82 research outputs found
VARIASI BENTUK INTERJEKSI DALAM NOVEL INDONESIA PASCAREFORMASI: ANALISIS STILISTIKA
Tujuan penelitian ini adalah menemukan variasi bentuk interjeksi dalam novel Indonesia pascareformasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Sampel penelitian diambil melalui teknik purposive sampling. Teknik analisis data dilakukan dengan interactive model. Lalu, validasi data menggunakan teknik triangulasi data. Hasil penelitian menemukan sepuluh bentuk interjeksi dasar yang dimanfaatkan pengarang pascareformasi untuk mengekspresikan perasaan emosional, yaitu bentuk: (1) kejijikan; (2) kekesalan; (3) kekaguman/kepuasan; (4) harapan; (5) kesyukuran; (6) keheranan; (7) kekagetan; (8) ajakan; (9) panggilan; dan (10) simpulan. Sementara, interjeksi turunan atau modifikasi melahirkan beberapa kata yang dipotong, diplintir, atau ditambah dari bentuk asalnya untuk menghasilkan efek tertentu. Misalnya, bentuk kekesalan memakai kata ndemit, nyet, dan taek. Kemudian, bentuk yuk. hayo, dan ayok dipakai sebagai ekspresi panggilan. Lalu, ditemukan penggunaan bahasa asing atau daerah yang diserap untuk mendapatkan efek psikologis tertentu. Misalnya, Hyang Widi, Sang Hyang Jagat (Hyang Jagat), astagfirullah, masya Allah atau subhanallah mengungkapkan kekaguman, keterkejutan, atau takjub. Terakhir, bentuk please, good luck, oke, atau sorry sebagai ekspresi interjeksi harapan.Kata Kunci: Variasi, Interjeksi, pascareformas
PERAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM MENGURANGI TINGKAT DEPRESI TAHANAN DI LEMBAGA PERMASYARAKATAN KELAS II A KOTA PALOPO
ABSTRAK
Mahfuddin Ali, 2022. “Peran Komunikasi Interpersonal dalam Mengurangi
Tingkat Depresi Tahanan di Lembaga Permasyarakatan
Kelas II A Kota Palopo ” Dibimbing oleh (I) Dr. Efendi P, M.
Sos.I. dan Pembimbing (II) Jumriani, S.Sos,. M.I.Kom
Skripsi ini membahas tentang Peran Komunikasi Interpersonal dalam
Mengurangi Tingkat Depresi Tahanan di Lembaga Permasyarakatan Kelas II A
Kota Palopo. Dalam penelitian ini mengangkat permasalahan yakni: (1)
Gambaran komunikasi interpersonal tahanan di lembaga pemasyarakatan kelas II
A Kota Palopo (2) Tingkat depresi tahanan di lembaga pemasyarakatan kelas II A
Kota Palopo (3) Kendala komunikasi interpersonal dalam mengurangi tingkat
depresi di lembaga pemasyarakatan kelas II A Kota Palopo.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, penelitian ini dilakukan pada
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kota Palopo. Analisa data yang digunakan
peneliti pada penelitian ini yaitu Teknik analisis data Miles and Huberman.
Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Komunikasi
interpersonal tahanan di lembaga pemasyarakatan kelas II A Kota Palopo
dilakukan dengan cara komunikasi verbal dan non verbal hal ini dilakukan dalam
rangka melakukan pendekatan yang intensif kepada warga binaan yang ada di
Lembaga Pemasyarakatn Kelas IIA Kota Palopo. (2) Defresi yang ada di
Lembaga Pemasyarakatn Kelas IIA Kota Palopo tergolong tingkat defresi rendah.
Diantara defresi yang sering dialami oleh warga binaan terutama pada pengguna
narkoba yaitu gangguan Demensia yaitu gangguan kognitif tanpa gangguan
kesadaran contohnya gangguan intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa,
pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian
dan kemampuan bersosialisasi. Amnesia, ditandai dengan gangguan mempelajari
hal-hal baru atau mengingat hal-hal baru yang telah dipelajari. Gangguan
kepribadian anti sosial, ditandai dengan perilaku berbohong, tidur pada saat
ternyadinya proses binaan, acuh terhadap program peningkatan kecakapan diri. (3)
Kendala yang dihadapi pada proses komunikasi yaitu kepercayaan terhadap diri
warga binaan yang kurang sihingga menyebabkan tidak adanya keterbukaan
warga binaan terhadap pembinanya., selain itu faktor sarana dan prasarana juga
ikut mempengaruhi kelancaran komunikasi interpersonal terhadap warga binaan.
Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Depresi Tahanan, Lembaga
Pemasyarakatan Kelas II A Kota Palop
STUDI PERBANDINGAN TINGKAT DAYA SERAP SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP NEGERI 8 PALOPO DAN MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI MODEL PALOPO
ABSTRAK
Washliyah Mahfuddin, 2011. “Studi Perbandingan Tingkat Daya Serap Siswa
Terhadap Hasil Belajar Matematika SMP Negeri 8 Palopo dan
Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Palopo”, Program Studi
Pendidikan Matematika, Jurusan Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Palopo. Skripsi. Pembimbing I: Drs. Nasaruddin, M. Si.,
Pembimbing II: Andi Ika Prasasti Abrar, S. Si., M. Pd.
Skripsi ini membahas tentang hasil studi perbandingan tentang tingkat daya
serap siswa SMP Negeri 8 Palopo dan Madrasah Tsanawiyah Negeri Model
Palopo dalam bidang studi matematika. Adapun yang menjadi masalah dalam
penelitian ini adalah adakah perbedaan yang signifikan antara tingkat daya serap
siswa SMP Negeri 8 Palopo dan Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Palopo
dalam bidang studi matematika?
Untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan tersebut, maka penulis
melakukan penelitian terhadap siswa SMP Negeri 8 Palopo dan Madrasah
Tsanawiyah Negeri Model Palopo. Pada SMP Negeri 8 Palopo, penulis mengambil
kelas VII yang populasinya 315 siswa dan 30 siswa diantaranya sebagai sampel
untuk penelitian. Sedangkan pada Madrsah Tsanawiyah Negeri Model Palopo,
penulis juga mengambil kelas VII yang populasinya 369 siswa dan 30 siswa
diantaranya sebagai sampel. Untuk memperoleh data penelitian maka instrumen
yang digunakan yaitu tes. Kemudian tes diedarkan kepada siswa yang dijadikan
sampel.
Data yang telah berhasil dikumpulkan, dianalisis dengan metode statistik yaitu
statistik deskriptif dan inferensial. Sehingga dari hasil analisis tersebut dapat
diketahui bahwa terdapatnya perbedaan tingkat daya serap siswa dari kedua
sekolah tersebut.
Berdasarkan hasil tes siswa SMP Negeri 8 Palopo dan Madrasah Tsanawiyah
Negeri Model Palopo diperoleh thit = 2,215 dan rata-rata daya serap siswa SMP
Negeri 8 Palopo adalah 13,566 ≈ 67, 8%. Sedangkan daya serap siswa Madrasah
Tsanawiyah Negeri Model Palopo adalah 11,43 ≈ 57, 15%. Dari analisis tersebut
maka penulis menarik kesimpulan bahwa “Terdapat perbedaan tingkat daya serap
siswa SMP Negeri 8 Palopo dan Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Palopo
dalam bidang studi matematika”
PENGARUH PERKEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) DAN ANGKA PENGANGGURAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2014-2019 DI KABUPATEN/KOTA TERPILIH JAWA TIMUR
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Pengaruh Perkembangan Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) dan Angka Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Tahun 20142019
di Kabupaten/Kota Terpilih Jawa Timur” ini ditulis oleh Muhammad Charis
Mahfuddin, NIM. 17402163080, pembimbing Dr. H. Mashudi, M.Pd.I.
Dalam suatu negara pembangunan ekonomi merupakan sesuatu yang sangat
penting yang mana harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari
tingkat mikro hingga makro dengan tujuan untuk menciptakan pertumbuhan GNP yang
tinggi, kemudian pemberantasan kemiskinan, penanggulangan ketimpangan
pendapatan, menurunkan angka pengangguran, penyediaan lapangan pekerjaan,
tingkat pendidikan yang lebih baik, serta tingkat kesehatan yang baik. Salah satu
pembangunan ekonomi yang bisa dilakukan adalah dengan adanya Usaha Mikro Kecil
Menengah (UMKM). UMKM dapat membantu mengurangi angka kemiskinan dan
pengangguran dengan jumlah tenaga kerja yang akan terus meningkat disetiap
tahunnya. Pastinya dengan adanya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini akan
membantu tingkat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur.
