27 research outputs found
HUBUNGAN POLIMORFISME GEN DAN KADAR ANGIOPOETIN 2 SERTA KADAR VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR DENGAN TINGKAT KEPARAHAN PENYAKIT AKIBAT INFEKSI VIRUS DENGUE PADA ANAK
Hubungan Polimorfisme Gen dan Kadar Angiopoetin-2 serta Kadar Vascular
Endothelial Growth Factor dengan Tingkat Keparahan
Penyakit Akibat Infeksi Virus Dengue pada Anak
Mayetti
Latar Belakang.Manifestasi klinis infeksi virus dengue sangat bervariasi, mulai dari
bentuk yang asimptomatik sampai bentuk sangat berat, yaitu sindrom syok dengue
(SSD) yang dapat menyebabkan kematian. Beberapa penelitian menunjukkan adanya
pengaruh genetik terhadap keparahan penyakit akibat infeksi virus dengue. Beratnya
penyakit disebabkan oleh integritas endotel vaskular. Angiopoetin-2 (ANGPT-2) dan
Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) merupakan protein angiogenik yang
berperan dalam terjadinya kebocoran plasma.Beberapa penelitian menunjukkan
pengaruh polimorfisme gen ANGPT-2 pada beberapa penyakit, namun pada infeksi
virus dengue belum pernah diteliti.
Tujuan penelitian.Mengetahui hubungan polimorfisme gen dan kadar ANGPT-2
serta kadar VEGF dengan tingkat keparahan penyakit akibat infeksi virus dengue
pada anak.
Metode.Penelitian merupakan suatu penelitian cross sectional observasional pada
anak dengan infeksi virus dengue di RSUP Dr M Djamil Padang. Sebanyak 108 anak
dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan infeksi dengue menurut WHO 2011,
yaitu demam dengue, demam berdarah dengue, dan sindrom syok dengue.
Pemeriksaan kadar ANGPT-2 dan VEGF dengan metodeenzyme-linked
immunosorbent assay menggunakan Kit ANGPT-2 &Human Quantikine VEGF
Immunoassay, Ray Biotech. Isolasi DNA menggunakan Mini Kit genomic DNA.
Dilakukan polymerase chain reaction dan sekuensing DNA menggunakan 2 primer
Exon 4-F, yaitu primer forward 5’-CACCCATATCCCACCTATCCT-3’ dan primer
reverse5’-TGCCCAGTCTCATCCTTCTA-3’. Primer disintesis oleh Integrated DNA
Technologies, Singapura. Kadar ANGPT-2, VEGF dan jenis mutasi dihubungkan
dengan tingkat keparahan penyakit. Analisis statistik menggunakan uji chi-square
dan anova dengan signifikansi (p<0,05). Jika distribusi data tidak normal, disajikan
dalam median dan diuji dengan uji Kruskal Wallis atau Mann-Whitney.
Hasil.Terdapat peningkatan yang bermakna secara statistik (p<0,05) kadar ANGPT-2
sesuai tingkat keparahan penyakit. Kadar VEGF cenderung meningkat sesuai tingkat
keparahan penyakit namun tidak bermakna. Polimorfisme gen ANGPT-2 ditemukan
pada 8 dari 10 SNP yang diperiksa, mutasi terbanyak pada Exon 4 rs3020221 G/A
(35,18%). Ditemukan SNP baru (4c.46981), berlokasi pada urutan basa ke-232,
mengubah asam amino lysin menjadi glutamate. Kadar ANGPT-2 kelompok mutan
rs7834131 lebih tinggi dibandingkan non mutan.Polimorfisme gen ANGPT-2 tidak
memengaruhi tingkat keparahan penyakit.
Kesimpulan. Terdapat peningkatan bermakna kadar ANGPT-2 sesuai tingkat
keparahan penyakit, kadar VEGF juga meningkat tapi tidak bermakna. Polimorfisme
pada rs7834131 diduga mempunyai efek protektif terhadap keparahan penyakit
infeksi virus dengue pada anak.
Kata Kunci : Infeksi virus dengue , anak, ANGPT-2, polimorfisme gen, VEGF
ABSTRACT
Association of Gene Polymorphism, Angiopoietin-2 Level and Vascular
Endothelial Growth Factor Level with Dengue Virus Infection
Severity in Children
Mayetti
Background: Clinical manifestations of dengue virus infection vary widely, ranging
from asymptomatic to heavy forms, dengue shock syndrome (DSS) which can cause
death. Recent several studies have demonstrated that there is genetically influence
such as mutation and polymorphism toward dengue infection severity. Angiopoietin-
2 (ANGPT-2) and Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) are protein molecule
that playing role on integrity and damage of endothelial. Several studies have shown
that polymorphism influence in ANGPT-2 gene toward some diseases. On contrary
ANGPT-2 gene polymorphism in infected children has been yet observed.
