1,721,155 research outputs found

    Analisis Integrasi Pasar Mete di Kabupaten Wonogiri

    Get PDF
    ANALISIS INTEGRASI PASAR METE DI KABUPATEN WONOGIRI Kustia Wulaningsih1, Endang Siti Rahayu2, dan Mei Tri Sundari3 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta ABSTRAK Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu daerah pengahsil jambu mete di Jawa Tengah dengan luas lahan 20.652 Ha. Jambu mete mengahasilkan produk berupa mete. Proses jambu mete menjadi kacang mete tidak hanya melibatkan proses pengolahan, tetapi juga adanya proses pemasaran.Diperlukan pemasaran yang efisien sehingga dapat memberikan peningkatan kesejahteraan bagi pihak-pihak yang terlibat, terutama petani. Pasar yang efisien akan memberikan informasi harga secara penuh dan segera, baik kepada petani maupun kepada konsumen. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui tingkat keterpaduan pasar mete di Pasar Purwantoro dengan Pasar Wonogiri, (2) Mengetahui efisiensi pasar mete ditinjau dari keterpaduan pasar. Metode penelitian yang dilakukan secara Purposive Sampling yaitu mengambil sampel di Pasar Purwantoro dan Pasar Wonogiri di Kabupaten Wonogiri. Jenis data yang digunakan berupa data harga mete selama 38 bulan di mulai bulan Januari 2013 – Februari 2016. Alat analisis yang digunakan yaitu dengan model IMC (Indeks of Market Connection) yang diperkenalkan oleh Timmer dengan pendekatan Autoregresive Distributed Lag Model yang dikembangkan oleh Ravallion. Hasil Peneitian menunjukkan adanya keterpaduan pasar mete dalam jangka pendek dengan nilai IMC sebesar 0,552. Perubahan harga di Pasar Wonogiri ditransmisikan langsung ke Pasar Purwontoro. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pasar mete di Kabupaten Wonogiri telah berjalan efisien. Kata Kunci : Integrasi Pasar, IMC, Jambu Mete, Wonogir

    STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI METE DI KABUPATEN WONOGIRI

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui besarnya penerimaan, biaya dan pendapatan pengusaha mete di Kabupaten Wonogiri, mengetahui faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi pengembangan industri kecil, mengetahui alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam mengembangkan industri kecil mete, mengetahui prioritas strategi yang paling efektif diterapkan dalam mengembangkan industri kecil mete. Berdasarkan hasil penelitian penerimaan rata-rata yang diperoleh pengusaha Mete selama 30 hari proses produksi sebesar Rp 45.981.538. Biaya total rata-rata yang dikeluarkan pengusaha sebesar Rp 41.341.673. Pendapatan rata-rata yang diterima oleh pengusaha Mete dalam satu kali proses produksi yaitu Rp 4.639.865. sehingga usaha Mete di Kabupaten Wonogiri memiliki prospek untuk dikembangkan oleh pemerintah Kabupaten Wonogiri. Alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam mengembangkan agroindustri Mete di Kabupaten Wonogiri adalah Meningkatkan produksi dan kualitas bahan baku mete lokal, peralatan, untuk menjaga kepercayaan konsumen seiring meningkatnya permintaan, peningkatan kebijakan modal dan pengawasan bahan baku untuk agroindustri mete, meningkatkan kualitas dan jumlah sumber daya manusia pemerintah melalui kegiatan pembinaan untuk memaksimalkan potensi. Prioritas strategi yang dapat diterapkan dalam mengembangkan agroindustri Mete di Kabupaten Wonogiri berdasarkan analisis matriks QSP adalah meningkatkan produksi dan kualitas bahan baku mete lokal, peralatan, untuk menjaga kepercayaan konsumen seiring meningkatnya permintaan

    ANALISIS PEMASARAN JAMBU METE DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

