1,720,962 research outputs found

    PENGARUH PEMBERIAN PAKAN KOMPLIT MENGANDUNG BERBAGAI LEVEL TONGKOL JAGUNG TERHADAP PENAMPILAN KAMBING JANTAN

    Full text link
    Corn cobs is one of agriculture waste which is applicable as one of alternative feed ingredients, despite its low nutritional and high fibre contents; it can used as fibre resource of complete feed to male goats. The objective of this research is to evaluate effects of giving total mixed ration containing different levels of corn cobs on performance male goats. The experiment was carried out according to 4 x 4 Latin Square Design. In each period of 12 days, each goat was randomly assigned to one of the following treatments: T1 (complete ration containing 30 % corn cobs), T2 (complete ration containing 35 % corn cobs), T3 (complete ration containing 40 % corn cobs), and T4 (complete ration containing 45 % corn cobs). The result of the study is the treatments did not indicate a tangible effect (P>0, 05) to the performance of male goats. In conclusion, different levels of corn cobs in complete feed did not negatively affect the performance of male goats

    Metabolisme Nitrogen Kambing Kacang Jantan yang Mendapat Pakan Wafer Tongkol Jagung Mengandung Bahan Pakan Sumber Protein Berbeda

    Full text link
    Tongkol jagung potensial sebagai pakan sumber serat bagi ternak ruminansia, seperti untuk ternak kambing. Kendala utama dari penggunaannya sebagai pakan untuk ternak ruminansia adalah kandungan protein dan palatabilitas yang rendah, sehingga perlu diformulasi dan diolah menjadi pakan komplit seperti dalam bentuk wafer tongkol jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi metabolisme nitrogen kambing kacang jantan yang mendapat pakan wafer tongkol jagung. Empat ekor ternak kambing kacang jantan dengan berat awal relative sama secara acak mendapatkan satu perlakuan pakan berdasarkan Rancangan Bujur Sangkar Latin 4 x 4 (4 perlakuan dan 4 periode). Perlakuan terdiri dari P1 adalah wafer tongkol jagung mengandung ampas tahu, P2 adalah wafer tongkol jagung mengandung tepung ikan, P3 adalah wafer tongkol jagung mengandung tepung bulu, dan P4 adalah wafer tongkol jagung mengandung urea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi nitrogen untuk P1, P2, P3, dan P4 adalah 10,08; 8,04; 11,54; dan 12,37 g/e/h. rata-rata nitrogen diserap untuk perlakuan P1, P2, P3, dan P4 adalah 6,13; 4,73; 6,49; dan 7,34 g/e/h. rata-rata retensi perlakuan P1, P2, P3, dan P4 adalah 4,68; 2,61; 4,27 dan 5,61 g/e/h. rata-rata penggunaan protein untuk perlakuan P1, P2, P3, dan P4 adalah 45,09; 31,36; 36,50 dan 44,97 % dan rata-rata nilai biologis perlakuan P1, P2, P3, dan P4 adalah 74,35; 52,36; 6557 dan 75,94 %. Analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap parameter metabolisme nitrogen. Kesimpulan penggunaan beberapa jenis sumber protein berbeda dalam pembuatan wafer tongkol jagung tidak memberikan pengaruh berbeda terhadap metabolism nitrogen pada ternak kambing kacang janta

    PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KATUK (Saoropus androgynus) DALAM RANSUM BERBASIS PAKAN LOKAL TERRHADAP PERFORMANS BROILER

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari penambahan fitokimia tepung daun katuk dalam ransum berbasis pakan local terhadap performans broiler. Enam puluh empat ekor broiler (d.o.c) secara acak ditempatkan dalam 16 petak kandang panggung percobaan berukuran 100 cm x 50 cm x 60 cm/petak (4 ekor/petak). Percobaan dilaksanakan menurut Rancangan Acak Lengkap,  terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan adalah: P0 = Ransum dasar (kontrol), P1 = Ransum dasar + 1 % tepung daun katuk,  P2 = Ransum dasar  +  2 % tepung daun katuk dan P3 = Ransum dasar + 3 % tepung daun katuk. Analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan fitokimia tepung daun katuk dalam ransum berbasis pakan lokal tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, konsumsi protein dan konversi ransum pada broiler. Dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan berat badan dan rasio efisiensi protein pada broiler. Uji Duncan menunjukkan bahwa pertambahan berat badan P1, P2, dan P3 nyata (P<0,05) lebih tinggi daripada P0. Demikian juga P2 nyata lebih tinggi darpada P1 dan P, tapi P1 dan P3 tidak berbeda nyata (P>0,05).  Kesimpulan. 1) Penambahan tepung daun katuk dalam ransum sama pengaruhnya terhadap konsumsi ransum, konsumsi protein, dan konversi ransum pada  broiler.  2). Data secara biologis semua perlakuan tepung daun katuk meningkatkan  pertambahan berat badan dan ratio efisiensi protein lebih tinggi daripada control

