223 research outputs found
Interview with I. Made Andi Arsana
Dr Made Andi Arsana is an Indonesian, originally from Bali, who studied in Australia at the University of New South Wales in 2004 on an Australian Development Scholarship (ADS). He works as a university lecturer in Yogyakarta. He took part in student protests in the late 1990s and visited North Korea in 1999 after entering a writing competition to travel to Japan. The interview is conducted in English by Dr Jemma Purdey of Deakin University and was recorded on 29 May 2014. This set comprises: an interview recording, a timed summary, and a photograph
Interview with I. Made Andi Arsana
Dr Made Andi Arsana is an Indonesian, originally from Bali, who studied in Australia at the University of New South Wales in 2004 on an Australian Development Scholarship (ADS). He works as a university lecturer in Yogyakarta. He took part in student protests in the late 1990s and visited North Korea in 1999 after entering a writing competition to travel to Japan. The interview is conducted in English by Dr Jemma Purdey of Deakin University and was recorded on 29 May 2014. This set comprises: an interview recording, a timed summary, and a photograph
Pengaruh Kondisi Temperatur dan Laju Aliran Massa Terhadap Kapasitas Radiator (Assy St-100) Mobil Suzuki Carry
Pengaruh Kondisi Temperatur dan Laju Aliran Massa Terhadap Kapasitas Radiator (Assy St-100) Mobil Suzuki Carry Tri Darma Setiawan S1 Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya Email: [email protected] I Made Arsana Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya Email: [email protected] Abstrak Pendinginan yang terdapat pada mobil sangat diperlukan karena ditujukan untuk mendinginkan kinerja mesin yang begitu besar sehingga panas dari kinerja mesin tersebut harus segera terlepas agar mesin tidak terjadi panas yang secara berlebihan atau sering dinamakan overheating. Jika penyerapan panas yang terdapat pada mesin dapat terurai maka mesin sanggup bekerja dengan lancar tanpa mengalami kerusakan akibat panas yang dihasilkan akan tetapi selama ini belum adanya kajian mendalam tentang alat penukar panas radiator . kajian yang selama ini dilakukan pada radiator hanya sekedar menguji seberapa besar kinerja proses pelepasan panas dengan beberapa variasi – variasi pengujian yang diantaranya adalah pengujian kapasitas, pengujian temperatur dan juga pengujian laju aliran fluida baik yang masuk maupun keluar. Sehingga diperlukan kajian mendalam tentang kinerja radiator dalam melakukan proses pelepasan panas dengan pengujian eksperimen. Validasi yang akan dilakukan didasarkan pada data eksperimen yang telah dilakukan pada radiator (assy st-100) mobil Suzuki carry yang berupa trainer dilabotarium perpindahan panas dengan pengujian variasi temperatur dan variasi laju aliran fluida. Pada penelitian ini akan melakukan variasi kecepatan laju aliran beserta temperatur akan tetapi dari hasil masing – masing simulasi akan ditampilkan dalam bentuk kontur distribusi temperature pada masing – masing tube yang berada pada pipa. Hasil dari penelitian ekperimen ini menghasilkan nilai perpindahan panas pada trainer kapasitas radiator dengan dilakukan eksperimen yang dimana dihasilkan nilai perpindahan panas secara konveksi paksa dari masing – masing variasi laju aliran dan temperatur sebagai berikut, suhu 45ºC dengan variasi laju aliran 2,4 LPM sebesar 0,713 watt; 2 LPM sebesar 0,355 watt; 1,8 LPM sebesar 0,183 watt. Suhu 50ºC dengan variasi laju aliran 2,4 LPM sebesar 1,210 watt; 2 LPM sebesar 0,702 watt; 1,8 LPM sebesar 0,432 watt, suhu 55ºC dengan variasi laju aliran 2,4 LPM sebesar 1,256 watt; 2 LPM sebesar 0,822 watt; 1,8 LPM sebesar 0,65. Sehingga dari perhitungan tersebut dapat dilihat dapat diketahui bahwa semakin tinggi suhu yang dimasukan semakin tinggi pula nilai perpindahan panas yang terjadi akan tetapi dari semua hasil yang diperoleh, nilai laju aliran juga memiliki pengaruh yang besar dalam membantu pelepasan panas yang terdapat pada fluida didalam radiator. Kata Kunci: Perpindahan Panas, Pengujian, Varias
Peralatan hiburan dan kesenian tradisional daerah bali
Buku ini membahas tentang peralatan hiburan (permainan dan olahraga tradisional) dan kesenian tradisional (Peralatan musik dan tari tradisional) di daerah bali
PENGARUH JARAK ANTAR KAWAT TERHADAP EFISIENSI PENUKAR PANAS JENIS PEMBULUH DAN KAWAT KONVEKSI BEBAS
