126,573 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Studi Perencanaan Industri Sari Buah Jambu Mete
Pengembangan jambu mete d i Indonesia dilaksanakan dalam rangka meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan petani di lahan beriklim kering, peningkatan ekspor komoditi ja&u mete, s e r t a r e h a b i l i t a s i lahan k r i t i s melalui penghijauan dan konservasi tanah dan a i r d i daerah peka erosi. Oleh karena i t u perkembangan luas areal perkebunan jambu mete meningkat, rata-rata 6.59 % per tahun. Perluasan a r e a l perkebunan tersebut meningkatkan pula produksi jambu mete, rata-rata 6.60% per tahun. Walaupun demikian pemanfaatan h a s i l tanaman jambu mete hanya terbatas pada mete gelondongnya, sedangkan pemanfatan jambunya masih r e l a t i f sedikit bahkan dibuang sebagai limbah
Glutathionylation of MetE Induces a Conformational Change
<div><p>(A) Gel filtration analysis of reduced (blue), GSSG-oxidized (red), or a mixture of reduced and GSSG-oxidized (black) MetE.</p>
<p>(B) Far UV CD spectra of reduced (blue) and GSSG-oxidized (red) MetE.</p>
<p>(C) SDS-PAGE analysis of a digestion of native MetE with 0.08% trypsin. The band corresponding to the molecular weight of the holo-protein is marked with an asterisk.</p>
<p>(D) GroEL (2 μM) was incubated with 1 μM reduced (blue) or GSSG-oxidized (red) MetE and the proteins were then subjected to gel filtration.</p></div
Analisis Daya Saing Jambu Mete Di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan daya saing usahatani jambu mete di Kabupaten Wonogiri. Metode penentuan lokasi penelitian secara purposive (disengaja) di Kabupaten Wonogiri. Metode pengambilan sampel petani menggunakan quota sampling sebanyak 60 responden petani jambu mete. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kelayakan usahatani dengan perhitungan NPV, Net B/C Ratio, IRR dan daya saing menggunakan Domestic Resources Cost (DRC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya produksi jambu mete sebesar Rp 744.521,35 per pohon dengan manfaat yang diperoleh petani sebesar Rp 2.532.500,00 per pohon. Hasil perhitungan kelayakan usahatani jambu mete dengan NPV, Net B/C Ratio dan IRR yaitu sebesar Rp 85.664,54, 1,18 dan 14,63%, yang menunjukan bahwa usahatani jambu mete di Kabupaten Wonogiri layak diusahakan. Jambu mete di Kabupaten Wonogiri memiliki nilai DRC* (harga pasar) sebesar Rp 3.904,05/USD per pohon dan nilai DRC (harga bayangan) sebesar Rp 2.323,43/USD per pohon. Jambu mete memiliki nilai keunggulan komparatif (DRCR) sebesar 0,17 dan keunggulan kompetitif (CAR) sebesar 0,29 yang berarti bahwa usahatani jambu mete efisien secara finansial dan ekonomi serta mampu bersaing di pasar internasional. Kata Kunci: Daya Saing, Jambu Mete, Kelayakan Usahatani, Komparatif, Kompetiti
Analisis Kelayakan Ekonomi Usahatani Jambu Mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember,
Jambu mete adalah salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia
dan juga sebagai komoditas penghasil devisa bagi negara. Prospek pengembangan
komoditi jambu mete untuk masa depan cukup baik, mengingat beberapa hal yang
mendukungnya seperti peluang pasar kacang mete masih terbuka khususnya di
USA, Eropa, Australia, China, India dan Jepang. Salah satu sentra produksi jambu
mete di propinsi Jawa Timur adalah Kabupaten Jember. Di wilayah Kabupaten
Jember jambu mete paling besar diusahakan di Desa Kepanjen Kecamatan
Gumukmas. Pertumbuhan jambu mete di wilayah ini didukung oleh lahan yang
cocok, yakni tanah berpasir. Tujuan pengembangan jambu mete di desa ini adalah
(a) Untuk meningkatkan pendapatan petani (b) Mengembangkan produk unggulan
wilayak yang spesifik lokalita dan (c) Mendukung ekspor.