    No full text
    Muna adalah sentra produksi utama jambu mete di provinsi Sulawesi Tenggara . Perkebunan jambu mete di Muna memiliki masalah kualitas seperti produksi yang rendah, pendapatan rendah dan sistem pemasaran yang tidak efisien . Posisi tawar petani lemah karena petani tidak memiliki informasi yang dapat digunakan sebagai harga referensi. Harga ditentukan oleh pedagang jambu mete yang mengakibatkan rendahnya harga jual di tingkat petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strukur pasar, perilaku pasar dan kinerja pasar jambu mete di Kabupaten Muna. Struktur pasar dianalisis dengan Herfindahl Hirchman Index (HHI). Perilaku pasar digambarkan secara deskriptif sedangkan kinerja pasar dianalisis dengan margin pemasaran, pangsa pasar petani dan integrasi vertikal. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purpossive yang dilakukan di sentra produksi jambu mete di Kabupaten Muna yakni Kecamatan Tongkuno dan Kecamatan Kabawo dimulai bulan Juli 2013 sampai September 2013 Lembaga pemasaran yang dianalisis adalah petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan dan pedagang antar pulau (grosir di tingkat kabupaten). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar jambu mete merupakan struktur pasar oligopsoni yang mengakibatkan terjadi kolusi antara pedagang dan industri pengolahan jambu mete. Hasil analisis kinerja pasar menunjukkan bahwa pasar petani tidak terintegrasi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa petani jambu mete adalah penerima harga.</jats:p

    Analisis Pemasaran Jambu Mete di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara

    Get PDF
    Muna adalah sentra produksi utama jambu mete di provinsi Sulawesi Tenggara . Perkebunan jambu mete di Muna memiliki masalah kualitas seperti produksi yang rendah, pendapatan rendah dan sistem pemasaran yang tidak efisien . Posisi tawar petani lemah karena petani tidak memiliki informasi yang dapat digunakan sebagai harga referensi. Harga ditentukan oleh pedagang jambu mete yang mengakibatkan rendahnya harga jual di tingkat petani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strukur pasar, perilaku pasar dan kinerja pasar jambu mete di Kabupaten Muna. Struktur pasar dianalisis dengan Herfindahl Hirchman Index (HHI). Perilaku pasar digambarkan secara deskriptif sedangkan kinerja pasar dianalisis dengan margin pemasaran, pangsa pasar petani dan integrasi vertikal. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purpossive yang dilakukan di sentra produksi jambu mete di Kabupaten Muna yakni Kecamatan Tongkuno dan Kecamatan Kabawo dimulai bulan Juli 2013 sampai September 2013 Lembaga pemasaran yang dianalisis adalah petani, pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan dan pedagang antar pulau (grosir di tingkat kabupaten). Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar jambu mete merupakan struktur pasar oligopsoni yang mengakibatkan terjadi kolusi antara pedagang dan industri pengolahan jambu mete. Hasil analisis kinerja pasar menunjukkan bahwa pasar petani tidak terintegrasi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa petani jambu mete adalah penerima harga