Objective: This study aimed to determine association of gene polymorphism,
ANGPT-2 level and VEGF level with dengue infection severity in children.
Methods: This study was observational method with cross sectional study in 108
infected dengue children in Dr. M. Djamil Hospital Padang. All patient was classified
according to World Health Organization (WHO) 2011 into 3 DF (34), DHF (39), and
DSS (35). Level of ANGPT-2 and VEGF were examined by Enzyme-Linked
Immunosorbent Assay (ELISA) using ANGPT-2 &Human Quantikine VEGF
Immunoassay Kit, Ray Biotech. Gene DNA was isolated by using genomic DNA
mini kit, PCR using direct DNA sequencing method by using two primary Exon 4;
primary forward 5’-CACCCATATCCCACCTATCCT-3’, and primary reverse 5’-
TGCCCAGTCTCATCCTTCTA-3’. Primary was synthesized by Integrated DNA
Technologies (IDT), Singapore then conducted BLAST analysis and sequencing all
samples. Angiopoietin-2 level, VEGF and type of mutation are associated with
dengue infection severity. Analytical statistic was chi-square test and anova with
significant level (p<0,05) if distribution data was not normal so it was presented in
median data and tested by Kruskali Wails, Mann-Whitney
Result: The results showed an increase in ANGPT-2 levels according to the severity
and that increasing was statistically significant (p<0.05). While VEGF levels
increased along with severity of the disease though it was not significantly.
Polymorphism was found in 8 of the 10 SNPs examined, and the most mutation
occurred at Exon 4 rs3020221 G/A (35,18%). This study also found a new SNP
4c.46981 located on the sequence of bases to 232 changing lysine to glutamine. The
level of ANGPT-2 in the mutation group rs7834131 was higher than the normal.
ANGPT-2 gene polymorphism didn’t affect the severity of the disease.
Conclusion: there is an increase of ANGPT-2 levels according to the severity, VEGF
levels is also increasing but it’s not statistically significant. ANGPT-2 gene
polymorphism at rs7834131 has been assumed that has protective effect toward the
severity of the disease due to dengue virus infection in children.
Keyword: dengue virus infection, children, ANGPT-2, gene polymorphism, VEG
Hubungan Gambaran Klinis dan Laboratorium Sebagai Faktor Risiko Syok pada Demam Berdarah Dengue
Latar belakang. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit endemis dengan angka kematian yang
masih tinggi. Gambaran klinis bervariasi, pasien yang awalnya tampak ringan dapat mengalami syok dan
meninggal. Sampai saat ini masih sulit mengetahui mana di antara pasien yang akan mengalami syok.
Tujuan. Mengetahui hubungan gambaran klinis dan parameter laboratorium sebagai faktor risiko syok
pada pasien DBD.
Metode. Penelitian kohort retrospektif data rekam medik pasien DBD (kriteria WHO 1997) yang dirawat
di RS. M. Djamil Padang pada Januari-Desember 2007. Dicatat umur, jenis kelamin, status gizi, suhu,
manifestasi perdarahan, hepatomegali, nilai hemoglobin, leukosit, hematokrit, dan trombosit saat masuk
rumah sakit serta derajat DBD, dihubungkan dengan kejadian syok. Analisis memakai uji chi-square,
fischer’s exact, risiko relatif dan analisis multivariat regresi logistik.
Hasil. Dari 259 pasien yang memenuhi kriteria penelitian, 119 (46%) mengalami syok. Pasien dengan
suhu <37,5 oC, perdarahan spontan, dan hepatomegali mengalami syok berturut-turut 55,3%, 90,5%, dan
71,9%. Pasien dengan hemoglobin >14 gr%, leukosit >10000/ mm3, hematokrit >50 vol% dan trombosit
<20000/ mm3 berturut-turut mengalami syok 65,4%, 70%, 79,3% dan 70%, berbeda bermakna dibanding
yang tidak syok (p<0,05). Kemungkinan mengalami syok lebih besar (+2 kali) apabila suhu <37,5oC,
perdarahan spontan, hepatomegali, hematokrit >42 vol%, hemoglobin >14gr%, leukosit >5000/mm3 dan
trombosit <50000/ mm3. Analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling berhubungan dengan syok
adalah suhu, perdarahan spontan, hepatomegali, jumlah trombosit, hematokrit, dan leukosit (p<0,05).