    POTENSI MIKROBA SELULOLITIK DAN LIGNOLITIK DALAM MENGDERADASI SELULOSA DAN LIGNIN LIMBAH PERTANIAN

    No full text
    ABSTRAK AGROKOMPLEKS 2009Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai nutrisi,palatabilitas dan daya cerna limbah pertanian (jerami padi) sebagai pakan ruminansia,dan untuk menjamin ketersediaan pakan secara berkesinambungan (terutama pada musim kemarau).Kegunaan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas/nilai nutrisi jerami padi dengan system perenggangan ikatan logno-selulosa dan beberapa perlakuan untuk merenggangkan ikatan lingo-selulosa,diharapkan jerami padi dapat menggantikan pakan tambahan seperti pemberian konsentrat yang harganya mahal untuk memacu produktifitas ternak ruminansia. Perlakuan dalam penelitian ini akan meniru proses pengolahan pakan yang terjadi di dalam rumen-retikulum,dimana pengolahan pakan dilaksanakan secara holistic.Mulai dari penggunaan larutan basa (air kapur),penggunaan NH3 /urea (amoniasi),penggunaan asam(lactobacillus sp) dan pemanfaatan koloni bakteri selulotik (Ruminicoccus albus)dan hemiselulosa,Sehingga daya cerna serat kasar,daya cerna selulosa dan hamiselulosa serta protein kasar jerami padi (terutama tanaman yang sudah tua) dapat ditingkatkan.Dengan demikian jerami padi dapat dioptimalkan sebagai pakan ruminansia. Kajian tentang upaya untuk meningkatkan nilai nutrisi limbah pertanian dan hijauan sudah banyak dilakukan,baik secara fisik,kimia mapun biologi. Namun upaya tersebut masih sebatas penggunaan bahan secara parsial atau sendiri-sendiri,belum dilaksanakan secara holistic seperti yang terjadi pada rumen-retikulum,Sehingga penggunaan limbah pertanian (jerami padi) belum dapat digunakan sebagian pakan tunggal untuk memenuhi kebutuhan hidup poko ternak ruminansia. Dalam penelitian ini akan dilakukan produksi bakteri selulolitik,bakteri asam laklat,dan penggunaan mikroba lognolitik (kapan pelapuk putih/white rot fung),pengujian inokulum mikroba dan pengujian jerami padi hasil fermentasi dengan beberapa perlakuan secara diuji secara in vitro dan in vivo.Pada tahun pertama penelitian ini,bakteri asam laktat (lactobacillus sp) dan bakteri selulitik (kapan pelapuk putih)difermentasikan pada jerami padi hasil fermentasi tersebut dilanjutkan dengan teknik in vitro. Pada tahun kedua jerami padi hasil fermentasi diujikan pada ternak percobaan (kambing)parameter yang diamati adalah konsumsi pakan (feef intake)daya cerna pakan,palatabilitas dan pertamabahan berat badan ternak percobaan.Pada tahun ketiga akan dicoba memproduksi pakan dari jerami padi hasil fermentasi dalam bentuk wafer dan silase,untuk memperpanjang lama penyimpanan. Diharapkan dari penelitian ini didapatkan suatu paket teknologi pakan dan temuan baru tentang teknik/system perenggangan ikatan lingo-selluso dalam meningkatkan kemampuan mikroba rumen mencerna sellulosa dan hemisellulosa dengan meniru proses pengolahan pakan yang terjadi secara holistic pada rumen-retikulum. Hasil penelitian pada tahun 1 menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan dengan meniru proses pengolahan pakan yang terjadi di dalam rumen-retikulum ruminansia,yaitu perlakuan alkali,amoniasi,fermentasi dengan bakteri asam (Lactobacillus sp)bakteri selulotitik (Ruminococcus albus) yang diisolasi dari cairan rumen kambing dan penggunaan mikroba lignolitik (kapan peelapuk putih.white rot fungsi) sebagai pendegradasi lignin berpengaruh nyata (P<0,01) antara perlakuan satu dengan perlakuan lainnya.Kadar protein kasar dan BETN meningkat dan serat kasar menurun secara signifikan. Peningkatan kadar hemaselulosa dan selulosa dan penurunan kadar NDF,ADF ligin dan silica dipengaruhi oleh komposisi perlakuan.Peningkatan kadar hemaselulosa dan selulosa tidak bermasalah bagi ternak ruminansia karena ternak ruminansia dapat memanfaatkan hemaselulosa dan selulosa sebagai sumber energy,asalkan tidak dalam bentuk kristalisasi selulosa.Persentase kecernaan in vitro bahan kering,bahan organic,NDF,dan ADF jerami padi hasil fermentasi menunjukkan peningkatan yang signifikan.Hal ini dipengaruhi oleh aktifitas enzim yang dihasilkan oleh mikroba dalam mencerna bahan kering,bahan organic,NDF,dan ADF jerami padi yang telah mengalami proses perennggangan ikatan lignoselulosa sebelum difermentasi,dengan perlakuan alkali (larutan kapur).Hal ini membuktikan bahwa jerami padi yang rendah nilai gizinya dapat ditingkatkan melalui proses fermentasi sesuai perlakuan.Dengan demikian jerami padi yang ketersediaannya melimpah,mampu memenuhi kebutuhan pokok ternak ruminansia

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Performa Ayam Arab dengan Pemberian Energi-Protein pada Level Berbeda

    Full text link
    This research aimed to determine the effect of different energy and protein level giving in Arabic chicken on feed consumption, egg production and feed conversion. The materials used for this experiment were 80 heads of arabic chicken 5 months age and maintained for 6 weeks (36 days). The method used was completely randomized design (CRD) which consists of 4 treatments and 10 replications that R1 (protein 15% and EM 2 500 Kcal), R2 (protein 16% and EM 2 600 Kcal), R3 (protein 17% and EM 2 700 Kcal) and R4 (protein 18% and EM 2 800 Kcal). Analysis of variance showed that treatment significantly (P&lt;0.05) on feed consumption, egg production and feed conversion. It could be concluded that more increasing energy and protein, the higher egg production, feed consumption and generates optimal feed conversion. Energy and protein with a protein level of 18% and energy 2 800 Kcal kg-1 showed better performance

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore