1,720,987 research outputs found
RELIGIOUS ATTITUDE OF SPECIAL PROGRAM STUDENTS IN PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR
Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam yang menekankan moral keagamaan. Cita-cita yang utarna adalah rasa tanggung jawab memajukan umat Islam dan mencari ridha Allah. Dikarenakan oleh dedikasi dan pengabdian Gontor terhadap Islam dan masyarakat, maka berdatanglah santri dari seluruh Indonesia, bahkan tidak sedikit yang datang dari Amerika, Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei untuk menimba ilmu agama. Mereka merupakan kader harapan umat Islam di negara masing-masing. Maka dari itu untuk memudahkan dan memaksimalkan pembelajaran mereka, pondok membuat program yang dinamakan dengan Program Khusus yang hanya mempelajari Dirasab Islamiyab dan Arabiyah saja. Para pelajar Program Khusus bertempat tinggal didalam kampus dan merasakan semua kegiatan dan disiplinnya. Maka sikap keagamaan mereka sedikit banyak terpengaruh oleh aktifitas keagamaan dilingkungan pondok. Sikap seseorang merupakan gambaran dari kepribadiannya, ia dapat menentukan sifat, hakekat dan perilakunya. Sikap keagamaan adalah keadaan seseorang yang mendorong untuk bertingkah laku sesuai dengan nilai ketaatan terhadap agama. Salah satu masalah yang dapat menggambarkan kepribadian para santri adalah sikap leagamaan mereka. Perhatian terhadap masalah ini sangat jarang. Sementara tujuan pembahasan ini adalah untuk mengetahui keadaan para santri atau siswa Program Khusus mengenai sikap keagamaan mereka. Untuk memperoleh data, penulis dalam penelitiannya menggunakan beberapa metodologi; yaitu wawancara, observsi dan dokumentasi. Sedangkan data sikap keagamaan para siswa dianalisa dengan menggunakan metode deskriptif, karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Objek penelitian adalah seluruh siswa Program Khusus yang berjumlah 18 orang. Dan penulis memilih semua objek penelitian dengan cara sensus. Keadaan dan lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai pesantren dan lembaga Islam sangat mempengaruhi sikap keagamaan para siswa Program Khusus. Meskipun demikian sikap keagamaan para siswa bervariasi. Ada yang baik sekali, namun adapula yang kurang maksimal dalam menjalankan aktifitas keagamaannya. Tujuan utama para siswa adalah mencari ilmu agama yang sangat jarang mereka temukan di negara mereka. Dengan analisa penelitian ini, disarankan bahwa perhatian terhadap sikap keagamaan para siswa Program Khusus agar lebih ditingkatkan lagi demi tercapainya cita-cita pondok untuk mendidik kader-kader umat yang handal. Sungguh, penelitian ini snagatlah sederhana, karena ini adalah penelitian deskriptif. Oleh karena itu sangat diharapkan sekali bagi peneliti selanjutnya untuk lebih meningkatkan hasil penelitian yang masih banyak kekurangan ini
دراسات ÙÙŠ علوم القرآن المعاصر: موق٠السر سيد Ø£ØÙ…د خان من إعجاز القرآن الكريم
This paper deals with the I’jaz Alquran according to Sir Syed Ahmad Khan. It is concluded that Khan toughly emphasized his interpretation concept on rationalism. Khan also applied it for Quranic studies, such as emphasizing on rational and scientific facts that negate several metaphysical and invisible issues contained in Qur’an. Following his view on the prophets’ miracle which is irrational and unacceptable for human mind. Again, the concept of I’jaz Alquran is also one of Khan’s thought on rationality, though he acknowledged the great literary contents of Quran, as well he uncategorized it as a miracle. He then said that God’s challenge human to afford the similar verses to Qur’an is unclassified among I’jaz Qur’an, since God did the similar thing to the book of Torah as well. Unlike the opinion of majority Tafseer scholars, among the Salaf and Khalaf, they viewed that God’s challenge and the Quran high literature are evidence of I’jaz Quran
دراسات ÙÙŠ علوم القرآن المعاصر: موق٠السر سيد Ø£ØÙ…د خان من إعجاز القرآن الكريم
