1,720,969 research outputs found
Bioetika dan Bioteknologi dalam Dunia Modern
Dalam diskusi-diskusi tentang moral dan etika, kita harus membedakan sesuatu hal yang didiskusikan itu termasuk dalam bidang etika, sopan-santun atau disiplin. Moral (filsafat moral) atau etika adalah ilmu (bukan agama), dan dengan demikian menggunakan penalaran ilmiah, untuk menetukan apakah suatu perilaku individu atau kelompok individu baik atau jahat (right or wrong). Biarpun tidak ada batas yang jelas, ada baiknya bila dibedakan antara etika (ethics), etika kedokteran (medical ethics), bioetika (bioethics) dan etika biomedik (biomedical ethics). Bioteknologi (Biotechnology) adalah teknologi yang melakukan intervensi dalam proses kehidupan. Cakrawala teknologi adalah kemungkinan-kemungkinan, sedangkan cakrawala etika adalah tujuan. Suatu alat hasil teknologi dapat dipakai untuk membangun atau pun menghancurkan manusia. Tidak ada teknologi yang netral. Karena itu ada kebutuhan akan pengarahan dan penilaian dalam teknologi, khususnya bioteknologi. Banyak sekali usaha telah dan sedang dilakukan dalam bioteknologi dan telah banyak sekali penemuan telah muncul. Hanya beberapa yang dibicarakan disini dan sekaligus disinggung secara singkat aspek etikanya. Tidak mungkin dibicarakan disini penyelesaiannya secara terperinci. Silakan pembaca yang budiman memikirkan atau mendiskusikan tentang itu dengan teman sejawat atau orang lai
Medical Humanities In Medical Schools
The reflections on education by John W. Alexander and UNESCO (United Nations Educatiol, Scientific and Cultural Organization), show that a “good doctor” and a medical specialist (including a psychiatrist), must not only be competent in empathic communication, clinical knowledge and clinical skills, but more so in humanities (especially in morals, ethics and bioethics) and soft skills. Humanities and soft skills education is therefore very important in medical schools. The main objectives in humanities education are mainly in the affective domain. Relevant and effective learning experiences must therefore be provided. For this, small group discussions is at present the most effective one, is not so difficult to do and also financially affordable. There is an added beneficial effect, this is that the fasilitators will also experience an enrichment in moral development. A model of a humanities curriculum and of a moral dilemma discussion group is presented. There are no principal differences between morals, ethics or bioethics education for undergraduates and that for residents (including psychiatric residents), only the moral dilemma cases may be adjusted to the level of education and more specific to the specialty
The right to live and the right to die?
With the advance of medical science and technology, dying can be postponed now. For how long and how is the quality of life? Frequently modern medicine postpones death only, while leaving the quality of life of many patients in a questionable state.
Do we have the right to live? Where do we get that right from? The right to live is inherent to our nature of being alive. With right comes obligation. What about the right to die? Some say if there is the right to live, there must also be the right to die. What is life and what is death anyway? Some say death is part of life. Death is in fact the absence of life. We can measure life, but we can not measure death. It’s like stating that darkness is part of light. Also, if there is the right to die, what obligations on earth does a dead person have? ‘The right to live’ excludes ‘the right to die’. This moral philosophical approach is only following our moral-ethical reasoning (not our emotions). If we have ‘the right to die’, it is not far from having ‘the right to kill’ or may be ‘the duty to die’.
The battle between the pros and the cons on the right to die is not over yet. We may consider the transcendental approach. When curative medicine is of no benefit anymore, care giving and ministering medicine must take its place. The transcendental approach takes the dying person as a bio-psycho-socio-cultural-spiritual being with the belief in life after death, and the ‘exit’ is with faith, hope and love. It is much more optimistic and relieving than the worldly approaches with an ‘exit’ because of despair
Catatan ilmu kedokteran jiwa
Buku ini merupakan pengantar untu kmempelajari psikiatri atau ilmu kedokteran jiwa. Topik bahasan yang terdapat dalam buku ini yaitu: teknik wawancara psikiatri dan pendekatan hubungan pasien-dokter; gangguan jiwa pada anak dan remaja; aspek-aspek perkembangan psikologik; neuropsikofarmakologi; psikiatri forensik; psikiatri dalam praktik umum serta masalah-masalah psikiatr imasa kin
Kedokteran Keluarga = Family Medicine
Pendahuluan
Mengapa profesi kedokteran dikatakan profesi yang mulya? Karena profesi kedokteran menolong manusia yang sakit dan menderita. Dan menolong sesama manusia karena kasih adalah rahmat dan karunia Tuhan bagi yang menolong dan yang ditolong. Mungkin pula karena dahulu pengobatan orang sakit dilakukan juga oleh para imam dan dukun yang melayani masyarakat dalam hal spiritual dan keagamaan. Banyak penyakit dipercaya karena pengaruh roh jahat, sehingga pantas kalau para imam dan dukun yang menangani mereka.