    Analisis Pemasaran Biji Jambu Mete Di Kabupaten Alor

    Get PDF
    RINGKASAN Naema K.H. Gorang Mau, 2016. Analisis Pemasaran Biji Jambu Mete Di Kabupaten Alor. Thesis :Program Pasca Sarjana Universitas Surakarta Sebelas Maret. Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Suprapti Supardi, MP, dan Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M, Si Latar belakang dilakukannya penelitian ini adalah adanya sistim pemasaran biji jambu mete di Kabupaten Alor yang belum terlihat berjalan seperti yang diharapkan oleh para pelaku pasar yang dimulai dari petani sebagai produsen hingga ke konsumen. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Alor dengan tujuan: mengetahui saluran pemasaran biji jambu mete dan mengetahui besarnya margin pemasaran biji jambu mete dan share (bagian)yang seharusnya diterima oleh petani biji jambu mete di Kabupaten Alor. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Primer diperoleh dari survei langsung ke lapangan/lokasi penelitian dan wawancara responden petani dan menggunakan kuesioner. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi atau lembaga yang terkait serta pustaka yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Alat analisis yang digunakan adalah, Saluran Pemasaran, Margin pemasaran dan farmer share. Penelitian ini menggunakan metode survei. Dengan responden sebanyak 75 Petani yang dipilih secara porposional sampling dari sepuluh desa secara purposive. Saluran pemasaran dijelaskan secara deskriptif dan margin pemasaran, distribusi pemasaran dan bagian petani dianalisis dengan margin pemasaran dan farmer share. Hasil penelitian menunjukan Terdapat 3 (tiga) jenis saluran pemasaran biji jambu mete di Kabupaten Alor yaitu : (a) Saluran Pemasaran I : Petani – Pedagang Pengumpul Desa – Pedagang Kabupaten, (b) Saluran Pemasaran II : Petani – Pedagang pengumpul Kecamatan – Pedagang Kabupaten dan (c) saluran pemasaran III : Petani – Pedagang Kabupaten. Dengan margin pemasaran untuk saluran pemasaran I sebesar Rp. 9,160,-/kg pada saluran pemasaran II sebesar Rp. 7,580,65/kg dan pada saluran pemasaran III sebesar Rp. 4,789.47/kg. Distribusi margin pemasaran untuk setiap lembaga pemasaran untuk saluran pemasaran I, margin yang diterima pedagang pengumpul desa sebesar 42.79 % dan pedagang Kabupaten memperoleh margin sebesar 57.21 %, sedangkan pada saluran pemasaran II, margin yang diperoleh pedagang Kecamatan adalah sebesar 45.96 % dan pedagang kabupaten sebesar 54.04 % dan pada saluran III margin yang diterima oleh pedagang Kabupaten sebesar 100 %. Sedangkan bagian harga (share) yang diterima oleh petani jambu mete di Kabupaten Alor sebesar 54.2% untuk pola saluran pemasaran I, dan 61.1% untuk pola saluran pemasaran II sedangkan 76,05% untuk pola saluran pemasaran III

    Analisis Daya Saing Jambu Mete Di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah

    Get PDF
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan daya saing usahatani jambu mete di Kabupaten Wonogiri. Metode penentuan lokasi penelitian secara purposive (disengaja) di Kabupaten Wonogiri. Metode pengambilan sampel petani menggunakan quota sampling sebanyak 60 responden petani jambu mete. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kelayakan usahatani dengan perhitungan NPV, Net B/C Ratio, IRR dan daya saing menggunakan Domestic Resources Cost (DRC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya produksi jambu mete sebesar Rp 744.521,35 per pohon dengan manfaat yang diperoleh petani sebesar Rp 2.532.500,00 per pohon. Hasil perhitungan kelayakan usahatani jambu mete dengan NPV, Net B/C Ratio dan IRR yaitu sebesar Rp 85.664,54, 1,18 dan 14,63%, yang menunjukan bahwa usahatani jambu mete di Kabupaten Wonogiri layak diusahakan. Jambu mete di Kabupaten Wonogiri memiliki nilai DRC* (harga pasar) sebesar Rp 3.904,05/USD per pohon dan nilai DRC (harga bayangan) sebesar Rp 2.323,43/USD per pohon. Jambu mete memiliki nilai keunggulan komparatif (DRCR) sebesar 0,17 dan keunggulan kompetitif (CAR) sebesar 0,29 yang berarti bahwa usahatani jambu mete efisien secara finansial dan ekonomi serta mampu bersaing di pasar internasional. Kata Kunci: Daya Saing, Jambu Mete, Kelayakan Usahatani, Komparatif, Kompetiti

    Analisis Strategi Kebijakan Pengembangan Komoditas Unggulan Jambu Mete di Kabupaten Buton

