26 research outputs found
KERANGKA KONSEPTUAL PENDIDIKAN MULTIKULTURAL TRANSFORMATIF BERDASARKAN POLA HUBUNGAN-KONFLIK ANTAR ETNIK: Kajian Keritis Terhadap Laporan Media Massa Mengenai Konflik Ambon, Sambas Dan Sampit, Dan Poso
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan grounded theory yang difokuskan pada penemuan pola hubungan-konflik antar kelompok etnik dalam masyarakat multikultural di Indonesia, dan penyusunan kerangka hipotetik pendidikan multikultural yang sesuai dengan fenomena hubungan-konflik tersebut Objek kajian penelitian adalah berita mengenai konflik yang dilaporkan melalui media massa, dalam hal ini yang dipilih adalah Repubfika, Kompas, dan Media Indonesia. Sedangkan berita konflik yang dipilih adalah konflik Ambon, Sambas dan Sampit, serta Poso. Pemasalahan penelitian diformulasikan dalam bentuk pertanyaan yang berkenaan dengan bagaimana gambaran konflik menurut media massa, bagaimana pola hubungan-konflik serta peran media massa dalam masyarakat multikultural Indonesia, dan bagaimana bentuk kerangka pendidikan multikultural yang sesuai dengan pola hubungan-konflik tersebut. Untuk itu, kajian dilakukan dalam tiga tahap yaitu: mengkaji secara kritis berita mengenai konflik {critical discourse analysis, melakukan kajian kepustakaan serta komparasi hasil kajian kritis dengan pendapat pengamat, dan kajian kepustakaan untuk pengembangan kerangka konseptual pendidikan multikultural. Dari penelitian ini ditemukan tiga kesimpulan utama sebagai berikut Pertama, dari kasus Ambon, Sambas dan Sampit, dan Poso disimpulkan bahwa fenomena konflik dalam masyarakat dapat dikategorikan dalam cakupan teori soo'af mechanism dan primordial affiliation di satu sisi, serta teori elite competition dan ethnic entrepreneur di sisi lain. Di samping itu media massa cenderung beorientasi kepada kepentingan ideologi mereka sendiri dari pada terhadap kepentingan masyarakat multikultural. Kedua, disimpulkan bahwa untuk menekan potensi konflik di Indonesia tidak cukup hanya berpatokan pada interaksi antar warga yang setara, melainkan juga perlu diperkuat dengan faktor-faktor lain yaitu: 1) kerangka berUkir mengenai hidup bernegara dan bermasyarakat yang berorientasi pada keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 2) masyarakat yang memiliki " kesalehan multikultural"; dan 3) manajemen kemajemukan masyarakat yang bersifat demokratis. Terakhir, penelitian ini menawarkan satu rekomendasi konseptual tentang Pendidikan Multikultural Tranformatif yang diharapkan dapat menjadi salah satu upaya menghadapi tantangan masyarakat multikultural di Indonesia saat ini serta masa datang dalam rangka mencapai masyarakat multikultural yang demokrati
Otoritas Guru Dalam Konteks Pendidikan Kritis di SMA Negeri Kota Padang
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena interaksi belajar mengajar di sekolah
dengan sudut tinjauan pendidikan kritis. Subjek penelitian adalah guru-guru SMAN di Kota Padang yang
terdiri dari guru PKN dan Sosiologi. Untuk setting penelitian dipilih 6 SMAN yaitu SMAN 1 dan SMAN 2
Padang mewakili sekolah unggul, SMAN 3 dan SMAN 5 mewakili sekolah pra unggul, dan SMAN 7 dengan
SMAN 12 mewakili sekolah kategori biasa. Dari enam sekolah tersebut dipilih masing-masing 1 guru PKn
dan 1 guru Sosiologi. Aspek yang diamati dalam penelitian ini adalah pola interaksi guru dan siswa dalam
proses pembelajaran di kelas. Untuk menganalisis interaksi tersebut digunakan pendekatan Analisis
Wacana Kritis dari Fairclough, khususnya mengenai kontrol Interaksi (Interactional Control Feature).