Sejak Hippokrates (460 – 370 BC) ilmu pengobatan mulai dipelajari secara ilmiah sehingga perlahan-lahan mulai dipisahkan dari tugas para imam. Sekarang telah terpisah sama sekali sebagai ilmu kedokteran modern. Namun kita melihat banyak cara pengobatan tradisional yang masih erat hubungannya dengan hal-hal spiritual, dengan roh-roh, bahkan dengan agama. Tidak sedikit dokter jaman sekarang pun masih tertarik pada hal-hal paranormal dalam kesehatan.
Dalam pengobatan tradisional sejak dahulu kala sampai sekarang, dan dalam ilmu kedokteran pun sampai dengan perang dunia ke-2, pertolongan manusia yang sakit adalah individual. Tidak dapat disangka, kedokteran individual (individual medicine) atau kedokteran klinik (clinical medicine) adalah penting. Namun makin lama makin disadari bahwa untuk melayani kesehatan seluruh masyarakat, kedokteran klinik saja tidak cukup.
Bila diteliti betul, kalau masyarakat sudah lebih sehat, itu bukan karena ilmu kedokteran, melainkan karena ekonomi dan pendidikan sudah lebih baik. Dengan demikian ilmu kedokteran maju juga dan memberi andil kepada perbaikan kesehatan masyarakat, namun tetap dipraktekkan sebagai clinical atau hospital based medicine. Bayangkan kalau keadaan ekonomi dan pendidikan tidak maju, bagaimana dengan kesehatan masyarakat. Lihat saja, misalnya Afrika, atau tidak usah jauh-jauh, lihat saja pada beberapa bagian negara kita sendiri, misalnya Papua.
Sejak akhir perang dunia ke-2 dan terutama sejak Deklarasi Alma Ata, Kazakhstan, 6-12 September 1978, mengenai Primary Health Care (PHC), studi dan
68
Willy F. Maramis
pendidikan kesehatan masyarakat mulai berkembang sampai sekarang, dengan berbagai istilah: misalnya kesehatan masyarakat (community health), kedokteran masyarakat (community medicine), community based medicine, community oriented medicine, dsb., tergantung pada aspek mana yang mau diberi tekanan, sehingga ontologi, epistemiologi dan axiologinya berbeda.
Sekarang KKI dan Dikti serta Depkes menganjurkan kedokteran keluarga (family medicine) dan kedokteran primer (primary health care, seruan deklarasi Alma Ata 36 tahun yang lalu). Kedokteran klinik terlalu mahal, sebagian besar masyarakat tidak dapat menjangkaunya. Negara maju pun merasa terlalu berat, sampai ada yang sedikit atau banyak sudah menerapkan “socialized medicine”. Pemerintah dan para pendidik juga ingin mencegah, jangan sampai terjadi “defensive medicine”, bukan “preventive medicine”, atau “commodity oriented doctors” dan bukan “community oriented doctors”, dsb. Anjuran WHO adalah agar dalam sistem kesehatan suatu negara, sarana kesehatan harus dapat diperoleh, dapat dicapai dan dapat diterima (available-accessable and acceptable) oleh masyarakat. Kalau boleh saya tambah, harus juga affordable (mampu dibayar atau dibeli)
Ilmu perilaku dalam pelayanan kesehatan
Dalam pendidikan karyawan kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat, bidan, dan lain-lain) sudah lama dirasakan kebutuhan akan mata kuliah ilmu perilaku. Makin diyakini bahwa karyawan kesehatan yang baik harus memahami bukan hanya hal-hal teknis saja, tetapi juga perilaku pasien atau klien dan dirinya sendiri, sehingga mereka dapat bekerja sama dengan baik demi kebaikan semua orang yang terlibat. Buku Aspek Perilaku Dalam Pelayanan Kesehatan ini dimaksudkan untuk itu. Namun buku ini dapat dipakai juga oleh mereka yang berkarya di bidang pelayanan kemanusiaan apa saja, terlebih bila bekerja dalam kelompok atau team
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
