9 research outputs found
Ujaran kebencian dalam perspektif M. Quraish Shihab : analisis Qs. Al-Hujurat ayat 11 dalam Tafsir al-Misbah
Perbuatan atau kejahatan yang perlu mendapat perhatian serius pada saat ini yaitu ujaran kebencian (Hate Speech). Masalah pelanggaran atau kejahatan terhadap kehormatan dalam hal ini contohnya seperti kejahatan mencemarkan nama baik orang lain, memfitnah, menista, memperolok-olok, dan perbuatan tidak menyenangkan merupakan suatu perbuatan yang melanggar hukum karena meresahkan dan melanggar hak asasi orang lain. Perbuatan tersebut tidak hanya dapat dilakukan secara langsung dengan kata-kata di muka umum tetapi juga akhir-akhir ini sering dilakukan di dunia maya atau media sosial, karena di dunia maya masyarakat merasakan kebebasan dalam hal berpendapat maupun mengkritik seseorang yang dianggap tidak akan melanggar hukum dan aman karena tidak berkontak fisik langsung dengan orang lain.
Mengacu pada latar belakang di atas, maka dapat ditarik dua rumusan masalah pokok yang akan dikembangkan penulis sebagai isi dan rumusan masalah, yakni: 1) Bagaimana penafsiran QS. al-Hujurat ayat 11 tentang ujaran kebencian menurut M. Quraish Sihab ?. 2) Bagaimana aplikasi penafsiran Quraish Shihab tersebut dalam konteks masyarakat sekarang ?
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (librery research), yaitu penelitian dengan cara mengkaji dan menelaah serta mengolah data dari sumber-sumber tertulis, yaitu al-Qur’an, Hadits dan kitab tafsir al-Misbah, juga buku-buku, jurnal dan majalah yang berkaitan dengan ujaran kebencian khususnya yang bersangkutan dengan diskursus al-Qur’an.
Dari pemaparan peneliti, mulai da ri awal sampai akhir, setidaknya ada beberapa poin yang bisa disimpulkan, 1)Qs. Al-Hujarat ayat 11 menjelaskan tentang ujaran kebencian yang mana dalam surah tersebut M. Quraih Shihab menjelaskan tentang larangan mengolok-olok kaum, baik laki-laki maupun perempuan. Belum tentu orang yang mengolok-olok itu lebih baik dari yang diolok-olok. 2) Ujaran kebencian dalam surah Qs. Al-Hujarat ayat 11 yaitu tentang kehidupan bersosial masyarakat, bahwa pentingnya menjaga ucapan mengandung ujaran kebencian, seperti mengolok-olok, menjelek-jelekan, menyebar suatu berita yang memuat penghinaan atau mencemarkan nama baik. Bahwa semua itu merupakan perbuatan terela, juga yang bisa menyakiti dan menimbulkan perpecahan dan permusuhan
Javanese Abangan World Viewand Practices in Imogiri Cemetery Yogyakarta
Penelitian ini fokus pada isu bagaimana “pandangan hidup” dan juga praktek Jawa abangan di makam Imogiri. Terdapat 3 isu utama yang didiskusikan, yaitu (1) konteks istilah abangan untuk masyarakat Jawa saat ini, (2) para abdi dalem, peziarah dan pengunjung yang dikategorikan sebagai praktisi abangan, dan (3) “pandangan hidup” Jawa abangan dalam memahami praktek ritual mereka di makam Imogiri. Penelitian ini menggunakan metode etnography dalam pengumpulan data di lapangan. Sedangkan proses analisisnya menggunakan teori Clifford Geertz (1976), Andrew Beatty (2004), Robert Hefner (1987) M. C. Recklefs (2007), Koentjaraningrat (1985), Neils Mulder (1983) Robert Wessing (2006), dan Irving Hallowell (1960). Dengan menggunakan pendekatan deskriptif interpretatif, penelitian ini menyimpulkan 3 hal: (1) Saat ini, istilah abangan oleh Geertz dan Ricklefs sudah tidak relevan. Berdasarkan fenomena para peziarah dan