Kerangka teori yang digunakan adalah teori otoritas dari John Wilson yang menyoroti penggunaan otoritas
guru dalam kelas. Dari hasil pengamatan ini ditemukan bahwa interaksi guru siswa yang ada saat ini
masih banyak didominasi oleh guru. Penggunaan otoritas guru masih terfokus pada pencapaian target
berupa penguasaan materi seperti yang telah direncanakan, dan pada akhirnya dibuktikan melalui
keberhasilan dalam menjawab soal tes (tengah semester atau akhir semester). Disimpulkan bahwa guru
belum menggunakan otoritas yang diarahkan kepada pendidikan atau pemberdayaan siswa sebagai
subjek belajar
Otoritas Guru Dalam Konteks Pendidikan Kritis di SMA Negeri Kota Padang
The aim of this research is to describe the phenomenon of learning interaction in terms of critical education in the State Senior High School in Padang. The subjects of this research are the teachers of Civics Education and Sociology. The research was held at six schools: SMAN 1 and SMAN 2 Padang represents the best school; SMAN 3 and SMAN 5 represents the good school, and SMAN 7 and SMAN 12 represents the ordinary school. These 6 school selected one PKn teacher from each school among the aspect observed in this research is the pattern of interaction between teachers and students in learning process at the classroom. To analyze this interaction was approached by Critical Discourse Analysis of Fairlclough, especially dealing with Interactional Control Feature. The theoretical framework was based on theory of teachers’ authority by John Wilson. The result of this study shows that interaction between teachers and students is dominated by teachers. This authority tend to direct students on achieving the target of learning by mastering the material which proved by success on passing the test (mid of last term semester). In short, teachers have not applied their authorities yet on empowering students as the subjects of learning. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena interaksi belajar mengajar di sekola dengan sudut tinjauan pendidikan kritis. Subjek penelitian adalah guru-guru SMAN di Kota Padang yang terdiri dari guru PKN dan Sosiologi. Untuk setting penelitian dipilih 6 SMAN yaitu SMAN 1 dan SMAN 2 Padang mewakili sekolah unggul, SMAN 3 dan SMAN 5 mewakili sekolah pra unggul, dan SMAN 7 dengan SMAN 12 mewakili sekolah kategori biasa. Dari enam sekolah tersebut dipilih masing-masing 1 guru PKn dan 1 guru Sosiologi. Aspek yang diamati dalam penelitian ini adalah pola interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Untuk menganalisis interaksi tersebut digunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis dari Fairclough, khususnya mengenai kontrol Interaksi (Interactional Control Feature). Kerangka teori yang digunakan adalah teori otoritas dari John Wilson yang menyoroti penggunaan otoritas guru dalam kelas. Dari hasil pengamatan ini ditemukan bahwa interaksi guru siswa yang ada saat ini masih banyak didominasi oleh guru. Penggunaan otoritas guru masih terfokus pada pencapaian target berupa penguasaan materi seperti yang telah direncanakan, dan pada akhirnya dibuktikan melalui keberhasilan dalam menjawab soal tes (tengah semester atau akhir semester). Disimpulkan bahwa guru belum menggunakan otoritas yang diarahkan kepada pendidikan atau pemberdayaan siswa sebagai subjek belajar.</jats:p
An overview of the Strength of Implementing Democratic Values in an Islamic Boarding School Atmosphere
This study aims to explore and describe the power of implementing democratic values in the atmosphere of the Darul istiqomah Islamic boarding school in Padangsidimpuan City. This study uses case study research with qualitative characteristics. The process of collecting data in this study by means of observation, in-depth interviews, and documentation studies The results of the study show: An overview of the strength of implementing democratic values in the atmosphere of the Darul istiqomah Islamic boarding school in Padangsidimpuan City, Learning design activities, Learning process activities, Socializing activities and activities in the dormitory, Monthly activities and students' days, Civics Learning Activities, Ta'awun activities, Learning activities on fiqh and Ahklak materials, Activities giving sanctions or punishments, Flag ceremony activities and PHBN, Social and mutual cooperation activities, Pencak Silat extracurricular activities and others.</jats:p
FACTORS OF CAUSE OF WOMEN DOING NARCOTIC CRIME IN COMMUNITY GOVERNMENT II IN PADANG
