15,616 research outputs found
Islamic Economics system In the Eyes of Maulana Maududi-An Analysis
Attempt has been made to investigate the Islamic Economics System from the perspectives of Maulana Maududi. He is one of the greatest thinkers that Islamic world has ever produced. He was a great scholar, and has written a large number of books, articles and booklets on different aspects of Islam. Economics has been one of the fields of his interest. It may be said that at least in the Sub-Continent, he was the person, who has established “Economics of Islam” as a separate branch of knowledge. In this context, he has highlighted the characteristics, principles and objectives of this system. On the pattern set by him, a large number of Muslim economic thinkers have followed his line of thinking. According to Maulana Maududi basic principles of Islamic economic systems are: private ownership, limits of halal and haram, economic equality, free economy and welfare role of state. Whereas this system is established to achieve the objectives of human liberty, simultaneous development of material and moral growth, establishment of justice, equal distribution of wealth, fulfillment of basic needs of people and co-ordination between different groups of society.Islamic economic system, Principles, Objectives.
Persepsi Maulana Muhammad Ali tentang hukuman mati bagi pelaku riddah
Berbicara masalah riddah merupakan tema yang menarik karena disatu segi para ulama berpendapat bahwa pelaku riddah harus dihukum mati. Sedangkan di segi lain, seorang mantan presiden gerakan Ahmadiyah Lahore yaitu Maulana Muhammad Ali tidak setuju jika pelaku riddah diancam dengan hukuman mati. Pendapat Maulana Muhammad Ali diketengahkan dalam bukunya yang berjudul The Religion of Islam. dalam kata pengantar bukunya ini, Maulana Muhammad Ali menyatakan bahwa tujuannya mengarang buku tersebut adalah untuk memberi gambaran yang benar tentang Islam. Yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimana pendapat Maulana Muhammad Ali tentang hukuman mati bagi pelaku riddah? Bagaimana istinbat hukum Maulana Muhammad Ali tentang hukuman mati bagi pelaku riddah?.
Jenis penelitian adalah library research. Sebagai data primer yaitu karya Maulana Muhammad Ali yaitu The Religion of Islam. Sedangkan data sekunder, yaitu karya lain dari Maulana Muhammad Ali: The Holy of Qur'an; dan A. Manual of Hadis dan kepustakaan lain yang menunjang data primer. Untuk menganalisis data, digunakan metode hermeneutic, deskriptif analitis, dan komparatif.
Masalah riddah merupakan tema yang menarik karena disatu segi para ulama berpendapat bahwa pelaku riddah harus dihukum mati. Sedangkan di segi lain, seorang mantan presiden gerakan Ahmadiyah Lahore yaitu Maulana Muhammad Ali tidak setuju jika pelaku riddah diancam dengan hukuman mati. Pendapat Maulana Muhammad Ali diketengahkan dalam bukunya yang berjudul The Religion of Islam. dalam kata pengantar bukunya ini, Maulana Muhammad Ali menyatakan bahwa tujuannya mengarang buku tersebut adalah untuk memberi gambaran yang benar tentang Islam. Hampir merupakan konsensus di antara para ahli hukum Islam bahwa tindak pidana ini diancam dengan hukuman mati. Tetapi, pelakunya tidak serta-merta dijatuhi hukuman. Harus ada upaya untuk menyadarkan si pelaku agar ia kembali kepada Islam. Menurut penulis istinbat hukum yang digunakan Maulana Muhammad Ali sudah benar, namun penafsiran Maulana Muhammad Ali dapat dikatakan keliru, karena al-Qur'an sudah jelas-jelas mewajibkan umat Islam yang memiliki wewenang untuk menghukum pelaku riddah. Justru istinbat hukum yang digunakan Maulana Muhammad Ali pada prinsipnya bertentangan dengan pendapatnya. Karena itu istinbat hukum yang digunakan Maulana Muhammad Ali tidak tepa
Studi analisis konsep Maulana Muhammad Ali tentang jihad
Jihad merupakan satu konsep dan tuntutan dalam Islam yang agak polemik dan kontroversi. berbagai kesalah fahaman tentang pengertian jihad serta konsep jihad yang sebenarnya menurut Islam, telah menjadi isu yang menarik dan sensitif di kalangan masyarakat dunia dewasa ini. Baik dari kalangan orang islam sendiri maupun dari non-islam lebih lagi dari pemikir bangsa Eropa yang mendiskriditkan Islam identik dengan kekerasan. Pada tahun 1930, pemikir dari Belanda A.J. Wensinck, mengeluarkan buku pedoman tentang hadits yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Handbook of Early Muhammadan Tradition. Dalam buku itu terdapat keterangan mengenai jihad yang berarti "perang suci" dan didalam buku The Religion of Islam F.A. Klean seorang pendeta inggris mengartikan jihad "perang melawan kaum kafir dengan tujuan memaksa mereka memeluk agama Islam"
Melihat banyak kekeliruan dari pemikir bangsa Eropa tersebut ada keterpanggilan Maulana Muhammad Ali untuk meluruskan pengertian berbagai pengarang barat, dan sehingga juga di dalam buku The Religion of Islam karya Muhammada Ali, dia menyoroti dari pemikir orang Islam itu sendiri yaitu, dari golongan ulama ahli fiqih yang menurut Muhammad Ali didalam sebagian besar pembahasan kitab-kitab fiqih ketika membahas tentang jihad mereka mengidentikannya dengan qital (perang), dan lama kelamaan arti istilah jihad yang luas menjadi sempit. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui konsep jihad menurut Maulana Muhammad Ali. (2) untuk mengetahui apa yang melatar belakangi pemikiran Maulana Muhammad Ali yang menganggap keliru pengertian jihad persfektif ulama fiqih.
