212 research outputs found
SAYYID AHMAD SYAHID GERAKAN MUJAHIDDIN
Sayyld Ahmad Syahid (biasa disebut Sayyid Ahmad), lahlr dl Rae Bareli (Barelawi), dekat Lucknow India, pada tahun 1786 M dan wafat pacta tahun 1831 M.
Sayyid Ahmad berpendapat bahwa umat Islam di India mundur, sebab telah kemasukan faham yang berasal dari Persia dan India. Maka Ia harus dikembalikan kepada ajaran agama yang murni kengan jalan kembali kepada ai-Our'an dan Hadits. Dengan demiklan bld'ah dan khurafat yang telah masuk kedalam Islam akan bisa dlhapuska
Kepemimpinan K.H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan pendidikan di Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura
ABSTRAK
Peran Kyai merupakan peran yang bersifat universal, dimana selain harus berperan sebagai pengasuh pondok pesantren pesantren, pendidik, juga sebagai pendakwah (dah), pengayom, dan penggerak masyarakat. Sebagai lazimnya pondok pesantren Kyai merupakan pemegang kekuasaan tertinggi yang sangat menentukan perkembangan pesantren di masa yang akan datang. Seperti peran K.H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan Pondok Pesantren Darus Syahid di Sampang Madura, selain sebagai pendiri pondok pesantren, beliau juga sebagai pendidik, pengerak dan pendakwah (da’i) bagi masyarakat sekitarnya. Karena beratnya peran yang diemban maka seorang Kyai harus mempunyai kemampuan managemen yang profesional agar bisa membentuk kepemimpinan yang berkualitas.
Dalam skripsi ini penulis mengkaji kepemimpinan K. H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Kepemimpinan K. H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura, 2) Usaha-usaha K. H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura, 3) Permasalahan yang dihadapi K. H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura,
Untuk mencapai tujuan di atas ada dua pendekatan yang dilakukan yaitu pendekatan teoritis dan pendekatan empiris. Pendekatan empiris adalah pendekatan yang dilakukan untuk menggali data dengan metode wawancara, observasi dan dokuinentasi terhadap obyek penelitian. Sedangkan metode teoritis adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara memadukan data-data yang diperoleh dengan literatur yang ada agar mendapat data valid yang diperlukan.
Sedangkan dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, dengan menjelaskan dan menganalisis data yang diperoleh. Secara teoritis dan empiris disajikan secara jelas sesuai dengan realita yang ada di lapangan.
Dari hasi penelitian ini bisa disimpulkan bahwa Kepemimpinan K.H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan pendidikan di Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura termasuk kepemimpinan karismatik. Karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya sekaligus juga peranannya bukan hanya sebagai pengasuh dan pendidik saja tapi juga sebagai sosok suri teladan bagi santri-santrinya khususnya pelindung bagi yang mempunyai keterbatasan ekonomi.
Adapun usaha-usaha yang dilakukan K.H Fakhrur Rozi Faruk dalam mengembangkan pendidikan di Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura adalah dengan mendirikan pendidikan formal dan pendidikan nonformal serta fasilitas pendukung seperti: laboratorium, mini market, koperasi dll. Semua itu dilaksanakan untuk membentuk sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas.
Dalam melaksanakan pengembangan pendidikan di Pondok Pesantren Darus Syahid Sampang Madura ada beberapa permasalahan yang dihadapi seperti dana operasional kehidupan santri karena semuanya masih menjadi tanggungan pengasuh dan kedisiplinan santri dalam mengikuti kegiatan karena tidak semua santri mukim di pondok pesantren.