Fokus dalam penelitian ini adalah Apakah Perkembangan Usaha Mikro Kecil
Menengah (UMKM) dan Angka Pengangguran berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi di Kabupate/Kota Terpilih Jawa Timur?. Tujuan dari penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh perkembangan UMKM dan angka pengangguran terhadap
pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Terpilih Jawa Timur. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Pengambilan
sampel menggunakan teknik sampling. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data sekunder yang diperoleh dari website Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan
Menengah , dan website Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mulai tahun 2014
sampai dengan tahun 2019.
Pada penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Pada
tabel hasil uji T-Parsial menunjukkan bahwa masing-masing variabel UMKM dan
variabel pengangguran berpengaruh positif terhadap variabel Pertumbuhan Ekonomi
di Kabupaten/Kota Terpilih Jawa Timur. Sedangkan pada tabel hasil uji F-Simultan
untuk variabel UMKM dan Pengangguran keduanya secara bersamaan mempunyai
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten/Kota Terpilih Jawa Timur Tahun 2014-2019. Dan pada uji Koefisien
Korelasi dan Determinasi pengaruh variabel UMKM dan Angka Pengangguran
terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten/Kota Terpilih Jawa Timur adalah
sebesar 26,3%, kemudian selebihnya adalah dipengaruhi oleh variabel-variabel lain.
Kata kunci: UMKM, Pengangguran, Pertumbuhan Ekonom
Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Ponorogo.
ABSTRAK
Al-Mubarok, Itsnan Mahfuddin. 2022. Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di MAN 2 Ponorogo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, M.Pd.I.
Kata Kunci: Upaya, Karakter Religius, Metode Pembiasaan.
Karakter religius adalah sebuah karakter yang berkaitan erat mengenai hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Karakter religius pada dasarnya merupakan sumber yang melandasi pendidikan karakter secara keseluruhan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan dan karakter bagi generasi penerus bangsa. Namun, pada saat ini di tengah kemajuan teknologi yang berkembang pesat terjadi kemerosotan moral khususnya pada kalangan pelajar. Untuk itu, tentu diperlukan sebuah upaya dari lembaga pendidikan untuk membentuk sekaligus membentengi karakter religius siswa-siswinya. Salah satu lembaga pendidikan yang mengupayakan pembentukan karakter religius siswa-siswinya adalah MAN 2 Ponorogo. Salah satu visi MAN 2 Ponorogo adalah religius yang mengindikasikan bahwa pihak madrasah mengutamakan pendidikan karakter religius di samping akademik siswa-siswinya. Untuk mewujudkan visi tersebut, MAN 2 Ponorogo memilih metode pembiasaan sebagai upaya madrasah dalam membentuk karakter religius siswa-siswinya. Di sini, bagaimanakah pembiasaan-pembiasaan yang dilaksanakan tersebut dapat berdampak terhadap karakter siswa di MAN 2 Ponorogo menjadi sesuatu hal yang menarik untuk diteliti.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (2) mendeskripsikan dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (3) mengungkap faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun untuk menganalisis data, peneliti menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi.
Dari hasil penelitian, ditemukan: (1) pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo adalah melalui kegiatan rutin yang meliputi: a) 5 S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), b) berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran, c) melantunkan Asmaul Husna, d) membaca Al-Qur’an, e) sholat Dhuhur Berjamaah, f) infak Jum’at, g) kajian kultum setelah sholat dhuhur, (2) dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo yaitu: a) dimensi keyakinan, siswa menjadi hafal asmaul husna dan selalu berdo’a ketika memulai atau mengakhiri sesuatu, b) dimensi praktik ibadah, siswa menjadi sholat tepat waktu dan dilaksanakan secara berjamaah, c) dimensi pengalaman, siswa menjadi lebih khusyu’, ikhlas, dan bertanggung jawab dalam beribadah, d) dimensi pengetahuan, siswa menjadi tahu penerapan ilmu tajwid dalam membaca al-Qur’an, e) dimensi pengamalan, siswa menjadi rajin lagi dalam bersedekah, (3) terdapat faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo. Faktor pendukungnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti niat untuk memperbaiki diri, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pendampingan dari bapak-ibu guru dan fasilitas yang diberikan madrasah. Untuk faktor penghambatnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti rasa malas dan latar belakang pendidikan siswa yang beragam, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pengaruh teman
Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Ponorogo
ABSTRAK
Al-Mubarok, Itsnan Mahfuddin. 2022. Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di MAN 2 Ponorogo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, M.Pd.I.