Jenis penelitian ini adalah kepustakan (librari reseach) yang bersifat kualitatif. dalam menganalisis penulis menggunakan metode (1) Metode komparatif, yaitu metode pemekaran inti dalam pemikiran yang membandingkan konsep pemikiran Maulana Muhammad Ali dengan ulama fiqih. (2) Metode hermeneutic, yaitu, metode penafsiran isi sebuah teks. (3) Metode historis yaitu sebuah proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa ataupun gagasan yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha untuk memahami kenyataan-kenyataan sejarah. (4) Metode Deskriptif Analitis yaitu, cara penulisan dengan mengutamakan pengamatan terhadap gejala, peristiwa dan kondisi aktual di masa sekarang.
Adapun hasil penelitian menujukkan Pertama, Nilai-nilai ajaran yang ditawarkan Maulana Muhammad Ali tentang jihad adalah mengupayakan adanya kelenturan berpikir atas teks-teks jihad yang terkandung di dalam Al-Qur`an dan sunah Rasulullah SAW. Yaitu sikap jihad yang masih bersifat universal dalam konteks penerapannya di segala persoalan kehidupan yang masih komplek dan kontekstual. Implikasi konsep jihad Muhammad Ali akan memberikan pencerahan pemikiran dan pembelaan terhadap Islam dari kalangan yang mendiskriditkan Islam sebagai sarang teroris. Kedua, Adapun yang membedakan persepsi jihad antara ulama fiqih dan maulana Muhammad Ali hanya pada dimensi sudut pandangnya saja. Ulama fiqih lebih mengedepankan aspek formalitas dan otoritas syariah, dalam memberikan makna jihad pada nash Al-Quan dan hadist Nabi SAW. Mereka Mengacu pada makna hakiki syar’i (makna syari’ah). Sedangkan Muhammad Ali cenderung kurang formal tapi lebih pada upaya realisasi konsep jihad yang bersifat universal dan kontekstual. Pemikran Muhammad Ali sendiri di pengarui oleh pemikran Mirza Ghulam Ahmad sebagai pendiri Ahmadiyah yang berorientasi pada pembaharuan pemikiran yang bercorak liberal dan kontekstual
Pendapat Maulana Muhammad Ali tentang penolakan hukuman rajam bagi pelaku zina muhsan
Dalam hukum Islam perzinaan dianggap sebagai suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan sebagai jarimah. Pendapat ini disepakati oleh ulama, kecuali perbedaan hukumannya. Menurut sebagian ulama tanpa memandang pelakunya, baik dilakukan oleh orang yang belum menikah atau orang yang telah menikah, selama persetubuhan tersebut berada di luar kerangka pernikahan, hal itu disebut sebagai zina dan dianggap sebagai perbuatan melawan hukum. Juga tidak mengurangi nilai kepidanaannya, walaupun hal itu dilakukan secara sukarela atau suka sama suka. Meskipun tidak ada yang merasa dirugikan, zina dipandang oleh Islam sebagai pelanggaran seksualitas yang sangat tercela, tanpa kenal prioritas dan diharamkan dalam segala keadaan. Anggapan seperti ini sangat jauh berbeda dengan hukum positif yang bersumber dari hukum Barat. Dalam hukum positif, zina tidak dianggap sebagai suatu pelanggaran dan tentu tidak dihukum, selama tidak ada yang merasa dirugikan. Rumusan masalah yaitu apa latar belakang pendapat Maulana Muhammad Ali yang menolak hukuman rajam bagi pelaku zina muhsan? Bagaimana istinbat hukum Maulana Muhammad Ali yang menolak hukuman rajam bagi pelaku zina muhsan.