This article discusses the factors that cause women to conduct narcotics crimes at the Women's Society Institute II Class B in Padang City. Data showed that there were as many as 52,847 narcotic criminals in 2017, as many as 46,853 people (96%) Are men and as many as 5,994. People (4%) Are women. The percentage of women narcotics consistently continues to increase. The purpose of the study was to describe the factors that led to the misuse of narcotic drugs among women. This type of research uses qualitative methods of various sources and literature. Data collection techniques are conducted with observations and interviews. While the data analysis techniques using models, Miles and Huberman. The results of this study showed that the factors of the cause of the woman to Do Crimes Act are: 1. Loss of family husband figure, 2. Urgent economic needs, 3. The linklands can thus be concluded that the women in the Correctional Institution class II B Padang are vulnerable to narcotic crimes because of the factors that affect it, the dominant factor is the loss of husband figures in Family and community environment
The developing students' dicipline character
This study have some purposes. First, to analyze the implementation of developing dicipline students' character in school. Second, to analyze the school strategies in maintaining the developing character of students' discipline. Third, to identify obstacles in fostering the character of students' discipline. Fourth, to found a solution in fostering the character of students' discipline. Meanwhile, this research used qualitative method by using interview technique, observation and documentation study. The results of this study indicate that the implementation of students' discipline character is seen at the students who come late in school, the rules enforced by the school adhered to all participants in the school, is not independent of the school's character education is well developed through a supportive school culture. School strategy in maintaining the character of student discipline is by providing motivation, encouraging students to obey the rules through banners displayed in every corners of the school and apply reward and punishment system. Meanwhile, the constraints that face for this problem are often encountered in school in the formation of student discipline character that is the delay of students coming to school and lack of parental support in disciplining children. Hence, as the solving of problem, the school giving some advice to the student's about to don't come to school and also make a cooperation solution with student's parent by sent letter, that called warning letter. Then, by the cooperation with the parent could to overcome the students' dicipline problem
Degradasi Moral Siswa-Siswi Dalam Penerapan Nilai Pancasila Ditinjau Dari Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Pendidikan Karakter
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk degradasi moral siswa-siswi dalam penerapan nilai pancasila, factor penyebab degradasi moral, implikasi degradasi moral. Subjek penelitian adalah siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 30 Muaro Jambi. Aspek yang diamati yaitu sikap siswa-siswi terkait dengan penerapan nilai pancasila. Metodologi yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian yang didapat yaitu bentuk degradasi moral siswa-siswi dalam penerapan nilai pancasila yang paling signifikan adalah, penurunan nilai agama, penurunan nilai kemanusiaan, serta penurunan nilai persatuan. Hasil penelitian juga menunjukkan beberapa faktor penyebab degradasi moral siswa-siswi yakni lemahnya pengetahuan dan paham nilai-nilai Pancasila oleh siswa-siswi, kelalaian orangtua dalam mendidik anak, dan pengaruh gadjet atau media social. Implikasi dari degradasi moral siswa-siswi dalam penerapan nilai pancasila yakni tidak mengindikasikan hubungan manusia dengan tuhan, tidak mengindikasikan karakter peduli social terhadap hubungan hidup sesama manusia, tidak mengindikasikam karakter patriotisme dan kebersamaan, tidak mengindikasikan karakter demokratis dan tidak mengindikasikan nilai keadilan bagi semua pihak tanpa pandang bulu. Maka kesimpulan yang didapatkan yaitu adanya degradasi moral siswa-siswi dalam penerapan nilai pancasila ditinjau dari makna dan hakikat pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan karakter
Degradasi moral siswa dalam penerapan nilai-nilai pancasila ditinjau
