1,723,626 research outputs found
Komposisi Tari"Sang Pembayun"
Komposisi Tari"Sang Pembayun"
Karya: Margono, Ujian penyajian Tari, Pendapa ISI Surakart
Prevalensi Mioma Uteri dengan Koeksistensi Hiperplasia Endometrium
Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi mioma uteri dengan koeksistensi hiperplasia endometrium pada RSUD Margono Soekarjo Purwokerto dalam rentang 2017−2019.Metode: Penelitian ini menggunakan desain observational cross-sectional yang dilakukan di Pusat Onkologi di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Sumber data adalah hasil pemeriksaan mikroskopis pada laboratorium Patologi Anatomi dari pasien yang dilakukan histerektomi dengan teknik total sampling pada rentang waktu tahun 2017-2019. Data kemudian dicatat hasil pengolahan data univariat dan ditampilkan dalam bentuk tabel.Hasil: Dari 389 partisipan yang diteliti, terdapat 306 (78.7%) pasien terdiagnosa dengan mioma uteri tanpa hiperplasia endometrium dan 83 (21.3%) pasien dengan diagnosa mioma uteri disertai dengan koeksistensi hiperplasia endometrium. Dari 83 sampel pasien dengan koeksistensi hiperplasia endometrium, didapatkan 49 (59.0%) sampel memiliki gambaran hiperplasia simpleks non atipik, 14 sampel (16.9%) memiliki gambaran hiperplasia kompleks non atipik, 6 (7.2%) sampel dengan gambaran hiperplasia simpleks atipik dan 14 (16.9%) dengan gambaran hiperplasia kompleks atipik.Kesimpulan: Mioma uteri banyak terjadi pada usia perimenopause karena ketidak seimbangan hormone antara estrogen dan progesterone. Mioma uteri dapat terjadi dengan atau tanpa koeksistensi dengan patologi lainnya, seperti hiperplasia endometrium, adenomyosis ataupun polip. Hiperplasia endometrium sering terjadi sebagai patologi sekunder, dengan prevalensi terbanyak adalah hiperplasia endometrium simpleks non atipik.The Prevalence of Uterine Fibroid with Endometrial Hyperplasia CoexistenceAbstractObjective: This study was conducted to determine the prevalence of uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia at RSUD Margono Soekarjo Purwokerto in the period of 2017−2019.Methods: This study used an observational cross-sectional design, conducted at the Oncology Center of RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. The data used are the results of microscopic examinations of patients who underwent hysterectomy in the Anatomical Pathology laboratory with total sampling technique in the period of 2017-2019.Results: Of the 389 participants studied, there were 306 (78.7%) patients diagnosed with uterine fibroids without endometrial hyperplasia and 83 (21.3%) patients with uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia. From the 83 samples of patients with coexistence of endometrial hyperplasia, 49 (59.0%) samples had simple hyperplasia without atypia, 14 (16.9%) had complex hyperplasia without atypia, 6 (7.2%) had simple atypical hyperplasia and 14 ( 16.9%) with complex atypical hyperplasia.Conclusion: Uterine fibroids often occur at perimenopausal age due to hormonal imbalance of estrogen and progesterone. Uterine fibroids may occur with or without coexistence of other pathologies, such as endometrial hyperplasia, adenomyosis or polyps. Endometrial hyperplasia often occurs as a secondary pathology, with the highest prevalence being simplex hyperplasia without atypia.Key words: uterine fibroid, endometrial hyperplasia, perimopaus
Profile of Biofilm-Producing Staphylococcus epidermidis from Intravenous Catheter Colonisation at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto
Biofilm- producing Staphylococcus epidermidis has evolved to be a significant human pathogen, particularly in the use of medical devices such as an intravenous catheter. Furthermore, biofilm-producing bacteria 10-1000 fold less susceptible to several antimicrobial agents than free-bacteria. This simple survey aimed to describe the profile of biofilm-producing S. epidermidis from intravenous catheter colonization of some patients in surgical and internal medicine wards at the hospital Margono Soekarjo, Purwokerto, and the antibiotics resistance pattern. A vitek® 2 compact (Enseval Medika Prima) was performed to identify the bacterial species and to examine the 73 antibiotics for understanding the resistance pattern automatically. Microtiter plate biofilm assay with crystal violet staining was performed to measure biofilm optical density (OD) for analyzing the biofilm production capabilities. A scanning electron microscopy (SEM) was done to compare the thickness of ultrastructure of biofilm-producing S. epidermidis visually. The present study found that 2 of 8 Gram-positive bacteria (25%) were biofilm-producing S. epidermidis. One of S. epidermidis was moderate whereas the other was high biofilm-producing bacteria. Images of SEM showed that a high biofilm-producing S. epidermidis has a thicker ultrastructure of biofilm than the moderate biofilm-producing, whereas a control, the weak biofilm-producing S. epidermidis ATCC 12228 has the least biofilm. Both of S. epidermidis strains were sensitive to Gentamicin, Moxifloxacin, Quinupristin/Dalfopristin, Linezolid, Vancomycin, Doxycycline, Minocycline, Tetracycline, Tigecycline, and Nitrofurantoin. Furthermore, both S. epidermidis strains were resistant to the other (63) antibiotics. In conclusion, two strains of S. epidermidis in this study have different capabilities to form the biofilm which were showed that high biofilm-producing strain was thicker than moderate biofilm-producing strain by scanning electron microscopy. However, both of them were resistant to the same number of antibiotics.