This paper deals with the I’jaz Alquran according to Sir Syed Ahmad Khan. It is concluded that Khan toughly emphasized his interpretation concept on rationalism. Khan also applied it for Quranic studies, such as emphasizing on rational and scientific facts that negate several metaphysical and invisible issues contained in Qur’an. Following his view on the prophets’ miracle which is irrational and unacceptable for human mind. Again, the concept of I’jaz Alquran is also one of Khan’s thought on rationality, though he acknowledged the great literary contents of Quran, as well he uncategorized it as a miracle. He then said that God’s challenge human to afford the similar verses to Qur’an is unclassified among I’jaz Qur’an, since God did the similar thing to the book of Torah as well. Unlike the opinion of majority Tafseer scholars, among the Salaf and Khalaf, they viewed that God’s challenge and the Quran high literature are evidence of I’jaz Quran
بين المعتزلة والاعتزالية الجديدة: الاعتزالية الجديدة والتأريخ لعلم الكلام عند المسلمين
This paper aims to describe the important roles of mutazilite and neo mutazilite in the development of theological science. Mutazilite is the theological stream in Islam flourished at the end of the Umayya dynasty, then spread widely during the Abbasid dynasty. In studying this, researchers use qualitative research a descriptive account of the history of the flow of mutazilite from time to time and its reform efforts. As for the results of this study, First, Mutazilite is a stream of well-known figures in debate and a powerful analyst in Islamic theological studies compared to their counterparts, the definition of this stream is that they are really rigid in combining reason and revelation in debate their theology. Second, there is a reconstruction of the mutazilite flow by the new name rationalist-modernist. This mindset is also reinforced with rationalist-materialist Western thought, they tried to disassemble the framework interpretation of revelation is based on the rationale of rational analysis, and it is refined to the preacher as the classical mutazilite did. Then strengthen it with the arguments text. Third, the most important thoughts of the neo mutazilite were the effort to revise the laws of the Shari'a that exist in the Qur'an and the Sunnah
العلمنة والعلاقة بين الدين والدولة في إندونيسيا: موقف نور خالص مجيد نموذجا, دراسة تحليلية
إن مفهوم التحرير العلماني يلغي سلطة الدين على المجتمع، وهو أمر قد يتفق مع بعض الأديان، ولكن لا يتفق مع الإسلام الذي يعد الدنيا والآخرة والدين والحياة سياقات متواصلة، وقد كان رسول الله نفسه زعيما للدولة الإسلامية الأولى، وهذا أيضا ما فعله الخلفاء الراشدون، كلهم علماء في دينهم وقادة سياسيون في دولهم. فصل الدولة والسياسة عن الإسلام سوف يعوق ويعطل دور نظرية الإسلام في المجتمع. فالدين يكون مسألة شخصية خاصة ولا علاقة له بالجمهور والمجتمع. إن مفهوم العلمنة النابع من النظر الغربي -المسيحي استوردها ونشرها بعض المفكرين المسلمين في مجتمعاتهم بغير إدراك جيد للأسس التاريخية والفلسفية واللاهوتية والسوسيولوجية لهذه الفكرة
دراسات ÙÙŠ علوم القرآن المعاصر: موق٠السر سيد Ø£ØÙ…د خان من إعجاز القرآن الكريم
This paper deals with the I’jaz Alquran according to Sir Syed Ahmad Khan. It is concluded that Khan toughly emphasized his interpretation concept on rationalism. Khan also applied it for Quranic studies, such as emphasizing on rational and scientific facts that negate several metaphysical and invisible issues contained in Qur’an. Following his view on the prophets’ miracle which is irrational and unacceptable for human mind. Again, the concept of I’jaz Alquran is also one of Khan’s thought on rationality, though he acknowledged the great literary contents of Quran, as well he uncategorized it as a miracle. He then said that God’s challenge human to afford the similar verses to Qur’an is unclassified among I’jaz Qur’an, since God did the similar thing to the book of Torah as well. Unlike the opinion of majority Tafseer scholars, among the Salaf and Khalaf, they viewed that God’s challenge and the Quran high literature are evidence of I’jaz Quran
دراسات ÙÙŠ علوم القرآن المعاصر: موق٠السر سيد Ø£ØÙ…د خان من إعجاز القرآن الكريم
This paper deals with the I’jaz Alquran according to Sir Syed Ahmad Khan. It is concluded that Khan toughly emphasized his interpretation concept on rationalism. Khan also applied it for Quranic studies, such as emphasizing on rational and scientific facts that negate several metaphysical and invisible issues contained in Qur’an. Following his view on the prophets’ miracle which is irrational and unacceptable for human mind. Again, the concept of I’jaz Alquran is also one of Khan’s thought on rationality, though he acknowledged the great literary contents of Quran, as well he uncategorized it as a miracle. He then said that God’s challenge human to afford the similar verses to Qur’an is unclassified among I’jaz Qur’an, since God did the similar thing to the book of Torah as well. Unlike the opinion of majority Tafseer scholars, among the Salaf and Khalaf, they viewed that God’s challenge and the Quran high literature are evidence of I’jaz Quran