Dalam upaya pengembangan jambu mete sebagai komoditas ekspor
termasuk di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas ini, juga tidak lepas dari era
globalisasi ekonomi dunia membawa dampak kecenderungan persaingan ketat di
pasar dunia. Dengan demikian pertimbangan tingkat kelayakan secara ekonomis
haruslah selalu menjadi pertimbangan utama pada pengembangan produk-produk
pertanian. Komoditas pertanian yang layak secara ekonomiklah yang dapat
ditingkatkan perkembangannya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui
tingkat kelayakan usahatani jambu mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas
Kabupaten Jember. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui:
(a) keuntungan ekonomi usahatani jambu mete (b) efisiensi ekonomi usahatani
jambu mete (c) tingkat bunga pengembalian investasi secara ekonomi usahatani
jambu mete (d) jangka waktu pengembalian investasi secara ekonomi usahatani
jambu mete.
vii
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Analisis yang digunakan adalah kelayakan ekonomi yang terdiri dari Net Present
Value (NPV), Net B/C, Gross B/C, IRR, dan PP. Hasil penelitian dapat
menunjukkan bahwa usahatani jambu mete dengan jumlah pohon ≤600, 601-1100,
>1100 secara ekonomi layak diusahakan pada tingkat suku bunga 18%. Usahatani
jambu mete dengan jumlah pohon 601 – 1100 adalah usahatani yang paling layak
untuk diusahakan karena usahatani tersebut tidak membutuhkan biaya produksi
yang tinggi dan hasil produksi yang diperoleh optimal
Analisis Kelayakan Ekonomi Usahatani Jambu Mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember
Jambu mete adalah salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia
dan juga sebagai komoditas penghasil devisa bagi negara. Prospek pengembangan
komoditi jambu mete untuk masa depan cukup baik, mengingat beberapa hal yang
mendukungnya seperti peluang pasar kacang mete masih terbuka khususnya di
USA, Eropa, Australia, China, India dan Jepang. Salah satu sentra produksi jambu
mete di propinsi Jawa Timur adalah Kabupaten Jember. Di wilayah Kabupaten
Jember jambu mete paling besar diusahakan di Desa Kepanjen Kecamatan
Gumukmas. Pertumbuhan jambu mete di wilayah ini didukung oleh lahan yang
cocok, yakni tanah berpasir. Tujuan pengembangan jambu mete di desa ini adalah
(a) Untuk meningkatkan pendapatan petani (b) Mengembangkan produk unggulan wilayak yang spesifik lokalita dan (c) Mendukung ekspor.
Dalam upaya pengembangan jambu mete sebagai komoditas ekspor
termasuk di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas ini, juga tidak lepas dari era
globalisasi ekonomi dunia membawa dampak kecenderungan persaingan ketat di
pasar dunia. Dengan demikian pertimbangan tingkat kelayakan secara ekonomis
haruslah selalu menjadi pertimbangan utama pada pengembangan produk-produk
pertanian. Komoditas pertanian yang layak secara ekonomiklah yang dapat
ditingkatkan perkembangannya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui
tingkat kelayakan usahatani jambu mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas
Kabupaten Jember. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui:
(a) keuntungan ekonomi usahatani jambu mete (b) efisiensi ekonomi usahatani
jambu mete (c) tingkat bunga pengembalian investasi secara ekonomi usahatani
jambu mete (d) jangka waktu pengembalian investasi secara ekonomi usahatani
jambu mete.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis yang digunakan adalah kelayakan ekonomi yang terdiri dari Net Present Value (NPV), Net B/C, Gross B/C, IRR, dan PP. Hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa usahatani jambu mete dengan jumlah pohon ≤600, 601-1100, >1100 secara ekonomi layak diusahakan pada tingkat suku bunga 18%. Usahatani jambu mete dengan jumlah pohon 601 - 1100 adalah usahatani yang paling layak untuk diusahakan karena usahatani tersebut tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan hasil produksi yang diperoleh optima
PERAN LEMBAGA KEUANGAN KOPERASI GIRI JAYA METE DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS UKM METE DI KELURAHAN TANJUNG SARI KECAMATAN JATISRONO KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2011
Tujuan Penelitian ini adalah (1) mengetahui peran lembaga keuangan
Koperasi Giri Jaya Mete dalam meningkatkan produktivitas UKM mete di
Kelurahan Tanjungsari, (2) Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi lembaga
keuangan Koperasi Giri Jaya Mete dalam meningkatkan produktivitas UKM mete
di Kelurahan Tanjungsari, (3) Mengetahui usaha-usaha yang telah dilakukan oleh
lembaga keuangan Koperasi Giri Jaya Mete untuk mengatasi kendala tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek
penelitian ini adalah Petugas Disperindagkop Kabupaten Wonogiri, Pengurus
Koperasi Giri Jaya Mete dan pengrajin UKM mete sebagai anggota. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model teknik analisis
interaktif. Prosedur penelitian meliputi tahap: (1) Penyusunan Proposal, (2) Ijin
Penelitian, (3) Pengumpulan Data, (4) Analisis Data, (5) Penyusunan Laporan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa (1)
Sebagian besar masyarakat Tanjungsari bekerja di sektor industri mete, tetapi
sebagian besar dari mereka mengalami kesulitan permodalan. Peran lembaga
keuangan yang dapat menangani permodalan UKM ini sangat dibutuhkan
masyarakat. KSU Giri Jaya Mete yang bidang utamanya adalah USP, sangat
berperan membantu para pengrajin mete dalam menyalurkan kredit modal dengan
bunga ringan dan prosedur yang mudah. Dengan demikian, para pelaku UKM
diharapkan dapat tercukupi modalnya untuk memproduksi mete demi
meningkatkan produktivitasnya, (2) Faktor modal adalah unsur terpenting karena
USP merupakan satu-satunya bidang usaha yang dijalankan KSU Giri Jaya Mete.