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dengan jalan melakukan penelitian terhadap sumber-sumber tertulis, maka penelitian ini bersifat kualitatif. Sumber primer atau tangan pertama, adalah data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung dari buku sebagai sumber informasi yang dicari. Sumber utama tersebut, yaitu The Religion of Islam karya Maulana Muhammad Ali. Adapun sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Sebagai analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa menurut pendapat Maulana Muhammad Ali, tidak ada istilah hukuman rajam bagi pelaku zina muhsan, yang ada adalah semua pelaku zina baik muhsan atau gair muhsan hukumannya sama yaitu dera seratus kali. Menurut Maulana Muhammad Ali, tidak ada ketetapan al-Qur'an yang menyatakan hukuman rajam, meskipun ada hadis yang menunjuk adanya hukuman rajam namun hadis tersebut diragukan kebenarannya. Keterangan ini sebagaimana ditegaskan Maulana Muhammad Ali dalam bukunya sebagai berikut: dalam al-Qur'an, tak ada ayat satupun yang menerangkan perbuatan zina ternyata tidak terdapat dalam al-Qur'an, tak ada ayat satupun yang menerangkan. Sebaliknya, adanya ayat yang menerangkan bahwa hukuman budak perempuan yang berbuat zina adalah separo hukuman wanita merdeka yang berbuat zina, ini menunjukkan seterang-terangnya, bahwa hukuman rajam sampai mati tak pernah terlintas sebagai hukuman zina yang ditetapkan oleh Allah, mengingat bahwa hukuman mati tak dapat diparo. Adapun istinbat hukum yang digunakan Maulana Muhammad Ali tentang penolakan hukuman rajam bagi pelaku zina muhshan antara lain QS. an-Nur (juz 18) ayat 2
Struktur Wacana Dakwah Ustaz Muhammad Nur Maulana Di Youtube
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis topikalisasi bahasa dakwah Ustaz Muhammad Nur Maulana di Youtube melalui struktur makro, superstruktur dan struktur mikro. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan teknik simak dan catat. Untuk menguji teknik keabsahan data yaitu menggunakan triangulasi teori, sedangkan untuk menganalisis data menggunakan metode padan.
Hasil penelitian ini yaitu (1) Wacana dakwah Ustaz Maulana terdapat tema yang berbeda-beda. Setiap dakwah memiliki isi yang berbeda tetapi terdapat kemiripan yang merupakan khas dari wacana dakwah Ustaz Maulana. Wacana-wacana tersebut selalu ditekankan pada hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan; (2) Superstruktur dalam penelitian ini berupa kerangka wacana Ustaz Muhammad Nur Maulana. Secara garis besar wacana dakwah Ustaz Maulana, bagian simpulan diletakkan pada akhir wacana. Porsi paling banyak ditempati bagian isi wacana. Bagian pembuka bukan menjadi hal mutlak. Tujuh wacana dakwah Ustaz Maulana hanya menggunakan pembuka pada 4 wacana. Simpulan diletakkan di akhir wacana. Wacana dakwah Ustaz Muhammad Nur maulana tidak menggunakan penutup sehingga simpulan menjadi penutup wacana; (3) Struktur mikro dalam penelitian ini meliputi empat elemen yaitu elemen semantik, sintaksis, stilistik, dan pragmatik. Dakwah Ustaz Muhammad Nur Maulana secara semantik tidak memihak pada siapapun atau bersifat netral sesuai dengan ajaran Islam. Sintaksis dalam dakwah ini terdapat koherensi yang baik, bentuk kalimat yang bervariasi dan kata ganti yang sesuai. Kata ganti yang digunakan sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Pemilihan kata tidak berlebihan dan variatif. Kata kasar untuk sesuatu yang buruk dan kata halus untuk sesuatu yang baik. Wacana dakwah Ustaz Maulana juga terdapat metafora sehingga dapat menambah kemenarikan dakwah
A critical analysis of Christian responses to Islamic claims about the work of the Prophet Muhammad, ‘the Messenger of God’.
