1,720,969 research outputs found

    REVITALISASI EKSISTENSI DENGAN BERMAIN MUSIK PADA KOMUNITAS “SRIKANDI” WANITA KARIER DI KOTA NGAWI MELALUI PEMBERIAN MATERI ARANSEMEN BARU DAN KREASI TEKNIK PERMAINAN

    Full text link
    Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Karya Seni dilatarbelakangi oleh suatu permasalahan yang menimpa sebuah grup musik wanita karier yang pernah memiliki prestasi penting bagi Masyarakat Ngawi. Grup kolintang Srikandi Ngawi dalam tiga tahun terakhir ini kehilangan rasa percaya diri dan motivasi untuk melanjutkan prestasinya hingga eksistensinya tidak terbaca lagi oleh publik. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk membantu menghidupkan kembali semangat yang mulai hilang dan keterampilan memainkan musik kolintang melalui sebuah program stimulus latihan dengan metode baru dan asupan materi aransemen yang menarik. Melalui analisis situasi objek riset, program ini menerapkan dua metode baru, yaitu 1) menyediakan materi dan sarana latihan yang berbasis teknologi audio multitrack dan minus one, 2) menerapkan model latihan mandiri-bersama dengan metode drill (latihan secara berulang-ulang dan intensif). Hasil kegiatan PKM ini menunjukkan perubahan sikap signifikan bagi wanita karier dalam belajar yang penuh semangat dan mampu menyajikan karya aransemen dengan baik. Penyikapan baru melalui pendekatan kerja kreatif seni dengan metode baru dapat mencairkan kebekuan aktivitas sosial akibat pandemi ini. Rasa percaya diri semakin tumbuh ketika kuatnya mental dan penguasaan teknis menghasilkan karya musik dalam format videoklip yang dipublikasikan di media virtual

    KARYA KOMPOSISI “ARAK GAMBIRSAWIT”

    Full text link
    Komposisi musik berjudul Arak Gambirsawit merupakan karya dari Zulkarnain Mistortoify yang dipresentasikan oleh kelompok musik Sono Seni Ensemble (SSE) Surakarta. Presentasi karya komposisi tersebut telah diabadikan di dalam album rekaman kelompok musik SSE dengan judul album Kroncwrong: Expanding Kroncongs Musical Language, tahun 2017. Selain itu, karya komposisi Arak Gambirsawit selalu dipentaskan dalam setiap pergelaran kelompok musik SSE tersebut sepanjang tahun 2016-2017. Karya ini salah satunya dipentaskan dalam event internasional di Festival Jazz Gunung (Bromo) pada tanggal 18 Agustus 2017 di Amfiteater Terbuka Jiwa Jawa Kaki Gunung Bromo, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur

    Joget Blambangan

    Full text link
    Merupakan karya seni pertunjukan berupa karya seni Aransemen dengan judul Joget Blambangan karya dari Dr. Zulkarnain Mistortoify, M.Hu

    Fieldwork I etnomusikologi

    No full text

    DOKUMEN PENDUKUNG KARYA ARANSEMEN LAGU JOGET BLAMBANGAN

    Full text link
    Karya aransemen musik berjudul "Joget Blambangan" yang disajikan di masa Pandemi Covid 19 oleh Grup Kolintang Srikandi Ngawi tahun 2020, dilaksanakan dalam rangka kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dibiayai atas dana DIPA ISI Surakarta berdasarkan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat Karya Seni Nomor: 6796/IT6.1/PM/2020. Kegiatan PKM tersebut mengetengahkan tema Revitalisasi Eksistensi dengan Bermain Musik pada Komunitas Srikandi Wanita Karier di Kota Ngawi melalui Pemberian Materi Aransemen Baru dan Kreasi Teknik Permainan

    New harmony of Javanese keroncong case study: Boogie Rahayu's work on the Kroncwrong album Sono Seni Ensemble

    Full text link
    This research aims to unveil one of the compositional works of the Sono Seni Ensemble Surakarta music group, titled 'Boogie Rahayu.' This work offers a distinct paradigm and compositional technique in comparison to the works of typical progressive keroncong orchestra groups. The study endeavors to reveal the composition of 'Boogie Rahayu' through an analysis that integrates source knowledge of karawitan music structures, keroncong playing techniques, attitudes towards sound sources, and an openness to presenting new harmonies. Examining this compositional work contributes to addressing the issue of creativity stagnation in the Javanese style of keroncong. The research adopts a musicological and cultural approach, focusing on the primary objects of the work and the performers. Data collection techniques involve field observations and interviews conducted through both online and offline methods, as well as document and artifact studies using conventional and online methods. During the analysis stage, this study employs an emic approach, considering the composer's thoughts and beliefs, alongside a musicological approach that delves into musical structure, rhythm changes, cadence interpretation, and chord harmony. The results of the research indicate that 'Boogie Rahayu' introduces a new avenue of development capable of transcending artistic and aesthetic boundaries among keroncong music, Javanese style, and Javanese karawita