Selama menjalankan kegiatannya, KSU Giri Jaya Mete mengalami beberapa
permasalahan terutama permodalan, yaitu (a) ketimpangan jumlah anggota dan
peminjam yang mengakibatkan dana yang dihimpun kurang dari dana yang
seharusnya disalurkan, (b) koperasi hanya memiliki tiga orang karyawan yang
masing-masing merangkap sebagai pengurus maupun pengelola, di samping
tingkat SDM yang masih rendah, (c) kredit macet yang dapat mengakibatkan
persediaan modal semakin terbatas, (3) Faktor permodalan koperasi diatasi
dengan cara (a) mengajukan berbagai proposal permohonan modal kepada
pemerintah, (b) menambah jumlah anggota agar jumlah simpanan juga bertambah,
(c) koperasi mengatasi kredit macet dengan merekrut juru tagih yang datang ke
rumah para peminjam dan menagihnya secara berangsur-angsur
Genomic organisation of <i>metE</i> and its interaction with scr5239.
<p>(<b>a</b>) Overview of the <i>metE</i> gene (not to scale). Shown is the region of 1,037,861 to 1,040,606 nt of the <i>S</i>. <i>coelicolor</i> genome. The 382 nt long 5’UTR harbours a B12-dependent transcriptional riboswitch at its 5’ end. In the presence of B12 transcription terminates at position-155 (data not shown). The binding site of scr5239 is depicted as grey box, ranging from +7 to +30 in the <i>metE</i> ORF. Transcriptional terminators are depicted as T. The mRNA fragment M1 was used for <i>in vitro</i> analysis of the metE—scr5239 interaction. (<b>b</b>) 2D structure of scr5239 without <i>metE</i> mRNA bound to it. The binding site on scr5239 and the GTG start codon of <i>metE</i> are depicted in bold. (<b>c</b>) Mobility shift assay of radiolabeled scr5239 with the <i>metE</i> M1 fragment showing the interaction between the two RNAs (left panel). In the right panel scr5239 was preincubated with the DNA oligonucleotide 1-E blocking the binding site for <i>metE</i>.</p
The Equilibrium Constant for MetE Oxidation Is Consistent with MetE Inactivation In Vivo
<div><p>(A) MetE was incubated with the indicated [GSH]/[GSSG] ratios at 1.1 mM (yellow), 2.3 mM (red), 4.6 mM (green), or 9.1 mM (blue) GSH until equilibrium was reached, as judged by a constant level of activity with time. MetE activity was then assayed to determine the relative amount of active reduced enzyme. The equilibrium constant, K<sub>mix</sub> (see <a href="http://www.plosbiology.org/article/info:doi/10.1371/journal.pbio.0020336#pbio-0020336-e002" target="_blank">equation 2</a>) was determined to be 1.4 from the plot of relative MetE activity versus [GSH]/[GSSG]. This value was independent of the GSH concentration and dependent only on the [GSH]/[GSSG] ratio, consistent with glutathionylation as the mechanism of inactivation.</p>
<p>(B) Cellular redox potentials are often referenced in terms of the GSH–GSSG couple, which depends upon [GSH]<sup>2</sup>/[GSSG]. Since inactivation of MetE occurs via glutathionylation (which is dependent on [GSH]/[GSSG]), a redox potential (which is dependent on [GSH]<sup>2</sup>/[GSSG]) for inactivation of MetE (by equilibrium titration with GSH/GSSG) cannot be determined. In order to provide a physiological context for the K<sub>mix</sub> determined in vitro, the equilibrium fraction of MetE expected to be active at different glutathione concentrations, 1 mM (red), 2 mM (green), and 5 mM (blue), was determined as a function of the cellular potential as described in the text. The regions designated “normal growth” and “oxidative stress” were inferred from published estimates of typical redox potentials in cells experiencing these conditions (<a href="http://www.plosbiology.org/article/info:doi/10.1371/journal.pbio.0020336#pbio-0020336-Gilbert1" target="_blank">Gilbert 1990</a>).</p></div
- …