Kata Kunci: Upaya, Karakter Religius, Metode Pembiasaan.
Karakter religius adalah sebuah karakter yang berkaitan erat mengenai hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Karakter religius pada dasarnya merupakan sumber yang melandasi pendidikan karakter secara keseluruhan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan dan karakter bagi generasi penerus bangsa. Namun, pada saat ini di tengah kemajuan teknologi yang berkembang pesat terjadi kemerosotan moral khususnya pada kalangan pelajar. Untuk itu, tentu diperlukan sebuah upaya dari lembaga pendidikan untuk membentuk sekaligus membentengi karakter religius siswa-siswinya. Salah satu lembaga pendidikan yang mengupayakan pembentukan karakter religius siswa-siswinya adalah MAN 2 Ponorogo. Salah satu visi MAN 2 Ponorogo adalah religius yang mengindikasikan bahwa pihak madrasah mengutamakan pendidikan karakter religius di samping akademik siswa-siswinya. Untuk mewujudkan visi tersebut, MAN 2 Ponorogo memilih metode pembiasaan sebagai upaya madrasah dalam membentuk karakter religius siswa-siswinya. Di sini, bagaimanakah pembiasaan-pembiasaan yang dilaksanakan tersebut dapat berdampak terhadap karakter siswa di MAN 2 Ponorogo menjadi sesuatu hal yang menarik untuk diteliti.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (2) mendeskripsikan dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (3) mengungkap faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun untuk menganalisis data, peneliti menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi.
Dari hasil penelitian, ditemukan: (1) pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo adalah melalui kegiatan rutin yang meliputi: a) 5 S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), b) berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran, c) melantunkan Asmaul Husna, d) membaca Al-Qur’an, e) sholat Dhuhur Berjamaah, f) infak Jum’at, g) kajian kultum setelah sholat dhuhur, (2) dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo yaitu: a) dimensi keyakinan, siswa menjadi hafal asmaul husna dan selalu berdo’a ketika memulai atau mengakhiri sesuatu, b) dimensi praktik ibadah, siswa menjadi sholat tepat waktu dan dilaksanakan secara berjamaah, c) dimensi pengalaman, siswa menjadi lebih khusyu’, ikhlas, dan bertanggung jawab dalam beribadah, d) dimensi pengetahuan, siswa menjadi tahu penerapan ilmu tajwid dalam membaca al-Qur’an, e) dimensi pengamalan, siswa menjadi rajin lagi dalam bersedekah, (3) terdapat faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo. Faktor pendukungnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti niat untuk memperbaiki diri, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pendampingan dari bapak-ibu guru dan fasilitas yang diberikan madrasah. Untuk faktor penghambatnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti rasa malas dan latar belakang pendidikan siswa yang beragam, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pengaruh teman
Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Ponorogo
ABSTRAK
Al-Mubarok, Itsnan Mahfuddin. 2022. Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di MAN 2 Ponorogo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, M.Pd.I.
Kata Kunci: Upaya, Karakter Religius, Metode Pembiasaan.
Karakter religius adalah sebuah karakter yang berkaitan erat mengenai hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Karakter religius pada dasarnya merupakan sumber yang melandasi pendidikan karakter secara keseluruhan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan dan karakter bagi generasi penerus bangsa. Namun, pada saat ini di tengah kemajuan teknologi yang berkembang pesat terjadi kemerosotan moral khususnya pada kalangan pelajar. Untuk itu, tentu diperlukan sebuah upaya dari lembaga pendidikan untuk membentuk sekaligus membentengi karakter religius siswa-siswinya. Salah satu lembaga pendidikan yang mengupayakan pembentukan karakter religius siswa-siswinya adalah MAN 2 Ponorogo. Salah satu visi MAN 2 Ponorogo adalah religius yang mengindikasikan bahwa pihak madrasah mengutamakan pendidikan karakter religius di samping akademik siswa-siswinya. Untuk mewujudkan visi tersebut, MAN 2 Ponorogo memilih metode pembiasaan sebagai upaya madrasah dalam membentuk karakter religius siswa-siswinya. Di sini, bagaimanakah pembiasaan-pembiasaan yang dilaksanakan tersebut dapat berdampak terhadap karakter siswa di MAN 2 Ponorogo menjadi sesuatu hal yang menarik untuk diteliti.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (2) mendeskripsikan dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (3) mengungkap faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun untuk menganalisis data, peneliti menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi.
