8 research outputs found
Influence of Nutrition Intervention Model in the Utilization of Local Fish to the Velocity Growth of Children Age 12–24 Months of the Coastal City of Bengkulu, Indonesia
Kualitas Organoleptik dan Kandungan Gizi Kerupuk Ikan Lokal (Bleberan) Formulasi sebagai Camilan untuk Balita Stunting
Latar Belakang: Permasalahan gizi pada balita sering diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu faktor langsung, tidak langsung, faktor utama dan faktor dasar. Stunting merupakan masalah kekurangan gizi kronis pada balita yang dapat berdampak jangka panjang maupun jangka pendek. Sebagian besar wilayah Kota Bengkulu terletak di pesisir yang kaya hasil laut. Beberapa ikan kecil dan relative murah merupakan hasil sampingan.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah menilai uji hedonik kesukaan kerupuk dengan variasi sayuran (sawi hijau, wortel, dan tomat apel).
Metode: Penelitian dilakukan di Laboratorium Gizi selama 1 bulan dimulai dari pembuatan produk hingga uji organoleptik dan uji daya terima pada masyarakat di Puskesmas terpilih dengan kriteria puskesmas stunting tertinggi (Puskesmas Pasar Ikan, Puskesmas Beringin Raya, Puskesmas Sawah Lebar, Puskesmas Penurunan, Puskesmas Anggut Atas, Puskesmas Sukamerindu, serta Puskesmas Jalan Gedang). Penelitian ini merupakan Eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisis data menggunakan aplikasi Stata 16 diawali analisis univariat (proporsi dan rata-rata).
Hasil: Kerupuk ikan dengan formulasi tomat apel masing-masing bahan dasar ikan 250 g dan tomat apel 50 g menunjukkan rata-rata skor kesukaan tertinggi dan mengandung 424,42 kkal dan 0,96 g rotein. Secara statistik perbedaan ditunjukkan oleh mutu organoleptik warna, dengan tingkat kemaknaan p-value=0,008.
Kesimpulan: Formulasi kerupuk ikan bleberan dengan variasi tomat menunjukan skor kesukaan tertinggi dengan nilai rata-rata 3,83, dengan perbedaan bermakna pada mutu uji organoleptik warna
Potensi ikan bleberan (Thryssa sp.) sebagai sumber zat gizi balita tengkes: The potential of Bleberan fish (Thryssa sp.) as nutritional source for toddler stunting
Permasalahan gangguan pertumbuhan balita secara langsung dipengaruhi oleh kurangnya asupan gizi dan adanya penyakit infeksi. Protein sebagai salah satu asupan penting sangat diperlukan dalam pertumbuhan balita. Indonesia merupakan negara maritim, kaya hasil laut, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi ikan lokal di Provinsi Bengkulu sebagai solusi sumber protein bagi balita stunting. Pada umumnya ikan hanya digoreng atau dimasak santan dalam keluarga, sehingga balita tidak pernah diberikan, hal ini mempertimbangkan duri ikan yang dapat membahayakan sistem pencernaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui kebiasaan ibu balita memanfaatkan ikan yang ada di sekitar tempat tinggal. Setelah diperoleh gambaran jenis ikan lokal yang mudah diakses yaitu Thryssa sp., dilanjutkan analisis zat gizi secara laboratorium. Kandungan protein dan zat besi hanya dapat dipenuhi oleh makanan mahal ternyata tidak selalu benar. Setiap 100 g ikan Thryssa sp. giling mengandung energi 153 kkal, protein 18,75 g, lemak 1,13 g, karbohidrat 0,19 g, dan Fe 1,71 mg.Toddler nutritional problems are directly influenced by nutritional intake and infectious diseases. Protein, as an important intake, is indispensable for the growth of toddlers. Indonesia has merged with a maritime country rich in marine products, but its use is not typical. This study aimed to explore the potential of local fish populations in Bengkulu Province as a protein source for stunting toddlers. In general, fish are only fried or cooked with coconut milk in the family, so toddlers are never given it, considering that fish spines can harm the digestive system. This study uses a quality approach to determine the habit of toddler mothers to use fish on the menu of the place of residence. After obtaining an overview of the types of local fish that are easily accessible, namely Thryssa sp., the laboratory analysis of nutrients was continued. Protein and iron can only be obtained from expensive foods, which is not always true. Every 100 g of Thryssa sp. groundfish contains 153 kcal of energy, 18.75 g of protein, 1.13 g of fat, 0.19 g of carbohydrates, and 1.71 mg of Fe
Peran Remaja Tutor Dalam Pencegahan Anemia Remaja Putri
Background.Anemia is one of the public health problems in Indonesia that can be experienced by all age groups range from toddlers to old age. The results of Riskesdas 2018 stated that in Indonesia 48.9% of pregnant women experience anemia. As many as 84.6% of anemia in pregnant women occurs in the age group of 15-24 years. Increasing the role of Posyandu cadres for young women in the consumption of blood-added tablets (TTD) in Panca Mukti Village, Pondok Kelapa District, is one of the efforts to prevent anemia as early as possible, in order to anticipate further impacts that can cause current public health problems such as stunting. Method. Pelaksana an devotion activity to the Community of Mitra Village Development scheme in Panca Mukti Village, Pondok Kelapa District, Bengkulu Tengah Regency through a model of involvement of adolescent and community cadres (PRA), using methods based on science and local cultural wisdom (PTD), an approach that involves the community (CD), persuasive and educational. External. The types of mandatory outputs in this activity include printed / electronic publications, video activities, increasing the role of partners, as well as additional outputs in the form of Educational Modules and Videos Conclusions and Suggestions. There is an increase in behavioral scores (knowledge, attitudes and actions) of adolescent tutors and young women in the prevention of anemia in Panca Mukti Village, Bengkulu Tengah Regency, through training,cadre training and online and offline assistance . Keywords: adolescents, anemia, behavior