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis masalah degradasi moral siswa terkait penerapan nilai-nilai Pancasila ditinjau dari makna dan hakikat pendidikan kewarganegaraan (PKn) sebagai pendidikan karakter. Penelitian ini juga mendeskripsikan bentuk-bentuk degradasi moral siswa, faktor penyebab degradasi moral, dan implikasi degradasi moral dalam penerapan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada berbagai bentuk degradasi moral siswa dalam penerapan nilai-nilai Pancasila dan yang paling signifikan yaitu: penurunan nilai religius, penurunan nilai kemanusiaan, dan penurunan nilai persatuan. Faktor penyebab degradasi moral siswa yakni lemahnya pengetahuan dan paham nilai-nilai Pancasila, kelalaian orang tua dalam mendidik anak, dan pengaruh gadget atau media sosial. Implikasi dari degradasi moral siswa dalam penerapan nilai-nilai Pancasila, jika ditinjau dari makna dan hakikat PKn sebagai pendidikan karakter, yaitu tidak adanya perilaku yang mengindikasikan hubungan manusia dengan Tuhan, karakter peduli sosial terhadap hubungan hidup sesama manusia, karakter patriotisme dan kebersamaan, karakter demokratis dan adil bagi semua pihak tanpa pandang bulu. This study aims to analyze the problem of students' moral degradation related to the application of Pancasila values in terms of the meaning and nature of civic education (PKn) as character education. This study also describes the forms of student moral degradation, the factors causing moral degradation, and the implications of moral degradation in the application of Pancasila values. The study uses a qualitative approach with descriptive method. Data was collected through interview, observation, and document study. The results of the study show that there are various forms of student moral degradation in the application of Pancasila values, and the most significant of which are: a decrease in religious valuess, a decrease in human values, and decrease in the values of unity. Factors causing student moral degradation are the lack of knowledge and understanding of Pancasila values, negligence of parents in educating children, and the influence of gadgets or social media. The implications of student moral degradation in applying Pancasila values, when viewed from the meaning and nature of civic education as character education, are namely the absence of behavior that indicates a human relationship with God, the character of social care for the living relationships of fellow human beings, the character of patriotism and togetherness, democratic character and fair to all parties indiscriminately
School Strategy in Shaping the Program Through Teacher Training Programs in Sdit Adzkia II Padang
This article aims to convey the school strategy in shaping the program through a teacher training programme in SDIT Adzkia Padang. For that the data in this article is discussed through a qualitative approach by collecting data on field observation results, interviews and documentation studies. The results showed that the school program in shaping the teacher in the Integrated Islamic Elementary School (SDIT) tends to be focused on shaping the teacher's morality, speech, action, and good manners. This is manifested in the teacher's coaching program which is held by the school in the form of Halaqah as and Liqo ' and IHT (in house Training)
The Social Impact of Online Games on the Lives of Rural Communities in Deli Serdang Regency
The habit of playing games has become a lifestyle that is favored by the community, especially the younger generation and even elementary school students in rural and urban areas. Especially in rural communities, the online game Higgs Domino Island is rife. The study aims to explore the factors of the rise of Higgs domino island online gambling and its impact on the community in the village of Kuta, Jurung, STM Hilir district, Deli Serdang regency. This type of research is qualitative research. This research is qualitative descriptive research with a case study method. In determining the informants researchers used a purposive sampling technique. The data was obtained through observation, interviews, and documentation for 3 months, starting from October 2022 until January 2023. The results showed that the factors causing the people of Kuta Jurung Village, STM Hilir District, Deli Serdang Regency to carry out online gambling, the Higgs domino island game, was due to a lack of awareness and concern from the community about the impact of gambling, besides that the majority of people also have low education and a background of socio-economic factors, situational, learning factors, perceptions of probability, and skills perception factors. The moral impact of Higgs domino island online game gambling includes unstable emotional levels, reduced social interaction, and increased criminal acts as evidenced by the increased theft of garden produce in the Kuta Jurung Village community