Saran-saran dalam penelitian ini pondok pesantren diharpkan bisa sebagai agen perubahan, agar kyai tidak menjadi satu-satunya sumber belajar, agar pondok pesantren bisa menyelenggarakan jenis pendidikan formal baik madrasah, sekolah umum maupun perguruan tinggi, santri agar menguasai sains dan teknologi namun tetap mendalami ilmu agama dll
Penggunaan Deiksis dalam Novel Paradigma Karya Syahid Muhammad
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan penggunaan deiksis persona, tempat, waktu, wacana, dan sosial di dalam novel Paradigma karya Syahid Muhammad. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan metode penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengumpulan data penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan teknik catat dengan cara; (1) membaca dengan cermat serta menandai kata yang bersifat deiksis; (2) mengidentifikasi serta menandai kata yang bersifat deiksis; (3) mengklasifikasikan data yang bersifat; (4) menganalisis makna kata yang sudah diklasifikasikan ke dalam jenis-jenis deiksis; (5) memaparkan hasil yang sudah dianalisis yaitu berupa data tentang kata yang bersifat deiksis yang terdapat dalam novel Paradigma karya Syahid Muhammad. (6) menyimpulkan hasil penelitian. Data penelitian ini diperoleh dari novel Paradigma karya Syahid Muhammad. Berdasarkan analisis data ditemukan 281 data deiksis. Penggunaan deiksis persona pertama ditemukan pronomina aku, saya, gue, kami, dan kita. Deiksis persona kedua ditemukan pronomina kamu, dan kalian. Deiksis persona ketiga ditemukan pronomina dia, ia, -nya, beliau, dan mereka. Deiksis tempat ditemukan kata di sana, sana, ke sana, di sini, sini, dan ke sini. Deiksis waktu ditemukan kata kemarin, dulu, lalu, sekarang, sedang, kini, dan besok. Deiksis wacana ditemukan deiksis wacana anafora dan katafora. Deiksis sosial ditemukan kata sapaan. Jadi, deiksis yang ditemukan di dalam novel Paradigma karya Syahid Muhammad adalah deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, dan deiksis sosial
Sayyid Ahmad Syahid Gerakan Mujahidin
Sayyid Ahmad Syahid (bisa disebut Sayyid Ahmad), lahir di Rae Bareli (Barelawi), dekat Lucknow India, pada tahun 1786 M dan wafat pada tahun 1831 M. sewaktu masih muda ia pernah menjadi anggota pasukan berkuda (Kavaleri) Nawab Amir Khan. Disini ia memperoleh pengetahuaan dan pengalaman militer yang dikemudian hari sangat berguna baginya dalam memimpin Gerakan Mujahiddin. Kemudian ia keluar dari dinas militer dan pergi ked elhi untuk belajar pada Syah Abdul Aziz setelah Nawab Amir Kahan berdamai dengan penguasa Inggris di India. Setelah merasa mempunyai pengetahuaan agama yang cukup, ia mulai berdakwah di depan umum, sehingga Namanya mulai popular. Daerah operasi berdakwah meliputi kota delhi dan daerah-daerah yang jauh dari ibu kota, misalnya didaerah Kampur dimana tinggal orang-orang Afganistan dan di Kalkuta. Ia mengarang buku yang diberi nama “Shirathlm Mustaqim” yang penyusunnya banyak dibantu oleh murid-muridnya. Isi buku tersebut kebanyakan berisi pemikiran-pemikiran pembaharuaan yang menunjang pemikiran-pemikiran pembaharuan yang telah dirintis oleh Syah Waliyullah
KONSEP DAKWAH MENURUT IMAM SYAHID HASAN AL BANNA (Kajian Amar Ma’ruf Nahi Munkar)
Dakwah adalah mengajak manusia kepada agama Allah, mengikuti petunjuk-
Nya, memberlakukan aturan Nya di atas bumi, serta mentauhid-kan Allah swt dalam
ibadah, minta pertolongan dan ketaatan. Berlepas diri dari semua taghut yang ditaati
selain Allah, membenarkan apa yang dinyatakan benar oleh Allah dan menyalahkan apa
yang dinyatakan salah, menyuruh pada kebaikan, mencegah kemungkaran dan berjihad
di jalan Allah SWT.
