2,052 research outputs found
“Bisma Dewa Bharata”
Komposisi ini adalah penggalan dari iringan Oratorium “Bisma Dewa Bharata” yang
diproduksi oleh ISI Denpasar. Oratorium tersebut merupakan karya bersama yang
dipertunjukan pada pembukaan Pesta Kesenian Bali XXXIII tahun 2011. Oratorium ini
mengisahkan Dewa Bharata, putra dari Raja Sentanu dan Dewi Gangga, yang bersumpah tidak
akan menjadi raja di Hastina Pura. Hal tersebut adalah demi memenuhi keinginan ayahnya
yang ingin mempersunting Dewi Satyawati. Dewi Satyawati mengajukan syarat bahwa ia akan
memenuhi keinginan sang raja asalakan anaknya kelak menjadi pewaris tahta dan sebagai raja
di Hastina Pura.
Karya ini menggunakan seperangkat gamelan Gong Gede yang dimainkan kurang lebih 50
musisi. Musiknya menggambarkan tentang kepiawian Dewa Bharata dalam memainkan senjata
pada latihan perang bersama para prajurit kerajaan. Kompleksitas musikal sangat menonjol
pada karya ini seperti pengolahan pola ritmis (solo) yang terjalin antara dua buah kendang,
permainan bersama menghentak, dan aksentuasi yang bervariasi
PECALONARANGAN DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT RAMAYANA LAKON LAKSMANA HILANG OLEH DALANG DEWA RAI DI DESA PENINJOAN KANGIN, DENPASAR, KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
ABSTRAK
Kesenian wayang kulit sebagai salah satu seni pertunjukan wayang kulit tradisi, mendapat tempat yang sangat istimewa di hati masyarakat Bali. Pertunjukan wayang kulit Bali dijiwai oleh unsur-unsur kebudayaan masyarakat Hindu, maka pertunjukan wayang kulit Bali merupakan kesenian yang utameng lungguh yang sangat disakralkan oleh umat Hindu.
Terdapat berbagai jenis bentuk pertunjukan wayang, salah satunya adalah wayang kulit Calonarang. Calonarang menggunakan sumber lakon ceritera Calonarang, sedangkan pecalonarangan menggunakan lakon selain ceritera Calonarang, namun masih bertemakan kekuatan magis (rwa bhineda). Pecalonarangan dalam bentuk pertunjukan wayang kulit, menggunakan berbagai macam sumber lakon. Pertunjukan wayang kulit tradisi konvensional menggunakan lakon dari epos Mahabharata dan epos Ramayana. Kedua sumber lakon ini, juga dimanfaatkan oleh seorang dalang pecalonarangan. Dewa Rai adalah seorang dalang dari Payangan Gianyar yang merupakan dalang wayang kulit Ramayana yang memasukkan unsur-unsur Calonarang dalam pertunjukannya, seperti dalam adegan pengerehan dan pengundangan. Dalam hal ini, menarik bagi penulis untuk mengkaji tentang Pecalonarangan dalam Pertunjukan Wayang Kulit Ramayana Lakon Laksmana Hilang oleh Dalang Dewa Rai di Desa Peninjoan Kangin, Denpasar.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi Pecalonarangan dalam Pertunjukan Wayang Kulit Ramayana Lakon Laksmana Hilang oleh Dalang Dewa Rai di Desa Peninjoan Kangin, Denpasar yang inovatif bernuansa mistik. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada penyajian Bentuk, Fungsi Pecalonarangan dalam Pertunjukan Wayang Kulit Ramayana Lakon Laksmana Hilang oleh Dalang Dewa Rai di Desa Peninjoan Kangin, Denpasar. Landasan teori yang digunakan adalah teori estetika dan teori fungsi. Penelitian ini di rancang dalam bentuk penelitian kualitatif. Data dibedakan menjadi dua, yakni: data primer dan data sekunder. Sumber data dibedakan menjadi dua, yakni: (1) sumber data primer adalah sumber data yang berupa melihat langsung Pecalonarangan dalam Pertunjukan Wayang Kulit Ramayana Lakon Laksmana Hilang oleh Dalang Dewa Rai di Desa Peninjoan Kangin, Denpasar, yang sekaligus merupakan objek observasi, dan informan yaitu orang yang diwawancarai, dan (2) Sumber data sekunder adalah sumber data yang berupa buku-buku kepustakaan, surat kabar, jurnal, hasil penelitian sebelumnya.
