1,721,198 research outputs found

    Peluang dan Tantangan Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas

    Get PDF
    Abstrak:         Keberadaan kalender Islam internasional sangat urgen, namun sampai saat ini belum ada metode dan kriteria yang mapan untuk dijadikan pedoman. Salah satu sarjana Muslim yang melakukan penelitian komprehensif untuk menemukan metode dan kriteria yang tepat adalah Mohammad Ilyas. Sistem kalender yang diusulkan Mohammad Ilyas memiliki dua unsur pokok yaitu: Pertama, hisab imkanu rukyat atau visibilitas hilal (crescent visibility); dan Kedua, Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa atau International Lunar Date Line (ILDL). Implementasi terwujudnya ILDL yang digagas oleh Mohammad Ilyas masih sangat sulit diterima oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan permulaan garis-garis tanggal tersebut setiap bulannya berubah-ubah dengan menyesuaikan kedudukan atau posisi hilal di mana wilayah pertama kali terlihat (imkanu rukyat), sehingga tidak memberikan kepastian garis nol derajatnya. Masyarakat Islam juga belum mampu memisahkan pergantian hari dengan IDL yang digunakan pada kalender Masehi sehingga terjadi double standard perubahan hari. Bagi Mohammad Ilyas, tantangan dan hambatan menuju unifikasi kalender Islam internasional menjadi tanggung jawab ilmiah bagi kaum intelektual Islam, sehingga tidak mustahil jika Ilyas memberikan sebuah harapan pasti akan tercapai unifikasi kalender Islam internasional pada tahun 2020 M/ 1442 H. Kata Kunci:   Mohammad Ilyas, Kalender Islam Internasional, Peluang dan Tantangan   Abstract:        The existence of the international Islamic calendar is very urgent, but until now there is no established method and criteria to be used as guidelines. One of the Muslim scientists who conducted comprehensive research to find appropriate methods and criteria is Mohammad Ilyas. The calendar system proposed by Mohammad Ilyas has two main elements: First, imkanu rukyat or crescent visibility; and Second, the International Armed Date Line or the International Lunar Date Line (ILDL). Implementation of the realization of ILDL initiated by Mohammad Ilyas is still very difficult to be accepted by society. This is because the beginning of the date lines are changing each month by adjusting the position or position of the new hilal where the area first seen (imkanu rukyat), so as not to provide certainty zero degrees. The Islamic community also has not been able to separate the change of days with the IDL that is used on the Christian calendar so that there is a double standard day change. For Mohammad Ilyas the challenges and obstacles to the unification of the International Islamic Calendar became a scientific responsibility for Islamic intellectuals. So it is not impossible if Ilyas gave a hope would be achieved unification of International Islamic Calendar in 2020 M / 1442 H. Keywords:      Mohammad Ilyas, International Islamic Calendar, Opportunities and Challenge

    Perkembangan Perumusan Kalender Islam Internasional Studi Atas Pemikiran Mohammad Ilyas

    Get PDF
    Buku yang berjudul ”Perkembangan Perumusan Kalender Islam Internasional Studi atas Pemikiran Mohammad Ilyas” oleh Dr. Muh. Rasywan Syarif, S.HI., M.SI yang ada di hadapan pembaca ini merupakan hasil riset disertasi S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Buku ini berusaha mengkaji isu-isu seputar kalender Islam internasional, khususnya membedah pemikiran Mohammad Ilyas. Bagi Ilyas upaya penyatuan kalender Islam internasional perlu didukung dengan penguatan sains dikalangan umat Isla