Imam Syahid hasan Al Banna salah satu tokoh dan pemikir baik dalam bidang
Dakwah maupun dalam bidang politik. Ia dilahirkan pada tanggal 14 bulan Oktober tahun
1960 M dikota Mahmudiyah, salah satu desa di wilayah Al Buhairah, Mesir. Pada tahun 1927
beliau mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin (IM). Mengingat aspet dakwah sangat luas,
maka dari itu penelitian ini di fokuskan pada kajian tentang pemikirannya mengenai amal
Ma’ruf Nahi Munkar.
Penelitian tentang hal tersebut diatas dengan menelaah buku- buku yang dikarang
oleh Imam Syahid Hasan Al Banna sebagai sumber utama (sumber PrimerP dan buku- buku
karangan orang lain yang membahas tentang Imam Syahid Hasan Al Banna sebagai sumber
sekunder. Dari buku- buku tersebut di peroleh gambaran tentang konsep dakwah yang
dikemukakan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna sebagai mana yang termaktup dalam skripsi
ini.
Menurut Imam Syahid Hasan Al Banna Dakwah Amal Ma’ruf Nahi Munkar
menentukan tegak dan robohnya jama’ah itu sendiri, tak bisa Islam itu tegak sendiri tanpa
jama’ah, dan tak bisa Jama’ah dibangaun tanpa Dakwah, maka dijadikanlah Dakwah itu suatu
kewajiban yang vital atas umat Islam itu sendiri, yang tak mungkin dan tak boleh diamanahkan
orang lain saja. Amal Ma’ruf Nahi Munkar yang dilakukan Imam Syahid Hasan Al Banna ialah
di bidang politik sebagai upaya menanggulanggi kemerosotan moral dan akhlak umat Islam
terutama di mesir.
Adapun aksi dakwah yang dilakukan Hasan Al Banna dalam menanggulangi
kemerososan moral dan akhlak umat Islam diantaranya:
a. Menulis karya- karya munomental diantaranya Mudzakkirat al Dakwah wa Da’iyah
atau Majmuatur Rasail (Risalah Dakwah Hasan Al Banna)
b. Pada tahun 1936 Mengirim surat berjudul Menuju Cahaya yang ditujukan kepada
Raja Faruk, kepada kepala pemerintahan pada saat itu, Mustafa al-Nahas Pasha, dan
seluruh raja, amir, dan penguasa di semua negara Islam. Di dalamnya Al- Banna
menekankan pentingnya membebaskan umat Islam dari segala bentuk ikatan politik
yang membelenggunya, dengan menggunakan segala cara yang legal, dan dengan
menerapkan sistem Islam.
c. Al- Ma’tsurat (yang diwarisi dari Nabi Muhammad SAW) Buku tersebut, memuat
berbagai do’a dan ayat Al- Qur’an yang dibagi empat bab: do’a wirid ayat Al-
Qur’an, do’a harian serta do’a khusus dan wirid khas Ikhwanul Muslimi
EPISTEMOLOGI TAFSIR JAWA (TELAAH PEMIKIRAN MOHAMMAD ADNAN DAN BAKRI SYAHID )
Penelitian ini membahas tentang epistemologi tafsir Jawa telaah pemikiran Mohammad Adnan dan Bakri Syahid dalam Tafsir Al-Quran Suci Basa Jawi dan Al- Huda Tafsir Quran Basa Jawi. Kedua kitab tersebut adalah salah satu kitab tafsir yang muncul di era abad ke- 20. Meskipun kedua kitab menggunakan bahasa Jawa, namun dalam segi penyajian, gestur bahasa dan konten
yang mendominasi dalam tafsirpun juga berbeda. Namun disatusisi, kedua kitab tafsir tersebut termasuk dalam kitab tafsir yang bercorak tafsir fikih yang lahir pada abad ke- 20.
