12 research outputs found
Penyimpangan Seksual: Sebuah Interpretasi Teologi, Psikologi dan Pendidikan Islam
Sexual deviance, sexual abnormality, or sexual violence is behavioral force to gain a sexual pleasure from sexual objects or in a peculiar way. In this context, the sexual deviance is clearly against the humanity and the common sense. This issue would be discussed thoroughly by the writers. Besides, the main focus of this writing is the sexual deviance which is limited by theological, psychological, and Islamic education interpretation.
Gambaran Perilaku Hidup Sehat (PHBS) Pada Keluarga Anak Usia Sekolah di Pinggiran Sungai Kapuas Banjar Serasan Kec. Pontianak Timur
ABSTRACT Health aspects considerations play role in efforts to improve the Human Development Index (HDI) in Indonesia. Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) includes various actions that must be taken to prevent and treat diseases, maintain environmental cleanliness, improve maternal and child health, and promote overall well-being. Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) is a series of actions taken based on awareness resulting from a learning process. These actions enable individuals, families, groups, or communities to independently maintain their health and actively contribute to improving public health. The purpose of the study is to give a general overview of the clean and healthy living practices that families in the East Pontinak working region of Banjar Serasan Health Center have adopted for their school-aged children.in the working area of Banjar Serasan Health Center, East Pontinak. The research method used in this study is descriptive analytic with a cross-sectional approach. The sample was taken using stratified random sampling with inclusion criteria consisting of families living in riverside communities, specifically RW 3 and RW 5, in the working area of Banjar Serasan Health Center. A total of 44 families (54%) fall into the category of having good knowledge, while 31% have sufficient knowledge. Respondents' attitudes toward the implementation of PHBS show that 73% are in the good category, based on the median score. According to the questionnaire results, many families still do not encourage their members to refrain from smoking inside the house. The majority of healthcare workers, 54%, support the implementation of PHBS. Keywords: PHBS. Family, School Age ABSTRAK Aspek kesehatan menjadi faktor krusial dalam upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) meliputi berbagai tindakan yang harus dilakukan dalam pencegahan dan penanganan penyakit, menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta memelihara kesehatan secara umum.. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah serangkaian tindakan yang dilakukan berdasarkan kesadaran hasil dari proses pembelajaran. Tindakan ini memungkinkan individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat untuk secara mandiri menjaga kesehatan diri serta berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. memberikan gambaran perilaku hidup bersih dan sehat pada keluarga dengan anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Banjar Serasan Pontinak Timur Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional pengambilan sampel menggunakan Stratified random sampling dengan kriteria inklusi berupa keluarga yang ada di masyarakat pinggiran sungai yaitu RW 3 dan n RW 5 wilayah kerja Puskesmas Banjar Serasan. Sebanyak 44 keluarga (54%) termasuk dalam kategori pengetahuan baik, sedangkan 31% memiliki pengetahuan yang cukup. Sikap responden terhadap penerapan PHBS menunjukkan bahwa 73% berada dalam kategori baik, berdasarkan nilai median. Berdasarkan hasil kuesioner, masih terdapat banyak keluarga yang belum mendorong anggotanya untuk tidak merokok di dalam rumah. Sebagian besar tenaga kesehatan, yaitu 54%, mendukung penerapan PHBS. Kata Kunci: PHBS, Keluarga, Usia Sekola
AGAR TIDAK LAGI BERSELUBUNG KABUT ASAP Membangun Karakter Ramah Lingkungan Pada Komunitas Belajar Anak Usia Sekolah Melalui Pendekatan Behavioritik
Abstrak: Kabut asap yang meresahkan masyarakat hampir di tiap tahunnya, akibat pembakaran hutan dan lahan yang muncul sebagai konsekuensi dari human error, mengisyaratkan tentang betapa signifikannya komunitas-komunitas belajar pada hari ini dapat menyumbangkan perannya dalam membangun karakter ramah lingkungan. Disebut demikian, karena komunitas-komunitas belajar yang ada sekarang, sejauh ini masih belum cukup optimal dalam mengembangkan karakter ramah lingkungan, sementara tuntutan dan tantangan yang dihadapi generasi saat ini dalam kehidupan masa depan khususnya yang berkaitan dengan krisis lingkungan disadari akan sangat komplek. Era globalisasi yang disebut-sebut mendukung industrialisasi, sulit memungkiri ikut bertanggung jawab pada terjadinya eksploitasi alam besar-besaran. Karena itu, jika generasi saat ini tidak dibangun karakter ramah lingkungannya sejak sekarang, sebagai pelaku-pelaku industri di masa depan, maka dapat diramalkan kasus-kasus karhutla dan berbagai bentuk kasus pengrusakan lingkungan lainnya sangat mungkin berulang dan makin parah. Dalam membangun karakter ramah lingkungan ini, pendidik di komunitas-komunitas belajar dapat mempertimbangkan pendekatan behavioristik yang dapat mereka aktualisasikan dalam pembelajaran. Inilah yang menjadi fokus dari artikel ini.Kata Kunci: Karakter Ramah Lingkungan, Pendekatan Belajar Behavioristik, Komunitas-komunitas Belajar Abstract: The haze that is disturbing the community almost every year, due to the burning of forests and land which arises as a consequence of human error indicates how significant learning communities today can contribute to their role in building eco-friendly character. It’s because the learning communities are still not optimal enough in developing eco-friendly character, while the demands and challenges faced by the generation now in the future life especially those related to environmental crises are realized to be very complex. The era of globalization which supports industrialization, it is difficult to deny taking responsibility for the occurrence of massive natural exploitation. Therefore, if the generation is not built eco-friendly character from now, as industry players in the future, it can be predicted that the cases of forest and land fire and various other forms of environmental destruction are very likely to recur and get worse. In building this eco-friendly character, educators on learning communities can consider a behavioristic approach that they can actualize in learning. This is the focus of this article.Keywords: Eco-friendly Character, Behavioristic Learning Approach, Learning Communitie
Hubungan Pemberian ASI dan MP ASI dengan Kejadian Stunting pada Baduta (Balita Bawah 2 Tahun) di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Dalam
Psychological Well-Being Pada Pasien Diabetes Melitus Yang Menjalani Rawat Inap
Long-term treatment for diabetes mellitus (DM) patients makes it difficult to control blood sugar effectively, causing patients to experience biological, psychological, social, and spiritual imbalances. One of the psychological aspects of impact on patients with diabetes mellitus is Psychological Well Being (PWB). Psychological Well Being is a measure to see whether an individual can accept himself as a whole. DM patients who have a low PWB will have an impact on low levels of self-care. This study aims to determine the description of Psychological Well Being in diabetes mellitus patients who are hospitalized. This research method uses a quantitative descriptive survey with a cross-sectional approach. The sampling technique used non-probability sampling with a total sampling technique of 60 respondents. The results of the Psychological Well-Being study were low for 3 respondents (5.0%), medium for 54 respondents (90.0%), and high for 3 respondents (5.0%). Inpatient diabetes mellitus patients who have Psychological Well-Being in the moderate category still need to get more attention because other indicators might cause negative Psychological Well-Being.Pengobatan dengan jangka waktu panjang yang harus dilakukan pasien diabetes mellitus (DM) mengakibatkan sulitnya mengontrol gula darah secara efektif, sehingga membuat pasien mengalami ketidakseimbangan biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Dampak aspek psikologi pada pasien dengan diabetes mellitus salah satunya adalah Psychological Well Being (PWB). Psychological Well Being merupakan suatu indikator untuk melihat apakah seorang individu mampu menerima dirinya sendiri secara keseluruhan. Pasien DM yang memiliki PWB yang rendah akan berdampak pada rendahnya tingkat perawatan diri (self care). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Psychological Well Being pada pasien diabetes melitus yang menjalani rawat inap. Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif survei dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non-probability sampling dengan teknik Total sampling berjumlah 60 responden. Hasil penelitian Psychological Well-Being yang rendah 3 responden (5,0%), sedang 54 responden (90,0%) dan tinggi 3 responden (5,0%). Pasien diabetes melitus rawat inap yang memiliki Psychological Well Being dalam kategori sedang masih perlu mendapatkan perhatian lebih karena ada indikator lain yang memungkinkan menyebabkan terjadinya Psychological Well-Being negatif
Penyuluhan Kesehatan Jiwa untuk Meningkatkan Pengetahuan Orang Tua tentang Masalahan Kesehatan Jiwa Remaja di Pulau Lemukutan
