1,721,197 research outputs found

    Pemerintahan Muawiyah dan Suksesi

    Get PDF
    Abdullah Mubarak. 2012. Pemerintahan Muawiyah dan Suksesi. Skripsi, Jurusan Siyasah Jinayah, Fakultas Syari'ah. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Hanafiah, M. Hum dan Pembimbing (II). Drs. H. Syahrudi Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya sejarah bahwa berkuasanya Muawiyah dilatarbelakangi oleh adanya kegiatan suksesi kepemimpinan dari tangan kekuasaan Ali dan keturunannya. Kemudian pada masa pemerintahah Muawiyah juga nampak adanya dinamika perkembangan Islam yang cukup signifikan. Masalah yang diteliti adalah pemerintahan Mu’awiyah, suksesi oleh Mu’awiyah, dan faktor yang menyebabkan terjadinya suksesi. Penelitian yang penulis laksanakan adalah penelitian kepustakaan (library researeh) yaitu; dengan penggalian data penulis mempelajari dan menelaah sejumlah literature yang membahas mengenai permaslahan yang bekaitan dengan ini. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik studi leteratur. Teknik pengolahan data adalah editing, yaitu upaya pengarahan data yang dilakukan untuk menentukan apakah data yang diperoleh tersebut sesuai dengan pembahasan yang menjadi permasalahan dalam penelitian atau tidak. Kemudian diuraikan secara deskriptif dan dianalisis secara kualitatif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada masa pemerintahannya ada prestasi yang ditorehkannya, memindahkan ibu kota dari Madinah al Munawarah ke kota Damaskus dalam wilayah Suriah. Melanjutkan perluasan wilayah kekuasaan Islam yang terhenti pada masa Khalifah Ustman dan Ali. Mengatur tentara dengan cara baru dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh tentara di Bizantium, membangun administrasi pemerintahan dan juga menetapkan aturan kiriman pos. Ia memiliki sikap dan prestasi politik yang menakjubkan. Muawiyah adalah seorang pribadi yang paripurna. Dia juga merupakan pemimpin besar yang berbakat. suksesi yang dilakukan oleh Muawiyah merupakan suatu gambaran bahwa dalam politik kekuasaan harus ada strategi sehingga dapat melakukan suksesi, strategi itu adalah pembentukan kekuatan militer di Syiria, karena ia menjabat sebagai Gubernur selama 20 tahun di Syiria. Sehingga dia mudah mengkoordinir pasukan untuk memberontak penguasa pada saat itu. Dengan politisasi tragedi pembunuhan Usman bin Affan dengan menggunakan startegi muslihat dalam arbitrase atau tahkim yang luar biasa, sehingga dapat menipu lawan, padahal dalam keadaan tertekan. Faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya suksesi oleh Muawiyah adalah adanya ketidak puasan oleh Muawiyah dan kelompoknya terhadap tragedi pembunuhan Usman bin Affan

    Kepemimpinan Politik Yazid bin Muawiyah 680-683 M

    No full text
    Penelitian ini mengkaji kepemimpinan politik Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah kedua dalam Dinasti Umayyah yang menghadapi berbagai tantangan politik dan sosial. Masalah utama dalam penelitian ini adalah konflik internal yang terjadi selama pemerintahannya serta dampaknya terhadap kesatuan umat Islam dan stabilitas kekhalifahan. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis gaya kepemimpinan Yazid bin Muawiyah, kebijakan-kebijakan yang diterapkan, serta faktor-faktor yang menyebabkan konflik politik selama masa pemerintahannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis dengan analisis dokumen primer dan sekunder terkait periode kekuasaan Yazid bin Muawiyah (680-683 M). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Yazid bin Muawiyah diwarnai oleh kontroversi politik yang signifikan, terutama terkait peristiwa Karbala dan pemberontakan di berbagai wilayah kekhalifahan. Penelitian ini mengungkap bahwa meskipun Yazid memiliki visi untuk mempertahankan kekuasaan Umayyah, pendekatan politik yang ditempuhnya justru memperdalam perpecahan dalam komunitas Islam dan memicu gerakan perlawanan yang berkelanjutan. Penelitian ink memberikan kontribusi penting dalam pemahaman dinamika politik Islam pada periode transisi setelah masa Khulafaur Rasyidin

    gaya kepemimpinan khalifah muawiyah bin abu sufyan dan relevansinya dengan materi ski mts kelas vii