    MELACAK KONSTRUK METODOLOGI KALENDER ISLAM INTERNASIONAL MOHAMMAD ILYAS

    No full text
    International Islamic calendar becomes urgent needs of the people. Various attempts have been made so that the Islamic calendar could apply uniformly on an international scale. The need for this is understandable because it can be a symbol of unity of the people and to bridge the differences in execution time of worship, as well as relatively already successfully applied to the determination of prayer times. Until now the International Islamic Calendar pooling efforts have not come to fruition. The problem is that the Islamic organizations tend to keep using the method and criteria for each and have not agreed to the criteria that serve as a common reference. The problem of determining the initial months of the Islamic Calendar generated a lot of difference in their establishment. The difference in the initial determination of an impact on the outbreak of a sense of community and disrupt fervently Muslims in worship, as different in determining when Ramadan, Shawwal, and Dhul-Hijjah which affects the other months. Worse, these differences also impact on other areas such as the political, economic and sociological. Departing from the above problems, Mohammad Ilyas a Muslim astronomer from Malaysia has been donating his scientific career to study the problem of the International Islamic Calendar. In scientific ijtihad, Mohammad Ilyas introduced the concept of the Lunar Date Line Between Nations (International Lunar Date Line). The line is connected between the regions to obtain uniformity hilal Mohammad Ilyas divides the earth into three zones calendar. Methodological construct of the Islamic calendar offered Mohammad Ilyas can be said can not solve the problem, this needs to be a review of the system associated with the prevailing international calendar by using various multi-disciplinary approach and to not ignore universal continuous dialogue. Keywords: International Islamic calendar, International Date Line, Mohammad Ilyas   Pendahuluan Mohammad Ilyas adalah pemerhati dan penggagas Kalender Islam Internasional, dilahirkan di India dan kini menetap di Malaysia sebagai guru besar tamu Universitas Malaysia Perlis. Sebelumnya ia adalah guru besar Sains dan Atmosfer di Universitas Sains Malaysia. Ia juga merupakan salah seorang pendiri dan konsultan ahli berdirinya Pusat Falak Sheikh Tahrir di Pulau Pinang.[1] Mohamad Ilyas banyak memberikan kontribusi dalam bidang pengembangan ilmu falak, khususnya tentang Kalender Islam. Ia menggagas konsep Garis Batas Tanggal Kamariah Antar Bangsa atau sering disebut dengan International Lunar Date Line (ILDL). Menurut Baharuddin Zainal sebagaimana yang dituturkan oleh Susiknan Azhari dalam Ensiklopedi Hisab Rukyat, dari segi astronomi, khususnya yang berkaitan dengan teori visibilitas hilal, Mohammad Ilyas adalah salah satu ilmuwan Muslim yang berada pada tahap yang sama dengan ilmuwan barat seperti McNally (London), Le Roy Dogget (Washington), Bradley E. Schaefer (NASA) dan Biruni.[2] Mohammad Ilyas adalah seorang fisikawan dan ahli atmosfer, ia banyak menulis tentang astronomi Islam. Salah satu karyanya monumental sekaligus menjadi magnum opusnya adalah A Modern Guide to Astronomical Calculation of Islamic Calendar, Times and Qibla   [1] Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, cet. ke-II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hal. 147. [2] Ibid.International Islamic calendar becomes urgent needs of the people. Various attempts have been made so that the Islamic calendar could apply uniformly on an international scale. The need for this is understandable because it can be a symbol of unity of the people and to bridge the differences in execution time of worship, as well as relatively already successfully applied to the determination of prayer times. Until now the International Islamic Calendar pooling efforts have not come to fruition. The problem is that the Islamic organizations tend to keep using the method and criteria for each and have not agreed to the criteria that serve as a common reference. The problem of determining the initial months of the Islamic Calendar generated a lot of difference in their establishment. The difference in the initial determination of an impact on the outbreak of a sense of community and disrupt fervently Muslims in worship, as different in determining when Ramadan, Shawwal, and Dhul-Hijjah which affects the other months. Worse, these differences also impact on other areas such as the political, economic and sociological. Departing from the above problems, Mohammad Ilyas a Muslim astronomer from Malaysia has been donating his scientific career to study the problem of the International Islamic Calendar. In scientific ijtihad, Mohammad Ilyas introduced the concept of the Lunar Date Line Between Nations (International Lunar Date Line). The line is connected between the regions to obtain uniformity hilal Mohammad Ilyas divides the earth into three zones calendar. Methodological construct of the Islamic calendar offered Mohammad Ilyas can be said can not solve the problem, this needs to be a review of the system associated with the prevailing international calendar by using various multi-disciplinary approach and to not ignore universal continuous dialogue. Keywords: International Islamic calendar, International Date Line, Mohammad Ilyas   Pendahuluan Mohammad Ilyas adalah pemerhati dan penggagas Kalender Islam Internasional, dilahirkan di India dan kini menetap di Malaysia sebagai guru besar tamu Universitas Malaysia Perlis. Sebelumnya ia adalah guru besar Sains dan Atmosfer di Universitas Sains Malaysia. Ia juga merupakan salah seorang pendiri dan konsultan ahli berdirinya Pusat Falak Sheikh Tahrir di Pulau Pinang.[1] Mohamad Ilyas banyak memberikan kontribusi dalam bidang pengembangan ilmu falak, khususnya tentang Kalender Islam. Ia menggagas konsep Garis Batas Tanggal Kamariah Antar Bangsa atau sering disebut dengan International Lunar Date Line (ILDL). Menurut Baharuddin Zainal sebagaimana yang dituturkan oleh Susiknan Azhari dalam Ensiklopedi Hisab Rukyat, dari segi astronomi, khususnya yang berkaitan dengan teori visibilitas hilal, Mohammad Ilyas adalah salah satu ilmuwan Muslim yang berada pada tahap yang sama dengan ilmuwan barat seperti McNally (London), Le Roy Dogget (Washington), Bradley E. Schaefer (NASA) dan Biruni.[2] Mohammad Ilyas adalah seorang fisikawan dan ahli atmosfer, ia banyak menulis tentang astronomi Islam. Salah satu karyanya monumental sekaligus menjadi magnum opusnya adalah A Modern Guide to Astronomical Calculation of Islamic Calendar, Times and Qibla   [1] Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, cet. ke-II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hal. 147. [2] Ibid