Dari hasil penelitian, ditemukan: (1) pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo adalah melalui kegiatan rutin yang meliputi: a) 5 S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), b) berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran, c) melantunkan Asmaul Husna, d) membaca Al-Qur’an, e) sholat Dhuhur Berjamaah, f) infak Jum’at, g) kajian kultum setelah sholat dhuhur, (2) dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo yaitu: a) dimensi keyakinan, siswa menjadi hafal asmaul husna dan selalu berdo’a ketika memulai atau mengakhiri sesuatu, b) dimensi praktik ibadah, siswa menjadi sholat tepat waktu dan dilaksanakan secara berjamaah, c) dimensi pengalaman, siswa menjadi lebih khusyu’, ikhlas, dan bertanggung jawab dalam beribadah, d) dimensi pengetahuan, siswa menjadi tahu penerapan ilmu tajwid dalam membaca al-Qur’an, e) dimensi pengamalan, siswa menjadi rajin lagi dalam bersedekah, (3) terdapat faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo. Faktor pendukungnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti niat untuk memperbaiki diri, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pendampingan dari bapak-ibu guru dan fasilitas yang diberikan madrasah. Untuk faktor penghambatnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti rasa malas dan latar belakang pendidikan siswa yang beragam, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pengaruh teman
Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Ponorogo
ABSTRAK
Al-Mubarok, Itsnan Mahfuddin. 2022. Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di MAN 2 Ponorogo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, M.Pd.I.
Kata Kunci: Upaya, Karakter Religius, Metode Pembiasaan.
Karakter religius adalah sebuah karakter yang berkaitan erat mengenai hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Karakter religius pada dasarnya merupakan sumber yang melandasi pendidikan karakter secara keseluruhan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan dan karakter bagi generasi penerus bangsa. Namun, pada saat ini di tengah kemajuan teknologi yang berkembang pesat terjadi kemerosotan moral khususnya pada kalangan pelajar. Untuk itu, tentu diperlukan sebuah upaya dari lembaga pendidikan untuk membentuk sekaligus membentengi karakter religius siswa-siswinya. Salah satu lembaga pendidikan yang mengupayakan pembentukan karakter religius siswa-siswinya adalah MAN 2 Ponorogo. Salah satu visi MAN 2 Ponorogo adalah religius yang mengindikasikan bahwa pihak madrasah mengutamakan pendidikan karakter religius di samping akademik siswa-siswinya. Untuk mewujudkan visi tersebut, MAN 2 Ponorogo memilih metode pembiasaan sebagai upaya madrasah dalam membentuk karakter religius siswa-siswinya. Di sini, bagaimanakah pembiasaan-pembiasaan yang dilaksanakan tersebut dapat berdampak terhadap karakter siswa di MAN 2 Ponorogo menjadi sesuatu hal yang menarik untuk diteliti.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (2) mendeskripsikan dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (3) mengungkap faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun untuk menganalisis data, peneliti menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi.
Dari hasil penelitian, ditemukan: (1) pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo adalah melalui kegiatan rutin yang meliputi: a) 5 S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), b) berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran, c) melantunkan Asmaul Husna, d) membaca Al-Qur’an, e) sholat Dhuhur Berjamaah, f) infak Jum’at, g) kajian kultum setelah sholat dhuhur, (2) dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo yaitu: a) dimensi keyakinan, siswa menjadi hafal asmaul husna dan selalu berdo’a ketika memulai atau mengakhiri sesuatu, b) dimensi praktik ibadah, siswa menjadi sholat tepat waktu dan dilaksanakan secara berjamaah, c) dimensi pengalaman, siswa menjadi lebih khusyu’, ikhlas, dan bertanggung jawab dalam beribadah, d) dimensi pengetahuan, siswa menjadi tahu penerapan ilmu tajwid dalam membaca al-Qur’an, e) dimensi pengamalan, siswa menjadi rajin lagi dalam bersedekah, (3) terdapat faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo. Faktor pendukungnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti niat untuk memperbaiki diri, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pendampingan dari bapak-ibu guru dan fasilitas yang diberikan madrasah. Untuk faktor penghambatnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti rasa malas dan latar belakang pendidikan siswa yang beragam, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pengaruh teman
Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Ponorogo
ABSTRAK
Al-Mubarok, Itsnan Mahfuddin. 2022. Upaya Madrasah dalam Membentuk Karakter Religius Siswa Melalui Metode Pembiasaan di MAN 2 Ponorogo. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, M.Pd.I.
