1,721,582 research outputs found

    Trealose e trealase em tenebrio molitor L Trehalose and Trehalase in Tenebrio molitor L

    No full text
    Foi estudada a concentração em trealose e a atividade em trealase do Tenebrio molitor L. durante as tres fases da metamorfose (larva, ninfa, imago). Verificou-se que na larva e no adulto os valores são mais elevados conforme a curva da fig. 3. A trealose foi expressa em mg/g de Tenebrio e a trealose por µg de glicose/mg proteina.Trehalose and trehalase were determined in the Tenebrio molitor L., using larva, pupa and imago. A total number of 895 animals was analyzed. A growth curve up to the end of the larval stage was established (Fig. 1) and compared with the normal one obtained by Fraenkel. It was shown that trehalose and trehalase are more concentrated in the larva and imago presenting a curve with two arms as depicted in the Fig. 3. Trehalase was expressed in mg/g of Tenebrio and trehalase in µg of glucose /mg proteín

    Une monstruosité rare chez un Tenebrio molitor L. [Col. Tenebrionidae]

    No full text
    Balazuc Jean. Une monstruosité rare chez un Tenebrio molitor L. [Col. Tenebrionidae]. In: Bulletin de la Société entomologique de France, volume 48 (1),1943. pp. 9-11

    Influence of Tenebrio molitor L Supplementation on Egg Quality and Omega-3 Content

    Full text link
    Tenebrio molitor L is one of the alternative feed ingredients because it is rich in nutrients, namely protein, vitamins, minerals (calcium), energy, and fat. Tenebrio molitor L also contains 33.64±0.22% omega-3, so it is hoped that the eggs produced contain omega-3. In this study 300 Lohman Brown laying hens of 20-week-old were used. Completely randomized design (CRD) was applied in this study with 3 treatments and 10 replications, each replication contained 10 laying hens. Treatments were: P0= Feed containing 5% MBM, P1= Feed containing 2.5% MBM + 2.5% Tenebrio molitor L, and P2= Feed containing 5% Tenebrio molitor L. This research was conducted for 6 months. The variables observed were egg production, egg weight, egg shape index, shell weight, shell thickness, Haugh unit, yolk index, and omega-3. Treatment had no influence on egg physical quality but had a significant influence on egg weight. Treatment P0 prodeced the lowest egg weight that was 59.02±0.53 g. Treatment P2 had higher omega-3 contents than P0 and P1 that was 88±0.12 mg 100 g-1. It was concluded that Tenebrio molitor L could replace MBM up to 5% in laying hens feed, improve eggs quality, and omega-3 content in eggs

    Tingkat Degradasi dan Digesti Larva Tenebrio molitor L (Coleoptera: Tenebrionidae) terhadap Sampah Plastik Styrofoam dan Pemanfaatannya sebagai Buku Ilmiah Populer