Peneliti memulai penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan epistemologi tafsir. Dalam kajian epistemologi, peroses pencarian pengetahuan
berfokus pada tiga aspek yaitu, sumber pengetahuan, validitas kebenaran dan implikasi dari kebenaran pengetahuan. Begitupun juga dalam epistemologi tafsir yang mencakup tiga fokus kajian yaitu: pertama, pencarian sumber pengetahuan seorang mufasir dan sumber rujukan dalam penulisan kitab, kedua mencari validitas kebenaran dalam penafsiran, dan ketiga implikasi atau dampak dari sebuah interpretasi. Tiga aspek tersebutlah yang akan penulis gunakan dalam membangun kerangka teoritis dalam penelitian ini.
Di dalam Tafsir Al-Quran Suci Basa Jawi dan Al- Huda Tafsir Quran Basa Jawi mempunyai perbedaan. Perbedaan yang pertama terletak pada penyajian kitab tafsir, kedua cara corak tafsir dan ketiga metode yang digunakan dalam penulisan tafsir. Corak kedua tafsir tersebut sama-sama bercorak tafsir fikih. Jika Mohammad Adnan banyak menafsirkan ayat-ayat tentang hukum keluarga, namun berbeda jika Bakri Syahid yang lebih menafsirkan fikih sosial. Selain menafsirkan ayat-ayat fikih, di dalam kedua tafsir tersebut juga terdapat penjelasan tentang tasawuf dan Memayu Hayunig Bawana.
Kedua kitab tafsir yang menggunakan bahasa Jawa. Bahasa yang sering sekali digunakan untuk komunikasi oleh masyarakat Jawa. Kedua, dalam kedua kitab tersebut terdapat konsep kebatinan Jawa ( tasawuf ), yang mengacu pada ajaran leluhur. Seperti konsep bersyukur dan zuhud. Ketiga konsep Memayu Hayunig
Bawana ( Cinta Tanah Air ). Dalam konsep ini, peneliti menemukan dua perbedaan pertama konsep Memayu Hayunig Bawana yang ditawarkan oleh Mohaammad Adnan dalam tafsirnya menurut penulis merujuk pada budaya leluhur Jawa yang selalu menjaga persatuan, keselamatan dan kesatuan dalam membangun bangsa.
Namun jika dalam kitab tafair al-Huda, Bakri Syahid dengan terus terang yang dinamakan dengan Memayu Hayunig Bawana adalah mencintai Negara Kesatuan Rebliblik Indonesia
IDEOLOGI MATI SYAHID BENDERA PEMBENARAN MELAKUKAN TEROR KEKERASAN POLITIK
Abstrak Kekerasan politik selalu terjadi di sepanjang masa dengan berbagai pola dan bentuknya. Kekerasan yang bersifat masif berbentuk gerakan sosial karena terjadinya resistensi terhadap pemerintahan dan negara karena adanya dominasi sistemik yang dinilai telah melanggar konstitusi yang dilakukan oleh sekelompok atau sebagian elite penguasa. Transformasi dan gerakan ideologi mati syahid dapat membakar semangat massa demi membela kebenaran di satu sisi, tetapi pada sisi yang lain kedamaian dan ketenangan serta stabilitas politik terusik, bahkan dapat dilihat sebagai ancaman dan teror yang menakutkan. Jika demikian halnya, tentu saja ideologi seperti ini tidak dapat dijadikan pembenaran dalam melakukan kekerasan politik, mungkin masih ada solusi yang dapat digali demi memakmurkan bumi tanpa kekerasan. Kata Kunci : Jihad, Kekerasan Politik, Terorisme, Mati Syahi
PENAFSIRAN BAKRI SYAHID TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG HAK-HAK DAN KEWAJIBAN ISTRI DALAM TAFSIR AL-HUDA TAFSIR QUR’AN BASA JAWI
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Penafsiran Bakri Syahid terhadap Ayat-Ayat al-Qur’an tentang Hak-Hak dan Kewajiban Istri Dalam Tafsir al-Huda Tafsir Qur’an Basa Jawi” ditulis oleh Aghis Nikmatul Qomariyah, NIM. 17301153010. Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah. Institut Agama Islam Negeri Tulungagung. Pembimbing Dr. Ahmad Zainal Abidin, M. A.