ABSTRAK Pengetahuan cara mendeteksi dini masalah kesehatan jiwa dibutuhkan orang tua agar dapat mengatasi ataupun mengetahui tindakan yang akan diambil ketika remaja mengalami masalah tersebut. Tujuan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang masalah kesehatan jiwa pada remaja di desa pulau Lemukutan. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat adalah penyuluhan tentang masalah kesehatan jiwa remaja. Hasil pengabdian kepada masyarakat didapatkan data tingkat pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan yaitu kategori tinggi sebesar 25%, kategori sedang sebesar 15% dan kategori rendah sebesar 60%. Sedangkan setelah diberikan penyuluhan kesehatan jiwa remaja diperoleh pengetahuan pada kategori tinggi yaitu 75% dan kategori sedang yaitu 25%. Penyuluhan kesehatan jiwa remaja meningkatkan pengetahuan orang tua tentang kesehatan jiwa remaja Kata Kunci: Penyuluhan Kesehatan Jiwa, Masalah Kesehatan Jiwa Remaja ABSTRACT Knowledge of how to detect mental health problems early is needed by parents to be able to overcome or know the actions to be taken when adolescents experience these problems. The purpose of community service is to increase parents' knowledge about mental health problems in adolescents in the village of Lemukutan Island. The method of implementing community service is counseling about adolescent mental health problems. The results of community service obtained data on the level of knowledge before being given counseling, namely the high category of 25%, the medium category of 15%, and the low category of 60%. Meanwhile, after being given counseling on adolescent mental health, knowledge was obtained in the high category, namely 75%, and the medium category, namely 25%. Adolescent mental health counseling increases parents' knowledge about adolescent mental health Keywords: Mental Health Counseling, Adolescent Mental Health Problem
Penyuluhan dan Edukasi Psychological Well-Being untuk Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Pesisir di Desa Temajuk Kabupaten Sambas
ABSTRAK Psychological Well-Being diasosiasikan dengan kemampuan untuk beradaptasi terhadap kebutuhan perawatan penyakit yang dialami, mempertahankan hubungan sosial dan kemampuan mencegah komplikasi dimasa depan. Tujuan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat pesisir Desa Temajuk tentang Psychological Well-Being. Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat adalah penyuluhan dan edukasi tentang Psychological Well-Being. Hasil pengabdian kepada masyarakat didapatkan data tingkat pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan yaitu kategori tinggi sebesar 10%, kategori sedang sebesar 33,3% dan kategori rendah sebesar 56,7%. Sedangkan setelah diberikan penyuluhan dan edukasi tentang Psychological Well-Being diperoleh pengetahuan pada kategori tinggi yaitu 76,6% dan kategori sedang yaitu 23,3%. Penyuluhan dan edukasi Psychological Well-Being mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat pesisir di Desa Temajuk. Kata Kunci: Penyuluhan Psychological Well-Being, Psikologis Masyarakat Pesisir ABSTRACT Psychological Well-Being is associated with the ability to adapt to the treatment needs of the illness experienced, maintain social relationships and the ability to prevent future complications. The aim of community service is to increase the knowledge of coastal communities in Temajuk Village about Psychological Well-Being. The method for implementing community service is counseling and education about Psychological Well-Being. The results of community service obtained data on the level of knowledge before being given counseling, namely the high category was 10%, the medium category was 33.3% and the low category was 56.7%. Meanwhile, after being given counseling and education about Psychological Well-Being, knowledge was obtained in the high category, namely 76.6% and in the medium category, namely 23.3%. Psychological Well-Being counseling and education can increase the knowledge of coastal communities in Temajuk Village. Keywords: Psychological Well-Being Counseling, Psychology of Coastal Communitie
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Keluarga dengan Baduta
This research was conducted to analyze the factors that influence the incidence of stunting in families with children in the Kapuas River area according to the characteristics of the region and its population. This research uses a descriptive research method with a cross sectional approach to study the dynamics of the correlation between factors that influence stunting using an observational, data collection or approach. The research results obtained showed that the growth history factor with the incidence of stunting obtained a significance value of 0.091>0.05, the history of giving breast milk with the incidence of stunting obtained a significance value of 0.000<0.0, the history of giving MPASI with the incidence of stunting obtained a significance value of 0.071>0.05, family history with the incidence of stunting, a significance value was obtained of 0.019<0.05, a history of infectious disease with the incidence of stunting obtained a significance value of 0.084>0.05, and the mother\u27s psychological pattern with the incidence of stunting obtained a significance value of 0.000<0.05. In conclusion, there is a significant relationship between the history of breastfeeding, family history and the incidence of stunting, and the psychological pattern of the mother and the incidence of stunting in influencing the incidence of stunting in families with toddlers in the Kapuas River suburbs.