    IKHTIAR AKADEMIK MOHAMMAD ILYAS MENUJU UNIFIKASI KALENDER ISLAM INTERNASIONAL

    Get PDF
    Pemikiran perumusan Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas menjadi sangat penting untuk dikaji melalui pendekatan ilmiah menuju unifikasi Kalender Islam Internasional yang mapan. Pemikiran Islam fenomenal ketika berhadapan dengan perubahan teknologi dan pengembangan sains, maka kajian tentang tren pengembangan Islam kontemporer menjadi isu menarik dan up to date dikarenakan pemikiran dalam Islam bersifat dinamis dan unik. Salah satu tokoh pemikiran kontemporer  yang fenomenal pemikirannya, yang berkaitan perumusan Kalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Artikel ini bertujuan untuk melihat ikhtiar akademik Muhammad Ilyas mewujudkan kalender Islam internasional dari berbagai upaya akademik dengan berbagai karya monumentalnya.Pemikiran perumusan Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas menjadi sangat penting untuk dikaji melalui pendekatan ilmiah menuju unifikasi Kalender Islam Internasional yang mapan. Pemikiran Islam fenomenal ketika berhadapan dengan perubahan teknologi dan pengembangan sains, maka kajian tentang tren pengembangan Islam kontemporer menjadi isu menarik dan up to date dikarenakan pemikiran dalam Islam bersifat dinamis dan unik. Salah satu tokoh pemikiran kontemporer  yang fenomenal pemikirannya, yang berkaitan perumusan Kalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Artikel ini bertujuan untuk melihat ikhtiar akademik Muhammad Ilyas mewujudkan kalender Islam internasional dari berbagai upaya akademik dengan berbagai karya monumentalny