Bentuk-bentuk pecalonarangan meliputi; a) antawacana (dialog), b) tetikesan (gerak wayang), c) iringan, d) wayang, e) tata cahaya, d) sesajen. Fungsi yang terdapat pada Pecalonarangan dalam Pertunjukan Wayang Kulit Ramayana Lakon Laksmana Hilang oleh Dalang Dewa Rai di Desa Peninjoan Kangin, Denpasar, yakni: fungsi estetika, fungsi hiburan, fungsi promosi dan fungsi kreativitas.
Kata kunci: Pecalonarangan, Wayang Kulit Ramayana, Bentuk dan Fungsi
DSS for "E-Private" Using a Combination of AHP and SAW Methods
Private tutoring was non-formal education and it was needed to help student in learning.There were already tutoring system developed where the selection of private tutors was done by filtering peocess. However, filtering process was not suitable with needs and desires of students.Besides the filtering process, to support the solution in making decisions on the selection of private tutors on the E-Privat system it also used the Decision Suport System (DSS) concept, namely a combination of AHP and SAW methods. AHP method was used to find the weights in each criterion, and the ranking calculation with the SAW method.E-Privat aimed to help parents / students in choosing private tutors that suit the needs and desires of students by involving multi-criteria and various alternative. This system was also developed to help private tutors to get the opportunity to fill out private lessons. The testing process results showed that the system had been successful and suitable for used. There were 5 testing processes : (1)black box testing, (2)white box testing, (3)accuracy test which showed a percentage of 87%, and (4)user's response test whichused the SUS method showed a percentage 92.08% with best imaginable category
The Rwa Bhineda Painting Principles: The Art of I Dewa Nyoman Batuan
Rwa Bhineda are two distinct characteristics that exist in this life.
The goal of this article is to reveal the principle of rwa bhineda in I
Dewa Nyoman Batuan's mandala paintings. The mandala
paintings by I Nyoman Batuan are very distinctive and have
inspired many other artists' paintings. However, there has been
no study that discusses the principle of rwa bhineda, which makes
mandala paintings by I Dewa Nyoman Batuan look distinctive.
This article discusses the principle of rwa bhineda in a painting by
I Dewa Nyoman Batuan and the meaning of rwa bhineda in a
mandala painting by I Dewa Nyoman Batuan. This study uses a
qualitative method. The data sources for this study were mandala
paintings by I Dewa Nyoman Batuan himself, mandala painters,
cultural observers, and people observing mandala paintings
selected based on purposive sampling and snowball techniques.
All data obtained through observation, interviews, and literature
studies were analyzed qualitatively and interpretatively using
aesthetic theory and deconstruction theory. The results of the
research show that the principle of rwa bhineda in the mandala
painting by I Dewa Nyoman Batuan is made in the form of a
circle, which is beautified by the duality motif. The principle of
rwa bhineda in mandala paintings by I Dewa Nyoman Batuan has
an aesthetic meaning, a cultural meaning, and a counter-
destruction mean
The Rwa Bhineda Painting Principles: The Art of I Dewa Nyoman Batuan
Rwa Bhineda are two distinct characteristics that exist in this life. The goal of this article is to reveal the principle of rwa bhineda in I Dewa Nyoman Batuan's mandala paintings. The mandala paintings by I Nyoman Batuan are very distinctive and have inspired many other artists' paintings. However, there has been no study that discusses the principle of rwa bhineda, which makes mandala paintings by I Dewa Nyoman Batuan look distinctive. This article discusses the principle of rwa bhineda in a painting by I Dewa Nyoman Batuan and the meaning of rwa bhineda in a mandala painting by I Dewa Nyoman Batuan. This study uses a qualitative method. The data sources for this study were mandala paintings by I Dewa Nyoman Batuan himself, mandala painters, cultural observers, and people observing mandala paintings selected based on purposive sampling and snowball techniques. All data obtained through observation, interviews, and literature studies were analyzed qualitatively and interpretatively using aesthetic theory and deconstruction theory. The results of the research show that the principle of rwa bhineda in the mandala painting by I Dewa Nyoman Batuan is made in the form of a circle, which is beautified by the duality motif. The principle of rwa bhineda in mandala paintings by I Dewa Nyoman Batuan has an aesthetic meaning, a cultural meaning, and a counter-destruction meaning
