4,361 research outputs found
Fazlur Rahman: Islam & Modernity
Fazlur Rahman Malik (1919 – 1988) Islam and Modernity. Transformation of an Intellectual Tradition, by Fazlur Rahman, University of Chicago, 1982
ʿAbd al-Raḥmān IV Al-Murtaḍà
‘Abd al-Rahman IV: ‘Abd al-Rahman b. Muhammad b. ‘Abd al-Malik b. ‘Abd al-Rahman al-Nasir. al-Murtada. ?, s. X – Guadix (Granada), 1018-1019. Sexto califa omeya de Córdoba
«Οι Θεολογικές Αντιλήψεις και οι Ερμηνευτικές Προτάσεις στο Έργο του Fazlur Rahman Malik (1919-1988)»
Η παρούσα Διπλωματική Εργασία είναι μία μελέτη των Θεολογικών Αντιλήψεων και Ερμηνευτικών Προτάσεων του Fazlur Rahman Malik (1919-1988). O Fazlur Rahman ήταν ένας επιφανής μουσουλμάνος λόγιος του 20ού αιώνα, καταξιωμένος στους τομείς της Ερμηνευτικής του Κορανίου, της Ισλαμικής Εκπαίδευσης και της κριτικής επί των Χαντίθ. Επίσης υποστήριξε σθεναρά την αναμόρφωση και τον εκσυγχρονισμό του Ισλάμ. Ο κύριος στόχος του έργου του ήταν η αναγνώριση του Κορανίου, ως ηθικού οδηγού για ολόκληρη την ανθρωπότητα και ως εκ τούτου η θεολογική σκέψη του χαρακτηρίζεται κορανιοκεντρική. Η γνωστή «double movement» θεωρία του, επηρέασε την ακαδημαϊκή κοινότητα και παραμένει ακόμα και σήμερα σημείο αναφοράς στις Κορανικές Σπουδές.This MA Thesis is a study of the Theological and Hermeneutical notions of Fazlur Rahman Malik (1919-1988). Fazlur Rahman was a profound muslim scholar in the 20th century, acknowledged expert in the field of Quranic Hermeneutics, Islamic Education and Hadīth criticism. He also firmly supported the reformation and modernization of Islam. His main goal was the identification of the Qurʼān, as a moral guide for all humanity and so his theological views are considered as Quranocentric. His notable theory of the «double movement» became influential among the academics and, nowadays, it still remains a reference point in Quranic Studies
Cerpen: seteguh keringat kemerdekaan / Siti Nur Husna Abd Rahman
“Malaysia akan menjadi sebuah negara yang demokrasi yang merdeka dan berdaulat serta berdasarkan kepada kebebasan dan keadilan dan mengekalkan keamanan diantara segala-gala bangsa. Kuala Lumpur 31 haribulan ogos tarikh kemerdekaan.... Merdeka... Merdeka. ..Merdeka.... Merdeka....Merdeka... Merdeka... Merdeka...” masih teringat lagi kata- kata keramat yang di laungkan oleh Almarhum Yang Mulia TunkuAbdul Rahman Putra Al-Haj sebanyak 7 kali dan di waktu itu jugalah buat pertama kali lagu negaraku dilaungkan serta azan bagi menandakan kemerdekaan. Pak Malik tidak lupa sewaktu bendera Malayan Union di turunkan dan waktu itu pak malik beumur 12 tahun. Pak malik tidak dapat mengambarkan bagaimana sengsaranya sewaktu Jepun memerintah Tanah Melayu. Dikala kesayuan malam yang sunyi, terdengar unggas bersahut-sahutan. Pak Malik termenung di beranda sambil mengulung rokok dengan leka dan terkenang kisah lama lalu di datangi mak kiah membawa secawan kopi sambil memerhati pak malik yang sedang asyik mengulung rokoknya. “Abang aji, ini kopinya." "Terima kasih, kiah” “Apa yang abang menungkan tadi?” Tanya Mak Kiah pada suaminya. “Tak ada yang ditikirkan. Cuma terkenangkan masa dulu sebelum merdeka
Monetary thought of the sixteenth century muslim scholars
Muslim scholars of the sixteenth century continued the tradition of writing on economic issues. Their work, however is characterized by the period's overall feature of imitation and repetition and thus reflects hardly any advancement of monetary thought since the works of earlier Muslim scholars. This is clearly reflected in the two representative treatises on money: those of al-Suyuti (d. 1506) written at the beginning of the century, and al-Tumurtashi (d. 1598), written at its the end. History of Islamic economic thought is a well-researched area of Islamic Economics. To the best of our knowledge, however, all such research stopped at the end of the fifteenth century – the age of Ibn Khaldun and al-Maqrizi. The present paper seeks to advance this research and intends to investigate monetary thought of Muslim scholars during the sixteenth century (corresponding to tenth century Hijrah, exactly from 906 AH to 1009 AH). Beginning with an overview of earlier monetary thought in Islam to provide background information, then it goes on to note that particular century's monetary problems in order to provide a perspective for the discussion of monetary thought among Muslim scholars. For the purpose of comparison, European monetary thought of the same period is also analyzed.Monetary thought; Quantity theory of money;Sixteenth century Monetary Thought; al-Suyuti; al-Tumurtashi.