Alat penukar panas jenis pembuluh dan kawat terdiri atas pembuluh (tube) yang dibuat berlekuk-lekuk (coil), dengan kawat (wire) yang dipasang lekat pada kedua sisinya dalam arah normal pada pembuluh. Kemampuan penukar panas ini dalam membuang panas ditunjukkan oleh efisiensi permukaan menyeluruh (overall surface efficiency) dari susunan sirip atau disebut sebagai efisiensi penukar panas. Kawat yang berfungsi sebagai sirip adalah perluasan dari permukaan luar pembuluh sehingga memperluas permukaan perpindahan panas konveksi bebas dari penukar panas ke lingkungan luar. Efisiensi sirip secara umum tergantung pada bahan sirip, geometri sirip dan lingkungan dimana sirip itu digunakan. Pada penelitian ini dikaji secara eksperimental pengaruh jarak antar kawat terhadap efisiensi penukar panas, tiga desain penukar panas dengan geometri kawat yang berbeda (pw/Lw = 0,015; pw/Lw = 0,029 dan pw/Lw = 0,044) diuji dalam lima level suhu fluida masuk (40 0C, 50 0C, 60 0C, 70 0C, dan 80 0C). Diperoleh hasil, penukar panas dengan pw/Lw = 0,029 secara rata-rata menghasilkan efisiensi yang tertinggi. </jats:p
MAZHAB SANGAR DEWATA
Sanggar dewata Indonesia. Nama itu barang kali merupakan identitas baru dari dunia seni rupa Indonesia. Ia berate sebuah komonitas perupa modern bali yang seruruh anggotanya adalah seniman terdidik. Mahasiswa dan malunus STSRI “ASRI”- falkutas seni rupa (FSR) institute seni Indonesia (isi) yogyagkarta atau bali. Sanggar dewata Indonesia didekrasikan di yogykatar pada 15 desember 1970, oleh sejumblah mahasiswa STSRI “ASRI” yogyakarta yaitu nyoman gunasa , made wianta, pande gede supada , wayan sika , nyoman arsana , wayan arsana guna, dan wayan sutha. Menjelang akhir tahun 1999 ini, sanggar dewata Indonesia genap berusia 29 tahun. Sambil merayakan ulang tahunnya, sekaligus mengakhiri tahun1999 dan menyongsong pergantian millennium tahun 2000, mereka merancang sebuah pameran besar dengan tema sanggar dewata Indonesia jaya shidha yatra subhiksa, dan akan berlangsung di tujuh museum bali.
Seni rupa Bali lahir, tumbuh dan terus bergulir dari waktu ke waktu dengan sejumlah tokoh, sejumlah maestro, dan sejumlah gaya. Masing-masing tokoh dan berikut gayanya, lahir dan tumbuh dari suatu seting perubahan (social dan ekonomi) yang juga terus bergulir, seiring dengan bergulirnya industri pariwisata yang cukup signifikan di Bali
THE CONCEPT OF LOCAL GENIUS IN BALINESE PERFORMING ARTS
Local genius refers to what humans know, how they behave and what strategies they develop to sustain their existence where they live. The knowledge they have, the way in which they behave and the strategies they develop to sustain themselves imply the local genius of the area where they live. One of the local geniuses in Bali is the socio-ecological and spiritual principle referred to as tri hita karana. It is considered a dimension of balance in Balinese culture. It is deemed local genius which regulates the balanced relation between man and his God, between man and his fellow-beings, and between man and his environment. In Bali, layout and culture cannot be separated. Every space occupied by Bali Hindus has been designed in such a way that nothing deviates from the system of values the Balinese culture has. Another example is the concept of tri mandala, another local genius which is referred to when a temple is constructed. In addition to having religious function, a temple also has aesthetic function which is highly related to the performing arts performed. It has indirectly caused the creation and performance of the Balinese performing arts to be divided into three. They are the performing arts which are created and performed in the inner or main part of the temple (dalem); the performing arts which are created and performed in the ‘madia’ (middle) part of the temple (jaba tengah); and those which are created and performed in the ‘nista’ (outer) part of the temple (jaba sisi). Apart from the concept of tri mandala, there is also another concept referred to as tri angga, the aesthetic concept of how the structure of a Balinese traditional performing art should be created. It is made up of the head (pepeson or pengawit), the initial part; the body (pengawak), the main part; and the feet (pengecet and pekaad), the final part. The concept of tri angga, as a local genius, has been organized in such a way that it does not deviate from the system of values the Balinese culture has. The performing arts in Bali cannot be separated from the Balinese culture; in other words, the performing arts are an integral part of the Balinese culture. Therefore, every performing art in Bali always has its performing structure organized by referring to the concept of tri angga, a local genius referred to by a choreographer when creating a Balinese performing art
PENERAPAN PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN CRITICAL THINGKING DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI DASAR OTOMOTIF SISWA KELAS X TKR 1 DISMKN 3 BOYOLANGU TULUNGAGUNG