    No full text
    ABSTRAK Sholikhah, Zhiyana Walidatus. 2024. Gaya Kepemimpinan Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan Dan Relevansinya Dengan Materi SKI MTs Kelas VII. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing: Yusmicha Ulya Afif, M.Pd.I. Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan, Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan, Materi SKI MTs Kelas VII Gaya kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mengarahkan, mempengaruhi, mendorong dan mengendalikan orang lain atau bawahan untuk bisa melakukan sesuatu pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam perjalanan sejarah Islam salah sosok pemimpin yang dapat di teladani kepemimpinan adalah Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan. Muawiyah berusaha selama memegang kekhalifahan untuk menjalankan roda pemerintahannya antara posisi sentralisasi dengan desentralisasi. Muawiyah memilih Damaskus sebagai ibu kota negara. Kota ini menjadi pusat pemerintahan utama yang mengeluarkan instruksi politik, ekonomi, dan administrasi bagi negara. Sehingga, Muawiyah telah berhasil memegang jabatan gubernur Damaskus selama 20 tahun dan khalifah dalam dinastinya selama 20 tahun. Gaya kepemimpinan yang patut untuk dijadikan acuan dalam memimpin yaitu, mampu memberikan perubahan yang signifikan atas tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Penulis dalam penelitian ini, merelevansikan gaya kepemimpinan Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan dengan Materi SKI MTs Kelas VII. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinan Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan, (2) untuk mendeskripsikan relevansi gaya kepemimpinan Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan dengan materi SKI MTs Kelas VII. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelitian kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Penelitian ini di analisis menggunakan content analysis (analisis isi). Dari hasil penelitian ditemukan, bahwa gaya kepemimpinan Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan menerapkan gaya kepemimpinan yang strategis yaitu gaya kepemimpinan otokratis, gaya kepemimpinan demokratis dan gaya kepemimpinan kebebasan yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. Hal ini dibuktikan ketika ia mampu memimpin selama 20 tahun di Damaskus. Gaya kepemimpinan Khalifah Muawiyah Bin Abu Sufyan yang relevan dengan materi SKI MTs Kelas VII adalah gaya kepemimpinan otokratis dan gaya kepemimpinan kebebasan

    KEPEMIMPINAN POLITIK MUAWIYAH BIN ABU SUFYAN PADA DINASTI UMAYYAH DI DAMASKUS (661-680 M)

    No full text
    Sejak zaman Khulafaur-Rasyidin, Muawiyah bin Abu Sufyan telah memiliki peran yang cukup strategis. Setelah Rasulullah wafat, kekhalifahan diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib, namun Muawiyah menolak memba‟at Ali. Sampai terjadilah perang Siffin yang berujung tahkim yang membuat banyak pihak kecewa, hingga Ali bin Abi Thalib mati dibunuh. Sehingga jabatan khalifah diberikan kepada putranya yaitu Hasan bin Ali. Karena Hasan bin Ali ingin memadamkan gejolak dan krisis politik, maka jabatan khalifah diserahkan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan. Penelitian ini merupakan penelitian kajian pustaka (Library Research). Metode sejarah yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 4 tahapan yaitu, heuristik (pengumpulan data), verifikasi (kritik sumber), intreptretasi (penafsiran), dan historiografi. Teori yang digunakan adalah teori sejarah, serta menggunakan pendekatan sosio-politik. Hasil penelitian Muawiyah bin Abu Sufyan menjadikan Damaskus sebagai ibukota Umayyah, meletakkan dasar-dasar aturan dengan pembentukan protokoler yang mengawal dan menyeleksi tamu yang akan berurusan dengan khalifah, mengadakan dinas pos, membangun anjungan dalam masjid untuk menjaga keamanan diirnya dari serangan musuh ketika sembahyang. Muawiyah berhasil dalam membangun kekuatan armada laut Islam dan menjabat Amir al-Bahr pada masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan. Sistem pemerintahan pada masa Muawiyah menjadi monarchiheridetis (kerjaan turun-temurun). Muawiyah bin Abu Sufyan menerapkan beberapa prinsip kebijakan politik dalam negeri demi memperkokoh sendi-sendi kemanan dan stabilitas negara. Prinsip pertama: memperlakukan sebaik-baiknya tokoh-tokoh besar, Kedua: menugasi banyak orang yang paling cerdas, kompeten, dan paling berpengalaman dalam mengurus masyarakat. Ketiga: mengawasi langsung sendiri segala urusan negara. Dalam kebijakan politik luar negeri, Muawiyah kembali melakukan penaklukan yang sebelumnya sempat terhenti pada masa Usman bin Affan. Muawiyah bekerja sama dengan Mesir dan Syam mempersiapkan angkatan armada yang besar untuk menaklukan Byzantium. Banyaknya faktor yang mendukung kekokohan Konstatinopel membuat pasukan armada laut Islam mundur yang berakhir mengadakan perundingan. Penaklukan ke Afrika Utara, Muawiyah mengandalkan Uqban bin Nafi‟. Uqbah membangun Qairuwan, kota yang menjadi pangkalan militer bagi kaum Muslimin. Pembangunan Qairuwan merupakan bukti bahwa penaklukan demi penaklukan terus dilakukan secara berkesinambungan. Kata kunci: Muwiyah bin Abu Sufyan, Kepemimpinan, Dinasti Umayya