KARAKTERISTIK ‘IBAD AR-RAHMAN DALAM QS. AL-FURQAN (25): 63-74 PERSPEKTIF HAMKA DAN ASH-SHABUNI
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “KARAKTERISTIK ‘IBAD AR-RAHMAN DALAM QS. AL-FURQAN (25): 63-74 PERSPEKTIF HAMKA DAN ASH-SHABUNI”, bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakter ‘Ibadurrahman dalam Al Qur’an surah Al Fuqron dalam perspektif hamka dan ash-shabuni. Penelitian ini difokuskan kepada dua kitab tafsir yaitu karya Buya Abdul Malik Karim Amrullah dan Syaikh Ali Ash-Shabuni. Penelitian ini termasuk penelitian yang bersifat kepustakaan (library research), dengan menggunakan metode deskriptif dan komparatif. Adapun penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan para mufassir tentang karakter ‘Ibadurrahman yang terdapat dalam surah Al Furqan serta mengetahui bagaimana analisis komparatifnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hamka menafsirkan karakteristik ‘Ibadurrahman kepada delapan sifat, sedangkan Ash Shabuni menafsirkan kepada sepuluh sifat. Sifat berlebihan dalam berinfak dikatakan hamka adalah pengeluaran secara banyak baik di jalan kebaikan atau keburukan, sedangkan ash shabuni mengatakan bahwa berlebihan adalah mengeluarkan di jalan keburukan baik sedikit maupun banyak. Ayat-ayat Allah yang diagungkan disini menurut hamka adalah ayat-ayat Allah berupa Al Qur’an yang dibacakan. Namun ash shabuni mengatakan bahwa ayat-ayat disini mencakup kepada nasihat baik didalamnya terkandung ayat-ayat Allah ataupun tidak.
Kata Kunci: ‘Ibad Ar rahman, Hamka, Ash-Shabun
Current concepts on oxidative/carbonyl stress, inflammation and epigenetics in pathogenesis of chronic obstructive pulmonary disease
Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a global health problem. The current therapies for COPD are poorly effective and the mainstays of pharmacotherapy are bronchodilators. A better understanding of the pathobiology of COPD is critical for the development of novel therapies. In the present review, we have discussed the roles of oxidative/aldehyde stress, inflammation/immunity, and chromatin remodeling in the pathogenesis of COPD. An imbalance of oxidants/antioxidants caused by cigarette smoke and other pollutants/biomass fuels plays an important role in the pathogenesis of COPD by regulating redox-sensitive transcription factors (e.g., NF-κB), autophagy and unfolded protein response leading to chronic lung inflammatory response. Cigarette smoke also activates canonical/alternative NF-κB pathways and their upstream kinases leading to sustained inflammatory response in lungs. Recently, epigenetic regulation has been shown to be critical for the development of COPD because the expression/activity of enzymes that regulate these epigenetic modifications have been reported to be abnormal in airways of COPD patients. Hence, the significant advances made in understanding the pathophysiology of COPD as described herein will identify novel therapeutic targets for intervention in COPD
Metode dan corak Tafsir Faidh Ar-Rahman karya Muhammad Shaleh Ibn Umar As-Samarani (1820 – 1903 M)
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengkaji bentuk (pendekatan), metode dan corak penafsiran Muhammad Shaleh Darat dalam Tafsir Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan dan untuk mengetahui dan menemukan kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam Tafsir Faidh al-Rahman serta mencari sebab-sebab yang melatar-belakangi penulisan Tafsir Faidh al-Rahman tersebut oleh Muhammad Shaleh Darat.
