228 research outputs found
Keberagaman Masyarakat Kasepuhan Sunda
Penelitian ini berangkat atas dasar keberagamaan yang unik yang terjadi pada masyarakat Adat Kasepuhan Sunda Ciptagelar. Dimana, secara umum masyarakat Sunda adalah muslim, namun untuk beberapa masyarakat Adat, sikap keberagamaannya lebih dikenal dengan istilah Sunda Wiwitan, yaitu sebuah kepercayaan yang lahir dan berkembang pada masyarakat Sunda buhun atau Sunda awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui keberagamaan masyarakat kasepuhan Sunda Ciptagelar yang berada di desa Sirnarasa Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif kualitatif, yaitu suatu teknik penelitian yang mengungkap data secara mendalam yang bertujuan untuk mengetahui gambaran objek penelitian secara akurat. Hasil penelitian ini, diperoleh bahwa keberagamaan yang berkembang pada masyarakat kasepuhan Sunda didasari oleh pengaruh kebudayaan Sunda buhun/wiwitan dan juga pengaruh ajaran agama Islam, sehingga keberagamaan masyarakat kasepuhan Sunda muncul dalam model integrasi antara budaya Sunda dengan ajaran agama Islam
Persentuhan Agama Isam Dengan Kebudayaan Asli Indonesia
: The Convergence of Islamic Religion with the Indonesian Indigenous Culture. When Islam first entered Indonesian archipelago, this land was not culturally an empty space. There had existed local culture and developed in the Indonesian society, that has led to cultural acculturation between Islamic teachings and indigenous culture. As such, the ways of observing Islamic teachings are of Indonesian character and not necessarily similar to that of its origin in the Middle East. This paper explores how the convergence of Islamic religious teachings and the Indonesian local culture, especially the Sundanese had occurred. The author concludes that almost all aspects of Sundanese social life have been influenced by the Islamic values. The teaching and law in the Sundanese society could also be associated through art and culture, in such as puppet show (wayang golek), songs, poetry and anecdotes. The Islamic teaching through puppet show has often emphasized obedience to both religious teachings and the state simultaneously as reflection of understanding the fulfillment of God's command, the Messenger and leader (ûli al-amri) found in the Qur'anic tenets
Wujud Kebudayaan Masyarakat Adat Cikondang dalam Melestarikan Lingkungan
This study departs from human life lived long enough in a community, where the community will create a rule or a handle on life that can be used as a way of survival for the creation of a safe, serene and peaceful. The rule could be religious and also can be a culture. Indigenous peoples with all its potential able to be creative to build an environment that is completely self-contained and is also able to preserve the nature of the damage. As a result of the natural environment inhabited by indigenous communities today rescued from various natural disasters. This phenomenon, would be an interesting study material for study. The Society has a certain cultural values that differ from one another. The indigenous peoples are a society that is in life comes with a quirk inherited his ancestors, either in the form of a view of life, religious traditions and values of other cultures that sought to be maintained and implemented in his life as a commandment of life for the benefit of their ancestors The Cikondang society known as the Sunda ethnic and categorized as indigenous communities, because until now still cling to the traditions of his ancestors. It stands out that of the indigenous peoples Cikondang Cikondang is the persistence of indigenous peoples to preserve and utilize the environment to life. This can be seen, when the rainy season Cikondang region is not exposed to landslides, even a water source can be fully utilized for agriculture, so that agricultural produce in abundance. Likewise third dry season Cikondang indigenous peoples do not worry about lack of water even position in the hills of the mountains
Analisis Campur Kode Bahasa Arab dalam Novel 50 Riyal Karya Deni Wijaya
This study discusses the meaning of code mixing and the language elements used in
code mixing in the novel 50 Riyals by Deni Wijaya. This study aims to determine the
number and types of code mixing contained in Deni Wijaya's 50 Riyal novel. This
research is a library research (library research) and uses a descriptive method. Data
was collected using the observing method and the note taking technique
(Sudaryanto). This study uses the theory of code mixing put forward by Nababan and
Suwito. In this study, it was found that the number of code mixing in the novel 50
Riyals by Deni Wijaya was 35 data and the types of code mixing in the novel 50
Riyals were found to be 5 types. The insertion of language elements in the form of
words contains 24 data. There are 6 data insertion of language elements in the form of
phrases. The insertion of language elements in the form of repetition of words has 2
data. Insertion of language elements in the form of idioms 1 data. Insertion of
language elements in the form of clause 2 data. The conclusion obtained from this
study is that the code mixing used by the author is more dominant because the author
understands the use of Arabic and is paired with Indonesian73 HalamanSkripsi Sarjan
Agama dan Modernisasi: studi kasus pada masyarakat Adat Cikondang Desa Lamajang Kec. Pangalengan Kab. Bandung
Penelitian ini fokus kepada bagaimana memahami kmunitas masyarakat adat di Cikondang dalam mengartikan agama dan modernisasi dan bagaimana pengaruh modernisasi pada kehidupan keagamaan pada masyarakat adat Cikondang
Sistem kepercayaan awal Masyarakat Sunda