Ilustrasi Karya B. Margono Seporet 1931-1955
Di dalam buku ini dituliskan bahwa B. Margono adalah seorang guru menggambar dan tokoh ilustrator Indonesia yang berkarya di zaman Belanda. B Margono membuat ilustrasi dengan Petruk Gareng. Petruk Gareng adalah ikon Jawa sepanjang zaman. Mereka ada di zaman prasejarah. Dan terus hidup sepanjang sejarah. Mereka ada dalam cerita wayang. Dan mereka hidup dalam kisah nyata. Mereka ada ketika tanah Jawa berada di zaman purba. Dan mereka terus ada ketika tanah Jawa sudah modern
Prevalensi Candida albicans pada Pasien Otomikosis di RSUD Margono Soekarjo
Latar Belakang: Otomikosis merupakan infeksi pada telinga yang disebabkan oleh berbagai macam jamur. Salah satu jamur yang paling umum menyebabkan otomikosis adalah Candida albicans. Otomikosis menjadi suatu tantangan bagi dunia medis dan pasien karena memerlukan pengobatan jangka panjang dan memiliki kekambuhan yang tinggi. Hal itu menyebabkan pentingnya suatu gambaran prevalensi di suatu tempat sebagai perencanaan pelayanan kesehatan, gambaran kasus, dan program pemberantasan. Kabupaten Banyumas memiliki iklim yang menunjang pertumbuhan dari jamur. Salah satu rumah sakit besar yang ada di Banyumas adalah RSUD Margono Soekarjo.
Tujuan: Mengetahui prevalensi Candida albicans pada Otomikosis di RSUD Margono Soekarjo.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional pada populasi target pasien di poli THT RSUD Margono Soekarjo. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 42 subjek dengan 46 sampel. Teknik analisis data menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik tiap variabel.
Hasil: Didapatkan hasil penderita otomikosis di RSUD Margono Soekarjo dengan jenis kelamin laki-laki dibanding perempuan sebesar 50:50 yaitu masing-masing sebesar 21 dari 42 subjek (50,00%). Kelompok usia yang paling banyak menderita otomikosis adalah kelompok usia 26-35 tahun sebesar 12 dari 42 subjek (28,57%). Prevalensi Candida albicans pada Otomikosis sebesar 2,17% atau 1 dari 46 sampel pasien dengan diagnosis klinis otomikosis di RSUD Margono Soekarjo disebabkan oleh jamur Candida albicans.
Kesimpulan: Prevalensi Candida albicans sebagai penyebab otomikosis pada pasien di poli THT RSUD Margono Soekarjo pada periode Januari-Februari 2023 sebesar 2,17% yaitu 1 dari 46 sampel, dengan usia 26 tahun yang masuk ke dalam kelompok usia 26-35 tahun dan berjenis kelamin perempuan
SEMAR PATJOPAT LIMA PANCER KARYA KI MARGONO “KAJIAN ESTETIS”
Hasil penulisan Tugas Akhir Skripsi pada kali ini, penulis ingin lebih memperdalam mengenai tradisi wayang, terutama wayang kulit purwa. Dengan melihat visual karya dari Ki Margono, Ki Margono kelahiran dari Wonogiri, merupakan seniman yang telah membuat sebuah karya yang diberi nama Semar Patjopat Limo Pancer. Karya Ki Margono tersebut menginspirasi penulis, untuk ikut menjaga budaya negeri sendiri, agar tidak hilang dan terus terlestarikan. Hasil penelitian visual wayang karya Ki Margono, nantinya berupa deskripsi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dan menggunakan teori pendekatan estetika dari Monroe Beradsley. Data yang digunakan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut penulis menggunakan data yang didapat dari hasil wawancara dengan narasumber, observasi pada objek visual dan dokumentasi berupa foto, vidio, rekaman yang dibutuhkan penulis dalam menyusun Tugas Akhir Skripsi ini. Hasil penulisan Tugas Akhir Skripsi ini, menghasilkan kesimpulan antara lain: 1. Biografi Ki Margono. 2. Teknik dalam pembuatan wayang Semar Patjopat Limo Pancer. 3. Kajian estetis Semar Patjopat Limo Pancer, yang memiliki ukuran diatas normal, yaitu memiliki kapangan lebar 4 meter dan tinggi 5 meter dibuat Ki Margono dengan tujuan, sebagai wujud cinta budaya negara sendiri, sebagai ikon pada event setiap kegiatan yang dilaksanakan Ki Margono, seperti wayang masuk sekolah, kirab wayang dan kirab budaya
- …