    Tradisi Tinilo Pa’ita dalam Kehidupan Masyarakat Gorontalo

    Full text link
    ABSTRACTThis paper aims to find out the form of the tradition of tinilo pa’ita present at the ceremony commemoratingthe 40th day of someone’s death because currently the tradition of tinilo pa’ita is fairly difficult to find inits community. This study uses qualitative research methods using an ethnographic approach by Spradleyto understand a culture from the point of view of their owners of culture. Tinilo pa’ita is a tradition inthe form of chants. Tinilo Pa’ita is present in the tradition of wopato pulu huyi. This song containsan apology for the person who has died, advice to the family left behind to remain patient and sincere,advice to the other peolple who is left to always remember death and always carry out the religious ordersadopted by the community, namely Islam. In its implementation, tinilo pa’ita attended several stagesof the wopato pulu huyi ceremony. The presence of tinilo pa’ita in Gorontalo society can only be foundduring the wopato pulu huyi because, the community believes this song can only be sung when it is sideby side with the tomb that will be delivered to the tomb. Until now the tradition of tinilo pa’ita is stillbeing carried out even though it is only in certain areas.Keywords: Oral Tradition, Tinilo Pa’ita, Funeral ceremonyABSTRAKTulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk tradisi tinilo pa’ita yang hadir dalam upacaraperingatan hari ke 40 kematian seseorang sebab saat ini tradisi tinilo pa’ita terbilang cukupsulit untuk dijumpai dalam masyarakatnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitiankualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi oleh Spradley untuk memahami sebuahkebudayaan dari sudut pandang mereka pemilik kebudayaan. Tinilo pa’ita merupakan sebuahtradisi yang berbentuk lantunan nyanyian. Tinilo Pa’ita hadir dalam tradisi wopato pulu huyi.Nyanyian ini berisi permohonan maaf atas orang yang telah meninggal, nasihat kepada keluargayang ditinggalkan agar tetap sabar dan ikhlas, nasehat kepada handaitaulan yang ditinggalkanuntuk selalu mengingat kematian dan senantiasa menjalankan perintah agama yang dianutoleh masyarakat yakni agama Islam. Dalam pelaksanaanya, tinilo pa’ita hadir dalam beberapatahapan pelaksanaan upacara wopato pulu huyi. Kehadiran tinilo pa’ita dalam masyarakatGorontalo hanya dapat dijumpai saat wopato pulu huyi sebab, masyarakat percaya nyanyianini hanya bisa dilantunkan pada saat berdampingan dengan nisan yang akan diantarkan kemakam. Hingga saat ini tradisi tinilo pa’ita masih terus dilaksanakan meskipun hanya padadaerah-daerah tertentu saja.Kata Kunci: Tradisi Lisan, Tinilo Pa’ita, Upacara Pemakama

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    PENERAPAN TEKNIK KOMPOSISI RITIMKAL ENSEMBEL GANDRANG MAKASSAR DAN BALE GANJUR BALI KE DALAM KARYA MUSIK METAL SEBAGAI INOVASI MODEL MUSIK FOLK METAL INDONESIA

    Full text link
    Penelitian terapan ini terinspirasi dari kegelisahaan mengamati lemahnya kreativitas musikal dan gejolak publik musik metal Indonesia yang cenderung meninggalkan ke-Indonesia-annya. Produk musik metal Indonesia seperti tidak ke-khas-an untuk dijadikan taring bersaing dengan produk musik metal dunia. Yang banyak dilakukan hanyalah imitasi yang mengekor trend musik metal Eropa dan Amerika. Tradisi imitasi kekaryaan musik metal inilah yang menjadi salah satu penyebab orientasi publik metal cenderung mengagungkan budaya Barat. Model musik metal dengan komposisi ritmikal dengan melibatkan musik Gandrang Makassar dan Bale Ganjur Bali, ditambah dengan narasi-narasi lokal wisdom Nusantara menjadi penting untuk dilakukan. Model kekaryaan musik dibuat secara serius untuk menandingi produk metal Barat. Hadirnya produk riset ini, mampu menyita perhatian publik metal Indonesia dan menjadi referensi dalam bermusik. Masuknya elemen musik tradisi menjadi kunci tumbuh kembangnya folk metal (metal dengan ke-khas-an lokal) yang menjadi cirri musik metal Indonesia. Hasil penelitian ditemukan bahwa model terapan terapan ritmikal musik gandarang dan bale ganjur Bali setidaknya dilakukan beberapa tahap, spesifikasi musisi, menentukan kesamaan estetika, membuat sketsa kompositoris, serta eksplorasi musikal. Luaran dari penelitian terapan ini adalah 1) dua karya musik Khutulistiwa Kroda dan Yadapati Tiwikrama, yang keduanya menggabungkan musik tradisi Gandrang Makassar dan Bale Ganjur Bali sekaligus berisi narasi budaya Nusantara. 2) rekaman audio untuk disebar luaskan kepada masyarakat. 3) menawarkan model penciptaan musik metal berbasis ritmikal nusantarais. Dan yang terakhir adalah dua kali pemantasan. Kata Kunci: Musik metal, folk metal Indonesia, komposisi ritmika
    corecore