Eksistensi Palinggih Hyang Dewa Di Desa Adat Busungbiu Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng
Palinggih Hyang Dewa is the belief of the people in the Busungbiu Village which is used as a place to glorify the ancestors who were victims of murder. This palinggih will be built by the family who are the perpetrators. If it is not built and trusted by the perpetrator's family, the perpetrator will experience pain and commotion in the family. Therefore, the existence of the Palinggih is very sacred, so its existence is still maintained today. The formulation of the problem that forms the basis for this research are: (1) What is the structure of Palinggih Hyang Dewa in the Busungbiu Village, Busungbiu District, Buleleng Regency? (2) What is the function of Palinggih Hyang Dewa in the Busungbiu Village, Busungbiu District, Buleleng Regency? (3) What is the philosophical meaning of the existence of Palinggih Hyang Dewa in the Busungbiu Village, Busungbiu District, Buleleng Regency?. These problems were analyzed using several theories, including: (1) Symbol theory to dissect the formulation of the first problem regarding the structure of Palinggih Hyang Dewa, (2) Religious theory to dissect the formulation of the second problem regarding the function of Palinggih Hyang Dewa, (3) Semiotic theory to dissect the formulation of the third problem regarding the philosophical meaning of Palinggih Hyang Dewa. In this study, the following data will be produced: (1) The structural basis of Palinggih Hyang Dewa in the Busungbiu Village which includes: the form, belief in ancestors, and ceremonies used, (2) The function of the existence of Palinggih Hyang Dewa in the Busungbiu Village includes: the religious function, the function of request for tirtha, the function of health and protection, the function of education, and the function of togetherness and harmony, (3) The philosophical meaning of Palinggih Hyang Dewa in the Busungbiu Village includes: the meaning of tattwa, the meaning of holiness, the meaning of beauty, the meaning of ethics, and the meaning of harmony
PENGUATAN PEMASARAN MELALUI BRANDING MEDIA KOMUNIKASI VISUAL TERHADAP PERKEBUNAN JERUK SLAYER MILIK DEWA MADE RAKA
Tujuan penelitian ini yaitu untuk membuat desain media komunikasi visual yang baik
digunakan untuk meningkatkan pemasaran produk dari perkebunan jeruk salyer kintamani
milik bapak Dewa Made raka. Dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu metode
kualitatif dengan cara seperti wawancara, observasi, dokumendata, analisis data ll. Hasil
penelitian menunjukan bahwa pemasaran jeruk slayer di kintamani masih sangat tradisional
hanya berdasarkan pemasaran dari mulut ke mulut, padahal potensi perkebunan yang banyak
sedangkan jangkauan pasar yang dirasa masih sangat sempit karena pemasaran yang di
lakukan hanya dengan cara tradisional. Maka dari itu terbentuklah penelitian ini yang dimana
meneliti tentang media media yang dirasa di butuhkan dalam pemasaran jeruk slayer
kintamani, dari desain desain yang di ciptakan juga diharapkan dapat meningkatkan nilai seni
dan ke ciri khasan dari para pesaing perkebunan jeruk slayer kintamani milik bapak Dewa
made raka karena cukup banyaknya pesaing pesaing pesaing yang memiliki perkebeunan
jeruk slayer di sekitaran kintamani desa skaan, dan juga di harapkan dapat membranding
Kembali peruhaan perkebunan jeruk slayer kintamani dan memperluas target pasar baik dari
daerah Bali yang dimana jeruk sangat dibutuhkan untuk beberapa kegiatan keupacaraan atau
juga sebagai konsumsi sehari hari maupun hingga keluar pulau untuk di kirim ke kota kota
yang membutuhkan pemasokan jeruk
Konflik Antara Kerajaan Gianyar Dengan Kerajaan Klungkung Tahun 1884-1894
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap latar belakang terjadinya konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung, proses terjadinya konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung serta dampak dari terjadinya konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung. Empat Kerajaan yaitu Klungkung, Bangli, Mengwi dan Badung menyerang Kerajaan Gianyar dari segala penjuru. Hubungan Kerajaan Gianyar dengan kerajaan tetangga dipererat, berkat kemampuan diplomasi patihnya terciptalah perjanjian (Pasobaya) antara 3 kerajaan yaitu Gianyar, Badung dan Tabanan. Pemulihan kedaulatan Kerajaan Gianyar berawal dari gerakan para punggawa yang berdaulat, Tegalalang dan Peliatan. Satu persatu daerah Kerajaan