    PEMIKIRAN MOHAMMAD ILYAS TENTANG PENYATUAN KALENDER ISLAM INTERNASIONAL

    Get PDF
    The object of this study is Mohammad Ilyas’s concept of the unification of InternationalIslamic calendar. The Method of analysis is descriptif-analysis. The results of this researchshow that Mohammad Ilyas’s concept of the unification of International Islamic Calendarbased on the hisab of the crescent visibility and the International Lunar Date Line (ILDL).The Ilyas’s criteria of the crescent visibility use two parameter, i.e. geocentric relative altitudeand relatif azimut. The application of Mohammad Ilyas’s concept of the crescent visibility asthe unification of International Islamic calendar can’t accepted by Indonesia Moslem. Thisproblem is caused by the difference criteria between Indonesia Moslem (Indonesia ReligiousAffair) of the crescent visibility and Ilyas. Ilyas’s concept of International Lunar Date Line isalways change every month. This condition is cause the difference in the beginning of the dayon the first month in the region of the country.Keyword: unification, International Islamic calendar, crescent visibility.Abstrak: Umat Islam sampai saat ini masih berbeda-beda dalam menentukan awal bulankamariah. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan pula dalam memulai peribadatan-peribadatantertentu, yang paling menonjol ialah perbedaan dalam memulai puasa Ramadan, IdulFitri, dan Idul Adha. Perbedaan penetapan awal bulan tersebut membuat para tokoh falakdan astronomi bekerja keras untuk memikirkan upaya penyatuan kalender Islam, baik tingkatnasional maupun internasional. Salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan upaya penyatuankalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Penelitian ini menunjukkanbahwa konsep pemikiran Mohammad Ilyas tentang Kalender Islam Internasional bertumpupada hisab imkan ar-rukyah (crescent visibiliy/visibilitas hilal) dan Garis Tanggal KamariahAntar Bangsa (International Lunar Date Line). Kriteria visibilitas hilal Ilyas menggunakankombinasi dua parameter, yaitu parameter ketinggian relatif geosentrik (geocentric relativealtitude) dan azimut relatif (relative azimut). Kriteria visibilitas hilal yang digunakan olehIlyas adalah: (1) Beda tinggi Bulan-Matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4°jika beda azimut Bulan-Matahari lebih dari 45°. Jika beda azimutnya 0°, maka beda tinggi Bulan-Matahari harus lebih dari 10.5°, (2) Terbenamnya Bulan sekurang-kurangnya 41 menitlebih lambat daripada terbenamnya Matahari dan memerlukan beda waktu yang lebih besaruntuk daerah yang lintangnya tinggi, (3) Hilal harus berumur lebih dari 16.5 jam bagi pengamatdi daerah tropis dan lebih dari 20 jam bagi pengamat di daerah yang lintangnya lebihtinggi. Aplikabilitas pemikiran Mohammad Ilyas tentang kriteria visibilitas hilal (crescentvisibility) sebagai upaya penyatuan kalender Islam Internasional sampai saat ini belum dapatditerima oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kriteria visibilitashilal yang dipakai oleh umat Islam di Indonesia (Kementerian Agama RI) dengan kriteriaIlyas. Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line) yang digagasIlyas juga selalu berubah-ubah setiap bulan sehingga seringkali menimbulkan perbedaan haridalam memulai bulan baru di suatu daerah atau negara.Kata Kunci: penyatuan; kalender Islam Internasional; visibilitas hilal.</jats:p

