in Islam and concerning political education. Generally both of them had the similarity of the concept of Islamic politics, that nation must be uphold on the basic of Islamic principle. There was no way for both that there is separation between the religion and politics, between Islam and the government's system. Further the author revealed their differences which were due to technical aspects or different political situation on the concept of khilafah, the political experience, the implementation of Islamic legal systems, political education and the Islamic system towards political party. At the end of this study, the author made the conclusion and some input to be taken into consideration to the academician, the Islamic leader, the scholars and all Moslems

    Pengaruh Penggunaan Multimedia terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Kelas V di MIAl-Falah DDI Angkona Kabupaten Luwu Timur

    No full text
    Hasil penelitian menunjukkan prestasi yang dilihat dari ketuntasan belajar dan motivasi peserta didik meningkat dibandingkan dari studi awal dengan peserta didik yang pasif dan pembelajaran guru yang kurang variatif dalam penyampaian materi. Ketuntasan belajar yang didapat dari observasi awal/pra siklus adalah 24 persen yang berarti belum tuntas secara klasikal. Pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 36 persen tetapi belum tuntas secara klasikal. Pada siklus II juga mengalami peningkatan menjadi 48 persen tetapi masih belum tuntas secara klasikal. Pada siklus III mengalami peningkatan menjadi 88 persen berarti telah tuntas secara klasikal. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran menggunakan multimedia pembelajaran dengan cara yang benar dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik yang lebih besar dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan metode konvensional. Sehingga metode pembelajaran multimedia komputer dengan mengunakan power point, dapat disarankan untuk digunakan sebagai sarana penunjang keberhasilan proses pembelajaran
    corecore