Kesimpulan. Gambaran klinis berupa perdarahan spontan, hepatomegali, suhu tubuh dan parameter
laboratorium yaitu jumlah trombosit, hematokrit, leukosit paling berhubungan, dan merupakan faktor
risiko syok pada DBD
Pola Bakteriologis dan Uji Sensitivitas pada Sepsis Neonatorum Awitan Dini
Latar belakang. Insidens sepsis neonatorum di negara berkembang masih tinggi sekitar (1,8-18/1000). Diagnosis dan tata laksana dini sangat penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian pada neonatus.
Tujuan. Mengetahui insidens sepsis neonatorum, bakteri penyebab serta sensitivititas dari antibiotik yang digunakan.
Metode. Penelitian retrospektif pada neonatus yang dirawat di Ruang Perinatologi Risiko Tinggi (Peristi) level II RSUP Dr. M. Djamil Padang, 1 Januari sampai 30 Juni 2009. Subjek penelitian adalah semua neonatus dengan sepsis neonatorum awitan dini disertai biakan darah positif. Kriteria eksklusi apabila data rekam medis tidak lengkap.
Hasil. Terdapat 53 neonatus yang didiagnosis sepsis neonatorum dini dengan biakan darah yang positif. Staphylococcus aureus (32,6%) merupakan penyebab yang terbanyak diikuti oleh Klebsiella sp dan Enterobacter sp (masing-masing 22,6%). Sulbactam-sefoperazon dan meropenem merupakan antibiotik yang paling sensitif terhadap mikroorganisme tersebut.
Kesimpulan. Bakteri terbanyak penyebab sepsis awitan dini pada 13 neonatus adalah Staphylococcus aureus. Sulbactam-sefoperazon dan meropenem merupakan antibiotik paling sensitif
MUKOSITIS PADA ANAK KANKER YANG MENJALANI KEMOTERAPI DI RSUP dr.M.DJAMIL PADANG
Abstrak
Mukositis merupakan suatu peradangan pada membran mukosa yang sering terjadi pada anak yang menderita kanker saat kemoterapi. Tujuan: Melihat gambaran kejadian mukositis sebelum dan sesudah dilakukan kemoterapi. Metode: Desain penelitian yaitu deskriptif terhadap 45 responden yaitu anak dengan kanker yang menjalani kemoterapi. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Pengumpulan data pada responden dengan menggunakan WHO mucositis scale. Analisa data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Didapatkan sebelum menjalani kemoterapi seluruh responden (100%) tidak mengalami mukositis, sementara itu setelah menjalani kemoterapi didapatkan 28 responden (62,2%) mengalami mukositis dan 17 responden (37,8%) tidak mengalami mukositis. Simpulan: Deteksi dini mukositis sangat perlu sekali melalui pemeriksaan klinis yang dilakukan setelah anak menjalani kemoterapi. Perawat dapat mempertimbangkan dampak yang sering terjadi pada anak yang menjalani kemoterapi, serta adanya evidance practice yang diterapkan untuk mengatasi kejadian mukositis
Hubungan antara Proteinuria dan Hipoalbuminemia pada Anak dengan Sindrom Nefrotik yang Dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2009-2012
AbstrakSindrom nefrotik terdiri dari proteinuria massif, hipoalbuminemia, edema, serta dapat disertai hiperkolesterolemia. Proteinuria merupakan gejala utama pada sindrom nefrotik, sedangkan gejala klinis lainnya dianggap sebagai manifestasi sekunder. Kehilangan protein melalui urin menyebabkan terjadinya hipoalbuminemia. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara proteinuria dan hipoalbuminemia pada anak dengan sindrom nefrotik. Metode yang digunakan adalah studi retrospektif dengan desain Cross Sectional. Data sekunder diambil dari rekam medik pasien yang didiagnosis sebagai Sindrom Nefrotik Anak di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2009 - April 2012. Penelitian berlangsung dari Oktober 2011- Desember 2012. Hasil penelitian menunjukan insiden tertinggi sindrom nefrotik pada kelompok umur >6 tahun terutama pada anak laki-laki dengan rasio 1,43:1. Sebagian besar pasien memiliki kadar protein urin semikuantitatif +3 dengan rata-rata kadar protein urin kuantitatif 3,121 ± 2,157 gr/24 jam. Hampir seluruh pasien mengalami hipoalbuminemia (98,2%). Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara proteinuria dan hipoalbuminemia (p > 0.05). Hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah subjek yang kurang, sehingga penelitian selanjutnya diharapkan berlangsung lebih lama agar didapatkan jumlah subjek yang lebih besar.Kata kunci: Anak dengan sindrom nefrotik, Proteinuria, HipoalbuminemiaAbstractNephrotic syndrome consist of massive proteinuria, hypoalbuminemia, edema, and may be accompanied by hypercholesterolemia. Proteinuria is a major symptom of nephrotic syndrome, while the other clinical symptoms considered secondary manifestations. Loss of protein in the urine leads to hypoalbuminemia. This study aims to identify the relationship between proteinuria and hypoalbuminemia in children with Nephrotic Syndrome. Method of this research performed a retrospective study with cross sectional design. Secondary data were taken from medical record of patients that were diagnosed as Nephrotic Syndrome Children in General Hospital Dr. M. Djamil Padang period January 2009 - April 2012. The study was held on October 2011 - December 2012. The result of this study showed that the highest incidence of Nephrotic Syndrome in the age group >6 years old especially in male with the ratio 1,43:1. Most of patients have levels of semiquantitative urinary protein +3 with average levels of quantitative urinary protein 3.121 ± 2.157 gr/24 hours. Almost all of the patients had hypoalbuminemia (98.2%). Statistical analysis showed that there was no significant relationship between proteinuria and hypoalbuminemia (p> 0.05). This may be due to the less number of subjects, so further research is expected to last much longer in order to have a larger number of subjects.Keywords:Nephrotic syndrome children, Proteinuria, Hypoalbuminemia</p
Uji Diagnostik CD64 Netrofil untuk Sepsis pada Anak dengan Systemic Inflammatory Response Syndrome
Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada anak. Diagnosis dini sepsis sangat penting untuk menghindari keterlambatan atau overtreatment pemberian antibiotik. Kultur darah memerlukan waktu yang lama sehingga dibutuhkan suatu marker yang bisa menentukan diagnosis sepsis secara dini.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan CD64 netrofil sebagai salah satu marker untuk deteksi dini sepsis.
Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di IGD RS Dr. M. Djamil Padang. Dilakukan pemeriksaan index CD64 netrofil dan kultur bakteri darah sebagai baku emas pada anak dengan systemic inflammatory response syndrome (SIRS). Analisis stastistik dilakukan untuk menetapkan cut off point index CD64 netrofil untuk diagnosis sepsis.
Hasil. Rerata index CD64 netrofil lebih tinggi pada kultur bakteri darah yang positif. CD64 netrofil memiliki sensitivitas 95,8%, spesifisitas 81,6%, nilai prediksi positif 76,7%, dan nilai prediksi negatif 96,9% dengan penetapan cut-off point 1,5. Pada penelitian ini didapatkan nilai cut off point 1,49.
Kesimpulan. Indeks CD64 netrofil dapat digunakan sebagai parameter diagnostik pada sepsis. Nilai cut-off point index CD64 netrofil yang direkomendasikan sebagai batasan sepsis pada anak dengan SIRS adalah 1,49 atau 1,5
Karakteristik Anak Leukemia Limfoblastik Akut yang Menjalani Kemoterapi
This study aims to describe the characteristics of children with acute lymphoblastic leukemia undergoing chemotherapy at Dr. M. Djamil Padang. This type of research is descriptive-analytic with a cross-sectional approach. The results showed that the characteristics of the respondents of children with acute lymphoblastic leukemia were mainly school aged (6-12 years), totaling 16 respondents with a percentage of (72.7%). The characteristics of respondents based on gender are primarily male, namely as many as 15 respondents with a ratio of (68.15%). The features of respondents based on nutritional status were divided into three categories, including undernutrition which amounted to 3 respondents with a percentage (13.65%). Normal nutrition amounted to 12 respondents with a rate (of 54.55%), and excess food amounted to 7 respondents with a percentage (of 31.85 %). In conclusion, the description of the characteristics of children with acute lymphoblastic leukemia undergoing chemotherapy is that the majority are school-age children (6-12 years), male, and in average (reasonable) nutritional status.