pengunjung makam Imogiri bahwa banyak santri, priyayi dan non-muslim juga mempraktekkan ritual dan upacara abangan. Fenomena ini menolak definisi Geertz yang mengklaim bahwa abangan hanyalah kelompok petani dan masyarakat Jawa desa (Geertz, 1960:4-5), point ini pun sekaligus membantah pernyataan Ricklefs yang menyatakan bahwa abangan adalah kelompok Muslim yang tidak menerapkan ajaran-ajaran Islam (Ricklefs, 2007:84). Ditambah lagi, pengelompokan antara santri, abangan dan priyayi saat ini bersifat lebih relatif. (2) Beberapa ritual dan upacara di makam Imogiri sebagian besar berhubungan dengan semua kategori yang masuk dalam istilah abangan yang sampai saat ini masih eksis. (3) “Pandangan hidup” Jawa abangan dalam praktek ritual dan upacara di makam Imogiri merupakan bentuk usaha untuk melestarikan dan mempertahankan hubungan antara manusia dan bukan manusia
JAVANESE ABANGAN WORLD VIEW AND PRACTICES IN IMOGIRI CEMETERY YOGYAKARTA
Penelitian ini fokus pada isu bagaimana “pandangan hidup†dan juga praktek Jawa abangan di makam Imogiri. Terdapat 3 isu utama yang didiskusikan, yaitu (1) konteks istilah abangan untuk masyarakat Jawa saat ini, (2) para abdidalem, peziarah dan pengunjung yang dikategorikan sebagai praktisi abangan, dan (3) “pandangan hidup†Jawa abangan dalam memahami praktek ritual mereka di makam Imogiri. Penelitian ini menggunakan metode etnography dalam pengumpulan data di lapangan. Sedangkan proses analisisnya menggunakan teori Clifford Geertz (1976), Andrew Beatty (2004), Robert Hefner (1987) M. C. Recklefs (2007), Koentjaraningrat (1985), Neils Mulder (1983) Robert Wessing (2006), dan Irving Hallowell (1960). Dengan menggunakan pendekatan deskriptif interpretatif, penelitian ini menyimpulkan 3 hal: (1) Saat ini, istilah abangan oleh Geertz dan Ricklefs sudah tidak relevan. Berdasarkan fenomena para peziarah dan pengunjung makam Imogiri bahwa banyak santri, priyayi dan non-muslim juga mempraktekkan ritual dan upacara abangan. Fenomena ini menolak definisi Geertz yang mengklaim bahwa abangan hanyalah kelompok petani dan masyarakat Jawa desa (Geertz, 1960:4-5), point ini pun sekaligus membantah pernyataan Ricklefs yang menyatakan bahwa abangan adalah kelompok Muslim yang tidak menerapkan ajaran-ajaran Islam (Ricklefs, 2007:84). Ditambah lagi, pengelompokan antara santri, abangan dan priyayi saat ini bersifat lebih relatif. (2) Beberapa ritual dan upacara di makam Imogiri sebagian besar berhubungan dengan semua kategori yang masuk dalam istilah abangan yang sampai saat ini masih eksis. (3) “Pandangan hidup†Jawa abangan dalam praktek ritual dan upacara di makam Imogiri merupakan bentuk usaha untuk melestarikan dan mempertahankan hubungan antara manusia dan bukan manusia
Prohibition of entering the Land of Haram for non muslim : application of Fazlur Rahman’s double movement towards surah at Taubah verse 28
Generally knowing that the entry of non muslim to the land of h{ara>m is forbidden based on su>rah At Taubah verse 28. Islamic scholars have different interpretations to the verse. Arab Saudi Kingdom, the authority of the land, sometimes permits some non muslims to enter it for business interest. What is actually the background of this prohibition? What is the moral idea of this verse? This research uses thematic interpretation methodology with double movement of Fazlur Rahman theory to analyze this verse.