    Kepemimpinan Muawiyah Bin Abu Sufyan pada masa Dinasti Umayyah

    No full text
    Penelitian ini menemukan bahwa: 1) Proses pengangkatan Muawiyah bin Abu Sufyan terjadi pada saat perang Siffin yang dilatar belakangi tuntutan Muawiyah kepada Ali bin Abu Thalib atas kematian Utsman bin Affan sehingga di akhiri dengan peristiwa Tahkim. Dari peristiwa Tahkim itu menguntungkan Muawiyah, karena menjadi jalan bagi dia di angkat menjadi khalifah. 2) Dalam kepemimpinan Muawiyah bin Abu Sufyan terdapat dua hal yang paling urgen, yaitu: pertama, perluasan wilayah Islam yang mencakup wilayah utara, barat dan selatan dan yang kedua, membangun tatanan militer untuk menjaga keamanan negara. 3) Ada beberapahal yang terkait dengan kebijakan Muawiyah bin Abu Sufyan selama menjadi khalifah, yang pertama dalam bidang politik yaitu merubah sistem demokrasi menjadi Sistem monarki serta mengangkat anaknya menjadi putra mahkota. Kedua dalam bidang sosial yaitu membangun dinas pos, membangun peradaban dalam hal keilmuan sehingga terbentuk ilmu sejarah, ilmu bahasa dan ilmu-ilmu praktis serta mengangkat hakim sebagai pembantu negara untuk mengatasi persoalan masyarakat dan memberantas korupsi. Ketiga dalam bidang ekonomi yaitu membangun tatanan moneter mengantisipas? keuangan negara.xi, 74 hlm.: 21 cm

    Peralihan kekuasaan islam secara damai dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abi Sufyan tahun 661 M/41 H