    No full text
    Produk plastik yang sering digunakan oleh masyarakat yaitu styrofoam, yang salah satu fungsinya sebagai kemasan pelindung bahan elektronik. Styrofoam memiliki masalah setelah barang tersebut tidak digunakan lagi. Barang berbahan plastik tersebut tidak dapat membusuk, sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Limbah styrofoam tersebut selama ini hanya dibuang (landfill), dibakar atau di daur ulang (recycle), namun proses tersebut tidak menyelesaikan permasalahan limbah styrofoam. Sifat styrofoam yang tidak mudah diuraikan tersebut harus diberikan suatu upaya untuk mereduksi keberadaannya di lingkungan tanpa harus merusak lingkungan, maka perlu adanya solusi untuk mengurangi permasalahan limbah styrofoam dengan menguraikan styrofoam secara alami yang memanfaatkan aktivitas biodegradator sehingga keberadaannya dapat tereduksi di lingkungan atau disebut dengan biodegradasi. Biodegradator yang digunakan untuk menguraikan styrofoam yakni larva Tenebrio molitor L., namun belum ada yang meneliti lebih lanjut mengenai digesti dari larva Tenebrio molitor yang menunjukkan bagaimana larva tersebut dapat mendegradasi styrofoam melalui proses pencernaannya (digesti) sehingga terurai menjadi ukuran yang lebih kecil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kecepatan degradasi sampah plastik styrofoam oleh larva Tenebrio molitor L; untuk mengetahui kecepatan digesti sampah plastik styrofoam oleh larva Tenebrio molitor L; untuk mengetahui kelayakan Buku Ilmiah Populer pemanfaatan dari hasil penelitian tentang Tingkat Degradasi dan Digesti Larva Tenebrio molitor L. terhadap Sampah Plastik Styrofoam. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratoris. Penelitian dilakukan di laboratorium bioremediasi gedung CDAST lantai 3 dan laboratorium Zoologi Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Jember. Teknik pengambilan sampel menggunakan beberapa tahapan diantaranya yaitu tahap preparasi, perlakuan pakan, pembedahan sampel, dan karakterisasi, lalu dilanjutkan dengan uji validasi buku ilmiah populer dan diakhiri dengan tahap analisis data. Berdsarkan penelitian dapat ditemukan fragmen styrofoam dengan tiga macam kategori ukuran yaitu, besar (>2mm), sedang (1-2 mm), dan kecil (<1mm) dengan jumlah yang bervariasi di setiap organ pencernaan larva yang diamati (crop, ventrikulus, intestinum, dan rektum). Secara umum, ukuran fragmen yang ditemukan dari crop hingga rektum berangsur mengecil dan jumlahnya berangsur lebih sedikit. Dari hasil penelitian dan analisis data didapatkan kecepatan degradasi sampah plastik styrofoam oleh larva Tenebrio molitor L. sebesar 0,002 (±0,004714) gram/larva/hari, sedangkan untuk rerata degradasi styrofoam per gram biomassa larva sebesar 0,017857 gram/hari. Kecepatan digesti sampah plastik styrofoam oleh larva Tenebrio molitor L. sebesar 0,00255102 gram/hari/individu atau 2,5510 mg/hari/individu. Melalui hasil validasi oleh empat validator dengan persentase kelayakan buku antara 78,57%-95,23% dapat disimpulkan bahwa buku karya ilmiah populer yang telah penulis susun tentang Degradasi dan Digesti Sampah Plastik Styrofoam oleh Larva Tenebrio molitor L. dinyatakan sangat layak sebagai buku bacaan masyarakat dengan beberapa perbaikan atau revisi.Dosen Pembimbing Utama : Drs. Wachju Subchan, M.S., Ph.D. Dosen Pembimbing Anggota : Selvi Ariyunita, S.Si., M.S

    Über die Wirkung der Radiumstrahlen und des ultravioletten Lichtes auf die Färbung, Metamorphose und den Sauerstoffverbrauch der Puppen von Tenebrio molitor L.

    No full text
    ÜBER DIE WIRKUNG DER RADIUMSTRAHLEN UND DES ULTRAVIOLETTEN LICHTES AUF DIE FÄRBUNG, METAMORPHOSE UND DEN SAUERSTOFFVERBRAUCH DER PUPPEN VON TENEBRIO MOLITOR L. Über die Wirkung der Radiumstrahlen und des ultravioletten Lichtes auf die Färbung, Metamorphose und den Sauerstoffverbrauch der Puppen von Tenebrio molitor L. (vol. X) (-

    Tolerance is Necessary for Stability: Single-Peaked Swap Schelling Games

    Full text link
    Residential segregation in metropolitan areas is a phenomenon that can be observed all over the world. Recently, this was investigated via game-theoretic models. There, selfish agents of two types are equipped with a monotone utility function that ensures higher utility if an agent has more same-type neighbors. The agents strategically choose their location on a given graph that serves as residential area to maximize their utility. However, sociological polls suggest that real-world agents are actually favoring mixed-type neighborhoods, and hence should be modeled via non-monotone utility functions. To address this, we study Swap Schelling Games with single-peaked utility functions. Our main finding is that tolerance, i.e., agents favoring fifty-fifty neighborhoods or being in the minority, is necessary for equilibrium existence on almost regular or bipartite graphs. Regarding the quality of equilibria, we derive (almost) tight bounds on the Price of Anarchy and the Price of Stability. In particular, we show that the latter is constant on bipartite and almost regular graphs