From historical side, prohibition of entering the land of h{ara>m is final statement on the various conflicts faced by Muslims with non Muslim of Mecca at the time. This verse was revealed not to allow non Muslim to be close to the land of hara>m, because non muslim of Mecca were najs for their attitude to disobey the agreement and their paganism behavior. The moral idea of verse 28 of su>rah At-Taubah is the attitude of the political assertiveness of Muslims against those who break the covenant and clear Al Masjid Al H{ara>m from paganism. So, Non Muslims are allowed to enter the land of h{ara>m with the permission of the authority of the area, now Kingdom of Saudi Arabia, with some requirements.
This research presents a socio historical view related to the problem which should be considered in deciding Islamic social law in modern era to create Islam rah{matan lil ‘a>lami>n
Accelerating The Mission Of Education: Testing The Power Of Transformational Leadership And Group Cohesiveness In The Organization
Achieving the mission of educational institutions is a crucial factor in the progress of education in Indonesia. Researchers often encounter obstacles in mission achievement due to leadership deficiencies, poor human resource quality, and insufficient support from surrounding groups. Therefore, this research aims to determine the influence of transformational leadership and human resource quality on mission achievement, moderated by group cohesiveness. This study employs a quantitative method, with data collected via Google Form questionnaires, which were distributed through WhatsApp and analyzed using SmartPLS 4. The results indicate that transformational leadership and group cohesiveness have a significant effect on the effectiveness of mission achievement in educational institutions, whereas other variables showed no significant effect. The implications of this research suggest that to enhance mission achievement effectiveness, educational institutions must prioritize the development of transformational leadership character and build a solid and cohesive work climate. This implies that institutional success depends more on the leader\u27s vision and team cohesion than merely on staff qualifications
PERENCANAAN FONDASI BORED PILE PADA PEMBANGUNAN KANTOR PEMERINTAH TERPADU KABUPATEN BREBES
Kantor Pemerintah Kabupaten Brebes menggunakan fondasi tiang pancang, pada penelitian ini dilakukan redesain menggunakan fondasi bored pile untuk mengetahui daya dukung fondasi. Penelitian ini memperhitungkan jenis beban dan kondisi tanah yang terdapat di lokasi penelitian. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan daya dukung dan penurunan fondasi.
Penelitian ini menggunakan data tanah dari proyek tersebut. Dan dilakukan analisa menggunakan data SPT, metode untuk menghitung daya dukung yaitu Mayerhof 1956 dan Reese&Wright 1977. Sedangkan penurunan menggunakan metode Vesic 1977 dan software Plaxis v8.6. Berdasarkan analisa yang dilakukan dengan pembebanan menggunakan software SAP2000.
Analisa pembebanan menggunakan software SAP2000 didapatkan beban P1 : 17054,852 kN, P2 : 7848,268 kN dan P3 : 1611,193 kN sebagai beban terbesar, sedang dan terkecil. Direncanakan fondasi bored pile diameter 50 cm kedalaman 48 m dengan N-SPT sebesar 60. Dimensi pile cap 4x2,5x0,5m. Hasil perhitungan daya dukung kelompok tiang P1 sebesar 17138,304 kN, P2 senilai 9696,672 kN, dan P3 senilai 3758,4 kN dan daya dukung lateral 1302,9 kN. Penurunannya sebesar 1,773 cm dan 5 cm untuk tiang tunggal dan kelompok berdasarkan metode vesic. Sedangkan penurunan berdasarkan software Plaxis v8.6 sebesar 1,584 cm dan penurunan kelompok 2,506 cm, lama penurunan 49,9 tahun. Kesimpulan berdasarkan evaluasi pada fondasi bored pile yang direncanakan kuat menahan beban struktur atas.