Rekonstruksi taṣawuf Ibn Taimiyyah : tinjauan epistemologis
Aḥmad ibn ‘Abd al-Ḥalīm ibn ‘Abd al-Salām ibn Taimiyyah (w. 728/1328) adalah ulama abad pertengahan yang masih dibicarakan hingga saat ini; ia disebut bapak spiritual dari radikalisme, bapak revolusi Islam, dan pendobrak kejumudan karena menganggap pintu ijtihād selalu terbuka, ia juga menjadi inspirator bagi gerakan Muslim modernis. Hampir tidak ada tema pokok dalam kajian Islam yang tidak dibahas olehnya. Taṣawuf, sebagai salah satu khazanah keislaman tak luput dari bahasannya. Karena kritik tajamnya atas taṣawuf dan Ṣūfī, banyak yang mengatakan bila dia merupakan anti-Ṣūfī dan musuh bebuyutan taṣawuf, namun di saat yang sama, ada yang menyatakan dia adalah penganut ṭarīqah Qādiriyyah yang memiliki silsilah dan khirqah bersambung kepada ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: (1) Apa saja dinamika taṣawuf Ibn Taimiyyah? (2) Mengapa taṣawuf perlu direkonstruksi menurut Ibn Taimiyyah? Dan (3) Bagaimana konsep dan praktik taṣawuf Ibn Taimiyyah? Permasalahan ini dibahas menggunakan data kepustakaan dan pendekatan teologis-historis yang diperkuat dengan tinjauan sosiologis-antropologis. Analisa data dilakukan dengan interpretative approach dan content analysis untuk menangkap kritik dan konsep taṣawuf Ibn Taimiyyah.
Kajian ini menemukan bahwa: (1) Ibn Taimiyyah dalam kritik-rekonstruktif taṣawuf tidak hanya mengacu pada teks Ṣūfī otoritatif, tapi juga pada pengalamannya dalam berinteraksi-aktif, diskusi, dan praktik para Ṣūfī zamannya. (2) Menurut Ibn Taimiyyah, dalam ajaran dan praktik taṣawuf, terjadi banyak distorsi dan kontaminasi filsafat serta teologi spekulatif yang membuat taṣawuf menjauh dari konsep awal spiritual Islam. Ibn Taimiyyah tidak pernah memusuhi taṣawuf, ia hanya ingin meletakkan taṣawuf dan praktiknya kembali pada pangkuan syarī‘ah, yaitu taṣawuf yang berkelindan dengan konsep imān-islām-iḥsān. (3) Rekonstruksi taṣawuf Ibn Taimiyyah tidak berhenti pada al-naqd wa al-hadm (dekonstruksi), tapi juga al-binā’ wa al-insyā’ (rekonstruksi). Ia membongkar pemikiran taṣawuf yang menurutnya berseberangan dengan agama, kemudian meletakkan pondasi bertaṣawuf yang berkelindan dengan al-Qur’ān, Sunnah, dan salaf al-ṣāliḥ. Ia menganalisa lalu merekonstruksi konsep-kosep; maqāmāt dan aḥwāl, kasyf, ilhām, ḥulūl-ittiḥād-waḥdah al-wujūd, fanā’, walī dan wilāyah, karāmah dan mu‘jizat, tawassul dan wasīlah, ziyārah, żikr dan samā‘, dalam konteks dekonstruksi-rekonstruksi, yang melahirkan rekonstruksi taṣawuf bercorak unik dan berbeda dari taṣawuf sunnī maupun falsafī, yang dikenal dengan; neo-sufism, proto-sufism, taṣawuf syar‘ī, dan taṣawuf salafī.
ABSTRACT:
Aḥmad ibn ‘Abd al-Ḥalīm ibn ‘Abd al-Salām ibn Taimiyyah (w. 728/1328) adalah ulama abad pertengahan yang masih dibicarakan hingga saat ini; ia disebut bapak spiritual dari radikalisme, bapak revolusi Islam, dan pendobrak kejumudan karena menganggap pintu ijtihād selalu terbuka, ia juga menjadi inspirator bagi gerakan Muslim modernis. Hampir tidak ada tema pokok dalam kajian Islam yang tidak dibahas olehnya. Taṣawuf, sebagai salah satu khazanah keislaman tak luput dari bahasannya. Karena kritik tajamnya atas taṣawuf dan Ṣūfī, banyak yang mengatakan bila dia merupakan anti-Ṣūfī dan musuh bebuyutan taṣawuf, namun di saat yang sama, ada yang menyatakan dia adalah penganut ṭarīqah Qādiriyyah yang memiliki silsilah dan khirqah bersambung kepada ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: (1) Apa saja dinamika taṣawuf Ibn Taimiyyah? (2) Mengapa taṣawuf perlu direkonstruksi menurut Ibn Taimiyyah? Dan (3) Bagaimana konsep dan praktik taṣawuf Ibn Taimiyyah? Permasalahan ini dibahas menggunakan data kepustakaan dan pendekatan teologis-historis yang diperkuat dengan tinjauan sosiologis-antropologis. Analisa data dilakukan dengan interpretative approach dan content analysis untuk menangkap kritik dan konsep taṣawuf Ibn Taimiyyah.