    PEMIKIRAN MOHAMMAD ILYAS TENTANG PENYATUAN KALENDER ISLAM INTERNASIONAL

    Get PDF
    The object of this study is Mohammad Ilyas’s concept of the unification of International Islamic calendar. The Method of analysis is descriptif-analysis. The results of this research show that Mohammad Ilyas’s concept of the unification of International Islamic Calendar based on the hisab of the crescent visibility and the International Lunar Date Line (ILDL). The Ilyas’s criteria of the crescent visibility use two parameter, i.e. geocentric relative altitude and relatif azimut. The application of Mohammad Ilyas’s concept of the crescent visibility as the unification of International Islamic calendar can’t accepted by Indonesia Moslem. This problem is caused by the difference criteria between Indonesia Moslem (Indonesia Religious Affair) of the crescent visibility and Ilyas. Ilyas’s concept of International Lunar Date Line is always change every month. This condition is cause the difference in the beginning of the day on the first month in the region of the country. Keyword: unification, International Islamic calendar, crescent visibility. Abstrak: Umat Islam sampai saat ini masih berbeda-beda dalam menentukan awal bulan kamariah. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan pula dalam memulai peribadatan-peribadatan tertentu, yang paling menonjol ialah perbedaan dalam memulai puasa Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Perbedaan penetapan awal bulan tersebut membuat para tokoh falak dan astronomi bekerja keras untuk memikirkan upaya penyatuan kalender Islam, baik tingkat nasional maupun internasional. Salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan upaya penyatuan kalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pemikiran Mohammad Ilyas tentang Kalender Islam Internasional bertumpu pada hisab imkan ar-rukyah (crescent visibiliy/visibilitas hilal) dan Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line). Kriteria visibilitas hilal Ilyas menggunakan kombinasi dua parameter, yaitu parameter ketinggian relatif geosentrik (geocentric relative altitude) dan azimut relatif (relative azimut). Kriteria visibilitas hilal yang digunakan oleh Ilyas adalah: (1) Beda tinggi Bulan-Matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4° jika beda azimut Bulan-Matahari lebih dari 45°. Jika beda azimutnya 0°, maka beda tinggi Bulan- Matahari harus lebih dari 10.5°, (2) Terbenamnya Bulan sekurang-kurangnya 41 menit lebih lambat daripada terbenamnya Matahari dan memerlukan beda waktu yang lebih besar untuk daerah yang lintangnya tinggi, (3) Hilal harus berumur lebih dari 16.5 jam bagi pengamat di daerah tropis dan lebih dari 20 jam bagi pengamat di daerah yang lintangnya lebih tinggi. Aplikabilitas pemikiran Mohammad Ilyas tentang kriteria visibilitas hilal (crescent visibility) sebagai upaya penyatuan kalender Islam Internasional sampai saat ini belum dapat diterima oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kriteria visibilitas hilal yang dipakai oleh umat Islam di Indonesia (Kementerian Agama RI) dengan kriteria Ilyas. Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line) yang digagas Ilyas juga selalu berubah-ubah setiap bulan sehingga seringkali menimbulkan perbedaan haridalam memulai bulan baru di suatu daerah atau negara. Kata Kunci: penyatuan; kalender Islam Internasional; visibilitas hilal

    Kajian Atas Pemikiran Mohammad Ilyas Tentang Kalender Islam Internasional

    Get PDF
    The problems of determining the beginning of the month Qamariyah among Muslims until now has not been also found an appropriate solution. And so we need a method that can minimize and even reduce the differences that had existed among Muslims, especially in determining the times of Muslim worship. One of the phenomenal character of Prof. Dr. Mohammad Ilyas from Malaysia, who have an idea of the International Islamic Calendar. Seeing the condition of Muslims who are always different in the initial determination Qamariyah months, as scientists, Ilyas eventually led to the idea. In this paper presented the idea Ilyas of the International Islamic Calendar and the problems it faces. Problematika penentuan awal bulan Qamariyah di kalangan umat Islam sampai saat ini belum juga di- temukan solusi yang sesuai. Sehingga dibutuhkan metode yang mampu meminimalisir bahkan meredam perbedaan-perbedaan yang selama ini ada di kalangan umat Islam, khususnya dalam penentuan waktu- waktu ibadah umat Islam. Salah satu tokoh fenomenal yaitu Prof. Dr. Moh Ilyas dari Malaysia, yang mempunyai gagasan tentang adanya Kalender Islam Internasional. Melihat kondisi umat Islam yang se- lalu berbeda dalam penentuan awal bulan Qamariyah, sebagai ilmuan, Ilyas akhirnya memunculkan ide tersebut. Dalam tulisan ini dipaparkan mengenai gagasan Ilyas tentang Kalender Islam Internasional beserta problematika yang dihadapinya
    corecore