    Pengaruh Perbedaan Komposisi Pakan Sampah PSP (Polystyrene Paper) Styrofoam terhadap Kesintasan dan Pertumbuhan Larva Tenebrio molitor L. serta Pemanfaatannya sebagai Buku Ilmiah Populer

    No full text
    Styrofoam merupakan salah satu contoh sampah plastik yang produksinya mencapai jutaan ton/tahun. Salah satu jenis styrofoam yang lazim digunakan dalam masyarakat adalah PSP styrofoam berupa tray makanan. Sampah PSP styrofoam sukar terdegradasi yakni membutuhkan waktu sekitar 500 tahun dan desain styrofoam yang hanya dirancang sekali pakai. Sampah PSP styrofoam hanya dapat didaur ulang oleh industri yang memiliki teknologi yang memadai karena suhu dekomposisi styrofoam terjadi pada suhu 300-5000C. Hal-hal tersebut menyebabkan keberadaan sampah PSP styrofoam perlu diatasi. Cara mengatasinya adalah dengan memanfaatkan biodegradator styrofoam alami yaitu larva Tenebrio molitor L. Larva Tenebrio molitor L. disebut juga dengan ulat hongkong. Larva ini berwarna emas dan mengalami metamorfosis sempurna atau yang disebut dengan holometabola. Kemampuan larva Tenebrio molitor L. dalam mencerna styrofoam karena pada usus larva Tenebrio molitor L. terdapat bakteri Exiguobacterium sp. strain YT2 yang mensekresikan enzim ekstrakulikuler yang mampu mengkatalis reaksi depolimerisasi fragmen styrofoam menjadi molekulmolekul kecil. Selain itu, juga terdapat peran dari mikroba usus yang turut membantu. Feses yang dikeluarkan oleh larva Tenebrio molitor L. setelah mengkonsumsi styrofoam sifatnya aman untuk tanah dan tanaman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi pakan yang baik sehingga laju degradasi terhadap sampah PSP styrofoam bisa lebih optimal namun tetap berpengaruh baik terhadap kesintasan dan pertumbuhan. Hasil penelitian ini menjadi dasar penyusunan buku ilmiah populer sebagai sumber bacaan bagi masyarakat.Dosen Pembimbing Utama : Drs. Wachju Subchan, M.S., Ph.D. Dosen Pembimbing Anggota : Vendi Eko Susilo, S.Pd., M.Si

    PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG LARVA Tenebrio molitor L YANG TIDAK LAYAK JUAL PADA RANSUM TERHADAP PERTUMBUHAN LARVA Tenebrio molitor L