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya strategi-strategi kebijakan pemerintah Kabupaten Buton dalam pengembangan komoditas unggulan Jambu Mete di Kabupaten Buton masih belum sesuai harapan. Hal ini dapat dilihat dari skala usaha atau tingkat sentra-sentra produksi petani perorangan masih kecil produktivitasnya tersebar diberbagai tempat sehingga menyulitkan proses distribusi pemasaran; kualitas produk perkebunan bervariasi; produk perkebunan bervariasi; dukungan permodalan dan lembaga keuangan sangat terbatas; SDM petani maih terbatas; penerapan teknologi masih terbatas; kondisi sarana dan prasarana juga terbatas serta belum terintegrasinya secara optimal dengan industri pengolahan. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah Bagaimana mendapatkan strategi yang tepat dalam pengembangan sektor komoditas unggulan Jambu Mete di Kabupaten Buton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi kebijakan pengembangan komoditas unggulan Jambu Mete di Kabupaten Buton. Penelitian ini dilakukan di sentra produksi komoditas unggulan Jambu Mete, di Kabupaten Buton dengan populasi penelitian meliputi kelompok tani komoditas unggulan Jambu Mete, Mitra usaha/pengusaha, pihak pemerintah dan informasi kunci yaitu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buton. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan teknik pengambilan data yang digunakan adalah non probability sampling dengan bentuk snowball sampling. Metode yang digunakan untuk mengatahui hal tersebut di atas adalah dengan mengunakan pendekatan manajemen strategis dengan analisis SWOT. Selanjutnya pada tahap perumusan isu-isu strategis, setelah melalui litmus test, maka diperoleh strategi dominan atau prioritas tentang pengembangan komoditas unggulan Jambu Mete di Kabupaten Buton yaitu : penguatan kelembagaan, meningkatkan pemahaman dan pengetahuan terhadap ancaman iklim ekstrim, penguatan modal usaha untuk pengembangan komoditas unggulan Jambu Mete, pengembangan sentra produksi sektor unggulan Jambu Mete. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpuIkan bahwa penerapan strategi pengembangan komoditas unggulan Jambu Mete di Kabupaten Buton ternyata belum menunjang pengembangan komoditas unggulan Jambu Mete

    Analisis Kelayakan Ekonomi Usahatani Jambu Mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember,

    No full text
    Jambu mete adalah salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia dan juga sebagai komoditas penghasil devisa bagi negara. Prospek pengembangan komoditi jambu mete untuk masa depan cukup baik, mengingat beberapa hal yang mendukungnya seperti peluang pasar kacang mete masih terbuka khususnya di USA, Eropa, Australia, China, India dan Jepang. Salah satu sentra produksi jambu mete di propinsi Jawa Timur adalah Kabupaten Jember. Di wilayah Kabupaten Jember jambu mete paling besar diusahakan di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas. Pertumbuhan jambu mete di wilayah ini didukung oleh lahan yang cocok, yakni tanah berpasir. Tujuan pengembangan jambu mete di desa ini adalah (a) Untuk meningkatkan pendapatan petani (b) Mengembangkan produk unggulan wilayak yang spesifik lokalita dan (c) Mendukung ekspor. Dalam upaya pengembangan jambu mete sebagai komoditas ekspor termasuk di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas ini, juga tidak lepas dari era globalisasi ekonomi dunia membawa dampak kecenderungan persaingan ketat di pasar dunia. Dengan demikian pertimbangan tingkat kelayakan secara ekonomis haruslah selalu menjadi pertimbangan utama pada pengembangan produk-produk pertanian. Komoditas pertanian yang layak secara ekonomiklah yang dapat ditingkatkan perkembangannya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani jambu mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui: (a) keuntungan ekonomi usahatani jambu mete (b) efisiensi ekonomi usahatani jambu mete (c) tingkat bunga pengembalian investasi secara ekonomi usahatani jambu mete (d) jangka waktu pengembalian investasi secara ekonomi usahatani jambu mete. vii Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis yang digunakan adalah kelayakan ekonomi yang terdiri dari Net Present Value (NPV), Net B/C, Gross B/C, IRR, dan PP. Hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa usahatani jambu mete dengan jumlah pohon ≤600, 601-1100, >1100 secara ekonomi layak diusahakan pada tingkat suku bunga 18%. Usahatani jambu mete dengan jumlah pohon 601 – 1100 adalah usahatani yang paling layak untuk diusahakan karena usahatani tersebut tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan hasil produksi yang diperoleh optimal