The aims of this study are to analyse critically the different Christian responses to the Islamic understanding of the work of Muhammad. Chapter one consists a short introduction leading to an appraisal of Muhammad which incorporates historical, hagiographal and Quranic source material, and in the light of relevant Christian and Muslim scholarship. The second chapter presents a summary critical analysis of Muhammad in Christian theological perspective, from 661 A.D. to modern times. Chapter three presents a critique of Christian responses to the Muslim allegations that the text of the Bible has been infected with corruption; and that Muhammad's advent and status are foretold in the unadulterated' scriptures, and in the Gospel of Barnabas. Chapter four examines the theological significance of the work of Muhammad for Christians. Thus, Jesus and Muhammad are critically assessed and contrasted in order to ascertain the importance, for Christians, of the Muslim claims in respect of Muhammad as ’the messenger of God’. Chapter five provides a critical evaluation of the various Christian responses to Muhammad. It is argued that many of the said responses have been entangled in myths and misperceptions which have severely distorted the true account of Muhammad's work. Consequently, many Christians have failed to appreciate the divine legitimacy of Muhammad's call to prophethood. Further, it is argued that Christians should accept that Muhammad is a genuine prophet, and the messenger of God. However, Muhammad's use of the power-structure in order to maintain Islam is in sharp contrast to Jesus’ decision to face the consequences of his ministry passively through faith in God. Accordingly, orthodox Christian belief in the passion, death and resurrection of Jesus provides another dimension to prophethood, where the messenger and the message become one, an identification which finds no parallel in Islam, and which, in the nature of the case, cannot find a parallel
RASIONALISASI PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI TERHADAP AYAT-AYAT MUKJIZAT PARA NABI DALAM AL-QUR’AN (Studi Analisis Terjemahan The Holy Qur’an Karya Maulana Muhammad Ali)
This study seeks to explain the rationalization of Maulana Muhammad Ali's thoughts on supernatural miracle verses. He is of the view that the miraculous verses can be rational so that they can be accepted by reason in an effort to improve people's mindsets and make it easier to understand the verses of the Qur'an. By using the thematic method (maudhu'i) and the ulumul Qur'an approach in the form of I'jaz Qur'an, this research concludes that, Maulana Muhammad Ali said that the Qur'an is indeed rational, showing how the rationality of the Qur'an is. an understanding of the miracle verses in the rationality corridor. Maulana Muhammad Ali tries to dispel the impression that the verses about the miracles of the prophets that have been conveyed by the commentators as fantastic and fairy tales, Maulana Muhammad Ali views that the miracle is not an extraordinary event that has ever happened to prove the truth of a prophet. He understands miracle verses with rational liberal theology combined with understanding the verses of the Qur'an, science and references to the Bible. In conveying his opinion he provides scientific evidence for the truth of the Qur'an, the dominant factor influencing Maulana Muhammad Ali's thinking is the social environment factor
RASIONALISASI PEMIKIRAN MAULANA MUHAMMAD ALI TERHADAP AYAT-AYAT MUKJIZAT PARA NABI DALAM AL-QUR’AN (Studi Analisis Terjemahan The Holy Qur’an Karya Maulana Muhammad Ali)
This study seeks to explain the rationalization of Maulana Muhammad Ali\u27s thoughts on supernatural miracle verses. He is of the view that the miraculous verses can be rational so that they can be accepted by reason in an effort to improve people\u27s mindsets and make it easier to understand the verses of the Qur\u27an. By using the thematic method (maudhu\u27i) and the ulumul Qur\u27an approach in the form of I\u27jaz Qur\u27an, this research concludes that, Maulana Muhammad Ali said that the Qur\u27an is indeed rational, showing how the rationality of the Qur\u27an is. an understanding of the miracle verses in the rationality corridor. Maulana Muhammad Ali tries to dispel the impression that the verses about the miracles of the prophets that have been conveyed by the commentators as fantastic and fairy tales, Maulana Muhammad Ali views that the miracle is not an extraordinary event that has ever happened to prove the truth of a prophet. He understands miracle verses with rational liberal theology combined with understanding the verses of the Qur\u27an, science and references to the Bible. In conveying his opinion he provides scientific evidence for the truth of the Qur\u27an, the dominant factor influencing Maulana Muhammad Ali\u27s thinking is the social environment factor
Penafsiran Ayat-Ayat Zakat Oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam Buku Fadhilah Sedekah