Sistem kepercayaan suatu masyarakat terbentuk secara alamiah. Dimana sistem kepercayaan merupakan pedoman hidup yang diyakini oleh suatu masyarakat dalam menjalankan kehidupan sosial keagamaannya. Masyarakat Sunda sebagai sebuah suku bangsa di Indonesia, memiliki sistem kepercayaan awal yang unik dan masih bertahan sampai saat ini. Sistem kepercayaan tersebut sering dikenal dengan istilah Sunda Wiwitan yang sekarang bertahan hidup pada komunitas masyarakat adat Baduy di Kanekes. Namun demikian, fakta historis menunjukkan bahwa masyarakat Sunda dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan, diantaranya; pertama, kebudayaan Hindu-Budha yang datang dari anak benua India, kedua, Kebudayaan Islam yang datang dari jazirah Arab, ketiga, kebudayaan Jawa, keempat, kebudayaan Barat yang datang dari benua Eropa, dan kelima, kebudayaan nasional karena Tatar Sunda terintegrasi dan menjadi bagian Negara Republik Indonesia dan kebudayaan global. Walaupun dipengaruhi berbagai kebudayaan luar, masyarakat Sunda memiliki identitas tersendiri, yang melekat pada komunitas masyarakat adat Baduy, termasuk dalam sistem kepercayaannya, yaitu Sunda Wiwita
Keberagamaan Masyarakat Adat Cikondang dalam Menghadapi Modernisasi
The influence of modernization is not only applied to a society that access various products of modernization easily, which is known as the city people; however, it is also felt by the remote and indigenous communities, such as the people of Cikondang. The research reveals how the indigenous people of Cikondang are understanding of religion and modernization is, as well as how the influence of modernization of the religious life of indigenous people of Cikondang. This study used a qualitative descriptive method and phenomenological approach. The conclusions are first, that the understanding of indigenous people of Cikondang of religion is very strong, especially to Islam in welcoming the various moments of life experienced by organizing various religious rituals. Second, the understanding of Cikondang’s of the presence of modernization as a period that has to be undergone and passed. Third, the indigenous people of Cikondang respond modernization well and use the products of modernization
Tradisi Wuku Taun sebagai bentuk integrasi Agama Islam dengan Budaya Sunda pada Masyarakat Adat Cikondang
This article write starts from some phenomena of the relation between religions and local cultures. Such relation is interesting to do research that interpretations of the relation between religion and local cultures to certain societies are various. The interaction between Islam and local cultures also undergoes variuos form of relation. Variety of the form of relation between Islam and local cultures in a society depends upon their understanding and interpretation of Islamic teachings itself. One of the forms of relation between Islam and local cultures can be found in traditional society of Cikondang. The form of relation between Islam and local cultures was occurred in traditional society in Cikondang tends to be the form of integration wich certain pattern. Therefore, the focus of this writer article is to describe relation between Islam and Sundanese cultures in form of integration with wuku taun. Based on data of research the tradisional society of Cikondang represents the part of Sundanese society in wich all of them are muslims. This goes hand in hand with the statement that Islam is Sunda and Sunda is Islam. Sundanese people are Muslims before Islam comes to Sundanese society
ADAT, BUDAYA DAN AGAMA LOKAL Studi Gerakan Ajeg Bali Agama Hindu Bali
Tulisan ini memfokuskan kajiannya pada gerakan Ajeg pada agama Hindu di Bali. Pada satu sisi Ajeg Bali dipahami sebagai adat masyarakat Hindu Bali sebagai upaya untuk melestarikan nilai dan tradisi leluhurnya agar tidak hilang. Pada sisi lain, Ajeg Bali pun di pahami sebagai sebuah gerakan politik kebudayaan yang muncul ke permukaan sebagai respon orang-orang Bali yang beragama Hindu terhadap berbagai persoalan. Dalam perkembangannya, Ajeg Bali bahkan diyakini sebagai Agama Lokal yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi masyarakat Bali.. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemahaman tentang Gerakan Ajeg Bali terpecah menjadi dua bentuk, satu fihak berpaham terhadap artikulasi dan fihak lain berfaham pada disartikulasi. Meski berbeda, keduanya menginginkan nilai-nilai adat tetap terpelihara dan terjaga secara utuh dari pengaruh budaya asing ataupun budaya global. Singkatnya gerakan Ajeg Bali dapat dipandang sebagai latihan intelektual dalam menciptakan simbol-simbol kebudayaan baru secara terus menerus untuk mendefinisikan kembali identitas ke-bali-an orang Bali demi kepentingan kekuasaan
SISTEM KEPERCAYAAN AWAL MASYARAKAT SUNDA
Sistem kepercayaan suatu masyarakat terbentuk secara alamiah. Dimana sistem kepercayaan merupakan pedoman hidup yang diyakini oleh suatu masyarakat dalam menjalankan kehidupan sosial keagamaannya. Masyarakat Sunda sebagai sebuah suku bangsa di Indonesia, memiliki sistem kepercayaan awal yang unik dan masih bertahan sampai saat ini. Sistem kepercayaan tersebut sering dikenal dengan istilah Sunda Wiwitan yang sekarang bertahan hidup pada komunitas masyarakat adat Baduy di Kanekes. Namun demikian, fakta historis menunjukkan bahwa masyarakat Sunda dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan, diantaranya; pertama, kebudayaan Hindu-Budha yang datang dari anak benua India, kedua, Kebudayaan Islam yang datang dari jazirah Arab, ketiga, kebudayaan Jawa, keempat, kebudayaan Barat yang datang dari benua Eropa, dan kelima, kebudayaan nasional karena Tatar Sunda terintegrasi dan menjadi bagian Negara Republik Indonesia dan kebudayaan global. Walaupun dipengaruhi berbagai kebudayaan luar, masyarakat Sunda memiliki identitas tersendiri, yang melekat pada komunitas masyarakat adat Baduy, termasuk dalam sistem kepercayaannya, yaitu Sunda Wiwitan
- …