    Get PDF
    Adapun skripsi ini yang berjudul “Peralihan Kekuasaan Islam Secara Damai Dari Hasan Bin Ali Kepada Muawiyah Bin Abi Sufyan Tahun 661 M/41 H” mengkaji tentang penyebab, proses, dan dampak yang ditimbulkan dari adanya peralihan kekuasaan islam dari Hasan kepada Muawiyah. Adapun fokus permasalahan dalam penelitian ini meliputi: (1) Bagaimana biografi Muawiyah bin Abi Sufyan dan biografi Hasan bin Ali?, (2) Bagaimana proses peralihan kekuasaan Islam dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abi Sufyan?, (3) Apa konsekuensi yang ditimbulkan dari adanya peralihan kekuasaan Islam dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abi Sufyan? Pada penelitian ini menggunakan pendekatan historis dan politik. Pendekatan historis digunakan untuk menjelaskan peristiwa masa lampau secara kronologis dan sistematis. sedangkan pendekatan politik digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi dengan analisa politik yang meliputi peralihan kekuasaan, jenis kepemimpinan, hirarki sosial, dan lain-lain. Selain itu pada penelitian ini juga menggunakan teori kekuasaan dari Max Weber. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian ini bahwa peristiwa peralihan kekuasaan Islam, melibatkan dua tokoh penting yakni Muawiyah dan Hasan. Kedua tokoh ini sama-sama pernah dekat dengan Nabi Muhammad. Adanya peralihan kekuasaan Islam dari Hasan kepada Muawiyah disebabkan oleh beberapa faktor. Selain itu terdapat persyaratan-persayaratan yang harus dipenuhi dalam proses peralihan kekuasaan islam dari Hasan kepada Muawiyah. Adanya proses peralihan kekuasaan islam dari Hasan kepada Muawiyah juga memberikan konsekuensi terhadap kehidupan umat islam baik dalam bidang politik atau bidang keagamaan (teologis)

    KONTROVERSI KHALIFAH YAZID BIN MUAWIYAH (60-63 H./680-683 M.) PADA HISTORIOGRAFI ISLAM KLASIK

    Get PDF
    Skripsi yang berjudul “Kontroversi Khalifah Yazid Bin Muawiyah (60-63 H./ 680-683 M.) Pada Historiografi Islam Klasik” ini membahas kontroversi tentang sosok Khalifah Yazid bin Muawiyah. Kajian skripsi ini meliputi Yazid bin Muawiyah dalam Daulah Umayyah, citra positif dan citra negatif Yazid bin Muawiyah dalam historiografi Islam Klasik, Serta faktor yang menyebabkan terjadinya kontroversi mengenai Khalifah Yazid bin Muawiyah? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menekankan pada kajian kepustakaan (library research). Adapun pendekatan yang digunakan pada kajian ini adalah pendekatan biografi-politik. Penelitian ini menggunakan teori sejarah kritis Ibnu Khaldun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode penelitian sejarah yang meliputi: 1. heuristik; 2. kritik atau verifikasi; 3. interpretasi atau penafsiran; dan 4. historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa fakta tentang adanya perspektif positif maupun negatif tentang Yazid bin Muawiyah. Citra positif Yazid bin Muawiyah ada pada kitab Tārīkh aṭ-Ṭabarī karya ath-Thabari dan pada kitab Al-Bad’u wa Tārīkh karya al-Maqdisi. Pada kitab Tārīkh ar-Rusul wa al-Muluk berisi tentang tidak memihaknya ath-Thabari dan tidak menyalahkan perilaku Yazid bin Muawiyah dan keikut sertaan Yazid dalam peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali, sedangkan dari Al-Bad’u wa Tārīkh berisi tentang perspektif bahwa Yazid tidak ikut campur dalam pembunuhan Husein. Citra negatif Yazid bin Muawiyah ada pada kitab Murūj Aż-Żahab karya al-Mas’udi danTārīkh Al-Ya’qubī karya al-Ya’qubi. Pada kitab Murūj Aż-Żahab wa Ma’din al-Jauhar menyatakan bahwa Yazid bin Muawiyah dinyatakan sebagai orang fasik atau orang yang berdosa besar dan perbuatannya lebih keji daripada Firaun, sedangkan Tārīkh Al-Ya’qubī berisi tentang perspektif bahwa Yazid mengirimkan surat kepada Husein tentang pembaiatan kepadanya dan ancaman pembunuhan yang diberikan oleh Yazid kepada Husein jika tidak ikut membaiatnya. Munculnya kontroversi penulisan tersebut karena faktor politik dan faktor ideologi. Yang disebut sebagai faktor politik di sini adalah perseteruan antara Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah. Faktor ideologinya adalah ideologi Sunni dan Syi’ah. Penyebab perseteruan antara Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah ini menyebabkan penulisan sejarah terprovokasi, karena penulisan sejarah Islam dimulai pada masa Daulah Abbasiyah. Adapun peristiwa terbunuhnya pemimpin Syi’ah yaitu Husain bin Ali bin Abi Thalib menyebabkan golongan Syi’ah sangat membenci Yazid bin Muawiyah