    Analisis Kelayakan Ekonomi Usahatani Jambu Mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember

    No full text
    Jambu mete adalah salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia dan juga sebagai komoditas penghasil devisa bagi negara. Prospek pengembangan komoditi jambu mete untuk masa depan cukup baik, mengingat beberapa hal yang mendukungnya seperti peluang pasar kacang mete masih terbuka khususnya di USA, Eropa, Australia, China, India dan Jepang. Salah satu sentra produksi jambu mete di propinsi Jawa Timur adalah Kabupaten Jember. Di wilayah Kabupaten Jember jambu mete paling besar diusahakan di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas. Pertumbuhan jambu mete di wilayah ini didukung oleh lahan yang cocok, yakni tanah berpasir. Tujuan pengembangan jambu mete di desa ini adalah (a) Untuk meningkatkan pendapatan petani (b) Mengembangkan produk unggulan wilayak yang spesifik lokalita dan (c) Mendukung ekspor. Dalam upaya pengembangan jambu mete sebagai komoditas ekspor termasuk di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas ini, juga tidak lepas dari era globalisasi ekonomi dunia membawa dampak kecenderungan persaingan ketat di pasar dunia. Dengan demikian pertimbangan tingkat kelayakan secara ekonomis haruslah selalu menjadi pertimbangan utama pada pengembangan produk-produk pertanian. Komoditas pertanian yang layak secara ekonomiklah yang dapat ditingkatkan perkembangannya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani jambu mete di Desa Kepanjen Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui: (a) keuntungan ekonomi usahatani jambu mete (b) efisiensi ekonomi usahatani jambu mete (c) tingkat bunga pengembalian investasi secara ekonomi usahatani jambu mete (d) jangka waktu pengembalian investasi secara ekonomi usahatani jambu mete. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis yang digunakan adalah kelayakan ekonomi yang terdiri dari Net Present Value (NPV), Net B/C, Gross B/C, IRR, dan PP. Hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa usahatani jambu mete dengan jumlah pohon ≤600, 601-1100, >1100 secara ekonomi layak diusahakan pada tingkat suku bunga 18%. Usahatani jambu mete dengan jumlah pohon 601 - 1100 adalah usahatani yang paling layak untuk diusahakan karena usahatani tersebut tidak membutuhkan biaya produksi yang tinggi dan hasil produksi yang diperoleh optima

    Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani jambu mete di Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi dan pendapatatan usaha tani jambu mete di Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Tujuan tersebut menggunakan 2 metode 2 analisis 2 regresi dan 2 pengujian asumsi klasik (multikolinearitas dan heterokedastisitas). Berdasarkan dimensi waktunya adalah cross-section pada tahun 2015, dengan menggunakan proposional random sampling untuk ukuran sampel yang digunakan, dimana sampel responden sebanyak 50 jiwa yang terdiri dari Desa Bontokassi sebanyak 27 jiwa dan Desa Belabori sebanyak 23 jiwa pada wilayah Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Hasil penelelitian menunjukkan bahwa variabel pupuk urea, tenaga kerja, tanggungan keluarga, dan dummy wilayah berpengaruh signifikan terhadap produksi jambu mete, sedangkan herbisida, bibit, luas lahan, umur tani, pengalaman bertani dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi jambu mete di Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel harga pupuk urea dan dummy wilayah berpengaruh signifikan terhadap pendapatan jambu mete, sedangkan harga herbisida, harga bibit, umur tani, dan pengalaman bertani tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan jambu mete di Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa. Kata kunci : Produksi, dan Pendapata
    corecore