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya ketidakseimbangan antara hak dan kewajiban di dalam keluarga. Di era modern, masih ada belenggu patriarkhi dalam keluarga yang disebabkan superioritas laki-laki dalam penafsiran al-Qur’an. Dalam penelitian ini dikaji bagaimana upaya seorang mufasir Jawa dalam menafsirkan ayat-ayat perempuan, sehingga kitab tafsirnya bisa mudah diterima oleh masyarakat Jawa yang terkenal sangat kental dengan budaya patriarkhinya.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana penafsiran Bakri Syahid terhadap ayat-ayat al-Qur’an tentang hak istri dalam Tafsir al-Huda? (2) Bagaimana penafsiran Bakri Syahid terhadap ayat-ayat al-Qur’an tentang kewajiban istri dalam Tafsir al-Huda? (3) Bagaimana relevansi penafsiran Bakri Syahid terhadap kedudukan istri dalam keluarga perspektif Tafsir al-Huda dengan masyarakat Indonesia saat ini?.
Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif-interpretatif. penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimna penafsiran yang diberikan oleh Bakri Syahid terhadap ayat-ayat tentang hak-hak dan kewajiban perempuan sebagai istri serta relevansinya terhadap kedudukan perempuan sebagai istri dalam keluarga pada waktu itu. Dengan pendekatan historis-sosiologis, yaitu dengan menelusuri sejarah pertumbuhan dan pola pemikiran serta konteks sosial-budaya yang mempengaruhinya.
Dengan menggunakan metode tersebut diperoleh tiga kesimpulan: Pertama, Bakri Syahid menafsirkan ayat-ayat tentang hak-hak istri dalam keluarga, memandang bahwa istri memiliki hak yang bersifat harus dipenuhi. Terlihat dalam penafsiran tentang hak mahar yang menjadi milik istri secara penuh, hak nafkah yang menjadi kewajiban suami dalam keadaan kaya maupun miskin menurut kadar kemampuannya, hak poligami yang mengaharuskan laki-laki memenuhi syarat adil dan mendapatkan izin dari istri pertama, hak diperlakukan dengan baik yang mengharuskan suami berlaku baik dalam hal perkataan maupun perbuatan kepada istri dan bersabar ketika ada suatu hal yang tidak disukai dari istri dan hak waris bahwa Bakri menyetujui dengan formulasi waris 1:2. Kedua, Khusus pada ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban istri dalam keluarga, Bakri cenderung melihat istri memiliki posisi sebagai pendamping suami, Ketiga, Menurut hemat penulis seperti hak mahar, hak nafkah, hak keadilan poligami, hak diperlakukan dengan baik, kewajiban menutup aurat dan kewajiban menjadi istri shalihah dapat dikatakan relevan karena berdasarkan analisis teori kesetaraan gender Mansour Faqih jika ditarik ke masyarakat Indonesia saat ini mengusung kesetaraan. Sedangkan untuk hak waris, kewajiban menundukkan pandangan, kewajiban tidak berkata lembut kepada lawan jenis dan kewajiban tetap berada dirumah menurut peneliti tidak relevan. Karena jika ditarik kesaat ini terdapat unsur ketidakadilan gender.
Kata kunci: Hak, Istri, Kewajiban, Keluarg
Analisis Niliai-nilai Pendidikan Islam dalam Novel Api Tauhid Karya Habiburrahman El-Shirazy
Muhammad Syahid Hisbullah. 2012. Analisis Niliai-nilai Pendidikan Islam dalam Novel Api Tauhid Karya Habiburrahman El-Shirazy. Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah. Pembimbing Drs. Muhammad Ramli AR, M. Pd.
Skripsi ini mengemukakan tentang Analisis Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam novel Api Tauhid Karya Habiburrahman El Shirazy meliputi pendidikan akidah, ibadah, akhlak dan akal.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini fokus pada apa saja nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam novel Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy.
Dalam penggalian data di gunakan penelitian kepustakaan atau library reseach, dengan meneliti dan menelaah novel Api Tauhid serta sebagai literatur, guna mendapatkan data untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam dalam novel tersebut. data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan dan diinterpretasikan serta dianalisis untuk diuraikan secara sempurna.