    No full text
    ABSTRAK   Maylindasari, Sisca. 2017. Pengaruh Penambahan Tepung Larva Tenebrio Molitor L Yang Tidak Layak Jual Pada Ransum Terhadap Pertumbuhan Larva Tenebrio Molitor L.Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing(I) Drs.Agus Dharmawan, M.Si., (II) Agung Wiyjoro, S.Pd., M.Kes,.   Kata Kunci :Ransum, Pertumbuhan larva Tenebrio molitor L, FCR, efisiensi harga ransum   Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung larva T.molitor L yang tidak layak jual pada ransum terhadap pertumbuhan larva T.molitor L meliputi panjang dan berat, serta mengetahui hasil FCR dan efisiensi harga pakan yang digunakan. Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan (4 jenis konsentrasi ransum dan 1 kontrol) dan dilakukan sebanyak 5 kali ulangan. Penghitungan ransum menggunakan softwere Excel yang terdiri dari perlakuan 1 terdiri dari kombinasi tepung jagung, pollard, dedak dan tepung larva 0%, perlakuan 2 terdiri dari kombinasi tepung jagung, pollard, dedak dan tepung larva 10%, sedangkan perlakuan 3 terdiri dari tepung jagung, pollard, dedak dan tepung larva 15%, perlakuan 4 terdiri dari kombinasi tepung jagung, pollard, dedak dan tepung larva 20%, dan perlakuan 5 terdiri dari kombinasi tepung jagung, pollard, dedak dan tepung larva 25%, yang diberikan pada larva T. molitor berumur 10 hari dan pengukuran dilakukan setiap 5 hari sekali selama 30 hari. Data yang didapatkan berupa data hasil pengukuran berat dan panjang larva T. molitor, FCR (Feed conversion Ratio) dan hasil efisiensi harga ransum. Data berat, panjang larva dan FCR dianalisis dengan uji ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, ransumpakan yang paling efektif menghasilkan pertumbuhan (berat dan panjang) larva T. Molitor tertinggi yaitu perlakuan pakan 3 yang hasilnya tidak berbedanyata dengan perlakuan 4 dan 5 karena memiliki kandungan protein yang tinggi. Berdasarkan hasil uji lanjut, perbedaan efek pemberian ransum pakan terhadap pertumbuhan dapat dilihat secara nyata pada hari-30. Berdasarkan dari segi ekonomi hasil efisiensi harga ransum yang paling murah adalah pada perlakuan 5 dengan konsentrasi 25% yaitu seharga Rp.2.640 per Kg

    Functional Characterization of Two Elongases of Very Long-Chain Fatty Acid from Tenebrio molitor L. (Coleoptera: Tenebrionidae)

    Full text link
    abstract: The elongases of very long chain fatty acid (ELOVL or ELO) are essential in the biosynthesis of fatty acids longer than C14. Here, two ELO full-length cDNAs (TmELO1, TmELO2) from the yellow mealworm (Tenebrio molitor L.) were isolated and the functions were characterized. The open reading frame (ORF) lengths of TmELO1 and TmELO2 were 1005 bp and 972 bp, respectively and the corresponding peptide sequences each contained several conserved motifs including the histidine-box motif HXXHH. Phylogenetic analysis demonstrated high similarity with the ELO of Tribolium castaneum and Drosophila melanogaster. Both TmELO genes were expressed at various levels in eggs, 1st and 2nd instar larvae, mature larvae, pupae, male and female adults. Injection of dsTmELO1 but not dsTmELO2 RNA into mature larvae significantly increased mortality although RNAi did not produce any obvious changes in the fatty acid composition in the survivors. Heterologous expression of TmELO genes in yeast revealed that TmELO1 and TmELO2 function to synthesize long chain and very long chain fatty acids.The final version of this article, as published in Scientific Reports, can be viewed online at: http://www.nature.com/articles/s41598-017-11134-

    Tolerance is Necessary for Stability: Single-Peaked Swap Schelling Games

    No full text
    Residential segregation in metropolitan areas is a phenomenon that can be observed all over the world. Recently, this was investigated via game-theoretic models. There, selfish agents of two types are equipped with a monotone utility function that ensures higher utility if an agent has more same-type neighbors. The agents strategically choose their location on a given graph that serves as residential area to maximize their utility. However, sociological polls suggest that real-world agents are actually favoring mixed-type neighborhoods, and hence should be modeled via non-monotone utility functions. To address this, we study Swap Schelling Games with single-peaked utility functions. Our main finding is that tolerance, i.e., agents favoring fifty-fifty neighborhoods or being in the minority, is necessary for equilibrium existence on almost regular or bipartite graphs. Regarding the quality of equilibria, we derive (almost) tight bounds on the Price of Anarchy and the Price of Stability. In particular, we show that the latter is constant on bipartite and almost regular graphs
    corecore