Kajian ini menemukan bahwa: (1) Ibn Taimiyyah dalam kritik-rekonstruktif taṣawuf tidak hanya mengacu pada teks Ṣūfī otoritatif, tapi juga pada pengalamannya dalam berinteraksi-aktif, diskusi, dan praktik para Ṣūfī zamannya. (2) Menurut Ibn Taimiyyah, dalam ajaran dan praktik taṣawuf, terjadi banyak distorsi dan kontaminasi filsafat serta teologi spekulatif yang membuat taṣawuf menjauh dari konsep awal spiritual Islam. Ibn Taimiyyah tidak pernah memusuhi taṣawuf, ia hanya ingin meletakkan taṣawuf dan praktiknya kembali pada pangkuan syarī‘ah, yaitu taṣawuf yang berkelindan dengan konsep imān-islām-iḥsān. (3) Rekonstruksi taṣawuf Ibn Taimiyyah tidak berhenti pada al-naqd wa al-hadm (dekonstruksi), tapi juga al-binā’ wa al-insyā’ (rekonstruksi). Ia membongkar pemikiran taṣawuf yang menurutnya berseberangan dengan agama, kemudian meletakkan pondasi bertaṣawuf yang berkelindan dengan al-Qur’ān, Sunnah, dan salaf al-ṣāliḥ. Ia menganalisa lalu merekonstruksi konsep-kosep; maqāmāt dan aḥwāl, kasyf, ilhām, ḥulūl-ittiḥād-waḥdah al-wujūd, fanā’, walī dan wilāyah, karāmah dan mu‘jizat, tawassul dan wasīlah, ziyārah, żikr dan samā‘, dalam konteks dekonstruksi-rekonstruksi, yang melahirkan rekonstruksi taṣawuf bercorak unik dan berbeda dari taṣawuf sunnī maupun falsafī, yang dikenal dengan; neo-sufism, proto-sufism, taṣawuf syar‘ī, dan taṣawuf salafī
التفسير العقلاني للقرآن : موقف أحمد خان من التفسير بالرأي
Qur'anic interpretation with a rational style usually led to controversy. It gives a large portion for the mind to explore the scripture interpretation realm. Nevertheless, a rational style of interpretation is required to open the horizon of Qur'anic exegesis, especially with regard to kauniyah verses. Sir Syed Ahmad Khan, one of the reformist thinkers of India, gave a large portion of the Qur'anic interpretation. He gave a wide ratio of freedom in interpreting and understanding the Qur'an. Based on his works, this paper finds that Khan has not paid much attention to the Islamic scholastic theology in his style of Qur'anic exegesis. He only mentioned it briefly; the properties of God, the Throne ('Arsy), seeing God in the afterlife. He prefers to reform the concept of Classical 'Ilm al-Kalām and the renewal of 'Ilm al-Kalām. He is very well-known to have a strong preference towards Greek philosophy. The kauniyah verses must be interpreted and viewed from the framework of modern science, because it is a necessity and the answer to the challenge that Islam and the Qur'an are the teachings which are Shalihun likulli zaman wa makan, for it must always be in line with the development of science
دراسات ÙÙŠ علوم القرآن المعاصر: موق٠السر سيد Ø£ØÙ…د خان من إعجاز القرآن الكريم
This paper deals with the I’jaz Alquran according to Sir Syed Ahmad Khan. It is concluded that Khan toughly emphasized his interpretation concept on rationalism. Khan also applied it for Quranic studies, such as emphasizing on rational and scientific facts that negate several metaphysical and invisible issues contained in Qur’an. Following his view on the prophets’ miracle which is irrational and unacceptable for human mind. Again, the concept of I’jaz Alquran is also one of Khan’s thought on rationality, though he acknowledged the great literary contents of Quran, as well he uncategorized it as a miracle. He then said that God’s challenge human to afford the similar verses to Qur’an is unclassified among I’jaz Qur’an, since God did the similar thing to the book of Torah as well. Unlike the opinion of majority Tafseer scholars, among the Salaf and Khalaf, they viewed that God’s challenge and the Quran high literature are evidence of I’jaz Quran
- …