    Gerakan Penolakan Husein Bin Ali Terhadap Pemerintahan Yazid Bin Muawiyah

    Get PDF
    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Husein bin Ali merupakan putra kedua Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah saw. Ia lahir dan dibesarkan ditengah keluarga yang mulia dandilingkungan masyarakat yang didik dan dibimbing langsung oleh Rasulullah saw sehingga Husein memiliki spiritualitas, intelektualitas serta akhlak yang mulia. Sedangkan Yazid bin Muawiyah merupakan putra Muawiyah bin Abu Sufyan dan Maysun binti Bahdal al-Kalbiyah. Kehidupan Yazid di Istana yang penuh dengan kemewahan menjadikannya larut dalam kesenangan duniawi sehingga jauh dari tuntunan agama. (2) Kronologi konflik antara Husein dan Yazid diawali dengan pengangkatan Yazid sebagai Khalifah, yang ditolak oleh Husein. Penolakan Husein didasari atas pengangkatan Yazid tidak memenuhi syarat musyawarah dan perilaku Yazid yang dinilai sering melanggar norma agama sehingga Ia tidak layak menjadi pemimpin umat Islam. Oleh karena itu, Husein membangun gerakannya sebagai upaya untuk menyelamatkan agama Islam dari kezaliman kekuasaan rezim Bani Umayyah (Yazid), yang dikenal sebagai gerakan amar ma‟ruf nahi mungkar. Meski pun harus berakhir dengan kematiannya di Karbala(3) Dampak peristiwa ituialah munculnya pemberontakan oleh sebagian besar wilayah Islam seperti pemberontakan penduduk Mekah dan Madinah yang berakibat pada peristiwa al-Harrah dan pengepungan kota Mekah. Lalu di Kufah,pemberontakan dilancarkan oleh kelompok Syiah. Dampak lainnya ialah makin membesarnya perseteruan antara kelompok Syiah Ali dengan kelompok Muawiyah (sunni). Yang sepajang sejarahnya, pertentangan kedua kelompok ini semakin meluas hingga memasuki ranah teologi hingga saat ini

    Dinamika Kekhalifahan Islam Bani Umayyah di Masa Pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M): Pengaruh Politik, Sosial dan Budaya

    No full text
    Artikel ini membahas tentang dinamika Kekhalifahan Bani Umayyah di bawah pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), dengan fokus pada pengaruh politik, sosial, dan budaya. Dalam periode ini, Muawiyah memainkan peran penting dalam membentuk fondasi kekhalifahan Islam setelah masa Khulafaur Rasyidin, dengan berbagai strategi politik yang mengarah pada pembentukan monarki Islam pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana kekuasaan Muawiyah berpengaruh terhadap perkembangan politik, struktur sosial, serta budaya di wilayah kekuasaan Islam yang semakin luas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis, dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui studi pustaka dari berbagai sumber primer dan sekunder, seperti literatur klasik dan modern yang berkaitan dengan sejarah Islam, khususnya masa Kekhalifahan Bani Umayyah. Analisis dilakukan dengan menelaah berbagai kebijakan politik dan sosial yang diambil Muawiyah, serta dampak-dampaknya terhadap masyarakat Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintahan Muawiyah berhasil menciptakan stabilitas politik yang relatif kuat dengan memperkuat birokrasi pemerintahan dan memperkenalkan sistem pewarisan kekuasaan. Dalam aspek sosial dan budaya, terjadi proses asimilasi antara tradisi Arab dan lokal di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Ini menghasilkan perubahan signifikan dalam struktur sosial dan perkembangan kebudayaan, termasuk penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi, serta penyebaran tradisi dan nilai-nilai Islam. Kekhalifahan Bani Umayyah di bawah Muawiyah menjadi titik penting dalam sejarah politik Islam, yang meletakkan dasar bagi kemajuan di era berikutnya

    Pengkhianatan dalam perdamaian : studi kritis atas perjanjian Imam Hasan bin Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan

    No full text
    buku ini merupakan studi kritis atas perjanjian damai yang dilangsungkan antara Imam Hasan bin Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyanxxxvi, 487 hlm.; 24 c
    corecore