Beranjak dari kenyataan di atas maka sekiranya penulis perlu untuk mengemukakannya leih jauh lagi guna memperoleh dan mendapatkan nilai-nilai pendidikan Islam yang terdapat dalam novel Api Tauhid Karya Habiburrahman El Shirazi dengan mengutip term-term yang sudah di kelompokan ke dalam nilai-nilai pendidikan Islam.
Berdasarkah hasil penelitian tersebut, penulis menemukan beberapa nilai-nilai pendidikan Islam yang tertuang dalam novel Api Tauhid yaitu: Nilai pendidikan aqidah meliputi: tauhid, konversi agama (perpindahan agama), kematian. pendidikan ibadah meliputi: shalat, umrah, shalawat, doa, dan zikir. pendidikan akhlak meliputi: maaf, jujur, syukur, ikhlas, tawakal, kerja keras, sabar, tawadhu. pendidikan sosial meliputi: musyawarah, silaturrahmi, tolong-menolong. dan yang terakhir pendidikan aka meliputil: belajar, menulis, bertanya, diskusi, membaca, hafalan dan berfiki
Implementasi Larangan Kawin Bagi Anggota ABRI Nomor: KEP/01/1980 tentang Peraturan Perkawinan Perceraian dan Rujuk Angota ABRI (Studi Kasus di Bawah Tahun 2008)
M. Syahid. 2016. Implementasi Larangan Kawin Bagi Anggota ABRI Nomor : KEP/01/1980 Tentang Peraturan Perkawinan Perceraian dan Rujuk Anggota ABRI (Studi Kasus Di Bawah Tahun 2008) Skripsi, Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyyah (Hukum Keluarga), Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam. Pembimbing: (I) Dra. Faridah, M.H.I. (II) Erissa Nilasari, MP.
Kata Kunci : Inplementasi, Larangan Kawin, Anggota ABRI.
Penelitian ini beranjak dari latar belakang sebuah Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan (Menhankam) atau Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab) Nomor : KEP/01/1980 tentang Peraturan Perkawinan Perceraian dan Rujuk Anggota ABRI Pada isi pokok peraturan tersebut mengatur tentang izin kawin cerai dan rujuk anggota ABRI, yang sekarang ini sudah berubah menjadi TNI. Sebelum mendaftar ke Kantor Urusan Agama untuk kawin, anggota ABRI harus mendapat izin terlebih dahulu dari Komandan, Namun secara eksistensi anggota ABRI yang kawin, tidak sedikit di antaranya yang melanggar peraturan tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pendapat X ABRI di bawah tahun 2008 terhadap implementasi larangan kawin bagi anggota ABRI nomor : KEP/01/1980 tentang peraturan perkawinan perceraian rujuk anggota ABRI dan bagaimana sanksinya.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan teknik pengumpulan data melalui teknik wawancara (interview). Selanjutnya data diolah dengan teknik editing, kategori, deskripsi, matrik. Kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif sehingga dapat diperoleh kesimpulannya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidak serasian mengenai implementasi peraturan perkawinan perceraian rujuk anggota ABRI Nomor : KEP/01/1980 Tentang Peraturan Perkawinan Perceraian dan Rujuk Anggota ABRI (Studi Kasus di Bawah Tahun 2008) antara peraturan tersebut dengan pendapat X ABRI di bawah tahun 2008. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulan bahwa dari pemahaman ketiga responden tentang peraturan di atas hampir sama, namun dalam hal sanksi satu orang responden menyatakan bagi anggota ABRI yang melanggar peraturan tersebut akan diberhentikan dari kesatuan militer , dan dua orang orang responden menyatakan tidak diberhentikan dari kesatuan militer hanya saja diberi sanksi atas perbuatannya tersebut. Sanksi yang didapat oleh ketiga responden pada waktu berstatus sebagai ABRI adalah diberhentikan
- …