Gianyar yang diduduki oleh Dewa Agung di Klungkung dapat direbut kembali oleh laskar gabungan Gianyar yang menghendaki kebangkitan dan pulihnya kedaulatan Kerajaan Gianyar. Dampak dari konflik antara Kerajaan Gianyar dengan Kerajaan Klungkung yaitu kembalinya Dewa Ngurah Pahang ke Gianyar dari tempat pengasingannya di Puri Kawan Klungkung merupakan titik balik dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Bali selatan dan menempatkan Dewa Agung di Klungkung dalam posisi yang sangat terdesak. Berkat duet kepemimpinan itu pula Raja-Raja Badung, Tabanan, Bangli dan Karangasem mengakui realitas kedaulatan Kerajaan Gianyar dan Pemerintah Hindia Belanda di Batavia ikut mengakui dan memperkuat eksistensi Kerajaan Gianya
TARI REJANG LILIT DALAM UPACARA DEWA YADNYA DI PURA KAYANGAN TIGA DESA ADAT MUNDEH, TABANAN
Tari Rejang Lilit adalah sebuah tari sakral yang ditarikan oleh sekelompok penari anak-anak perempuan dalam upacara Dewa Yadnya di Pura Kayangan Tiga, Desa Adat Mundeh, Tabanan. Tari rejang yang harus ditampilkan melalui proses yang sangat panjang dan rumit, namun hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat, menimbulkan berbagai pertanyaan. Apa sesungguhnya yang melatari masyarakat di Desa Adat Mundeh menciptakan dan melestarikan tarian tersebut. Untuk menjawab permasalahan itu, penelitian yang berlokasi di Desa Adat Mundeh ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, dan dianalisis dengan Teori Religi, Teori Simbol, dan Teori Fungsional Struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
Awal mula munculnya tari Rejang Lilit di Desa Adat Mundeh karena adanya tradisi upacara ritus penebusan dosa yang dilaksanakan setahun sekali, pada Anggara Kasih Prangbakat di Pura Kayangan Tiga. Dikatakan bahwa mereka telah mulai melakukan upacara itu sejak zaman datangnya Mpu Kuturan ke Bali. Dikatakan bahwa pada saat itu Desa Adat Mundeh terkena grubug. Banyak orang jatuh sakit dan meninggal akibat amarah Gusti sesuhunan Desa Adat Mundeh yang disebabkan oleh prilaku salah seorang pekandelannya, yang telah berani menikahi calon istri putranya. Untuk menebus dosanya, sang pekandelan itu membuat bhisama akan membebaskan desa tersebut dari grubug, asalkan mereka diijinkan tetap tinggal di Desa Adat Mundeh. Sejak dibuatkan upacara ritus penebus dosa dilengkapi tari Rejang Lilit, hingga kini Desa Adat Mundeh terbebas dari grubug.
Tari Rejang Lilit yang disajikan dalam bentuk tari lepas, tanpa lakon, ditarikan oleh 7 orang penari perempuan yang belum akhil balik itu diiringi gamelan Semar Pegulingan. Sebelum dan sesudah menari, para penarinya harus dipingit selama 16 hari di pura, yakni 5 hari sebelum dan 11 hari setelah upacara piodalan berlangsung. Tari Rejang Lilit yang hanya dibangun oleh ragam gerak lokomotif itu memiliki struktur pertunjukan sesuai area pura yang dilalui oleh penari, dengan pola lantai melilit pelinggih Pura Kayangan Tiga (Pura Pesamuan, Pura Pesimpangan Kangin, Pura Pesimpangan Kauh). Diawali oleh munculnya seorang pengenter membawa pasepan, mereka menari beriring-iringan seperti seutas tali dengan susunan penari mulai dari usianya yang paling tua. Mereka menari mulai dari Pura Pesamuan, di Pura Pesimpangan Kangin, di Pura Pesamuan, di Pura Pesimpangan Kauh, dan kembali lagi ke Pura Pesamuan. Mereka menari menggunakan kain batik dan gringsing serta sepasang selendang berwarna kuning, simbol bidadari dari kahyangan.
Jika diamati fungsinya, tari Rejang Lilit yang diciptakan dan dilestarikan masyarakat Desa Adat Mundeh berfungsi sebagai sarana upacara ritual, sebagai pengikat solidaritas sosial masyarakat, sebagai sarana pendidikan, dan sebagai strategi penerusan nilai seni budaya Bali.
Kata Kunci: Tari Rejang Lilit, Upacara Dewa Yadnya, Pura Kayangan Tiga Desa Adat Mundeh, Tabanan
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Kodifikasi sejarah merupakan sebuah bentuk proses
pengisahan peristiwa-peristiwa masalalu. Terlepas dari
keotentikan pengisahan tersebut, proses ini sangat erat kaitannya
dengan sikap, pendekatan, atau orientasi hidup manusia. Oleh
karena itu, perbedaan pandangan terhadap masa lalu yang pada
dasarnya adalah objektif dan absolut, pada gilirannya akan
menjadi suatu kenyataan yang relatif (Dudung,2007). Sebab, faktafakta
sejarah ibarat kepingan-kepingan puzzle berserakan
dimana-mana. peneliti berperan merangkai kembali kepingankepingan
ini, dengan baik dan benar. Dalam proses ini, kepingankepingan
fakta dituangkan oleh peneliti dalam bentuk tulisan,
cerita atau yang sering disebut historiografi (penulisan sejarah)
- …