Kata kunci : Fondasi bored pile, Daya Dukung, Penuruna
SPIRITUALITAS KYAI ABDUL KARIM-LIRBOYO (Sebuah Keteledanan dari Kyai Sederhana yang Penuh Ketawadlu’an Pendiri Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur)
This paper will outline the important side of a pesantren, namely "spirituality". Specifically, this study will examine the sirrah (life story) of the founder of the largest Salaf pesantren in Indonesia, namely Lirboyo-Kediri. He is K.H. Abdul Karim. The research hopefully would like give a useful description of the exemplary and spirituality of the kyai Abdul Karim to the dear readers. based on field observations, interviews with various sources and written literature this research was built. Finally, the author will present this research with descriptive narrative. Keyword: Spiritualitas, Pesantren, Kyai, dan Kyai Abdul Kari
PERENCANAAN FONDASI BORED PILE PADA PEMBANGUNAN KANTOR PEMERINTAH TERPADU KABUPATEN BREBES
Kantor Pemerintah Kabupaten Brebes menggunakan fondasi tiang pancang, pada penelitian ini dilakukan redesain menggunakan fondasi bored pile untuk mengetahui daya dukung fondasi. Penelitian ini memperhitungkan jenis beban dan kondisi tanah yang terdapat di lokasi penelitian. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan daya dukung dan penurunan fondasi.
Penelitian ini menggunakan data tanah dari proyek tersebut. Dan dilakukan analisa menggunakan data SPT, metode untuk menghitung daya dukung yaitu Mayerhof 1956 dan Reese&Wright 1977. Sedangkan penurunan menggunakan metode Vesic 1977 dan software Plaxis v8.6. Berdasarkan analisa yang dilakukan dengan pembebanan menggunakan software SAP2000.
Analisa pembebanan menggunakan software SAP2000 didapatkan beban P1 : 17054,852 kN, P2 : 7848,268 kN dan P3 : 1611,193 kN sebagai beban terbesar, sedang dan terkecil. Direncanakan fondasi bored pile diameter 50 cm kedalaman 48 m dengan N-SPT sebesar 60. Dimensi pile cap 4x2,5x0,5m. Hasil perhitungan daya dukung kelompok tiang P1 sebesar 17138,304 kN, P2 senilai 9696,672 kN, dan P3 senilai 3758,4 kN dan daya dukung lateral 1302,9 kN. Penurunannya sebesar 1,773 cm dan 5 cm untuk tiang tunggal dan kelompok berdasarkan metode vesic. Sedangkan penurunan berdasarkan software Plaxis v8.6 sebesar 1,584 cm dan penurunan kelompok 2,506 cm, lama penurunan 49,9 tahun. Kesimpulan berdasarkan evaluasi pada fondasi bored pile yang direncanakan kuat menahan beban struktur atas.
Kata kunci : Fondasi bored pile, Daya Dukung, Penuruna
Jihad Nir Kekerasan dalam Penafsiran Sholeh Darat Pada Ayat-Ayat Qitāl
Several verses of the Qur'an, especially those discussing qitāl,, are often used as legitimacy to commit acts of violence and terror. Al-Baqarah 190-193 instructs Muslims to kill non-Muslims in the name of Allah or it is called the Holy War. Several scholars, both salaf and contemporary, have interpreted this verse with various methods and produced various ideas. In this article, the author tries to explain the Isyari exegesis method that has been used by Sholeh Darat in this verse and produces the values of Sufism and non-violence in Islam. With the isyari method, Sholeh Darat interprets the word war or qitāl,in this verse as a war within ourselves. Even though he lived during the Dutch colonial period, he did not necessarily use this verse to inflame the spirit of war but interpreted it with nonviolent values, namely self-improvement through controlling emotions, desires, and lust. This research found that war in the interpretation of Sholeh Darat focused on the spiritual, namely fighting whatever hindered the soul from reaching its God. Besides that, Sholeh Darat's response to colonialism will also be presented. He used a cultural and intellectual approach to fight colonialism rather than physical resistance. Therefore, this study concludes that the Isyari-Sufi interpretation is closely related to the values of peace and non-violence