Keywords: Children, Chemotherapy, Leukemi
Hubungan Kadar Zinc dan Pola Asuh Ibu dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 2 – 5 Tahun di Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman
Stunting is a short body condition based on height according to age (TB / U) whose standard deviation is less than -2 and -3 from the z-score calculation of the WHO child growth standard table. Stunting is an irreversible growth disorder due to inadequate nutrition and recurring infections during the first 1000 days of life. Indicators of chronic malnutrition that occur in a long time so that stunting in children under five, especially at the age of 2-5 years stunting will be clearly visible and is one indicator of chronic nutritional status that can provide an overall picture of the disorder in the past. The causes of stunting are lack of nutrition, infectious diseases, poor parenting, poor environmental sanitation and low health services. Zinc deficiency can cause impaired growth and decreased immunity. One of the biomarkers used is the analysis of hair zinc levels because it can describe chronic zinc levels in the past so it is appropriate to measure zinc levels in the stunting condition which is a long-standing condition of malnutrition. The croos sectional research design was carried out in the Panti District of Pasaman Regency and the West Sumatra Regional Health Laboratory in June to July 2019. The study sample were mothers and children aged 2-5 years as many as 60 people divided into two groups which are stunting and normal children, taken by proportional stratified simple random sampling. Zinc levels were measured by atomic absorption spectrophotometry (AAS) while parenting used questionnaires. Statistical test using Mann Whitney test and Chi Square. The results showed the mean zinc levels in stunting children 154.70 (9-387) µg / g and zinc levels in normal children 241.00 (60-933) µg / g with p = 0.018. parental feeding (p = 0.009), hygiene parenting (p = 0.034). health care parenting (p = 0.017), psychosocial stimulation parenting care (0,000). The conclusion of this study is that there is a significant association between zinc levels and parenting with the incidence of stunting
Hubungan Sepsis Neonatorum dengan Berat Badan Lahir pada Bayi di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Sepsis neonatorum merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah utama pada neonatus saat ini, karena banyaknya faktor risiko yang belum dapat dicegah.Salah satu faktor risiko tersebut adalah berat badan lahir rendah atau lebih. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan sepsis neonatorum dengan berat badan lahir pada bayi di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jenis penelitian ini adalah analitik retrospektif dengan metode case control study. Populasi adalah seluruh neonatus yang mengalami sepsis neonatorum (kasus) dan yang tidak mengalami sepsis neonatorum (kontrol) yang diambil dari data rekam medik RSUP.Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2014 sampai Juli 2016. Subjek penelitian adalah populasi dengan data rekam medik yang lengkap. Hasil penelitian diolah dengan uji Chi-square. Jumlah subjek penelitian adalah 162 orang yang terdiri dari 81 kasus dan 81 kontrol. Dari 81 neonatus yang mengalami sepsis neonatorum, 43 diantaranya mengalami sepsis dengan late onset sepsis, 38 dengan early onset sepsis, 25 dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan 56 tidak BBLR. Setelah dilakukan uji hubungan antara sepsis neonatorum dengan berat badan lahir menggunakan uji Chi-square didapatkan nilai p=0,601, OR=1,276, CI= 0,643-2,530. Simpulan studi ini ialah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara sepsis neonatorum dengan berat badan lahir bayi. BBLR memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami sepsis daripada yang tidak BBLR
High Sensitivity C-Reactive Protein sebagai Parameter Diagnostik dan Prediktor Luaran Sepsis pada Anak yang Menderita Systemic Inflammatory Response Syndrome
Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada anak. Diagnosis
sepsis ditegakkan berdasarkan gejala Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan penemuan bakteri
pada kultur darah. Kultur bakteri darah memiliki sensitifitas yang rendah dan membutuhkan waktu yang
lama sehingga sering menyebabkan terjadinya overdiagnosis dan overtreatment. C-reactive protein adalah
reaktan fase akut yang kadarnya meningkat pada keadaan infeksi. High sensitivity C-reactive protein (hs-
CRP) adalah metode yang lebih sensitif untuk mengukur kadar CRP dalam jumlah kecil.
Tujuan. Mengetahui peran hs-CRP sebagai parameter diagnostik dan prediktor luaran sepsis pada anak
yang menderita SIRS.
Metode. Penelitian uji diagnostik dengan desain potong lintang terhadap 85 anak dengan gejala SIRS berusia
1 bulan sampai dengan 15 tahun dan dirawat di bangsal anak RS.Dr.M.Djamil Padang sejak Juni sampai
November 2012. Pemeriksaan hs-CRP dilakukan dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).
Data dianalisis dengan SPSS serta dilakukan uji diagnostik. Baku emas sepsis adalah biakan darah.
Hasil. Cut off point hs-CRP untuk menentukan sepsis adalah 15,55 ng/ml, (sensitivitas 90,9% dan spesivisitas
53,8%). Kadar rata-rata hs-CRP meningkat sesuai dengan beratnya penyakit.
Kesimpulan. High sensitivity C-reactive protein dapat dijadikan sebagai parameter diagnostik sepsis pada
pasien SIRS dengan cut off point 15,55 ng/ml, serta dapat dipakai sebagai prediktor luaran sepsis