Penelitian ini merupakan penelitian PTK, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan Critical Thingking siswa agar menjadi aktif dalam pembelajaran, dan mengetahui peningkatan hasil belajar siswa agar niai siswa menjadi meningkat atau memenuhi nilai kriteria KKM. Metode penelitian ini adalah penelitian berbasis PTK. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah tes, dokumentasi dan observasi. Subjek penelitian adalah siswa SMKN 3 Boyolangu Tulungagung Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan mata pelajaran Teknologi Dasar Otomotif kelas X TKR1 dengan jumlah 36 siswa. Instrumen penelitian dalam penelitian ini menggunakan lembar angket (RPP, butir soal). Hasil dari penelitian ini Siswa kelas X TKR 1 SMKN 3 Boyolangu Tulungagung, pada siklus I mencapai 92,46% dan siklus II mencapai 92,04% dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah pada materi rangkaian kelistrikan sederhana. Peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM pada ranah kognitif siklus I sebesar 27,7 % kemudian pada siklus II menjadi 77%, adanya peningkatan persentase hasil belajar ranah kognitif pada siklus I ke siklus II sebesar 49,3%. Kemudian pada hasil belajar ranah afektif yang awalnya pada siklus I sebesar 50% termasuk dalam kategori rendah kemudian pada siklus II adanya peningkatan yang mencapai kategori tinggi (66,67%) berjumlah 4 kelompok sedangkan yang 2 kelompok mencapai kategori sedang (33.33%). Pada ranah psikomotorik siklus I mencapai 94,47 dan siklus II mencapai 92,55% termasuk dalam kategori sangat tinggi. Kata Kunci : Model Pembelajaran Problem Based Learning, Critical Thingking, Hasil Belajar
PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOLABORASI DAN HASIL BELAJAR PEKERJAAN DASAR TEKNIK OTOMOTIF SISWA KELAS X TKR 4 DI SMK NEGERI 7 SURABAYA
Abstrak
Studi ini dimaksudkan guna melihat kenaikan tingkat kemampuan kolaborasi dan hasil belajar siswa kelas X TKR 4 di SMK Negeri 7 Surabaya melalui pengimplementasian model Project Based Learning. Tipe studi ini termasuk pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilangsungkan melalui 2 siklus. Target dari studi ini ialah 37 siswa kelas X TKR 4. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi untuk mengamati perilaku peserta didik saat proses pembelajaran, lembar observasi kolaborasi siswa untuk menaksir kemampuan kolaborasi, tes output belajar guna menaksir peningkatan hasil belajar, dokumentasi sebagai pendukung dan penguat data hasil observasi. Pengimplementasian model ini berhasil meningkatkan kemampuan kolaborasi dan hasil belajar siswa. Peningkatan kemampuan kolaborasi ditunjukkan dengan rata-rata presentase kolaborasi siswa. Pada tahap pra-siklus rerata kemampuan kolaborasi siswa 54,47%, kemudian mengalami peningkatan pada siklus I 59,67% dan pada siklus II menjadi 78,49%. Kenaikan hasil belajar siswa diindikasikan melalui naiknya nilai rerata kelas. Pada siklus I nilai rata-ratanya 73,90 dengan presentase ketuntasan 67%, dan pada siklus II dijumpainya kenaikan nilai rerata hasil belajar menjadi 82,52 dengan presentase ketuntasan mencapai 97%.
Kata Kunci: Project Based Learning, PTK, Kolaborasi, Hasil Belaja
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Lembar Kerja Siswa (LKS) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan Di SMKN 2 Sampang
Abstrak
Berdasarkan pengalaman pada saat Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) serta observasi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Sampang, proses pembelajaran masih memakai model pembelajaran konvensional, sehingga minimnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, dimana pembelajaran lebih didominasi oleh keterlibatan guru. Oleh karena itu, pendidikan siswa terhadap proses pembelajaran rendah, perihal tersebut mempengaruhi terhadap hasil belajar siswa yang masih rendah dengan ditunjukkan nilai siswa dibawah KKM ialah 68% serta kegiatan belajar partisipan didik yang kurang aktif serta cenderung pasif. Berdasarkan pada permasalahan tersebut dikembangkan sesuatu model pendidikan yang bertujuan buat tingkatkan mutu proses pendidikan ialah dengan mengaplikasikan model pendidikan Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas( PTK) yang memakai 2 siklus dengan subjek riset kelas XI TKR 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Sampang tahun ajaran 2020 / 2021 yang berjumlah 36 partisipan didik. Pada mata pelajaran Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan (PMKR) kompetensi dasar yang di ajarkan merupakan menguasai pemeliharaan system utama engine dan mekanisme katup yang dicoba dalam 2 siklus yang masing- masing siklus ada sesi perencanaan, penerapan, pengamatan, serta refleksi. Metode pengumpulan informasi yang digunakan merupakan observasi serta uji yang diaplikasikan dalam bentuk penelitian. Hasil menampilkan kalau hasil belajar peserta didik bertambah dari siklus I ke siklus II, dimana siklus I adalah 61% serta siklus II dengan hasil 86%.
Kata Kunci: Problem Based Learning, aktivitas siswa, hasil belajar siswa
- …