Ada beberapa alasan mengapa penulis mengangkat Tafsir Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan dan metode dan corak penafsiran Muhammad Shaleh Darat. Alasan Pertama, Kitab tafsir Faidh al-Rahman fi Tarjamah Kalam Malik ad-Dayyan dalam uraiannya menggunakan corak al-Isyari. Alasan kedua ialah, Muhammad Shaleh Darat dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an menggunakan huruf pegon agar bisa dipahami oleh masyarakat pada saat itu. Alasan Ketiga ialah, Dalam sejarah pesantren, Muhammad Shaleh Darat disebut sebagai “Delegator Pesantren”. Karena dia tidak pernah ikut membesarkan pesantren orang tuanya, sebagaimana mafhumnya anak kiai, dia justru lebih memilih berdikari untuk memajukan pesantren orang lain dan membuat pesantren sendiri,
Kajian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library research) yang sasarannya adalah metode dan corak penafsiran Muhammad Shaleh Darat dalam Tafsir Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan.
Sumber data penelitian ini bersumber dari dua data; primer dan sekunder, sumber primernya adalah. Tafsir Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan, Sedangkan sumber sekunder yang digunakan adalah buku-buku yang terkait dengan Muhammad Shaleh Darat dan ilmu-ilmu yang terkait dalam berbagai disiplin ilmu khususnya Ilmu Tafsir. Metode Pengumpulan Data adalah dengan menggunakan metode dokumentasi, penelitian ini bersifat kualitatif berupa penelitian kepustakaan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan objek permasalahan yang dikaji. Sebagaimana tersebut di atas, objek penelitian yang dikaji dalam tulisan ini, berupa pemikiran maka objek penelitian tersebut dianalisis dengan mengunakan analisis deskriptif yang meliputi dua jenis pendekatan. Pendekatan analisis isi (content analysis) dan Pendekatan Sosio-Historis.
Dalam Tafsir Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan, Muhammad Shaleh Darat mengambil berbagai penjelasan yang bersumber dari para mufassir terdahulu. Muhammad Shaleh Darat menggunakan metode ijmali dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Dan corak yang digunakan Muhammad Shaleh Darat dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah corak fiqih dan corak tasawuf
Syed Abdul Malik: His Life and Works
Syed Abdul Malik (1919-2000) was an uncrowned emperor of Assamese literature. He started his literary career in the early forties and enriched Assamese literature with short stories, novels, poetry and other writings spanning over five decades. In terms of statistics of fictional work, Syed Abdul Malik was unrivalled. No other writer has contributed so extensively towards the growth of Assamese literature as he did. Malik’s contribution to Assamese literature, particularly in the sphere of novel and short story, is indeed noteworthy. He is a distinguished writer among the fiction writes of the pre as well as post world war period who have successfully depicted the problems of man and the society
Syed Abdul Malik: His Life and Works
Syed Abdul Malik (1919-2000) was an uncrowned emperor of Assamese literature. He started his literary career in the early forties and enriched Assamese literature with short stories, novels, poetry and other writings spanning over five decades. In terms of statistics of fictional work, Syed Abdul Malik was unrivalled. No other writer has contributed so extensively towards the growth of Assamese literature as he did. Malik’s contribution to Assamese literature, particularly in the sphere of novel and short story, is indeed noteworthy. He is a distinguished writer among the fiction writes of the pre as well as post world war period who have successfully depicted the problems of man and the society
- …