Abstrak: Penelitian ini berdasarkan bahwa Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi adalah seorang ahli hadits, akan tetapi ia menafsirkan ayat-ayat tentang zakat dalam buku Fadhilah Sedekah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan mendeskrifsikan tentang: Penafsiran pentingnya, keutamaan, ancaman bagi yang tidak menunaikan zakat oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-kandahlawi. Jenis penelitian adalah penelitian kepustakaan (library research). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada aplikasi metode penafsiran Al-Quran.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi sebagai berikut: 1) Zakat memiliki dua kedudukan penting yaitu: Pertama pentingnya Zakat bagi Muzakki ialah muzakki bisa menjadi tuan terhadap hartanya, zakat membersihkan harta, jiwanya dan sifat kikir, melatih diri untuk selalu bersyukur, tidak mencintai dunia, dan mengutamakan kekayaan batin. Kedua pentingnya zakat bagi mustahiq ialah memperbaiki ekonomi umat. 2) Keutamaan bagi muzakki yaitu: membersihkan dosa, mengangkat derajat, menjadi orang ikhlas, dan menyuburkan akhlak tepuji. 3) Acaman diberikan kepada orang yang tidak menunaikan zakat ada 2 yaitu. Ancaman di dunia ada 2 yaitu: hukuman yang sifatnya langsung datang dari Allah Swt dan hukuman yang sifatnya dititipkan Allah Swt lewat para penguasa muslim yang taat. Ancaman atau hukuman di akhirat yaitu disetrika dengan harta yang tidak dizakatkan dan ular berbisa akan melilit leherny
Relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam Kitab “Hayatus-Shohabah” karya Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi dalam pendidikan karakter di Indonesia
INDONESIA:
Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi yang dimiliki setiap individu sehingga dapat hidup secara optimal, sebab pendidikan menjadi media yang terbukti paling efektif dalam mewujudkan berbagai tujuan, termasuk tujuan mencetak manusia yang memiliki karakter . lewat pendidikan baik formal maupun non formal karakter seseorang dapat terbentuk.
Adapun permasalahan yang diteliti dalam penulisan skripsi ini adalah (1) Apa saja Nilai-Nilai pendidikan karakter dalam Kitab Hayatus- Shohabah karya Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, (2) Bagaimana relevansi pendidikan karakter di dalam kitab Hayatus-Shohabbah karya Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi dengan pendidikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui apa saja Nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab Hayatus Shohabah karya Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Untuk mengetahui Apa relevansi pendidikan karakter di dalam kitab Hayatus -Shohabbah karya Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi dengan Pendidikan di Indonesia.
Penelitian ini tergolong penelitian pustaka atau literatur, maka penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Penulis berusaha mengkaji nilai-nilai pendidikan Karakter yang terdapat dalam kitab “Hayatus Shohabah”, dan kemudian merelevansikannya dengan pendidikan karakter di Indonesia. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) karena penelitian ini mengkaji sumber data dari materi atau literatur dan sumber pustaka.
Hasil dari penelitian nilai-nilai pendidikan karakter di dalam kitab Hayatus-Shohabah kemudian direlevansikan dengan pendidikan karakter yang ada di Indonesia, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, tanggung jawab, peduli sesama, peduli lingkungan. Ke delapan belas point tersebut dapat di terapkan oleh pendidik untuk mendidik karakter siswa agar menjadi manusia yang berkarakter.
ENGLISH:
Education is the effort to develop the potention of everyone can live optimally, because education into a medium that proved most effective in realizing a variety of purposes, including the goal of making human characters,both the formal education and non formal can form characters someone.
As for the problems examined in this thesis writing is (1) What are the values of the character education in the book of “Hayatus-Shahabah” by Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi. (2) How the relevance of character education in the book of “Hayatus-Shahabah” by Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi with the education in Indonesia. This research aims to find out what are the values of the character education in the book of “Shohabah-Hayatus” by Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi. To know what the relevance of character education in the book of “Hayatus-Shahabah” by Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi with education in Indonesia.
This research belong to the library research or the literature, this research uses qualitative paradigm with descriptive analytical approach. The author try to examine values character education contained in the book of "Hayatus-Shohabah", then on the right with the relevance of character education in Indonesia. This research is the study of librarianship (library research) because this research examines data from the source material or literature and references.
The results of the research values character education in the book “Hayatus-Shohabah” then in relevance to the character education that exists in Indonesia, IE: religious, honest, tolerance, discipline, hard work, creative, independent, democratic, curiosity, spirit of nation, love of the fatherland, appreciate the achievements, friendly, peace-loving, an avid reader, responsibility, care, care for the environment. The eighteen point may be applied by educators to educate students to become characters as a human character
- …