Keywords: Stunting Baduta, Family with Baduta, Stuntin
Penerapan Buku Saku “Peduli Stunting” Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu di Wilayah Pinggiran Sungai Kapuas Kota Pontianak
ABSTRACT Stunting is one of the problems that exists in communities along the Kapuas River in West Kalimantan. Low levels of knowledge and inadequate attitudes or practices regarding the care of children with stunting are some of the causes of stunting. The characteristics of the people on the banks of the Kapuas River are generally people who are still very closely related to the culture they adhere to. This research aims to examine the effectiveness of implementing the "Peduli Stunting" pocketbook on the level of knowledge and attitudes of mothers with stunted children in the Kapuas River area, Pontianak City. Research method is a quantitative quasi-experiment with a pre-test and post-test with a control group approach with 100 respondents using Total Sampling which is divided into 2 groups (50 respondents in the intervention group and 50 respondents in the control group). The results of the analysis found differences in the level of knowledge and attitudes of mothers before and after intervention with the pocketbook media "Peduli Stunting" with a significant value of 0.000 (p < 0.05). In this study, mothers' knowledge and attitudes cannot be separated from the influence of culture held by marginalized communities Sungai Kapuas which believes that breastfeeding mothers should not give their babies first breast milk because it is thought to contain bacteria and spoiled milk and before they are six months old, babies are given additional food, such as banana "lothe" so that they do not fuss. This research concludes that the pocketbook "Peduli Stunting" increases the knowledge and attitudes of mothers on the Kapuas River in fulfilling and managing the nutrition of children with stunting. In areas where people live on the banks of rivers, there are still many myths and beliefs according to the culture held by the community about what foods can and cannot be given to toddlers. Most of these prohibited foods meet the nutritional needs of toddlers as they grow and develop. The mother's unfavorable attitude is influenced by the culture adopted based on the community's ethnicity. Education with the pocketbook "Peduli Stunting" can be applied Keywords: Stunting, Pocketbook, Knowledge, Attitude ABSTRAK Stunting merupakan salah satu permasalahan yang ada pada masyarakat pinggiran sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Tingkat pengetahuan yang rendah dan sikap atau praktik yang kurang memadai tentang perawatan anak dengan stunting adalah beberapa penyebab terjadinya stunting. Karakteristik masyarakat pinggiran sungai Kapuas juga pada umumnya ialah masyarakat yang masih sangat erat kaitannya dengan budaya yang dianutnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji efektivitas penerapan buku saku “Peduli Stunting” Terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap pada Ibu dengan Anak Stunting Di Wilayah Pinggiran Sungai Kapuas Kota Pontianak. Metode Penelitian ini adalah kuantitatif quasy experiment dengan pendekatan pre-test post-test with control group dengan responden berjumlah 100 responden menggunakan Total Sampling yang dibagi menjadi 2 kelompok (50 responden kelompok intervensi dan 50 responden kelompok kontrol). Hasil analisis ditemukan perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap ibu sebelum dan sesudah intervensi dengan media buku saku “Peduli Stunting” dengan nilai signifikan yaitu 0,000 (p < 0,05), pada penelitian ini pengetahuan dan sikap ibu tidak lepas dari pengaruh budaya yang dianut masyarakat pinggiran sungai Kapuas yang beranggapan bahwa ibu menyusui tidak boleh memberikan ASI pertama pada bayinya karena dianggap mengandung bakteri dan susu yang basi dan sebelum berusia enam bulan, bayi diberikan makanan tambahan, seperti "lothe" pisang, agar mereka tidak rewel. Kesimpulan dari penelitian ini adalah buku saku “Peduli Stunting” meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu pinggiran sungai kapuas dalam pemenuhan dan pengelolaan gizi anak dengan stunting. Pada wilayah lingkungan tempat tinggal yang berada di tepian sungai masih memiliki banyak mitos dan kepercayaan sesuai dengan kebudayaan yang dianut masyarakat tentang makanan apa yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada balita. Sebagian besar makanan yang dilarang tersebut memenuhi kebutuhan nutrisi balita saat tumbuh kembangnya. Sikap ibu yang kurang baik dipengaruhi oleh budaya yang dianut berdasarkan suku masyarakat. Edukasi dengan buku saku “Peduli Stunting” dapat diterapkan Kata Kunci: Stunting, Buku Saku, Pengetahuan, Sika
Rheumatic Exercise for Menopausal Women in the Perumnas II Pontianak Health Center Area
Purpose: Menopause is a phase experienced by women due to the declining function of the ovaries, resulting in the cessation of the menstrual cycle. Various complaints arise in women entering menopause, especially joint and muscle pain, as well as psychological complaints. This condition can affect the quality of life of menopausal women. Therefore, it is necessary to educate women on how to reduce these complaints. This educational activity aims to increase women's knowledge about menopause and the appropriate self-management of menopausal complaints.
Method: This activity is conducted in the community served by the Perumnas II Pontianak Health Center. Participants are members of the Pre-Elderly Prolanis Kejora Manis group. The activity methods include explanations, observational techniques, demonstrations, and practical exercises.
Practical Applications: The outreach activity is divided into two sessions. The first session focuses on educating about menopausal symptoms and how to address them, followed by the second session, which involves demonstrations and joint exercises for rheumatism.
Conclusion: Rheumatism exercises should be taught to pre-menopausal women for daily practice to improve comfort and adaptation to the menopausal condition