ANALISIS PENATALAKSANAAN GIZI BALITA STUNTING PADA MASA PANDEMI COVID-19 DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS(AHP) DI PUSKESMAS MUARA BASUNG
ABSTRACT
Nutritional status in children under five is very important, if malnutrition occurs and if not treated immediately it will reduce the quality of human resources resulting in physical disorders, impaired intelligence and productivity. The COVID-19 pandemic increases the risk of an increase in the prevalence of stunting. The purpose of this study was to analyze the nutritional management of stunting toddlers during the COVID-19 pandemic using the Analytic Hierarchy Process (AHP) method at the X Health centre, Bengkalis Regency based on input, process and output components. Method: This study used a qualitative approach using the analytic hierarchy process method. Data collection methods were carried out by in-depth interviews and observations to 15 informants, consisting of the administrative head of the Health Centre, nutrition officers, MCH coordinator midwife, village midwife, posyandu cadres and mothers of stunting toddlers. Result: showed that at the input stage, health workers such as TPG and village midwives had met the competency requirements, there were no special appointments for stunting cadres and specific technical guidelines for stunting management, as well as the lack of infrastructure for monitoring growth and development in Posyandu. Implemented properly include antenatal care, supplementary feeding, vitamin A administration, the coverage of which is still low is exclusive breastfeeding and visits to Posyandu. In the output element, the prevalence of stunting at the X Health Center in 2020 reached 15.02%Keyword : AHP, Management of stunting, Covid 1
The Pengaruh Modifikasi Buah dan Sayur Terhadap Konsumsi Buah dan Sayur Pada Anak Sekolah Dasar Pangkalan Kerinci
Upaya peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak usia sekolah dilakukan dengan cara memberikan pelatihan terhadap orang tua dan memberikan video tutorial tentang modifikasi buah dan sayur pada media sosial (WA Group) melalui perantara para guru. Rendahnya cakupan Perilaku Hidup Bersih Dan sehat (PHBS) pada indikator konsumsi buah dan sayur di Kabupaten Pelalawan dan hasil survey awal yang menunjukkan rendahnya frekuensi membawa bekal buah dan sayur pada anak sekolah melatar belakangi peneliti melakukan penelitian ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar di Pangkalan Kerinci. Penelitian ini menggunakan Quasi Exprimental dengan rancangan penelitian pre test-post test non-Equivalent control Group Design. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 2022 dengan sampel sebanyak 100 siswa (50 pada kelompok perlakuan dan 50 pada kelompok kontrol). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Wilcoxon dan 1 sampel T-test. Hasil penelitian menemukan rata-rata signifikan tertingi dari konsumsi buah dan sayur setelah intervensi yaitu 63,1 gram dan 134,1 gram pada kelompok perlakuan dan 63,9 gram dan 128,8 gram pada kelompok kontrol. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur sebelum dan sesudah intervensi. Saran pada penelitian ini ialah disarankan kepada sekolah untuk membuat surat himbauan terkait program konsumsi buah dan sayur dalam satu kali seminggu, serta diharapkan kepada dinas kesehatan untuk meningkatkan edukasi kepada guru terkait konsumsi buah dan sayur di sekolah pada anak sekolah dasar.
Kata Kunci : Buah dan Sayur, Sekolah Dasar, Modifikasi
Red Dragon Fruit Powder as a Basic Ingredient for Functional Foods Rich in Bioactive Compounds, Nutritional Substances and Antioxidants
DASAR-DASAR KESEHATAN MASYARAKAT : TEORI, STRATEGI, DAN PRAKTIK
Kesehatan masyarakat merupakan disiplin ilmu yang berfokus pada peningkatan kesehatan masyarakat secara keseluruhan melalui pencegahan penyakit, promosi kesehatan, dan pengelolaan sistem kesehatan. Disiplin ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kesehatan individu hingga kesehatan komunitas, serta mempertimbangkan berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Kesehatan masyarakat tidak hanya berhubungan dengan pengobatan atau perawatan kesehatan, tetapi juga mencakup upaya untuk menangani faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan yang memengaruhi kesehatan (Dewi et al. 2023). Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 80% penyakit dapat dicegah melalui intervensi kesehatan masyarakat yang efektif. Contohnya, program imunisasi yang komprehensif telah berhasil menurunkan insiden penyakit menular seperti polio dan campak di berbagai negara. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan mencegah penyakit sebelum terjadi. Selain itu, kesehatan masyarakat juga mencakup aspek kesehatan mental dan sosial. Kesehatan mental yang baik dalam masyarakat dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup secara keseluruhan