Kata Kunci: Upaya, Karakter Religius, Metode Pembiasaan.
Karakter religius adalah sebuah karakter yang berkaitan erat mengenai hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Karakter religius pada dasarnya merupakan sumber yang melandasi pendidikan karakter secara keseluruhan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk dan mengembangkan kemampuan dan karakter bagi generasi penerus bangsa. Namun, pada saat ini di tengah kemajuan teknologi yang berkembang pesat terjadi kemerosotan moral khususnya pada kalangan pelajar. Untuk itu, tentu diperlukan sebuah upaya dari lembaga pendidikan untuk membentuk sekaligus membentengi karakter religius siswa-siswinya. Salah satu lembaga pendidikan yang mengupayakan pembentukan karakter religius siswa-siswinya adalah MAN 2 Ponorogo. Salah satu visi MAN 2 Ponorogo adalah religius yang mengindikasikan bahwa pihak madrasah mengutamakan pendidikan karakter religius di samping akademik siswa-siswinya. Untuk mewujudkan visi tersebut, MAN 2 Ponorogo memilih metode pembiasaan sebagai upaya madrasah dalam membentuk karakter religius siswa-siswinya. Di sini, bagaimanakah pembiasaan-pembiasaan yang dilaksanakan tersebut dapat berdampak terhadap karakter siswa di MAN 2 Ponorogo menjadi sesuatu hal yang menarik untuk diteliti.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (2) mendeskripsikan dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap pembentukan karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo, (3) mengungkap faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun untuk menganalisis data, peneliti menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi.
Dari hasil penelitian, ditemukan: (1) pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo adalah melalui kegiatan rutin yang meliputi: a) 5 S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), b) berdo’a sebelum dan sesudah pembelajaran, c) melantunkan Asmaul Husna, d) membaca Al-Qur’an, e) sholat Dhuhur Berjamaah, f) infak Jum’at, g) kajian kultum setelah sholat dhuhur, (2) dampak pelaksanaan metode pembiasaan terhadap karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo yaitu: a) dimensi keyakinan, siswa menjadi hafal asmaul husna dan selalu berdo’a ketika memulai atau mengakhiri sesuatu, b) dimensi praktik ibadah, siswa menjadi sholat tepat waktu dan dilaksanakan secara berjamaah, c) dimensi pengalaman, siswa menjadi lebih khusyu’, ikhlas, dan bertanggung jawab dalam beribadah, d) dimensi pengetahuan, siswa menjadi tahu penerapan ilmu tajwid dalam membaca al-Qur’an, e) dimensi pengamalan, siswa menjadi rajin lagi dalam bersedekah, (3) terdapat faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode pembiasaan dalam membentuk karakter religius siswa di MAN 2 Ponorogo. Faktor pendukungnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti niat untuk memperbaiki diri, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pendampingan dari bapak-ibu guru dan fasilitas yang diberikan madrasah. Untuk faktor penghambatnya meliputi: a) faktor internal yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri seperti rasa malas dan latar belakang pendidikan siswa yang beragam, b) faktor eksternal yang berasal dari luar diri seperti pengaruh teman
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA SOAL BERBASIS HIGH ORDER THINKING DITINJAU DARI KEMAMPUAN SPASIAL
Kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan spasial memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam menyelesaikan soal geometri transformasi berbasis high order thinking ditinjau dari kemampuan spasial. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Instrumen dalam penelitian, yaitu tes kemampuan spasial, tes kemampuan pemecahan masalah berbasis HOTS, dan pedoman wawancara. Analisis data penelitian ini yaitu analisis pemecahan masalah yang berorientasi HOTS dan analisis wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan siswa dengan kemampuan spasial tinggi mampu melalui tahapan pemecahan masalah dengan level kognitif menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Siswa dengan kemampuan spasial sedang mampu melalui tahapan pemecahan masalah dengan level kognitif menganalisis dan mengevaluasi serta belum mampu melaksanakan penyelesaian dengan baik dan menemukan gagasannya dalam memecahkan permasalahan. Siswa dengan kemampuan spasial rendah hanya mencapai tahap level kognitif menganalisis, dan pada level kognitif mengevaluasi, hanya mampu memahami permasalahan tanpa memberikan penyelesaian. Hal ini menunjukkan kemampuan spasial tinggi lebih baik dalam menyelesaikan soal geometri transformasi berbasis high order thinking
- …
